Setelah melakukan reservasi kami menuju bedroom kami. Mas Imron menutup pintu kamar ini yang membuat jantungku berdetak lebih kencang. Ntah apa yang kurasakan antara senang bercampur grogi Aneh rasanya, aku masih memiliki perasaan ini kepada seseorang yang sudah lama menjadi suamiku Kami begitu gugup satu sama lain, sudah sangat lama kami tak pernah sedekat ini. Jantungku berdetak sangat kencang dari sebelumnya dan perilaku Mas Imron semakin tak terkendali, ia berulang kali keluar masuk toilet, mungkin saja jamu yang ia minum sudah bekerja. Mas Imron memilih berbaring dengan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Ku hampiri dia dan perlahan menyentuh tubuhnya dari balik selimut. " Anita " Ucap Mas Imron dengan lembut seraya menarikku untuk masuk ke dalam selimut. Di tatapnya lek

