Ku Aminkan ucapan Aldy dalam hati. Semoga saja tiada kata perpisahan yang tercipta antara aku dan Mas Imron. Agar Aldy mendapat kasih sayang utuh dari kedua orang tuanya tanpa terbagi.
Secara bergantian, kami mengecup kening Aldy.
Aldy dengan wajah merah merona menyambut ciuman kami.
Nak semoga semua doamu terijabah, tetap bersama Mama Papa dan kamu tumbuh menjadi anak shaleh yang membanggakan.
Sesungguhnya kamulah jembatan cinta antara Mama Papa nak.
**
Sore ini sepulang mengajar aku mampir ke toko mainan untuk membelikan Aldy.
Lama memilih akhirnya pilihanku jatuh kepada mainan lego, ah Aldy Pasti suka.
Ia akan berkreasi dengan mainannya tersebut
Ku kendarai sepeda maticku menuju rumah Ibu untuk menjemput Aldy.
Dan ternyata Mas Imron sudah berada disana, tumben batinku.
Ada apa dia pulang cepat.
" Anita kau sudah pulang duduk sini " ajak Ibu, aku segera berjalan dan duduk di samping Ibu
" begini Anita, Imron berencana akan mengadakan pesta ulang tahun untuk Aldy. Sederhana sih cuma ngundang temen temen Aldy di sekitar rumah sini sama kerabat kerabat dekat"
Ya ku ingat permintaan Aldy beberapa bulan lalu , ketika ia baru saja datang dari pesta ulang tahun temennya
" Ma nanti kalau Aldy ulang tahun juga pingin di rayakan sama temen temen Aldy. Ada badot ada balon "
" Oke siap. Kita nabung dulu ya nanti kalau uangnya sudah cukup kita bikin pesta ulang tahun " ujarku
Dan memang teman Aldy kebanyakan di rumah Ibu. Sebab rumah yang ku tempati merupakan perumahan elit yang penghuninya jarang keluar rumah untuk bersosialisasi
Sedangkan rumah ibu berada di daerah yang padat penduduk yang warganya lebih senang menghabiskan waktu untuk ngobrol sambil momong anak.
Di rumah Ibu juga setiap sore Aldy sudah mulai rutin mengaji di Mushola bersama teman temannya
" Bagaimana menurutmu Anita " tanya Ibu kemudian
" Ya Anita setuju " jawabku
" Ya kalau gitu kamu jemput Mama dan Papa kamu besok Aldy. Kan minggu ini pestanya, masih ada waktu 5 hari untuk menyiapkan segalanya "
" Iya Bu " jawab Mas Imron
" Assalamualaikum " ucap Aldy yang baru pulang dari mengaji
" Walaikumsalam " ucap kami berbarengan.
" Kok tumben Mama Papa jam segini udah jemput Aldy " ucapnya yang kemudian duduk di pangkuan Mas Imron.
" Oh ya Mama punya hadiah untuk Aldy " ucapku
" Apa Ma " Aldy sangat penasaran di buatnya
" Taraaaah " ucapku menyerahkan kado kepada Aldy
Dengan antusias Aldy menerima kado dari aku.
" Eitsssss .. Papa juga gak mau kalah dari Mama . Papa juga punya sesuatu " sambung Mas Imron
" Bentar ya " Mas Imron menuju mobil yang terparkir di depan rumah Ibu, untuk mengambil hadiah milik Aldy
Aldy pun tak kalah antusias menerima hadiah dari Mas Imron
" Waaaaw .. mana dulu ni yang harus Aldy buka " ujarnya
Ia pun membuka kado pemberianku
" Waaaaaw " serunya
" Asik Aldy bisa bikin pesawat dari lego, bisa bikin rumah bisa bikin apa ajaaa horeeeee " seru Aldy.
Kemudian Ia pun membuka bingkisan dari Mas Imron. Betapa senangnya Ia mendapat hadiah scotter mini dari Papanya.
Secara bergantian Ia pun memeluk aku dan Mas Imron dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
Saat ku lirik Ibu, ternyata Mata Ibu berembun.
Ibu sangat terharu menyaksikan keharmonisan yang tersaji di depan mata.
Keharmonisan yang palsu bagiku.
Ku peluk Ibu dan tak lama Aldy ikut memeluk kami di susul Mas Imron.
Kami saling berpelukan yang menambah haru dan Ibu tak kuasa menahan bendungan air mata
" Ih jangan nangis dong Uti " ucap Aldy.
Tetapi bukannya malah berhenti, Ibu semakin menangis terguguh.
**
Mas Imron izin untuk menjemput Mama dan Papanya di terminal.
Ya Mama dan Papa memang lebih suka naik kendaraan umum, katanya lebih santai tinggal duduk sampai.
Papa pun berujar kalau di usianya yang tak lagi mudah, menyetir sangatlah melelahkan untuk Papa.
Aku yang menunggu kedatangan Mama Papa pun menyiapkan berbagai menu masakan untuk di santap bersama.
Hari ini aku selepas mengajar aku memang tak menjemput Aldy, Ibu sendiri yang berjanji mengantarkan Aldy nanti.
Dan benar, tak Lama Ibu dan Aldy datang.
Melihatku yang riweuh di dapur, ibu pun membantuku.
Setelah semuanya tersaji aku segera membersihkan diri, sebelum Mama Papa datang.
Kami pun duduk di teras rumah untuk menunggu kedatangan Mas Imron beserta orang tuanya.
Nahh akhirnya datang juga , kami saling bersalaman dan berpelukan melepaskan rindu setelah sekian lama tak jumpa.
Dan berbagai topik obrolan pun mengalir begitu lancar.
Kehangatan antar keluarga yang tak dapat tergantikan oleh apapun, semoga saja selamanya kehangatan ini akan tetap terjaga.
Selesai makan malam, kami pun berkumpul di ruang keluarga
" Oh ya kita masak apa ya Bu untuk pesta ulang tahun Aldy " ucap Mama
" Yang di sukai anak anak saja bu, misal kentucky sama nasi kuning " Jawab ibu
" Atau kita pesan catering aja gimana biar gak ribet, biar Ibu sama Mama gak capek " ucapku memberikan solusi.
" Aduhhhh gak capek Kita mah seneng kalau di repotin cucu sendiri, ya kan Bu " bantah Mama mertuaku yang di iringi anggukan dari Ibu
" Iya, nanti Aldy biar sama kakek kita bikin istana besaaaar dari lego ini ya kan Aldy " ucap Papa mertuaku
" Siap kakek " jawab Aldy dengan tegas.
" Maaf ya kalau Anita ga bisa bantu sepenuhnya karena Anita harus bekerja " ucapku lirih
" Duh kamu Nit, kayak sama siapa aja " ucap Mama
Aku hanya tersenyum menanggapinya. Aku bersyukur memiliki mertua seperti Mama dan Papa. Mereka sangat terbuka, tak membedak bedakan antara anak dan mantu. Bahkan mereka sangat care ke Ibu. Layaknya saudara sendiri
Atau memang karena sedari dulu mereka sudah berteman. Ntahlah , yang jelas aku bahagia memilik mertua seperti Mama dan Papa.
Seperti biasa, apabila Mama dan Papa berada disini.
Aku akan satu ranjang dengan Mas Imron.
Semenjak kejadian, beberapa hari lalu hubunganku dengan Mas Imron memang tidak baik.
Kami hanya bercakap seperlunya, dan situasi seperti ini sangat menyiksa bagi kami.
Aku berusaha memejamkan mata, aku tahu Mas Imron pun sedang melakukan hal yang sama denganku.
Tetapi entah mengapa mata ini enggan terpejam.
" Aku tahu kamu gak bisa tidur " ucap Mas Imron secara tiba tiba seakan mengerti keluhanku
Tetapi aku hanya diam saja, seolah olah aku sedang tertidur.
Mas Imron membalikan badannya ke arahku, dan ia semakin menggeser mendekatiku
" Anita " sapanya.
Ku hiraukan panggilannya, aku sedang tak ingin terlibat obrolan apapun bersamanya.
Ia semakin merapatkan badannya padaku.
Perlahan ia tarik selimut yang memang belum sempurna menutupi tubuhku.
Ia tarik hingga kini seluruh tubuhku tertutupi selimut
Ia belai lembut rambutku.
Kemudian ia tangkupkan pelukannya kepadaku
" Semoga pelukanku mampu membuatmu tertidur dengan nyaman" ucapnya dengan sangat hati hati