bc

Skandal Istri Perwira saat Suami Dinas

book_age18+
224
IKUTI
1K
BACA
forbidden
love-triangle
drama
city
office/work place
love at the first sight
like
intro-logo
Uraian

“Apa jangan-jangan kamu nggak bisa masak, ya? Seorang dokter biasanya kan cuma tahu pegang stetoskop, bukan sudip dapur,” tanya Bianca diselingi tawa kecil yang terdengar meremehkan.

Hati Seira mencelos. Belum sempat ia membuka mulut untuk menjawab, Edgar sudah lebih dulu menghentikan tawa Bianca dengan suara rendah yang mengintimidasi.

“Saya nggak pernah suka sama ayam goreng itu, Bianca. Selama ini saya menerimanya hanya karena merasa kasihan melihat kamu repot-repot ke asrama. Dan satu hal lagi,” Edgar menatap Bianca tajam, membuat suasana meja makan mendadak hening mencekam. “Istri saya bisa masak atau tidak, itu sama sekali bukan urusan kamu!”

Wajah Bianca memerah, rasa malunya berubah menjadi amarah yang meledak. “Tapi kan, Edgar, laki-laki mencari istri itu untuk mengurus keperluan rumah dan dapur! Kalau dia tidak bisa masak, bagaimana kamu bisa terurus?” bentak Bianca, suaranya naik satu oktavi.

Edgar menyeringai dingin, tipe seringaian yang bikin nyali lawan bicaranya ciut. “Zaman sudah canggih, Bianca. Kalau istri saya lelah atau tidak sempat masak, saya bisa pesan antar. Lagipula, saya mencari Istri untuk menjadi ratu di hidup saya, bukan mencari pembantu untuk urusan dapur!”

“Padahal istri kamu belum tentu sesayang itu sama kamu, Edgar!” pekik Bianca, emosinya sudah tidak terkontrol lagi. “Ketika kamu pergi ke medan perang nanti, siapa yang tahu hatinya masih ada untuk kamu atau tidak? Kenapa kamu malah membelanya habis-habisan sementara aku yang jelas-jelas selalu ada buat kamu malah kamu abaikan?!”

Pernyataan sahabat sang tentara mendadak membuat suasana suram, bagaimana tanggapan Edgar selanjutnya dan apakah Siera, pengantin Edgar akan sehina seperti yang dikatakan Bianca?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
“Akhirnya kita menikah juga ya, Sayang ….” Kalimat itu keluar dari bibir pria berusia 30 tahun yang mengenakan jas pengantin dengan selempang merah muda di bahu kanannya. Lencana bintang tiga di bahu kiri mengkilap saat ia menggerakkan tubuhnya—Edgar Abimana, salah satu perwira termuda yang pernah ada di korpsnya. Seira menatapnya dengan mata yang penuh kebahagiaan, jari-jarinya masih sedikit gemetar saat memegang ujung gaun pengantinnya. “Iyah, Mas. Aku sudah menunggu waktu ini tiba, Mas. Dan akhirnya… kita sah menjadi sepasang suami-istri.”. Edgar mengangkat tangan kanannya, jemari yang besar menyentuh cincin pernikahan yang baru saja dikenakan di jari kelingking wanita itu. “Aku pikir, kita nggak bisa sampai di titik ini, Sei.” Napasnya menyentuh telapak tangan Seira saat ia menciumnya. “Mas bahagia sekali bisa mendapatkan kamu." “Aku juga bahagia Mas. Terimakasih sudah membuktikan cintamu,” jawab Seira seraya mendekatkan wajahnya, hidungnya yang mancung menyentuh dagu Edgar. Edgar mengangguk perlahan. Kemudian dia menarik wajah Seira lebih dekat lagi—napas mereka bersilangan, udara menjadi hangat dan penuh dengan aroma bunga dari rambut istrinya. Jari-jarinya perlahan meraih pipi Seira, menyapu lembut bagian bawah bibir wanita itu yang tampak begitu menggoda. Jari Edgar mengikuti lekukan bibir Seira, dari sudut kanan ke kiri, perlahan tapi pasti. Lalu, mencumbu bibir wanita itu. Tiba-tiba Edgar menarik pinggang Seira dengan kuat, membuat tubuhnya menempel erat ke dadanya yang tegap. Napasnya jadi lebih dalam, hangat menyengat leher Seira saat dia menggeser ciumannya dari bibir ke rahang, lalu ke bagian belakang telinga yang sensitif. “Sei …,” bisik Edgar. Suaranya terdengar dalam dan berat di telinga Seira. Tangan kanannya merayap perlahan dari pinggang naik ke punggung, menyentuh lekukan yang tertutup renda gaun pengantin. Sementara tangan kirinya memeluk erat pinggangnya. Seira menghela napas pelan, matanya mulai menutup sendirinya. Dia merasakan bagaimana jari-jari Edgar perlahan merobek tali renda di bagian belakang lehernya, satu per satu. “Mas,” bisik Seira. Detak jantungnya berpacu cepat. Edgar mengangkat wajah Seira dengan lembut, tatapan matanya yang biasanya tegas kini penuh dengan hasrat yang tak bisa disembunyikan. “Kenapa, sayang? Kamu takut?” tanya Edgar pelan. Seira menggelengkan kepalanya. “Nggak, Mas. Tapi, pelan-pelan, ya?” Edgar tersenyum seraya mengangguk kepalanya. Lalu, mengangkat istrinya dengan mudah dan melangkah perlahan menuju ranjang yang bertabur dengan kelopak bunga mawar. Dia meletakkan Seira perlahan di atas ranjang, tubuhnya menutupi tubuh wanita itu. Perlahan tapi pasti, ia tersenyum manis. Sangat amat manis. Edgar langsung mencumbu bibirnya kembali, kali ini sedikit lebih kasar dari sebelumnya. Seira sedikit kewalahan, tapi berhasil mengimbangi tenaga Edgar yang cukup besar. “Hmpph! Mas!” desah Seira saat dirinya sulit menghirup pasokan oksigen. Edgar melepaskannya. Ia terkekeh kecil. “Maaf, aku terlalu terbawa suasana,” katanya namun cumbuannya malah turun di leher jenjang Seira yang begitu mulus. Memberikan tanda kepemilikannya. Tanpa menunggu lebih lama, Seira akhirnya melepaskan gaun pengantian dibantu oleh Edgar yang sedikit buru-buru karena hasrat yang memuncak. Kain sutra gaun itu meluncur jatuh ke lantai, menyisakan pakaian dalam Seira. Wajahnya memerah bak tomat yang begitu matang membuat Edgar terkekeh kecil. Tangan Edgar yang lebar meraba lekuk tubuh Seira. “Mas, pelan-pelan …,” bisik Seira parau, namun jemarinya justru meremas bahu kokoh Edgar, menarik pria itu agar semakin menempel padanya. Edgar mendongak pelan, tatapannya gelap dan intens. “Aku sudah menunggu momen ini bertahun-tahun, Sei. Kamu pikir aku bisa pelan?” Suaranya serak, nyaris berupa geraman rendah. Edgar gegas menanggalkan kemejanya dengan satu sentakan, memperlihatkan tubuh tegap penuh otot yang selama ini tersembunyi di balik seragam kebanggaannya. “Kamu siapkan, sayang?” bisik Edgar tepat ditelinga Seira membuat bulu kuduknya meremang. Perlahan tapi pasti, Edgar melepaskan kain penyingkap yang menutupi bukit kembar Seira. Lalu, melemparnya secara asal ke lantai. Ukuran bukit kembar Seira begitu pas ditangan Edgar hingga membuat Edgar dengan gampang meremasnya pelan. “Ahh! Mas,” desah Seira. Edgar tersenyum. Suara Seira begitu candu seperti alunan lagu yang begitu indah. Ia bergegas menanggalkan seluruh sisa pakaiannya. Saat senjatanya yang menegang terpampang nyata, Seira refleks menutup mata, terkejut sekaligus takjub dengan apa yang ada di hadapannya. Edgar terkekeh rendah melihat reaksi Seira. Ia meraih dagu istrinya, memaksa mata cantik itu untuk kembali terbuka dan menatapnya. “Jangan malu-malu gitu, Sayang. Kamu harus melihatnya sendiri,” bisik Edgar. Seira menelan ludah, dadanya naik turun dengan cepat. “Mas, yang bener aja! Aku ragu itu bisa masuk ke sana,” cetus Seira polos, membuat tawa Edgar pecah pelan. “Percaya sama Mas,” sahutnya singkat. Edgar mulai bergerak turun, tangannya menyentuh kain penyingkap terakhir yang menghalangi akses ke labirin Seira. Dengan satu gerakan mantap, ia menanggalkan kain itu, membiarkan semuanya terbuka tanpa sisa. Jemari Edgar mulai mengelus perlahan pinggiran celah yang sudah mulai basah itu, membuat Seira melenguh. Edgar memposisikan dirinya di antara kedua paha Seira yang terbuka lebar. Ujung senjatanya mulai menekan pintu labirin yang terasa sangat sempit. Seira memejamkan mata erat, napasnya tertahan. “Mas ... pelan-pelan!” Edgar mendesah berat, menahan diri agar tidak langsung menghujam. Perlahan, ia mulai mendorong senjatanya masuk. Rasa sesak dan panas mulai menyelimuti keduanya. Seira sedikit meringis, namun Edgar terus memberikan ciuman di lehernya untuk mengalihkan rasa sakit. Hingga akhirnya, dengan satu dorongan dalam, senjata itu berhasil masuk sepenuhnya di dalam sana. “Arghh! Mas!” pekik Seira seraya mengenggam seprai dengan kuat. “Hah ... akhirnya,” gumam Edgar penuh kemenangan. Ia terdiam sejenak, membiarkan tubuh Seira terbiasa dengan ukurannya. Saat Seira mulai rileks dan mulai menikmati sensasi penuh di dalamnya, Edgar mulai menggerakkan pinggulnya perlahan. Maju mundur dengan irama yang dalam dan memabukkan. Setiap gesekannya membuat Seira mendesah panjang, kakinya melingkar erat di pinggang tegap sang Jenderal. Namun, di saat gairah mereka hampir mencapai puncak dan gerakan Edgar mulai semakin cepat. Drrrttttt! Drrrttttt! Ponsel Edgar yang tergeletak di atas nakas bergetar hebat, memecah kesunyian kamar pengantin itu dengan dering yang sangat nyaring. “Sst! Sial, siapa yang mengganggu kita?” desis Edgar. Seira menggelengkan kepala pelan, matanya sayu karena gairah yang terpotong. Ia menatap Edgar dengan perasaan campur aduk. “Itu dari ponsel kamu, Mas.” Edgar menghela napas kasar. Ia enggan menarik keluar miliknya yang sudah menyatu sempurna dengan labirin hangat Seira. Dengan gerakan malas, ia membiarkan Seira meraih ponsel yang bergetar hebat di atas nakas. Seira menatap layar yang menyala terang. Nama “Jenderal Bintang” tertera di sana, membuat Seira seketika sadar bahwa ini bukan panggilan sembarangan. Ia segera menyodorkan ponsel itu ke depan wajah suaminya. “Atasan kamu nelpon,” cetus Seira pelan. Edgar mengerang rendah. Ia meraih ponsel itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya tetap mencengkeram pinggul Seira. “Tahan sebentar, Sayang.” “Siap, Jenderal. Mohon izin,” ucap Edgar, berusaha mengatur napas agar terdengar normal. Namun, hanya dalam hitungan detik, seuntai kalimat yang terdengar dari seberang sana sanggup meruntuhkan atmosfer panas di kamar itu. Wajah Edgar berubah total.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

After We Met

read
188.5K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
52.9K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.2K
bc

Godaan Hasrat Keponakan Istri

read
15.5K
bc

Menyala Istri Sah!

read
2.4K
bc

Lagi! Jangan Berhenti, Om!

read
14.4K
bc

Unchosen Wife

read
6.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook