Mungkin hal ini wajar sekali dirasakan oleh gen z sekarang, dimana ketika memang jatuh hati pada seseorang terkadang harus memilih untuk mengungkapkan atau memendamnya, kedua hal tersebut pasti memiliki resiko masing-masing.
Entah itu baik atau buruk, dalam sebuah keputusan keduanya memiliki resiko, mungkin bisa jadi berakhir bahagia atau bisa jadi akhir yang tidak bahagia, semua memiliki resikonya.
Jika Rendy berpikir dengan pemikirannya jika ia menyatakan kepada Kinan akan membuatnya kehilangan Kinan dan bahkan bisa jadi Kinan tidak ingin bertemu dengan Rendy lagi atau jika ia mengatakannya akankah semua lebih jika ia menyatakan kepada Kinan?
Rendy yang sudah mengetahui bahwa Kinan tidak mungkin memiliki rasa yang sama dengannya, ia memilih untuk mencintai Kinan hanya dalam diam saja, meskipun sama-sama menyakitkan.
Jika saja Kinan membuka sedikit saja pintu hatinya untuk Rendy mungkin di kemudian hari akan bisa berbahagia dengan Kinan.
“Ren, kamu sudah yakin gak mau menyatakan saja?” Tanya Roy masih dengan pena
Rendy yang mendengarkan itu juga kembali menyibukkan dirinya dan mengakhiri percakapan dengan Roy.
Hari itu, menjadi hari terakhir bagi Rendy untuk melihat Kinan dan Rendy menghabiskan waktunya bersama Kinan untuk terakhir kalinya, Rendy mengajak Kinan untuk menonton film yang sudah dinantikan oleh Kinan sejak minggu lalu dan hari ini film itu release juga, tanpa berpikir panjang Rendy mengajak Kinan untuk pergi bersama.
“Nan, kamu mau pergi nonton film yang sudah kamu tunggu-tunggu itu gak sih?” tanya Rendy dengan sebuah harapan agar ia bisa pergi dengan Kinan untuk terakhir kalinya.
“Oh film itu? Emang sudah keluar?” tanya Kinan penasaran.
“Yes, hari ini release, jadi kamu mau pergi atau tidak?” tanya Rendy kembali.
“Tentu saja, aku sudah menunggu film itu cukup lama ..”
“Baiklah, aku akan menjemputmu, kamu bersiap saja..”
“Baik kak, tapi bagaimana dengan mama dan papa?”
“Sudahlah tenang saja, aku yang akan pamit dengan mereka yang penting kamu bersiap saja dahulu..”
“Baik kak..”
Setelah Kinan menerima tawaran dari Rendy, ia cukup senang karena ia akan pergi dengan Kinan kali ini bukan di sekolah atau nongkrong di cafe tempat mereka biasa berkumpul bersama.
Mungkin waktu ini akan juga dimanfaatkan Rendy sebaik mungkin dan sebisanya, karena ia akan jarang bertemu dengan Kinan lagi.
Memendam rasa seorang diri bukanlah hal yang mudah bagi Rendy, ia benar-benar tersiksa karena keadaan tersebut.
Namun menurut Rendy ini adalah keputusan terbaiknya, karena ia ingin melihat Kinan berbahagia dengan hidupnya meskipun kelak ia akan ditemani oleh orang lain yang bukan Rendy. Ia tidak ingin memaksakan perasaan seseorang atas dirinya.
Rendy hanya tidak ingin melihat Kinan tertekan karena perasaan yang ia miliki, ia juga tidak ingin kehilangan Kinan seutuhnya dalam artian jika Rendy mengungkapkan rasanya ada kemungkinan Kinan menolaknya dan membangun tembok yang tinggi dengan Rendy. Ia tidak ingin hal itu terjadi.