Kali ini aku merasa lebih kuat dari sebelumnya

1026 Kata
Setelah memakirkan sepeda, kami pun bersama-sama memasuki ruangan tunggu. Sembari menunggu lonceng berbunyi. " Anita, keadaan ini pasti sangat menyiksamu " Ucap Mas Imron tiba-tiba " Aku egois jika menyuruhmu untuk bertahan dengan situasi sulit ini , Tetapi aku juga tidak bisa menjalani ini semua jika tidak ada kamu di sisiku" Imbuhnya lagi. " Aku tidak tahu Mas harus seperti apa . Ku rasa aku sudah dengan baik menjalani peranku sebagai seorang istri, aku sudah sangat sabar selama ini menghadapi persoalan dalam rumah tangga kita, sejak awal kita menikah" Jawabku " Aku tahu, Kamu sudah berjuang selama ini . Sejak awal kita menikah kamu berjuang untuk meluluhkan hatiku dan kini kamu masih berjuang untuk ada di sampingku. Aku sangat berterima kasih. Aku berjanji akan terus membahagiakan kamu " Ucap Mas Imron seraya menggenggam tanganku. " Bagaimana jika cinta di hatimu untuk Devi mekar kembali karena kalian bertemu setiap waktu. Katamu, cinta datang karena terbiasa. Bagaimana jika kamu terbiasa dengan kehadiran Devi ? " Tanyaku dengan tegas " Apa bisa aku mencintai perempuan lain sedangkan ada cinta hebat yang sudah ku genggam " Jawab Mas Imron " Devi sama kerasnya denganku. Dia juga memiliki cinta yang hebat untukmu, bahkan dia menerjang apapun untuk bisa bersama denganmu " Ucapku mencoba memberi penjelasan " Maaf jika pernyataan aku , seolah menyudutkan kamu tapi aku bicara real dan coba untuk memahami dari sisi Devi. Aku dan Devi sama-sama wanita , dan kami mencintai satu orang pria yang sama . Bisa di lihat juga cinta kami sama besarnya, sama kuatnya dan sama kerasnya . Kamu mengenal diriku baru saja , sedangkan kamu sudah mengenal Devi lebih lama jauh sebelum kamu mengenal aku" Ucapku lagi " Keputusanku sudah bulat untuk mencintai kamu, meskipun saat ini aku pun merasa sedang terjebak dalam lingkaran yang rumit. Semoga kamu bersedia bersama denganku keluar dari lingkaran rumit ini " Jawab Mas Imron " Yang aku butuhkan hanya keterbukaan Mas, terbukalah denganku cerita apapun meski itu menyakitkan . Lebih sakit lagi jika aku tahu kenyataannya sendiri " Dia tersenyum dan semakin erat menggenggam tanganku. " Kali ini aku merasa lebih kuat dari sebelumnya, sebab ada kamu yang menguatkan aku. Aku merasa lebih enteng menjalani situasi pelik ini meskipun aku tak tahu sampai kapan berakhir. Jika dahulu yang aku lawan adalah kamu dan hatimu berbeda dengan sekarang yang aku lawan adalah orang di luar pernikahan kita. Apalagi kamu ikut berjuang bersamaku, rasanya lebih mudah. Semoga saja perjuangan kita tak sia-sia dan kita bisa membuktikan bahwa cinta kita lah yang akan menang " Ucapku pada Mas Imron Tak berselang lama lonceng berbunyi dan siswa segera berhamburan dari ruang kelasnya. Dan ku lihat Aldy keluar dari ruang kelasnya. " Mama Papa " Aldy begitu bahagia melihat kami menjemputnya " Mama Papa jemput Aldy ? Aldy seneng banget " Ucap Aldy " Kita ke Makan ayam kentaki kesukaan kamu yuk ? " Ajak Mas Imron " Asik " Aldy begitu kegirangan mendengar ajakan Mas Imron. " Bentar Mama ke toilet dulu " Ucapku dan segera berlalu menuju toilet. Toilet berada di pojok