" Aldy ingin terus sama Mama dan Papa " ucapnya seraya meniup lilin .

1052 Kata
Segera ku pesan taxi online untuk menuju kerumah Devi. Menunggu taxi online datang kurang lebih 10 menit rasanya seperti menunggu berjam jam Mondar mandir aku menunggu kedatangan taxi online yang ku pesan. Hingga akhirnya taxi online itu pun datang, segera aku memasukinya dan menyuruh pak sopir untuk agak cepat sampai ke alamat rumah Devi Aku pun tiba di rumah devi , dan benar saja mobil Mas Imron terparkir disana Segera ku bayar taxi online yang tadi ku pesan Dan aku pun segera turun. Api cemburu tersulut dengan cepatnya, ku gedor rumah Devi namun tak kunjung ada jawaban Ku tarik kebawah handle pintu, nampak sepi Ku percepat langkahku hingga kini ku berada di halaman belakang rumah Devi yang terdapat kolam renang Di ujung kolam renang, ku dapati Mas Imron . Sedang apa dia Perlahan aku mendekatinya , dan tak ku sangka Mas Imron sedang b******u dengan Devi. Ku tutup mulutku yang terngagah, dengan air mata yang tiba tiba jatuh tanpa di minta. Segera aku berlari meninggalkan tempat tersebut, dan pyaaaaar tak sengaja aku memecahkan vas bunga yang berada tepat di sebelahku " Anitaaa " suara Mas Imron dengan jelas dapat ku dengar. Ku abaikan begitu saja, aku pun segera berlari meninggalkan rumah perempuan terkutuk itu. Dengan mengendarai ojek yang mangkal di depan komplek, aku pun menuju rumahku. Sepanjang jalan tangisan itu tak dapat ku tahan. Air mata itu mengalir begitu saja , rasa sesak di dalam d**a sangat mendominasi. Rasanya seperti di buat melayang tinggi kemudian di hempaskan begitu saja. Sakitttttt … Ku jatuhkan tubuhku pada ranjang berukuran dua meter tersebut. Merasakan rasa nyeri yang menjalar hingga ke sekujur tubuhku. Sakit teramat dalam menerima kenyataan pahit ini Seseorang yang ku cintai sepenuh hati tak membalas sedikit pun rasa yang ku punya. Seandainya kau jadi diriku, sanggupkah merasakan segala penghianatan yang dengan sadar kau buat Aku menangis tergugu, ku abaikan ketukan pintu yang sedari tadi memaksaku untuk membukanya. Dari balik pintu dapat ku kenali bahwa itu suara Mas Imron. Aku butuh waktu untuk menenangkan diriku sendiri, butuh waktu untuk mengembalikan kestabilan emosiku. Berada di posisi seperti ini, jelas bukan mauku. Namun takdir memaksaku untuk menjalani kehidupan berat di rumah tanggaku. Bukankah tuhan tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuan umatnya, lalu apa mungkin aku mampu melewati semuanya Ataukah aku akan menyerahkan semuanya ke pengadilan. Akan ada banyak hati yang terluka jika perpisahan kami benar terjadi. Namun aku tak bisa menjaga hati banyak orang dan membiarkan hatiku sendiri terluka. Bagaimanapun aku manusia biasa yang juga ingin bahagia, yang ingin merasakan manisnya sebuah pernikahan. “ Anita, tolong buka “ ucap Mas Imron di balik pintu yang nampak mengibah agar ku bukakan “ Nita tolong, aku bisa jelaskan “ sekali lagi dia memelas padaku. Namun tak sedikitpun ada niatan untukku memberikan ruang pada Mas Imron ** “ Mama , Mama lagi ngapain di dalam “ suara ketukan yang di iringi suara Aldy menyadarkanku dari tidur lelapku, ku pandangi jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 17.00 sudah berapa lama aku tertidur, tegunku. ku buka pintu , biar bagaimanapun aku tak bisa melibatkan Aldy dalam pertengkaran ini. aku harus bisa bersikap seolah baik baik saja di depan Aldy. ku pasang senyum yang paling manis untuk menyambut anak semata wayangku. Dialah satu satunya alasanku bertahan hingga detik ini. Dia lah sumber kekuatanku. ku usap lembut kepalanya “ Maaf ya, Mama lelah sekali hari ini “ “ Mata Mama kenapa “ tanyanya sambil memegang lembut mataku Memang mataku nampak begitu sembab, dan aku tak bisa menutupinya ke semua orang termasuk kepada makhluk kecil bernama Aldy. “ Aduh kenapa ya di gigit semut ini kayaknya “ ucapku berbohong “ Semut nakal ya Ma “ ucap polos Aldy seraya memelukku dengan erat. Pelukan kami saling menguatkan satu sama lain tak terasa bola mataku berembun dan kemudian menetes perlahan Segera ku sekah air mata yang jatuh, sebelum Aldy melihatnya. Perlahan Aldy melepaskan pelukanku sambil meniup niup mataku " Udah gak sakit Ma " ucapnya polos Aku menggelengkan kepala dan tersenyum dan Aldy pun membalas senyumku Mas Imron hanya terdiam terpatung menyaksikan percakapan antara aku dan Aldy. Ntah apa yang ada dalam fikirannya, semoga saja ada sedikit rasa iba dari lubuk hatinya Sehingga ia tidak dengan tega menjadikan anak sepintar Aldy harus kehilangan kebersamaan dengan orang tuanya. Segera aku membersihkan diri dan ikut gabung makan malam dengan Aldy dan Mas Imron Sepanjang acara makan, hanya celoteh Aldy yang mendominasi Aku dan Mas Imron hanya seperlunya saja menanggapi Aldy masuk ke dalam kamar, aku membereskan piring piring bekas makan malam . " Anita, ijinkan aku berbicara " ucapnya secara tiba tiba Aku tak tahu kapan ia berada disini karena tadi Mas Imron menemani Aldy bermain di kamarnya. Tak ku hiraukan Mas Imron, aku tetap sibuk dengan kegiatanku " Nita " ia mencengkram erat tanganku Ku sontakan tangannya hingga terlepas dari tanganku " Anita beri aku kesempatan untuk berbicara " " Apa yang tersaji di depan mataku, sudah cukup jelas Mas " ucapku penuh penekanan " Tapi kamu salah paham " sanggahnya Ku tarik nafas dalam dalam sambil merasakan sesak di dadaku Tidak … aku tak boleh menangis " Beri aku jeda " ucapku kemudian berlalu ** Pagi ini, mataku terasa berat sekali tetapi aku harus memaksakan diri untuk tetap mengajar Alarm di ponselku berbunyi sebuah pertanda bahwa hari ini adalah ulang tahun Aldy Aaah bagaimana aku bisa lupa tanggal ulang tahun putraku. Aku terlalu sibuk memikirkan cara menaklukan hati Mas Imron sehingga aku lalai bahwa hari ini putraku bertambah usia Aku segera membersihkan diri. Setelah ku rasa cukup rapi dan bersih Aku menuju meja makan , disana ada Mas Imron sudah siap dengan kue tartnya dan lilin yang menyala " Kamu mau ikut " tanya Mas Imron, sesaat mengetahui keberadaanku di belakangnya Aku menganggukan kepala pertanda setuju. Sehancur apapun hubunganku dengan Mas Imron tak mungkin dengan gamblang aku memperlihatkannya di depan Aldy. Kami harus tetap kompak sebagai orang tua yang bertanggung jawab atas kebahagiaan Aldy. " Happy birthday Aldy, Happy Birthday Aldy " lagu ulang tahun dengan kompak kami nyanyikan Aldy yang tertidur pun , terbangun dan nampak terkejut Ia tersipu malu sangat lucu sekali raut wajahnya " Berdoa dulu baru tiup lilin " perintah Mas Imron Ia memejamkan matanya dan tak lama kalimat sederhana terucap dari bibirnya yang mungil " Aldy ingin terus sama Mama dan Papa " ucapnya seraya meniup lilin .
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN