" Gantengnya anak Mama " ucapku sembari merapikan seragam yang Aldy kenakan.
Hari ini adalah hari istimewa untuk Aldy, karena hari ini, hari pertama Aldy bersekolah.
Berulang kali ia tersenyum di depan kaca.
Tak terasa waktu cepat berlalu, rasanya baru kemarin aku merasakan sakitnya melahirkan. Kini putraku sudah akan bersekolah. Putraku sudah tumbuh dengan cepat.
" Maaf ya, Papa gak bisa nemenin Aldy di hari pertama sekolah " Ucap Mas Imron yang tiba tiba muncul.
" Gak masalah Pa. Kan Mama sama Uti yang akan nemenin Aldy ke sekolah " jawab Aldy dengan senyum mengembang.
" Sama Nenek Kakek juga dong "
Aku tak menyangka jika Mama dan Papa berada di tengah-tengah kami.
Aldy begitu bahagia dan berlari memeluk Mama Papa .
Begitu pun dengan aku, aku segera menghampiri mereka.
" Mama Papa kok gak bilang-bilang kalau mau datang " ucapku
" Kalau bilang-bilang dulu, namanya bukan surprise dong " Jawab Mama sembari mengerlingkan mata menatap Mas Imron.
" Jadi kamu biang keroknya Mas " ucapku kepada Mas Imron sambil memberikan cubitan kecil padanya.
" Aduh sakit " keluh Mas Imron. Dan kami semua pun tertawa terbahak-bahak
" Assalamualaikum " Ucap kami semua saat berada tepat di depan rumah Ibu
" Walaikumsalam " Sahut Ibu dari dalam
" Halo Bu " sapa Mama dan Ibu segera memeluk Mama
" Sejak kapan ada disini jeng ? " Tanya Ibu
" Semalam sih, cuma saya sengaja nginap di hotel " jawab Mama
" Loh kenapa kok di hotel ? " Tanya Ibu yang keheranan
" Anita saja gak tahu loh Bu, kalau Mama dan Papa ada disini " Jawabku
" Sengaja mau bikin kejutan untuk Aldy dan Anita " Sahut Papa
" Ayo masuk masuk " Ucap Ibu mempersilahkan
" Mama Papa sengaja kesini untuk ngantar Aldy di hari pertama sekolahnya " Jawab Mas Imron.
" Oh begitu , Ibu udah siap nih. Bentar Ibu ambil tas dahulu " Ucap Ibu kemudian berlalu
Tak menunggu waktu lama , kami pun segera masuk ke mobil dan dengan hati-hati Mas Imron mengemudikan mobilnya.
" Yang sekolah Aldy yang ngantar banyak banget ya " Ucap Mas Imron memecahkan suasana.
Sepanjang perjalanan kami berbaur bersama, bercerita banyak hal hingga menertawakan hal konyol.
Tak terasa tujuan sudah di depan mata.
Miss Ruri menyambut kedatangan kami.
" Maaf ya Miss, rame-rame nih " ucapku basa-basi
" Tidak masalah Bu, tetapi orang tua hanya di perbolehkan menyaksikan proses belajar mengajar di luar kelas ya. Apabila nanti Aldy membutuhkan pendamping hanya di perbolehkan satu orang yang mendampingi " Ucap Miss Riri
Dan kami serentak menjawab " Iya"
" Nah sekarang Aldy masuk kelas ya berbaur dengan teman-teman Aldy. " Ajak Miss Ruri pada Aldy
" Untuk Bapak Ibu silahkan di ruangan pemantau. Ibu dan Bapak tetapi bisa memantau proses belajar putra ibu, karena hanya di pisahkan dengan dinding kaca " perjelas Miss Ruri
" Terimakasih Miss " ucapku Pada Miss Ruri.
Dan kami semua menuju ruangan yang di maksud oleh Miss Ruri.
Menyaksikan Aldy dari bilik kaca sangat menarik. Aldy adalah sosok yang mudah berbaur dengan orang lain.
Ia pun berani sepanjang kegiatan perkenalan ia sama sekali tidak meminta salah satu di antara kami untuk menemaninya. Ia benar benar menikmati hari pertamanya bersekolah.
Karena ini adalah hari pertama, sehingga tak ada kegiatan belajar hanya sekedar perkenalan saja. Dan Aldy begitu cepat adaptasi.
Haus melanda tenggorokanku, aku pun izin untuk membeli minuman di kantin yang berada di sekolah ini.
ku mengambil 5 botol air mineral dan segera membayarnya.
Sejenak aku duduk di kursi yang berada di kantin , dan sejenak mengecek ponsel.
" Anita " Sapa Mas Hendra yang kemudian duduk di depanku
" Loh Mas , disini juga ? " Tanyaku yang cukup terkejut dengan kehadiran Mas Hendra.
" Kebetulan anakku bersekolah disini Nit " Jawabnya
" Oh ya sama dong, di kelas apa ? anakku masih baru sih disini " ucapku
" Di kelas "
drrrt drrrt
Dering ponselku berbunyi, dan aku segera mengangkatnya
" oh ya. ini aku udah selesai kok " jawabku.
Setelah ku tutup panggilan telfon di gawaiku aku pun segera beranjak dan berpamitan pada Mas Hendra
" Mas aku duluan ya. Aldy cariin aku soalnya " ucapku pada Mas Hendra
" Oh ya silahkan " ucapnya.
Dan aku pun bergegas kembali ke kelas Aldy.
**
Aldy nampak lelah sekali sampai-sampai ia ketiduran di mobil.
" Oh ya Ron, beberapa hari ini sering ada kiriman kerumah Mama " Ucap Mama
" Kiriman apa Ma ? " tanya Mas Imron
" Kapan hari pas ulang tahun Papa itu ada seseorang yang kirim kue kerumah, aku fikir itu dari kamu. Eh selang beberapa menit ada lagi kiriman kue yang nama pengirimnya Kalian. terus Mama sempet telfon kamu kan Nit. dan bener kiriman kue yang kedua itu yang dari kamu. Lalu kiriman kue yang pertama dari siapa ? " Ucap Mama
" Terus Mama makan kuenya ? " Tanya Mas Imron
" Gaklah Ron, Mama takut kalau ada yang berniat buruk sama Mama Papa " Jawab Mama
" Terus kapan hari juga ada paket isinya sih baju untuk Mama dan Papa kalau di lihat dari brandnya sih brand terkenal. Kata kalian di w******p itu bukan dari kalian kan ? " Lanjut Mama
" Mama tuh merasa akhir-akhir ini ada yang memperhatikan keluarga Mama. sering banget ada ojek online yang ngantar kiriman makanan tapi gak jelas itu dari siapa " Keluh Mama kemudian.
" Hati-hati Ma jangan pernah memakan sesuatu yang Mama gak tahu itu pengirimnya siapa " Pesan Mas Imron
" Iya , mangkanya Mama itu takut Imron " Ucap Mama.
" Sudah coba tanya ke temen-temenmu yang biasanya care sama kamu belum Jeng ? Mungkin itu kiriman dari mereka " sahut Ibu kemudian
" Sudah Bu. Sudah aku tanyain satu persatu tapi bukan mereka yang kirim " Jawab Ibu.
" Siapa ya Mas, kira-kira ? " tanyaku pada Mas Imron dan Mas Imron hanya geleng-geleng kepala.
**
" Mama, Papa, Ibu istirahat dulu ya . Misal mau makan silahkan sudah Anita sediakan " Ucapku pada Ibu dan Mertuaku.
Aku segera menyusul Mas Imron yang berada di dalam kamar.
Mas Imron nampaknya sedang melamun, sehingga ia tak menyadari akan kedatanganku
" Mas "
" Eh iya "
" Lagi mikirin Mama ya "
" Iya. aku kepikiran sama Mama . kira-kira siapa yang berlaku seperti itu ke Mama. Apa maunya ? ataukah berbuat baik atau malah mau mencelakai Mama . Aku takut sama keselamatan Mama dan Papa Nit " jawab Mas Imron
" Untuk sementara biarkan Mama dan Papa tinggal lebih lama disini. Biarkan sampai suasananya kondusif " ucapku dan Mas Imron mengangguk
**
Malam ini, rumah nampak ramai dengan kehadiran Ibu serta Mama dan Papa.
Kami berkumpul bersama, bersenda gurau.
Terasa sangat hangat dan harmoni sekali.
" Aldy sudah besar ? sudah siap punya adik belum " Tanya Mama tiba-tiba
" Adik itu datangnya darimana nenek ? " Tanya Aldy kemudian
" Adik datangnya dari Mama sama Papa. kalau Mama dan Papa sering tidur bersama " jawab Neneknya
" Mama sama Papa sekarang tidurnya bareng terus. kalau dulu tidurnya pisah. Mama di kamar tamu kadang di kamarku Nek " Jawab Aldy
Dan aku pun terbengong jawab Aldy. Seketika Mama menoleh ke arahku, aku nampak gugup di tatap tajam oleh Mama.
Sama sepertiku Mas Imron juga nampak kelimpungan.
" Oh ya . Benar begitu Imron, Anita ? " Tanya Mama kemudian
" Oh itu Pas Anita lagi pengen nonton drakor Ma kan sampai malam tuh . takut mengganggu Mas Imron yang lagi Istirahat " jawabku seadanya
" Aldy sudah cukup besar, sudah saatnya kalian memberikan Aldy adik " Ucap Mama kemudian
" Iya Ma, semoga segera di kasih ya Ma " jawabku
" Kamu gak lagi Kb kan Nit ? " Tanya Mama menebak.
" Enggak Ma " jawabku
" Ya semoga saja Pil Kb yang aku temukan di dapur bukan milikmu ya Nit " jawab Mama kemudian
deg
Pil Kb ? itu jelas milikku, mengapa bisa ada di dapur.
Pil Kb itu seharusnya ada di Lemariku.
Seketika Mas Imron menatapku dengan tatapan penuh tanya. Ya Mas Imron tak mengetahui jika selama ini aku mengkonsumsi Pil Kb.
Jujur saja, meskipun Mas Imron telah mengakui jika dia mencintaiku dan segala sikapnya telah berubah.
Tetapi aku merasa jika aku belum siap memiliki anak.
Aku merasa ada sesuatu yang Mas Imron sembunyikan dariku.
Sebelum aku mengetahui semua tentang Mas Imron, aku tak mau memiliki anak dahulu.
" Oh mungkin milik Bik Murni Ma " ucapku.
Hampir saja ketahuan, batinku.
**
" Kamu yakin Pil Kb itu milik Bik Murni " Tanya Mas Imron yang tiba-tiba saat aku baru saja memasuki kamar.
" I.. iya Mas. mau punya siapa lagi " ucapku berusaha menyembunyikan kegugupanku
" Baguslah, kalau bukan punyamu " Ucap Mas Imron dan aku hanya tersenyum.
" kenapa sih Mas, kamu pingin cepat-cepat punya anak lagi ? " Tanyaku kemudian
" Ya kenapa? Baguslah nanti kita tua, anak-anak sudah tumbuh besar. Kamu belum pingin nambah anak, apakah kamu belum percaya sepenuhnya ke aku ? " Tanya Mas Imron
jujur saja, aku memang belum sepenuhnya percaya kepada Mas Imron. Menurutku ada sesuatu yang janggal antara Mas Imron dan Devi.
Tidak mungkin Devi begitu mencintai Mas Imron dan mengabaikan status Mas Imron yang sudah beristri jika tak ada sesuatu yang sangat penting untuk Devi.
Aku percaya Devi cukup waras untuk mengerti situasi ini, jika cinta memang tak bisa di paksakan.
Namun beda lagi cerita kalau memang Elzio adalah anak mereka. Sehingga Devi dengan keras ingin kembali kepada Mas Imron.
Aku akan mengungkap kebenarannya meskipun nantinya yang terpampang di depan mata adalah kenyataan yang menyakitkan. Aku sudah siap dengan segala resikonya
" Nit " Ucap Mas Imron membuyarkan lamunanku
" Eh iya Mas " ucapku
" Kamu masih belum percaya sama Aku ? " Tanyanya lagi.
" Biarkan waktu yang membuktikan semuanya " Ucapku dengan tersenyum.
**
" Jeng Maaf hari ini saya mau ke Mall dulu ya. Dalaman saya ketinggalan " Ucap Mama Pada Ibu. Yang dapat ku dengar dari balik dapur
" Iya tak apa . Biar Aldy saya yang nemenin " jawab Ibu
" Mama mau ke mall ? " sahutku sembari duduk di meja makan
" Iya Nit. Mama sama Papa biar naik ojek online saja, dalaman Mama ketinggalan perasaan udah Mama packing masih juga tertinggal. dasar pikun " jawab Mama
" Biar Imron antar Ma. lagian kan searah sama sekolahan Aldy . setelah ngantar Ibu dan Aldy nanti Imron antar Mama dan Papa ke Mall " sahut Mas Imron
" Gak usah , nanti kamu telat berangkat kerjanya " Tolak Mama
" Santai aja Ma " jawab Mas Imron dengan lugas
Setelah menyelesaikan sarapan, kami pun melanjutkan aktivitas masing-masing.
Aku berpamitan untuk pergi mengajar menggunakan motor matic kesayanganku.
sedangkan Mama Papa Ibu dan Aldy berada satu mobil dengan Mas Imron. Mereka pun akan melakukan aktivitas yang sudah di rencanakan.
Kami dengan tujuan kami masing masing. Dengan semangat yang membara, aku kemudikan motorku menuju tempatku mengajar
sesampainya di sekolah dengan segera aku menyusun materi yang akan aku ajarkan kepada siswaku.
Waktu berlalu begitu cepat tak terasa
Jam menunjukan pukul 15.00 Wib. setelah selesai dengan berkasku
aku pun segera pulang kerumah Ibu.
Sesampainya disana , ternyata hanya ada Ibu dan Aldy.
Ibu mengatakan bahwa Mama dan Papa belum pulang sejak pagi dari Mall.
Aku putuskan untuk pulang kerumah tanpa mengajak Aldy pulang kerumahku.
Ku ambil gawaiku yang tertinggal di meja makan dan segera menelfon Mas Imron.
Aku takut terjadi sesuatu dengan Mama dan Papa.
Masa iya, Mama dan Papa pergi hampir setengah hari sedangkan yang aku tahu Mama dan Papa bukan orang yang hobby menghabiskan waktu lama-lama di Mall.
Namun, tak berselang lama ada deruh mobil yang berhenti tepat di depan rumahku. Tetapi itu bukan suara mesin mobil Mas Imron.
Segera aku membuka pintu untuk memastikan siapa yang datang berkunjung.
Mama dan Papa turun dari dalam mobil membuatku merasa lega.
Mataku membulat saat mengetahui seseorang yang bersama Mama dan Papa.
Mama nampak ramah mempersilahkannya untuk masuk ke rumahku.
Mengapa Dia bisa bersama Mama dan Papa ?
Sejak Kapan mereka saling kenal dengan baik ?