yang artinya aku harus kesana melewati tiap ruang ruang kelas . Setelah menuntaskan hajatku, aku pun segera keluar karena aku tahu Mas Imron dan Aldy pasti sudah menunggu. " Mas Hendra " Aku terkejut melihat Mas Hendra berada di depan toilet " Kamu ngapain disini " Tanyaku keheranan " Anakku bersekolah disini juga Nita. Dia sedang buang air. Kamu ? " " Anakku juga bersekolah disini " jawabku " Kebetulan sekali ya, Anak kita menjadi teman " " Iya Mas, dunia kayak sempit banget ya kita secara kebetulan bertemu " " Aku pamit dulu ya, Aldy sudah menungguku " Ucapku kemudian berlalu dari hadapannya " Oh iya hati-hati. Kamu sendirian ? " Tanyanya kemudian " Nggak, sama suamiku juga " " Oh " jawabnya singkat " Aku duluan ya " Ucapku kemudian berlalu. Mas Hendra anaknya sekolah disini, Devi juga anaknya sekolah disini. Ini sangat aneh sekali Mengapa semua seperti terencana seperti ini Dan Mas Hendra ? sikap Mas Hendra sedikit berbeda Dia seperti tak ingin terlibat percakapan lebih lama denganku, ada apa. Apa ia takut dengan Mas Imron Seharusnya sih Mas Imron dan Mas Hendra saling mengenal karena waktu itu Mas Hendra juga memasuki ruangan dimana Devi di rawat. Ah sudahlah Tak ingin aku ambil pusing, segera aku mempercepat langkahku. ** Aldy makan dengan sangat lahap sekali karena ini memang makanan favoritnya. " Mas, kamu yakin mau mengantarkan aku dan Aldy pulang ? " Tanyaku pada Mas Imron dan Mas Imron mengangguk menanggapinya " Terus kerjaan kamu ? " Tanyaku lagi " Aku kan punya tim, mereka pasti bisa handle lah " jawabnya enteng " Tapi kan gak enak sama karyawan lain, kamu seenaknya ninggalin kantor begitu saja " ucapku " Tenang saja. Mereka pasti mengira aku ada meeting di luar kantor. Lagian aku sudah biasa juga tak berada di kantor, justu kalau aku ada di kantor itu aneh untuk karyawan lain " jawabnya sembari mengunyah " Kita mampir ke toko buku itu ya, bentar aja . Ada yang mau Aldy beli " Ucap Aldy seraya menunjuk toko buku di depan jalan . " Boleh nanti Papa temenin " Jawab Mas Imron. Setelah menyelesaikan makan siang, Mas Imron mengantarkan Aldy ke toko buku yang di inginkan Aldy. Aku menunggu di emperan ruko. Tak sengaja pandanganku menangkap Mas Hendra bersama dengan anaknya memasuki pertokoan yang letaknya tak jauh dari tempatku berdiri Selama ini aku memang tak pernah bertemu dengan anak Mas Hendra. Tetapi saat melihat anak yang di gandeng oleh Mas Hendra, sepertinya aku mengenalnya. Anak kecil itu seperti tak asing bagiku. Diam diam aku melangkahkan kaki ke arah Mas Hendra. Mas Hendra selama ini memang tak terbuka kepadaku tentang keluarganya. Bahkan seringkali ku pergoki dia jalan sendirian. Seperti tempo lalu dia membelikan baju anaknya seorang diri. Aku pun tak mengenal siapa istri Mas Hendra, dan Mas Hendra selalu mengalihkan pembicaraan tiap kali aku bertanya dimana Istrinya. Langkahku semakin dekat, Semakin jelas ku lihat Mas Hendra dengan anak kecil itu meskipun hanya terlihat punggungnya. Aku semakin yakin jika aku mengenal anak kecil itu. Ku putuskan untuk memasuki toko retail tempat dimana Mas Hendra dan anak kecil itu berbelanja. tetapi
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN