Ku abaikan Mas Imron dengan segala bujuk rayunya agar aku membukakan pintu.
Amarah telah sampai di ubun ubun. Tak habis fikir dengan polah pikir Mas Imron
Ia melarangku bertemu dengan seseorang yang hanya sebatas teman, sedangkan Ia leluasa menghabiskan waktu dengan seseorang yang lebih dari teman.
Beberapa jam berada di dalam kamar tanpa sedikitpun makanan yang masuk membuat perutku keroncongan.
Ku putuskan untuk keluar kamar mencari sesuatu untuk di makan
" Nih makan " ucapnya menyodorkan piring berisi spaghetti kepadaku
Tetapi tak ku gubris tetap aku membuka lemari es , untuk mencari sesuatu untuk mengganjal perutku.
Mas Imron beranjak dari tempat duduknya dan masuk ke dalam kamar tidurnya.
Ku lanjutkan mencari sesuatu untuk mengganjal perutku, namun nihil Tak kutemukan apapun pada lemari penyimpanan makanan milikku
Apa ku makan saja spaghetti buatan Mas Imron, tapi gengsi kalau sampai ketahuan aku memakannya, ah tapi cacing cacing di perutku sudah meronta-ronta untuk di beri makan.
Aku mengendap ngendap menuju kamar Mas Imron untuk memastikan apa benar Ia telah terlelap
Ku rapatkan telingaku di pintu milik Mas Imron, sepertinya tak ada pergerakan.
Benar Mas Imron telah tertidur .
Aku kembali ke meja makan dan bersiap untuk melahap spaghetti
Satu suapa, dua suapan … aaaaah lezatnyaaaa
Saat hendak suapan berikutnya
" Ehm " Mas Imron secara tiba tiba muncul di belakangku
Sejak kapan lelaki itu berdiri disitu, aku bahkan tak mendengar jejak kakinya bahkan tak mendengar handle pintu yang terbuka.
Duh malu banget, rasanya pengen ngilang saat itu juga.
" Habiskan aja emang itu untukmu kok " ucapnya sambil meneguk air di gelas dan kemudian masuk lagi ke dalam kamar
Tiba tiba nongol, tiba tiba ngilang udah kayak setan aja, gerutuku.
**
Pagi ini aku akan menjalankan aktivitas seperti biasa, sengaja hari ini aku hanya memasak sebutir telur yang akan aku santap sendiri. Buat apa juga aku capek capek masakin Mas Imron, toh udah ada wanita itu yang siap sedia memasakan Mas Imron.
Mas Imron datang dan duduk di meja makan ia nampak melongo melihat pemandangan meja makan yang tak seperti biasanya
" Untuk aku mana " protes Mas Imron
" Gak sempet kamu bikin aja sendiri, atau gak kamu telfon tuh perempuanmu suruh dia siapin makanan untukmu " ucapku lalu bangkit dan meninggalkan Mas Imron sendiri
Ku tancapkan gas menyusuri jalanan ibu kota yang begitu padat. Cuaca hari ini sedikit mendung, seperti menggambarkan suasana hatiku
Aku memakirkan sepedaku di parkiran sekolah, berbarengan dengan beberapa siswa dan para rekan guru.
Dengan semangat aku menuju meja kerjaku, dan mulai menyusun materi untuk ku berikan kepada para siswa hari ini.
Semua berjalan seperti biasa dan baik baik saja hingga akhir jam mengajarku.
Sepulang mengajar, aku berencana akan mampir ke supermarket membeli sedikit makanan dan cemilan yang akan aku taruh di kamarku.
Ku tancapkan gasku menuju supermarket terdekat dan memilih beberapa cemilan untuk segera ku bayar .
Dengan cepat segera aku menuju rumah lalu membersihkan diri, dan bersiap ke rumah Ibu.
Walaupun Mama dan ibu tak membebaniku dalam persiapan ulang tahun Aldy namun rasanya tak elok jika aku lepas tangan begitu saja.
Setelah sampai di pelataran rumah ibu bergegas aku masuk ke dalam dan tak lupa mengucapkan salam
" Walaikumsalam salam , sini Nit ayo makan "
Aaah Ibu memang paling mengerti hati dan perutku.
Dengan segera aku mengambil nasi dan lauk pauk yang telah Ibu siapkan
" Aldy belum pulang ngaji Bu" tanyaku
" Harusnya sih udah tapi kok jam segini belum pulang ya, tapi kamu gak usah khawatir Papamu yang nganter Aldy ke mushola " jawab Ibu
" Iya Nit, Papa seneng sekali bisa momong Aldy " ucap Mama yang tiba tiba bergabung bersama kami.
Dan aku tersenyum melihat kehangatan yang tercipta di antara mereka.
" Oh ya Nit gimana misi kamu, sukses kan " selidik Mama
" Misi ? Misi apa ya Ma " ucapku bingung dengan pertanyaan Mama
" Itu Misi bikinkan aldy adik " ucap Mama dengan Gamblangnya
Uhuk uhuk , aku mengambil Air dan segera meneguknya
" Pelan pelan Nit makannya biar gak keselek " Ucap Ibu mengeelus punggungku
" Gimana Nit, sukseskan " Tanya Mama lagi
Aku gelagapan menjawab, aku tak tahu harus memberi jawaban apa ke Mama.
Mama tak tahu yang sebenarnya terjadi di antara rumah tanggaku dan Mas Imron.
Aku hanya menelan ludah mendengar pertanyaan Mama
" Gimana Nit, kok malah ngelamun " ujar Mama mengagetkanku
" Eh iyaaa Ma iya, lancar lancar aja " ucapku dengan gagap
" Ah baguslah berarti sebentar lagi aku akan menimang cucu yeee " ucap Mama bersorak , dan aku hanya bisa tersenyum kecut.
" Atau kalau perlu kamu tuh program baby cewek Nit, biar lengkap punya anak cowok cewek . Duh kebayang gimana lucunya kalau nanti cucuku itu cewek " ucap Mama dengan antusias
" Eh iya Ma , nanti coba aku bicarakan sama Mas Imron " ucapku mencoba santai
Aaah mengapa harus aku terjebak di situasi yang runyam begini. Bagaimana jika nanti semua kepalsuan itu akan terbongkar, seperti apa kecewanya Mama dan Papa.
Se rapat rapatnya aku menyimpan bangkai nanti bakal kecium jua, tinggal serahkan pada waktu.
Biarkan waktu yang berbicara.
Tak lama Aldy dan Papa datang, dan kami pun bercengkrama bersama saling berbagi cerita.
Deruh mobil terdengar jelas di telingaku, aku sangat yakin itu adalah mobil milik Mas Imron.
Dan Aldy yang sudah hafal dengan suara mesin kendaraan Mas Imron pun bergegas berlari ke arah sumber suara.
Dengan sigap Mas Imron menggendong tubuh gembul Aldy dan ikut berkumpul bersama kami.
Aku sedikit tak nyaman berada di tempat yang sama dengan Mas Imron , dan tampaknya Mas Imron pun sama sepertiku.
Malam telah tiba, aku dan Mas Imron berpamitan untuk pulang
Saat hendak mengendari motor maticku , mama tiba tiba muncul mengagetkan aku
" Ih kok naik kendaraan sendiri sendiri, jadi satu dong " ucap Mama menarikku ke mobil Mas Imron
" Tapi besok Anita harus kerja Ma " sanggahku
" Kan bisa di antar jemput Imron, ya kan Ron " ucap Mama sambil mengarahkan pandangannya ke Mas Imron
" Iya " ucap Mas Imron cepat
" Udah sini ayo masuk " ucap Mama membuka pintu mobil Mas Imron dan menyuruhku masuk. Kemudian menutupnya
Ku buka jendela dan mengucapkan terima kasih pada Mama
" Eh tunggu tunggu " ucap Mama setengah berlari kedalam dan kemudian mama muncul kembali membawi dua gelas yang isinya aku tak tahu itu apa
" Ini minum dulu " ucap Mama menyerahkan gelas itu ke arahku
" Dan ini untuk Imron " ucap Mama menyerahkan gelas ke Mas Imron
" Apa ini Ma " tanyaku
" Itu jamu sehat, karena aktivitas kalian kan padat jadi Mama mau kalian tetep sehat . Ayo di minum, Mama pengen lihat. Sampek habis ya " ujarnya.
Seteguk demi seteguk akhirnya habis juga jamu sehat bikinan Mama dan kami pun mengembalikan gelasnya ke Mama
" Udah Ma kami pamit dulu " ujar Mas Imron mulai menyalakan mesin mobilnya
" Hati hati " ujar Mama dengan lambaian tangannya.
Setengah perjalanan, tiba tiba ada yang aneh dari diriku
Seperti panas dan ada sesuatu yang seperti ingin di keluarkan.
Ah apa ini..
Ku lihat Mas Imron pun merasakan hal yang sama , di kursi kemudinya ia nampak gusar.
Berkali kali ia menggaruk tekuk lehernya.
Hingga akhirnya kami tiba di rumah kami, semakin lama rasa ini semakin tak terkendali .
" Aduh aku kenapa ya, kok aneh gini rasanya " keluhku
Ku rasakan ada sesuatu yang berdenyut di bagian bawah
Duh , ucapku.
Ku ingat ingat kembali, aku seperti ini kan setelah minum jamu dari Mama
Apa ku pastikan aja ke Mama ya, jamu apa itu sebenarnya.
Segera ku ambil ponsel di dalam tasku dan menekan tombol telfon milik Mama
" Telfon sapa " tanya Mas Imron
" Telfon Mama , ini habis minum jamu buatan Mama kok kayaknya badanku aneh ya " ucapku
" Ya Gih telfon aja . Aku juga ini " ucap Mas Imron yang nampak gusar
" Halo Ma "
" Ya Nak " ucap Mama di seberang sana.
Sengaja ku bunyikan loud speaker biar Mas Imron pun mendengar percakapanku dengan Mama
" Ma ini . Habis minum jamu dari Mama kok ada yang aneh di tubuhku dan Mas Imron " ucapku to the point
" Ya udah keluarin aja anehnya itu Nak " ucap Mama sangat santai
" Keluarin gimana Ma " tanyaku memperjelas
" Ya keluarin kan yang kalian minum itu obat ku-at " ucap Mama dengan tertawa
" Jadi Ma "
" Iya .. itu biar kalian segera merang-sang hahaaaaa " ucap Mama terkikik kikik lalu menutup sambungan telefonnya
Kami saling pandang dan seketika berteriak
MAMAAAAAAAAAAAAAAA