" Oh Aldy sering main sama tante Devi dan anaknya. Apa anak tante Devi seumuran ya sama Aldy " tanyaku memperjelas
" Gak Ma. Anaknya kecil " jawabnya polos
" Oh ya ya " ucapku .
Ku rasa semua jawaban Aldy cukup bagiku untuk tahu seperti apa hubungan kalian.
Aku akan mencari tahu sendiri sejauh apa hubunganmu dengan Devi dan siapakah anak yang di maksud oleh Aldy Mas
**
Deruh mesin mobil terparkir di halaman, dengan tergesa Mas Imron segera masuk menuju rumah
" Anita .. kamu pulang gak ngabarin aku. Kan aku sudah janji bakal jemput kamu " ucapnya dengan sedikit cemas
" Gak perlu aku bisa pulang sendiri " ucapku ketus
" Oh ya . Mulai hari ini aku akan tinggal dirumah Ibu . Tuh lihat koper berisikan semua kebutuhanku sudah aku bawa kesini " ucapku menunjukan koper yang berada tepat di sudut ruangan
" Apa maksudmu " tanya Mas Imron
" Bukannya kamu sudah gak membutuhkan aku lagi ha. Kan sudah ada wanita itu " ucapku lantang
" Berapa kali aku harus mengatakan jika aku dan Devi tidak mempunyai hubungan apa apa Nita " ucapnya memelas
Tetapi aku bukanlah wanita yang seperti dahulu lagi, yang mudah mengalah, yang percaya setiap omongannya dan mewajarkan semua sikap buruknya. Ku rasa sudah saatnya aku harus bersikap tegas
Setidaknya untuk harga diriku, agar tak di pandang rendah olehnya.
" Oh ya .. jika tak mempunyai hubungan apapun untuk apa kamu mengenalkannya pada Aldy. Apa tujuanmu ?
Agar jika kita berpisah, Aldy terbiasa dengan sosok Devi. Iya kan " ucapku penuh amarah
" Devi lebih segalanya dariku . Cantik , pintar, pandai memasak bahkan pandai merebut suami orang " ucapku sambil memicingkan sebelah mata
" Ingat meski begitu tak sedikitpun ku biarkan Devi menyentuh putraku " ucapku kemudian berlalu
" Anita tunggu " ucapnya menahanku agar tak berlalu tapi dengan secepat kilat aku melepaskan diri dari genggamannya
" Apa lagi ? Kamu tak butuh aku Mas . Wanita itu punya segala yang kamu butuhkan. Pantas saja jika bertahun tahun lamanya serumah denganku sedikitpun hasratmu tidak bergejolak yaa tentunya dia bahkan bisa memenuhi hasratmu. Oh atau jangan jangan anak kecil yang di bawa Devi bertemu Aldy adalah anak kandungmu Mas , iya kan ? " Ucapku yang membuatnya tampak gugup menjawabnya
" Hahaaa .. kau pasti tak percaya aku bisa bicara selancang ini. Aku tidak sebodoh yang kamu kira " ucapku dengan penuh penekanan kemudian segera berlalu pergi
Tetapi ia menyeretku ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam
" He apa maumu , buka " ucapku mencoba membuka pintu tetapi sia sia karena kunci pintu sudah di ambil oleh Mas Imron
" Mengapa dengan mudahnya kamu menuduhku Anita " ucapnya sambil terus mendekat ke arahku
Matanya merah menyala seperti hendak menerkamku . Bibirnya bergerak gerak seperti ingin mencabik cabik dagingku.
Aku ketakutan melihat Mas Imron semarah ini padaku.
Tetapi bukankah semua yang aku katakan benar adanya.
Oh tuhan apa yang akan Mas Imron perbuat
Apakah Ia akan membunuhku
Ia memukul dinding dengat sangat keras membuatku terhenyak
" Tak bisakah kau lihat perubahan dariku, bisakah sedikit menghargai aku " ucapnya sambil terus melotot ke arahku tanpa berkedip
" Aku memang salah tapi bukan berarti aku tidak bisa berubah "
Ia kemudian mengangkat wajahku dengan kasar
" Jika kau kira aku bisa menahan hasrat karena aku terpuaskan di luar sana. Kau salah besar.
Aku menahan hasrat karena aku tak mau lagi membuatmu terluka seperti dahulu. Jika sekarang kau ingin aku meluapkannya mari kita buktikan sekarang "
Dengan cepat ia mengulum bibirku tanpa memberi celah bagiku untuk sedikit bernafas
Ia tampak beringas seperti harimau yang kelaparan.
Kemudian Ia menarik paksa baju yang ku kenakan hingga akhirnya sobek
Perlahan tapi pasti ia mengarahkan wajahnya pada buah da-daku
Tanpa perlu menunggu lama ia melahapnya dengan buas. Sentuhan di bagian bawahku membuatku tak tahan untuk mendesah
Ku tarik tarik rambutnya yang membuat dia semakin lahap memakan benda kenyal yang ku punya
Hingga akhirnya pertarungan itu pun di mulai .
Aku terbangun ketika jarum jam menunjukan pukul 7 malam
Ku lirik Mas Imron yang berada di sebelahku, ia tertidur cukup pulas nampaknya ia sangat kelelahan sekali.
Dengan mengendap endap aku keluar dari kamar dan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri
Bakal malu kalau ketahuan Ibu, batinku
Ku percepat mandiku dan segera menuju kamar
" Ma " ucap Aldy mengagetkanku di susul Ibu yang ada di belakangnya
" Eh iya Nak " jawabku yang sedikit kaget
" Mama emang gak dingin malam malam keramas padahal di luar lagi hujan " ucapnya polos
Aku hanya cengar cengir tidak tahu harus menjawab apa
Ku lihat Ibu pun sama cengar cengirnya denganku
" Mama ganti baju dulu " pamitku pada Aldy
Duh kenapa sih pakai acara ketahuan Aldy, kan aku malu .
Malu juga sama Ibu, kayaknya tuh semua masalah bakal selesai jika sudah kena urusan ranjang.
" Sudah jam berapa " sambil terbangun dan mengucek matanya Mas Imron menanyakan hal itu padaku
" Jam tujuh, buruan mandi " ucapku sembari melemparkan handuk pada Mas Imron
Dengan langkah gontai Mas Imron menuruti perintahku.
Kini kami telah bersiap di meja makan untuk makan malam bersama sama
Aku nampak canggung di depan Ibu.
Ntah rasanya malu sekali ketahuan sama Ibu kalau kami habis ritual , ya meskipun kami sudah pasangan halal
Tetapi untuk urusan ranjang masih menjadi hal tabuh untukku.
Selesai makan aku buru buru mengajak Mas Imron untuk pulang .
Mas Imron nampak heran dengan keputusan yang ku buat
" Bukannya mau nginap sini " tanya Mas Imron padaku
" Pulang ajalah " ucapku kemudian
" Mau nambah dirumah " ia menyeringgai
Aku hanya manyun mendengar ucapannya dan menarik koperku keluar
Toel
Dengan sengaja ia mencubit pantatku
" Dasar m***m " ucapku kemudian berlalu
" Bu " sapaku pada Ibu yang sedang membacakan Aldy dongeng di teras rumah
" Loh mau pulang, bukannya mau nginap disini ? " Tanya Ibu
" Anita mau pulang saja Bu. Aldy kita pulang yuk, pamitan sama Uti " ucapku seraya menyuruh Aldy untuk bersalaman sama Ibu
" Aldy disini aja lah Ma. Lagi asik baca cerita ini sama Uti " sanggah Aldy kemudian
" Biarkan Aldy disini, kalian pulang saja " ucap Ibu kemudian
Aku dan Mas Imron pun akhirnya berpamitan pada Ibu
Dan tak lama mobil Mas Imron melaju meninggalkan pelataran rumah Ibu
Sepanjang jalan kami hanya saling diam dan bersembunyi di balik fikiran kita masing masing.
Aku hanya menatap kosong ke arah jalanan, sampai akhirnya aku tersadar jika mobil Mas Imron tak mengarah ke jalan pulang
" Kita mau kemana " ucapku pada Mas Imron
Dia hanya menatapku sambil tersenyum tanpa menjawab sepatah kata pun, kemudian kembali fokus mengemudi
" Mas . Kita mau kemana " ucapku lagi
" Tenang saja . Kamu aman bersamaku " jawabnya nampak santai
" Iya mau kemana, kamu mau culik aku ? " Ucapku sedikit emosi
" Mana ada suami culik istrinya " ucapnya sambil terkekeh
" Lalu kita mau kemana ? Aku teriak nih " ucapku sedikit mengancam
" Teriak aja . Gak bakal ada yang nolong, orang kita suami istri " ucapnya sambil tetap fokus ke jalanan
Kemudian mobilnya terparkir di sebuah tempat di tepi pantai yang banyak pepohonannya.
Tempatnya pun cukup remang remang dan ku lihat banyak mobil mobil juga yang terparkir disini
" Ngapain disini " tanyaku yang kebingungan dengan tempat asing ini
Mas Imron menatapku sambil tersenyum
Aku di buat bingung dengan kelakuannya.
Perlahan, ia mendekatkan wajahnya ke arahku
Lalu kemudian mengarahkan bibirnya untuk mendekati bibirku
Dannn
Awwww silauuu
Sebuah cahaya tiba tiba menerangi kami.
Seseorang berseragam satpol PP menggedor gedor pintu mobil kami dengan sangat kencang.
Mas Imron kemudian menurunkan sedikit cendelanya agar dapat berkomunikasi dengan jelas, dengan satpol PP tersebut
" Selamat malam, kami selaku petugas keamanan di daerah sini . Izin membawa Ibu dan bapak untuk di mintai keterangan di kantor polisi karena sudah berbuat m***m di daerah sekitar sini " ucapnya
" Tapi kami suami istri pak " sanggahku dengan cepat
" Bisa menunjukan surat keterangan menikah " ucapnya kemudian
Waduh gawat , aku gak bawa buku nikah.
Lagian buat apa juga aku riwa riwi membawa buku nikah.
Lagian Mas Imron ada ada saja , untuk apa Ia kemari
Kita kan bisa melakukannya di rumah.
" Ini pak " ucap Mas Imron sambil menyodorkan buku nikah kami
Tak ku sangka, Mas Imron membawa buku nikah kami . Untuk apa
Apa iya memang sengaja dan telah mempersiapkan segalanya
Petugas satpol PP itu pun kembali memintai kartu tanda penduduk milik kami. Dan kami menyerahkannya
Setelah di samakan dengan data di buku nikah, satpol PP itu pun mengembalikannya pada kami
" Baiklah . Terimakasih tetapi saya mohon Bapak atau Ibu tidak melakukan tindak asusila di tempat ini. Selamat malam " ucapnya kemudian berlalu
Aku dan Mas Imron sama sama bernafas lega
Dan Mas Imron kembali mengemudikan mobilnya untuk menjauh dari tempat ini
" Kok bisa kamu bawah buku nikah kemana mana sih " tanyaku pada Mas Imron
" Kamu lupa ? Bukannya kamu yang menaruhnya pada dashboard mobil ini " jawabnya
" Ha aku " tanyaku keheranan
Setelah ku coba untuk mengingatnya aku pun ingat bahwa buku nikah itu mau ku gandakan untuk mengurus pembelian rumah , yang merupakan investasi untuk Aldy.
Namun setelah ku gandakan, aku lupa untuk menaruhnya kembali pada tempatnya.
Duh mengapa aku bisa seceroboh itu.
Dan untungnya kini bermanfaat.
Untung saja Mas Imron punya daya ingat yang tajam.
Mas Imron memakirkan mobilnya di pelataran sebuah motel.
Mengapa Ia membawaku kemari, kita kan bisa melakukannya di rumah. Fikirku
Tetapi aku menurut saja , aku keluar dari mobil dan mengikuti langkah Mas Imron untuk memasuki sebuah kamar yang merupakan fasilitas dari motel tersebut
Dadaku berdegup dengan kencang, membayangkan yang akan terjadi pada kami sesaat lagi.
Ku jatuhkan bokongku pada ranjang yang empuk
Begitu pun dengan Mas Imron setelah menghabiskan satu batang rokok
Ia pun mendekatiku.
Ia membelai rambutku dengan sangat lembut
Sesekali ia menciuminya dengan penuh nafsu.
Kemudian ia bersandar padaku dan memelukku dari belakang.
Aku mencoba untuk membuat diriku senyaman mungkin berada di pelukannya.
Apakah ini yang Mas Imron katakan ingin melakukannya dengan hatinya
Apa kini hatinya sudah sedikit terbuka untukku
Apakah kini ia sudah bisa menerimaku sebagai istrinya.
Ataukah aku hanya pelampiasan nafsunya saja.
Semakin lama, tangan Mas Imron semakin aktif bergerilya di tubuhku.
Aku menikmati sentuhan demi sentuhan yang Mas Imron persembahkan
" Lepaskan saja aku ingin mendengar desahanmu " ucapnya berbisik di telingaku
Membuatku semakin panas dengan permainan yang ia ciptakan.
Ku ikutin alur demi alur permainan yang ia mainkan
Malam ini tempat ini menjadi saksi bisu bagaimana peraduhan panas kami.
**
Perutku terasa sangat keroncongan setelah semua tenaga aku habiskan untuk memenuhi hasrat yang telah sekian lama terpendam
Mas Imron segera memencet telfon dan memesan makanan pada resepsionis
Tak lama makanan pesanan kami datang.
Dan tanpa pikir panjang , aku segera melahapnya.
Sesekali ku dapati Mas Imron curi pandang padaku dan kemudian tersenyum. Layaknya pengantin baru yang masih malu malu
Setelah melahap habis makanan yang tersaji, Mas Imron menuju balkon untuk merokok.
Aku pun memakai bajuku ala kadarnya dan menyusulnya di balkon.
" Mas .. terimakasih " ucapku dan ia hanya tersenyum
" Mas .. apakah ini artinya kamu sudah bisa menerimaku sebagai istrimu " ucapku
Ia pun kemudian menatapku dengan sorot mata yang tajam
" Sejak awal aku sudah menerimamu sebagai istriku, hanya saja aku belum bisa berdamai dengan diriku akibat perjodohan kita. Maaf karena sudah membiarkanmu berjuang sendirian. Dan kini harus ku akui kalau aku "
Drrrtrrr Drrrr Drrrt
Dering ponsel milik Mas Imron mengagetkan kami dan membuat Mas Imron menghentikan ucapannya
Dengan segera Mas Imron mengangkat ponselnya
" Apa ? Iya iya aku segera kesana " ucapnya dengan gupuh
" Maaf Anita. Aku harus pergi " ucapnya mengenakan kembali bajunya dengan rapi dan mengambil kunci mobil kemudian segera berlari meninggalkanku.
Kemana Mas Imron ?
Ada apa, sehingga ia harus terburu buru dan meninggalkan aku sendirian disini