" Perempuan gak tahu malu " teriaknya dan ku abaikan begitu saja.

1191 Kata
Devi kemudian muncul dari belakang " Ya Ampun Mas. Murahan sekali perempuan yang kamu nikahin itu . Kok bisa sih, dia berduaan sama lelaki lain di dalam kamar " ucapnya menambah keruh suasana " Bangun kamu Anita " Mas Imron menarik paksa tanganku. " Jadi begini nih oknum bu guru " Ucap Devi kembali mencibirku Aku menatapnya dengan tajam, tak pernah menyangka jika dia berani berbicara selancang itu. Mas Imron menarikku untuk keluar dari kamar tersebut. Ia berjalan dengan cepat hingga aku pun terseok seok . " Jangan kasar Lo sama cewek " ucap Mas Hendra secara tiba tiba. Mas hendra sudah berpakaian dengan layak. Kedatangan Mas Hendra, semakin membuat emosi Mas Imron. " b******n " ucap Mas Imron dan bersiap melayangkan pukulannya kepada Mas Hendra, tetapi dengan sigap Mas Hendra menangkisnya " Tidak akan ku biarkan siapapun menyakiti Anita. Biarpun itu lo, suaminya " Kembali Mas Imron melayangkan pukulan kepada Mas Hendra. Begitupun dengan Mas Hendra, ia pun membalas pukulan yang di layangkan oleh Mas Imron " Stopppp " ucapku histeris Tetapi mereka mengabaikan teriakanku dan tetap saling adu jotos sehingga membuat banyak pasang mata yang berkerumun menyaksikan. Tak berapa lama satpam memisahkan mereka berdua. " Lagian Bu guru itu ngasih contoh yang baik dong. Masa Bu guru main di kamar sama lelaki lain. Ya Pantas aja suaminya Marah " ucap Devi dengan lantang. Dan semua orang menatap tajam ke arahku. Rupanya ia dengan sengaja mempermalukan aku. Mas Imron yang menyadari situasi ini segera mengajakku beranjak dari kerumunan . Ia menyeretku sampai masuk ke dalam kamar Brakkkkkk Di tutupnya pintu kamar dengan sangat keras. " Aku gak habis pikir, kamu berbuat sejauh itu " ucap Mas Imron dengan emosi. " Aku di jebak Mas " jawabku " Di jebak ? " Ucap Mas Imron bertanya Lalu ku tunjukan chat nomer tak di kenal itu kepada Mas Imron, tetapi Chat tersebut sudah di hapus. " s**l " ucapku Mas Imron hanya geleng-geleng kepala saja melihat tingkah laku ku " Demi Allah Mas , aku tidak seperti apa yang kamu bayangkan " ucapku mencoba menjelaskan kepada Mas Imron. " Tadi aku mendapat pesan yang isinya tuh kamu lagi berantem sama Mas Hendra di kamar itu. Jadi langsung saja aku menuju kesana , tetapi ketika aku sampai disana tak ada apa apa. Aku juga kaget Mas hendra tiba-tiba muncul dari balik kamar mandi. Tak berselang lama kamu datang. Aku benar-benar tak mengerti Mas, aku mencarimu seharian ini karena kamu tiba tiba menghilang. Aku cemas. Aku khawatir. Jadi ketika aku mendapat pesan dimana keberadaan kamu, aku langsung berlari menuju kesana" ucapku menjelaskan " Pesan ? Dari siapa ? Coba lihat ? " Tanya mas Imron Ku serahkan gawaiku pada Mas Imron " Nomer ini tak ada di kontakku Mas, bahkan tadi nomer ini ada foto profil Mas Hendra " ucapku Mas Imron sepertinya mengingat sesuatu. Ia pun mengambil ponsel yang ada di dalam saku celananya " Lihat Anita. Ini nomer yang sama " ucapnya memperlihatkan ponselnya padaku. Dan ternyata Mas Imron juga mendapat pesan dari nomer tersebut. Tetapi sayangnya, pesan tersebut sudah di hapus oleh pengirim " Apa isi pesannya Mas ? " Tanyaku " Dia mengatakan kalau kamu lagi bersama hendra di room tersebut " " Astaghfirullah " Aku tiba tiba terkulai lemah. Orang macam apa yang dengan sengaja merusak kebahagiaan milik orang lain. Aku benar benar tak habis pikir, mengapa ada manusia macam begitu. " Sepertinya aku tahu siapa pelakunya " ucap Mas Imron. Aku mendongak ke arah Mas Imron dan menanyakan siapa seorang yang dengan k**i memfitnah kami. " Devi . Dia pasti orangnya " jawab Mas Imron. " Haaa ? " Ucapku setengah tak percaya dengan apa yang di katakan Mas Imron. " Ya pasti Devi. Dia bisa melakukan apa saja untuk membuat hubunganku dan kamu berantakan Nit " Jawabnya Aku hanya diam dengan raut muka yang masih tak percaya. Bukankah ia juga perempuan. Bagaimana jika ada perempuan lain yang dengan sengaja merusak kebahagiaannya. Mengambil apa yang sudah menjadi miliknya. Mengapa ia bisa setega itu. " Aku tidak bisa tinggal diam " ucap Mas Imron " Apa yang akan kamu lakukan Mas ? " Tanyaku. " Kamu cukup diam saja. Tidak perlu ikut campur . Aku akan " " Aku tidak mungkin hanya berdiam diri Mas " " Ssst " telunjuk Mas Imron tepat berada di bibirku " Kamu lihatkan dia bisa melakukan apa saja . Bagaimana jika nanti dia buta hati dan kemudian mencelakai kamu ? " " Tapi Mas " sanggahku " Biarkan itu menjadi urusanku sendiri. Yang ku mau kamu menguatkan hati untuk menerima serangan bertubi-tubi yang mungkin akan terasa begitu menyakitkan. Kita harus buktikan cinta kita kuat. Cinta kita yang akan menang " jawab Mas Imron " Kamu percaya kan sama aku Anita ? " Tanya Mas Imron kemudian. Dan aku tidak tahu harus menjawab apa Jujur saya jika seperti ini Mas Imron terlihat begitu tulus mencintaiku, tetapi kejadian kemarin masih belum bisa termaafkan dan masih terus terngiang-ngiang di kepalaku. Mas Imron seperti membaca bahasa mataku, yang nampak ragu harus mempercayainya atau tidak. Dia memelukku erat. " Kamu sudah cukup berjuang untuk membuktikan betapa kamu mencintaiku, kali ini izinkan aku untuk membuktikan bahwa aku juga begitu mencintaimu" ucapnya Seketika, ku peluk erat dirinya. Air mataku tiba tiba jatuh begitu saja Berdosa jika aku terus tak mempercayai Mas Imron sedangkan usahanya begitu kuat. Aku mencoba memahami jika aku berada di posisi Mas Imron. Kehilangan kepercayaan akan cinta. Kemudian ia di paksa menikah dan di tuntut untuk membangun cinta dengan orang asing. Semua itu tak akan mudah, ia harus menata hati agar tak kembali terluka. " perjalanan cinta kita memang tak mudah. Dahulu kita adalah sepasang yang saling menyakiti tetapi kita masih punya masa depan untuk saling menyempurnakan " ucap Mas Imron kemudian. Di kecupnya keningku dan di hapus air mataku. Ku rangkai senyumku, untuk membuktikan bahwa aku kuat. Cinta kita kuat. Apapun yang terjadi nanti, cinta kitalah yang akan menang. ** Hari ini adalah hari terakhir kami berada disini. Aku memilih menghabiskan waktu sendiri untuk berjalan jalan menyusuri tiap sudut resort ini. Devi tiba tiba muncul menghalangi jalanku. Dengan sorot mata yang tajam ia menatapku. " Kamu jangan pernah merasa menang ya. Ingat jika aku tak bisa mendapatkan Mas Imron maka kamu juga tidak bisa mendapatkannya " ucapnya dengan tegas Ku lingkarkan tanganku dan menertawakan ucapannya " Kamu harus menerima kenyataan kalau Mas Imron itu sudah menikah denganku. Bukankah kamu dulu yang membuang Mas Imron? " ucapku tak kalah tegas " Harus kamu ingat. Aku dan Mas Imron punya kisah masa lalu yang tak akan pernah usai " ucapnya. " Oh ya ? Ya memang seharusnya aku berterima kasih sama kamu, masa lalu Mas Imron. Karena kamu sudah membuang Mas Imron kini Mas Imron menjadi milikku. Dan aku berada di masa depan Mas Imron " ucapku kemudian berlalu dari hadapannya. " Perempuan gak tahu malu " teriaknya dan ku abaikan begitu saja. Mengapa Ia dengan sadarnya mengataiku perempuan tak tahu malu, bukannya sebutan itu yang pantas untuknya. Harusnya dia ngaca siapa dia ? Dan bagaimana status Mas Imron sekarang. Bukan malah berusaha merusak hubungan Mas Imron dengan istrinya. Hanya karena dia merasa ada kisah yang belum usai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN