" Tadi kamu bertemu Devi ?" Tanya Mas Imron ketika ku baru saja memasuki kamar
" Ya, kenapa emangnya ? " Ucapku sembari menyeruput air mineral yang tersedia.
" Sudah ku bilang. Devi urusan aku, kamu gak perlu ikut campur" ucap Mas Imron
" Dia yang tiba tiba nyamperin aku, Mas " ucapku membela diri
" Dia berada di Rs. Kakinya kesleo, kamu apakan dia ? Tak perlu pakai k*******n Anita" ucap Mas Imron padaku
Aku yang merasa tak melakukan apapun cukup geram dengan semua yang di tuduhkan Mas Imron
" Whaaaat ? "
" Ya aku tahu kamu marah banget sama Devi karena kejadian kemarin. Tapi kamu tak perlu membalasnya apalagi sampai membuat seseorang cidera "
" Aku gak melakukan apapun Mas. Tidak pernah memegangnya seujung kuku pun. Dan ketika aku meninggalkannya, dia dalam keadaan baik baik saja. Mengapa sekarang ceritanya lain ? " Ucapku menyanggah.
" Kamu yakin Anita ? " Tanya Mas Imron dengan sorot mata yang tajam
" Apakah aku terlihat berbohong ? " Ucapku tak kalah meyakinkan
" Aku tidak tahu mana yang benar atau yang salah. Tapi untuk masalah Devi tolong sekali biarkan aku selesaikan sendiri. Aku tak mau kamu kenapa napa " ucapnya seraya memegang bahuku.
" Ya Mas aku tahu " ucapku sembari melepaskan cengkraman tanganya di bahuku
" Dia begitu berambisi mendapatkan kamu " ucapku kemudian
" Bahkan dia bilang kisahmu dan dia adalah kisah yang tak akan pernah usai " ucapku lagi.
" Aku tidak bisa mengendalikan perasaan seseorang. Yang aku bisa hanya mengendalikan diriku agar tak menghancurkan apa yang sudah aku jalani " ucapnya tegas.
" Kamu yakin tidak mempunyai perasaan apapun ? Sedangkan kalian adalah sepasang kekasih yang saling mencintai dahulunya " ucapku menyelidik.
" Sudah ku putuskan untuk menutup rapat dalam dalam perasaanku, semenjak dia memutuskan untuk memilih pria lain " jawab Mas Imron
" Tetapi kamu masih ada di kehidupannya ?. Asal kamu tahu, seluruh kebaikanmu itu peluang untuknya mendapatkanmu kembali. Dan seluruh kebaikanmu dia artikan. Kalau kamu masih memiliki rasa untuknya. "
" Lalu aku harus bagaimana ? "
" Menjauh dan menghilang "
Mas Imron menatap tajam ke arahku. Ia seperti tak percaya jika aku akan memberikan saran demikian rupa.
" Kamu yakin ? " Tanyanya
" Ya tentu. Agar dia tak berharap banyak kepadamu " jawabku.
**
Setelah mengemas barang barang, kami pun bersiap untuk pulang.
Ibu dan Aldy telah lebih dahulu pulang kerumah dengan di jemput oleh sopir suruhan Mas Imron.
Sedangkan aku dan Mas Imron, memilih menyelesaikan masalah yang ada.
Mobil yang kami kendari menuju rumah sakit yang tak jauh dari tempat kami menginap.
Kami berjalan menyusuri koridor untuk sampai di tempat dimana Devi di rawat
" Hai. Kau baik baik saja " Sapaku
Terlihat sekali ia nampak enggan menjawabnya.
Aku cukup sadar diri jika kedatanganku bukanlah sesuatu hal yang dia nantikan.
Meski berat bagiku, untuk peduli dengannnya apalagi dengan jelas aku bukanlah penyebab ia cidera.
" Mas bantu aku berdiri, aku mau ke kamar mandi " ucapnya dengan nada yang manja kepada Mas Imron.
Mas Imron dengan sigap akan membantu Devi berdiri.
Tetapi dengan segera ku hadang
" Biar ku bantu. Tidak etis rasanya meminta bantuan kepada seorang lelaki yang sudah beristri apalagi di depan mata istrinya " ucapku seraya mendekatkan diri ke arah Devi.
Mas Imron selangkah mundur . Dan Devi ia mencebik kesal
Ku bantu Ia untuk bangkit dari pembaringannya. Meski rasanya tak sudi, tetapi lebih tak sudi lagi melihat tingkah manjanya kepada suamiku.
Lihat saja Devi. Kamu tidak akan bisa merebut Mas Imron dariku.
" Awww " ucapnya yang tiba tiba memekik dan melepaskan tangannya dari tubuhku
" Duh Mbak sengaja ya bikin aku jatuh " keluhnya
Benar benar ratu drama, batinku.
" Mas tolongin aku " ucapnya , terlihat jika ia mencari perhatian kepada Mas Imron
Aku dengan sigap membantu tubuhnya hingga akhirnya dia dapat berdiri lagi
Aku tersenyum, karena lagi lagi caranya untuk mendapatkan perhatian Mas Imron gagal.
Ketika Ia berada di kamar mandi, dengan cepat aku mengambil kursi roda yang berada tepat di sudut ruangan.
Ia yang selesai menuntaskan hajatnya pun terbengong dengan kursi roda yang sudah ku sediakan
" Biar gak ada drama jatuh lagi " ucapku kepadanya.
Dan dia hanya memanyunkan bibirnya. Kemudian duduk di kursi roda yang telah ku persiapkan.
Ku bantu dia untuk kembali naik ke atas ranjang.
Mukanya nampak terlihat kesal sekali.
Ini baru permulaan Devi. Aku akan bisa membuat kamu lebih kesal dari ini.
Kamu yang mengajakku bermain bukan, kali ini akan aku perlihatkan bagaimana cara bermainnya.
Batinku dengan penuh kemenangan
" Kami tak bisa berlama-lama. Pamit dulu ya " ucapku pada Devi
" Ayo Mas " ucapku pada Mas Imron dan mengapit tangannya kemudian segera berlalu meninggalkan ruangan tersebut.
Dapat ku bayangkan, bagaimana marahnya dia saat ini.
Melihat Mas Imron yang bertekuk lutut padaku dan acuh kepadanya.
Selamat menikmati kehancuranmu, Devi.
Sesuai kesepakatan bersama, Mas Imron akan mengganti nomer telfonnya dengan nomer yang baru.
Ia sengaja menepikan kendaraanya ke sebuah konter yang tak jauh dari rumah sakit untuk membeli sebuah nomer baru.
Aku yakin Devi akan kelibukan saat ia tahu bahwa ia tak lagi bisa menghubungi Mas Imron.
**
Ku rebahkan tubuhku di ranjang kesayanganku.
Seenak enaknya tidur hotel rasanya lebih enak tidur di kamar sendiri.
Sekilas ku lirik ke arah Mas Imron, nampaknya ia sudah terlelap.
Sangking capeknya.
Dengan segera aku memejamkan mata, tetapi tak lama aku terbangun karena mendengar dering yang berasal dari gawaiku
Nomer itu ? Bukankah ini nomer telfon yang kemarin menjebakku
Dengan sangat hati hati aku mengangkat panggilan telfonnya
" Wanita s****n. Kemana Mas Imron ? Kemana ? Kamu yang sudah mencuci otaknya sehingga menjauh dariku, iya kan ? " Ucap seseorang yang sedang merancau.
Aku dapat mengenalinya dengan jelas pemilik suara itu.
Itu Devi
Benar feeling Mas Imron, yang telah menjebakku adalah Devi.
" He wanita s****n. Tak akan aku biarkan kamu mengambil Mas Imronku. Tak akan " ucapnya berteriak penuh emosi
" Wanita sinting! Harusnya kamu sadar diri, Mas Imron tak pernah mencintai kamu. Dia hanya mencintai aku. Dan hanya aku yang pantas untuk mendampinginya " ucapnya lagi.
Ku akhiri panggilan tersebut. Rasanya malas berhadapan sama perempuan yang tak tahu diri.
Sebenarnya siapa wanita s****n yang tak tahu diri itu.
Aku, istri sahnya atau dia yang hanya masa lalunya.
**
Selepas shubuh, segera aku berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan
Beberapa menu sudah ku sajikan dengan sempurna.
Bekal Mas Imron hari ini harus spesial agar dia selalu semangat bekerja.
Ku hidangkan di meja makan
Segera aku membersihkan diri dan bersiap pula untuk mengajar.
Mas Imron sudah siap dengan kemeja berwarna biru dan jas berwarna navy
Sangat cocok sekali, menambah gagah penampilannya.
Ku pandangi dirinya dari pantulan cermin. Ntah jatuh cinta yang ke berapa kali aku pada orang yang sama. Tak peduli seburuk apa dia bersikap padaku
Tetapi saat memandangnya ku rasakan debar cinta.
" He he .. kenapa senyum senyum sendiri " ucap Mas Imron membuyarkan lamunanku
" Ganteng banget sih, suami siapa ? " Tanyaku dengan senyum yang ku buat semanis mungkin
" Apa sih " ucap Mas Imron nampak malu malu
Ku berdiri dan menyentuh bibirnya dengan sengaja aku menarik sudut bibirnya.
" Kalau mau senyum senyum aja. Begini kan cakep " ucapku dan dia segera menepis tanganku
Aku bergelayut manja di lengannya sedangkan Mas Imron hanya geleng geleng kepala dengan kelakuanku.
**
" Nanti aku jemput " ucapnya kemudian berlalu dengan motor maticku.
Ya hari ini aku dan Mas Imron pergi bekerja menggunakan motor matic.
Awalnya Mas Imron menolak dengan alasan kena debu nanti lecek dan bau jalanan
Tetapi aku memaksanya, hingga akhirnya dia luluh juga.
" Mas sudah sampai kantor ? " Ucapku mengirimkan pesan padanya
" Udah " jawabnya singkat
" Lebih hemat waktu kan kalau naik motor " balasku kemudian
Bel berbunyi dan aku segera memasuki ruang kelas untuk memberikan pelajaran kepada anak-anak.
**
Mas Imron nampak sudah stand by di pelataran sekolah. Segera aku menuju ke arahnya
" Hai Mas, cepet kan naik motor ? " Tanyaku
" Udah ayo naik keburu hujan " ucapnya sembari menyerahkan helm padaku
Dan Mas Imron segera melajukan kendaraanya.
Tak berselang lama rintik hujan mulai jatuh dan membasahi kami.
Mas Imron semakin cepat melajukan kendaraannya.
" Mas jangan kenceng-kenceng " ucapku ketakutan
" Kamu gak tahu hujan ? " Sahut Mas Imron
" Mas meskipun kamu bawanya kenceng kenceng yang namanya hujan tetep hujan dan kita bakal tetep basah. Jadi nikmati aja , gak ada salahnya menikmati hujan " ucapku
Mas Imron melunak dan mengurangi kecepatannya
" Layaknya kehidupan ini Mas. Yang di takdirkan terjadi bakal tetep terjadi, meski sekeras apapun kita mencoba menolaknya" ucapku kemudian
Dan dari balik spion dapat ku lihat Mas Imron tersenyum.
Hujan semakin deras dan pelukanku semakin erat.
Kami menikmati setiap rintikan hujan yang turun. Tak peduli lagi dengan tubuh yang basah kuyup
Tak lupa ku lantunkan doa, agar hujan menjadi berkah.
**
Segelas kopi ku sajikan untuk menghangatkan tubuh kami berdua.
" Hujannya awet ya " ucap Mas Imron kemudian
" Iya kayak cintaku padamu " godaku yang membuatnya tersedak
" Kamu jago gombal ya sekarang " ucapnya lagi
" Mencintaimu juga aku jago " godaku lagi
Di kecupnya bibirku hingga akhirnya selesai di ranjang peraduan
**
jika dahulu aku merasa sebagai perempuan yang paling tersakiti
maka hari ini aku memandang diriku sebagai perempuan yang beruntung.
beruntung karena telah memiliki kamu sebagai pendamping hidup.
meski ku tahu, kamu bukanlah pria sempurna.
tetapi kamu adalah pria yang bertanggung jawab.
Tanpa ku tahu betapa kamu menguatkan diri untuk mempertahankan kita
Tanpa ku tahu betapa kamu menjaga hati untuk cinta kita.
Aku yakin semua tak akan mudah , tetapi kamu bisa.
Aku tak menjamin jika semua lelaki melakukan hal yang sama.
Aku yakin semua lelaki tak akan mampu, jika bukan kamu.
Aku berterima kasih untuk banyak hal yang telah kamu persembahkan untukku, termasuk caramu mencintaiku.
Meski awalnya terasa sakit karena aku, kamu biarkan berjuang sendirian. tetapi kini cintamu terasa begitu nyata dan besar.
meski terkadang aku merasa seperti di permainkan.
Meski terkadang aku merasa bukan hanya aku yang ada di dalam hatimu.
Aku tahu, kamu bukan pria buruk yang dengan sengaja mempermainkan janji suci kita.
hanya saja kamu belum mendapatkan cela untuk meletakan dirimu di hatiku yang kosong.
setelah pengakuanmu kalah itu, aku semakin yakin untuk menjalani hari bersamamu. Merangkai asa dan menata masa depan.
Aku berani bertaruh bahwa tak ada tempat untuk lelaki lain selain kamu.
Dan untuk segala cerita cerita menyakitkan, aku siap menghadapinya bersamamu. Membuktikan kepada dunia bahwa cinta kita kuat, cinta kita hebat dan cinta kita yang akan menang.
Percayalah, tak ada sedikitpun terbesit di benakku untuk berpisah darimu. sepahit apapun kehidupanku nanti.
Aku percaya kekuatan cinta itu nyata.
Dan aku percaya kamu pun mempunyai fikiran demikian.
Maka berjanjilah untuk tetap bersamaku apapun keadaanya.
sepahit apapun takdirnya.
Karena bersamamu , aku yakin bisa melewatinya meskipun harus dengan langkah yang tertatih