Aku hanya beruntung karena di pertemukan lebih dulu dengan Mas Imron dan kemudian di jodohkan

1131 Kata
Ternyata benar tak lama mataku terpejam dengan sendirinya. Ya Mas pelukanmu memang membuatku tertidur dengan sangat nyaman Tak terasa Alarmku berbunyi, pertanda hari selanjutnya sudah menanti untuk ku jalani. Setiap hari selalu ada cerita menarik yang berbeda, cerita suka dan duka datang silih berganti. Namun bukankah setiap cerita selalu ada hikmah yang dapat di petik. Selalu berdoa agar di beri ketabahan serta kekuatan untuk melewatinya. Ku lirik Mas Imron yang tepat berada di sebelahku, Ia tertidur sangat pulas. Dengan sangat hati hati aku turun dari ranjang untuk mengambil wudhu dan kemudian membangunkan Mas Imron Dengan sedikit mengerjap dan melikukkan tubuhnya akhirnya Ia pun terbangun. Dan kami melakukan ibadah shubuh bersama sama, Alhamdulillah. " Pagi " sapaku ketika memasuki dapur yang ternyata sudah ada Ibu dan Mama " Pagi " ucap mereka kompak " Duhhh pagi pagi udah kecium bau yang sedeeeeep heeeem " ucapkuu sambil menyium aroma yang berasal dari masakan para wanita wanita hebatku ini Aku pun turut berkutat untuk membantu Ibu dan Mama memasak. Selesai memasak aku menata sarapan di meja makan Dan ku lihat Aldy keluar kamar nampak sudah rapi " Anak Mama , duh udah mandi udah wangi ganteng gini. Mandi cama ciapa cih " sapaku " Sama kakek " jawabnya polos " Oh sama kakek, bilang apa dong sama kakek " " Makasih kek " ucapnya mendongak tepat menatap kakeknya " Sama sama sayang " ucap Papa lemah lembut " Ayo sini, Kakek sama Aldy duduk sini sebentar lagi kita sarapan bersama ya " ucapku mempersilahkan mereka untuk duduk di meja makan Tak lama lainnya menyusul dan kami pun sarapan bersama dengan sangat nikmat. ** " Anita, Imron. Mama sama Papa nginap di rumah Ibu saja ya. Aldy ikut dengan kami, biar lancar aksi kalian bikinkan adik untuk Aldy " Begitulah pesan yang Mama kirim di grup keluarga Aku hanya menggeleng gelengkan kepala membacanya. Ku lajukan sepedaku menuju cafe yang tak jauh dari tempatku mengajar. Kebetulan hari ini aku pulang cepat , tetapi karena mereka tak berada di rumahku Jadi buat apa aku pulang secepat ini kerumah. Aku memilih duduk di sudut cafe dengan pemandangan miniatur air terjun yang menenangkan. Ntah mengapa dengan melihat mendengar gemericik air yang jatuh itu sungguh menenangkan. Ku nikmati menyeduh kopi pesananku Ku taruh sejenak masalahku, ku buat serilex mungkin. Se kacau apapun aku harus tetap tenang dan tidak boleh gegabah. " Eh Mbaknya " ucap wanita berambut panjang menyapaku Aaa Sh-it mengapa harus bertemu dia disini, menghancurkan moodku saja. Dengan malas aku menatapnya. " Sendirian aja Mbak " ucapnya yang tanpa ku persilahkan tiba tiba duduk di depanku " Mbak, kamu itu hanya beruntung karena di pertemukan lebih dulu sama Mas Imron, lalu secara kebetulan menikah sama Mas Imron . Tetapi sayangnya kamu gak cukup pintar untuk membuat suami kamu bertekuk lutut sama kamu " Ucapnya sambil menertawakan aku Aku hanya mampu menatapnya nyalang tanpa berniat sedikit pun membalas ucapannya. Karena memang benar semua apa yang di ucapkan. Aku hanya beruntung karena di pertemukan lebih dulu dengan Mas Imron dan kemudian di jodohkan Coba saja saat itu aku bertemu ketika Mas Imron sudah mempunyai pasangan, tentu saja perjodohan ini tak mungkin terjadi. Setelah ku fikir fikir, malang juga nasib Mas Imron yang terpaksa menikah dengan perempuan yang tidak dia cintai. " Lihatlah Mbak, bagaimana dia dengan bahagia berada di sisiku " ucapnya seraya menunjukan momen kebersamaannya dengan Mas Imron. Ya dia begitu sumringah, senyumnya sangat jelas tergambar disana Di slide berikutnya terdapat Mas Imron yang dengan antusias memakan masakan yang aku yakini itu masakan Devi " Baguslah jadi aku tak perlu repot memasakan Mas Imron " ucapku sekenanya Di raih kembali ponsel miliknya dan dia menyeringai " Harusnya Mbak tuh tahu diri , lepaskan Mas Imron dia berhak bahagia dengan orang yang dia cintai " ucapnya penuh penekanan dengan wajahnya yang sengaja ia condongkan ke arahku. Sesaat kemudian ia berlalu pergi dari hadapanku Hufffft Ku hembuskan nafasku dengan kasar dan bersender pada senderan kursi. Dia benar Mas Imron berhak melanjutkan hidup dan bahagia bersama wanita yang Ia cintai, aku pun juga sama . Aku berhak mendapatkan seseorang yang dengan tulus mencintaiku Tetapi di sisi lain hatiku mengatakan jika aku bisa bertahan , aku bisa berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Mas Imron. Aku tak menyangka bisa terjebak di situasi sulit ini , ku kira dengan seiringnya waktu cinta dalam hati Mas Imron akan tumbuh. Namun nyatanya setelah bertahun tahun bersama cinta itu tak tumbuh jua . Harus berdarah yang seperti apa lagi aku mempertahankan rumah tanggaku, bila durinya saja berasal dari pasanganku sendiri. Aaaargh … ku tangkupkan wajahku pada tangan yang berada di meja. " Hei " Seseorang dengan sangat lembut menyentuh punggungku. Segera ku angat wajahku untuk mengetahui siapa pemilik suara tersebut. " Kamu " sapaku " Boleh duduk sini " " Ya " " Kamu kenapa , kusut banget mukanya " Aku hanya menggelengkan kepala, sembari berkata " aku gak papa " " Cerita aja barangkali bisa membuat kamu sedikit lega " Sanggah Mas Hendra " Gak kok , ini perkara kerjaan " alasanku " Oh ya ya .. oh ya sering nongkrong disini juga " tanyanya " Enggak sih, baru sekali ini " ucapku seraya menyeruput moccacino yang sedari tadi ku anggurkan Obrolan kami pun mengalir , ya meskipun tak menceritakan masalahku tetapi aku sedikit terhibur karena mempunyai teman bicara. ** Dengan malas ku buka handle pintu , tetapi dengan garang Mas Imron menyambut kepulanganku " Seneng banget yang habis jalan bareng " sindirnya " Maksud kamu " ucapku, lalu menghentikan langkahku " Kamu pikir aku gak tahu, apa yang kamu perbuat di luar sana. Ada hubungan apa kamu sama lelaki itu " ucapnya sambil terus merapatkan tubuhnya kepada ku " Apa pedulimu " tantangku " Aku suamimu Anita " Brughhhhhhh ucapnya sambil menghantam meja yang berada di sampingku Aku terlonjak kaget melihat tingkah lakunya. Apakah jika bersama Devi, ia juga sadar bahwa Ia adalah suamiku. Ia lalu memegang dagu ku dengan kasar, " Dengar Anita, aku memang bukan suami yang baik . Tetapi kelakuanmu di belakangku sangat lah picik " ucapnya membuang kasar wajahku Aku hanya meringis sambil menatap tajam ke arahnya " Kau pikir kau saja yang bisa main belakang haaaa " ucapku menantang " Aku tidak pernah membodohimu " ucapnya setengah berteriak " Oh , jadi biarkan aku yang membodohimu " ucapku kemudian berlalu pergi Tetapi dengan secepat kilat ia mencengkram lenganku " Apa maumu " ucapnya Ku tatap tajam matanya, dapat ku lihat amarah yang terpancar disana " Apakah jika aku mengatakan, kau akan mengabulkan . Dengar ya tolong berhenti ber-kamuflase di depan semua orang, kamu menampilkan sosok keluarga sempurna di depan orang padahal sebenarnya kamu tidak mencintaiku . Aku bosan menjadi bonekamu " ucapku tegas Seraya melepaskan genggaman tanganku Dengan cepat aku berlari ke kamar dan menutup pintu dengan sangat keras.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN