Seruan Aldy mampu membuatku shock.
Sejak kapan Aldy mengenal Devi.
Apakah sudah lama Mas Imron mengenalkan Devi pada Aldy. Oh sungguh halus sekali cara main Mas Imron
Emosiku meradang, dan Ibu nampak memberikan aku kode dengan kedipan matanya.
Mungkin Ibu juga punya fikiran yang sama sepertiku, bagaimana bisa Aldy mengenal Devi.
Ku atur emosiku agar tak larut dalam suasana. Bagaimanapun juga aku tak ingin pesta Aldy berantakan karena keegoisanku
Dengan senyum yang manis. Devi menyalami kami satu persatu dan memberikan kado kepada Aldy.
Aldy dengan senang hati menerima kado pemberian Devi.
Lalu Devi pun memilih duduk di ujung kursi dengan sikap yang sangat santai.
Ku lihat Mas Imron pun sama santainya dengan Devi.
Apakah kalian sudah mulai membuka kedok hubungan kalian ?
Tapi mengapa harus di pesta ulang tahun Aldy.
Berkali kali aku menahan diri untuk tidak larut dalam emosi.
Acara pun berjalan dengan lancar sampai akhir. Meskipun ketika acara aku tak fokus karena kehadiran wanita itu disini.
Ibu tiba tiba menarikku untuk menepi
" Apa Bu " ucapku
" Nit. Kok bisa sih Aldy kenal sama wanita itu " tanya Ibu setengah bisik bisik
" Anita juga gak tahu. Tapi ya sepertinya Mas Imron yang mengenalkannya kepada Aldy, kalau bukan Mas Imron siapa lagi " jawabku
" Ngapain coba Imron mengenalkannya kepada Aldy "
" Ya mungkin karena Mas Imron merasa dialah Ibu sambung yang pas untuk Aldy"
" Hush Nita. Gak boleh gitu "
" Memang itu kenyataanya. Udahlah Bu nanti coba Nita tanya baik baik ke Aldy, dia kenal dimana " jawabku
Dan kami pun berbaur bersama dengan para kerabat yang memang masih ingin berkumpul disini.
Mama Papa dan Ibu sepertinya lelah sekali, maklum mereka adalah tim sukses acara ini
Aku sangat berterima kasih pada mereka karena telah membuat acara ulang tahun Aldy berjalan lancar.
Mama Papa dan Ibu berpamitan untuk istirahat
Sedangkan Aku dan Mas Imron menemani Aldy untuk membuka kado.
Terlihat sekali Aldy sangat bahagia dengan pesta ulang tahunnya
Satu persatu kado pun di buka, dapat terlihat dari sorot matanya yang berbinar bahwa Ia sangat Bahagia.
Tibalah Ia membuka kado dengan sampul berwarna biru dengan gambar balon
Karena Aldy belum lancar membaca aku pun membantu Aldy membacakan surat yang berada di dalam Kado tersebut
" Hai Aldy anak ganteng. Selamat ulang tahun , sehat selalu makin pinter ya. Love Tante Devi "
Begitulah isi surat tersebut.
Ku tatap surat itu dengan nyalang, jika tidak ada Aldy disini
Sudah ku remat remat bahkan kalau perlu ku buang saja kadonya
" Waaaaw " ucap Aldy dengan riang mendapatkan hadiah robot , ini adalah mainan yang sudah lama Aldy impikan.
Bagaimana Devi bisa tahu sedetail itu.
Aldy sangat bahagia sekali menerimanya, hatiku sakit sekali.
Pintar sekali wanita mengambil hati dua lelaki yang teramat penting dalam hidupku.
Tidak !
Tidak akan ku biarkan kamu mengambil putraku.
Kamu boleh saja mengamb Mas Imron tapi tidak dengan Aldy
Ucapku yang secara reflek menggelengkan kepala.
" Ma .. Mama kenapa " tanya Aldy. Mungkin Ia merasa aneh melihat aku yang secara tiba tiba menggelengkan kepala
" Ah tidak Mama hanya sedikit pusing, mungkin karena capek ya " alasanku
" Yaudah Ma. Kita bobok aja yuk besok di lanjut lagi " ucap Aldy dan Ia pun segera membereskan bekas kertas kado yang berserahkan.
Dan menepikan kado kado yang belum terbuka.
Hingga akhirnya kami pun tidur bertiga.
Tak Lama Aldy dan Mas Imron telah benar benar larut dalam mimpi
Fikiranku yang kacau membuatku susah untuk memejamkan mata.
Ku pandangi mereka secara bergantian, bak pinang di belah dua. Sangat mirip sekali
Terbesit dalam hati, agar aku terus tabah dan kuat mempertahankan rumah tanggaku demi Aldy.
Tetapi kenyataan yang semakin kesini, semakin terlihat jelas jika harapan itu sangat semu.
Di saat yang bersamaan aku merasa cinta dan benci kepada Mas Imron
Ntah sampai kapan dan bagaimana akhir dari cerita ini.
**
Pagi ini kepalaku terasa sangat berat sekali.
Ntah karena semalam tidurku kurang nyengak ataukah aku terlalu terbawa keadaan.
Aku putuskan untuk mengambil cuti dan beristirahat dirumah Ibu.
Berkali kali Ibu menanyakan apakah aku baik baik saja. Sepertinya Ibu cukup mencemaskanku
Ah ada untungnya juga Ibu mengetahui masalah ini, setidaknya aku tidak sendiri menghadapi masalah ini.
Ada seseorang untukku berbagi rasa.
Ada seseorang yang ikut merasakan porak porandanya hatiku.
Namun di sisi lain aku merasa bersalah karena melibatkan Ibu dalam rumah tanggaku.
Kasihan Ibu di usianya yang tak lagi muda, ia harus membagi konsentrasinya untuk memikirkan rumah tangga anaknya.
Setelah sarapan aku izin untuk beristirahat saja di dalam kamar. Aku merasa butuh menenangkan diriku
Sejenak menjauh untuk aku mengatur suasana hatiku. Bohong jika aku berkata aku tak terluka, bohong jika aku berkata aku tak cemburu.
Jika saja aku di izinkan untuk mengungkapkan isi hatiku.
Aku terbengong menatap dinding dengan pandangan kosong
Aku tak mengerti apa yang selanjutnya harus aku perbuat. Selama ini aku merasa segala telah aku korbankan untuknya
Tapi masih saja tak cukup menyadarkan Mas Imron bahwa ada seseorang yang dengan tulus mencintainya.
Segala yang ku perjuangkan, segala yang aku korbankan semuanya terasa sia sia. Saat dengan terang terangan Mas Imron membawa Devi hadir di depan keluarga besar kami.
Ya meskipun Ia belum mengenalkannya secara langsung kepada Mama dan Papa
Tetapi tetap saja ada cemburu dan sakit di sudut hatiku yang terdalam.
Yang tak habis fikirnya lagi. Mengapa Ia berani mengenalkan Devi kepada Aldy. Mengapa Ia harus melibatkan anak sekecil Aldy di dalam masalah kami
Aaah.. halus sekali cara mainmu Mas.
Jika memang kau rasa Devi adalah seseorang yang pas yang kau inginkan untuk menemani masa tuamu, aku berharap aku bisa ikhlas menerimanya. Dan menjadikan kamu masa laluku
" Nit " sapa Ibu mengagetkanku
Ntah sejak kapan Ibu berada disini, fikiranku sedang kacau sekali
" Bu ngagetin aja " jawabku
" Ibu tahu perasaanmu Nak. Pasti itu menyakitkan sekali untukmu " ucap Ibu seraya mengelus elus kakiku
" Rasanya aku tuh kayak di permainkan sama Mas Imron. Kadang di bawa terbang tinggi seolah olah harapan itu nyata namun di saat yang bersamaan aku di jatuhkan begitu saja "
" Memang mencintai orang yang tidak mencintai kita itu benar benar makan hati. Nak .. jika dahulu Ibu berat sekali dengan rumah tangga kalian. Kini Ibu pasrah
Setelah Ibu fikir fikir lagi, Ibu egois jika terus memaksamu untuk mempertahankannya sedangkan kamu berhak bahagia Nak " tutur Ibu dengan sangat lembut
Di pegang erat tanganku, seketika ada kekuatan yang tiba tiba menjulur ke sekujur tubuhku.
Hingga akhirnya air mataku terjatuh tanpa bisa ku tahan.
" Kamu berhak menentukan kebahagiaan kamu. Dan Imron bukan satu satunya sumber kebahagiaan kamu.
Anak Ibu berhak bahagia " ucap Ibu dengan mantap
" Dalam sebuah rumah tangga. Perselingkuhan itu fatal dan tidak bisa di maafkan " ucap Ibu selanjutnya
" Siapa yang selingkuh "
Aku dan Ibu secara spontan menoleh ke arah sumber suara