Ekstrakurikuler

1353 Kata
Hari-hari berlalu laksana kilat, senin menyambar, selasa menyusul, rabu datang, kamis pun hadir silih berganti, sambung menyambung seperti sebuah siklus. Tak pernah selasa hadir mendahului senin. Begitu juga dengan jum’at, tak kan bisa dia menyalib rabu. Tapi mereka bertujuh berjalan sesuai dengan aturan mainnya. Tak pernah mendahului dan saling dorong antara satu sama lain. Tanpa terasa sudah dua bulan Zaky berstatus siswa di MAN 1 Kepulauan Meranti. Sudah banyak hal yang ia pelajari. Mulai dari pelajaran bahasa inggris yang membuat kepalanya pening karena harus banyak menghafal tense, ditambah dengan matematika yang rumusnya semakin hari semakin panjang. Belum lagi tugas kelompok yang harus dipresentasikan di depan kelas. PR yang harus dikerjakan di rumah, semuanya membuat kepala mumet hati menjerit. Tapi itu adalah beban yang Zaky rasakan di awal-awal proses belajar mengajar. Kalau sekarang ia sudah mulai terbiasa. Memang benar kata pepatah, Alah bisa karena terbiasa’ artinya sesuatu itu akan  terasa berat jika kita belum terbiasa dalam menjalaninya. Tapi jika kita sudah terbiasa menjalaninya, maka hal tersebut tidak menjadi beban lagi, sudah menjadi hal yang biasa. Zaky sedang duduk di tepi lapangan menyaksikan teman-temannya melakukan kegiatan ekstrakurikuler. Ada kegiatan pramuka, silat dan hadroh. Setiap hari Rabu jam kedua, adalah kegiatan ektrakurikuler. Sebagian besar siswa mengikuti kegiatan tersebut sesuai dengan hobinya masing-masing. Zaky sedang serius menyaksikan teman-temannya mengikuti kegiatan silat ketika seorang siswa seangkatannya namun lain ruangan datang menghampirinya. “Kamu Zaky?” Tanyanya. “iya” jawab Zaky. “Ada apa ya?” “kamu dipanggil guru piket ke aula guru!” “Memangnya ada apa?” Zaky penasaran. “Tak tau,” jawabnya singkat. Dengan malas Zaky bangkit, setelah menepuk debu yang mungkin ada nempel di celananya, Zaky pun berjalan ke arah guru piket tersebut. “terima kasih ya” ucapnya sambil lalu. “Ayo ikuti bapak!” kata guru piket saat Zaky baru saja sampai di depan aula guru seolah-olah dia dikejar waktu. Zaky hanya menganggukkan kepalanya sambil mengikuti guru piket masuk ke aula guru dan langsung menuju sebuah ruangan. Di samping pintu bagian atas tercetak tulisan bewarna keemasan ‘Ruang Kepala Sekolah’. “Langsung saja masuk” guru piket mempersilahkan Zaky masuk dan dia langsung pergi tanpa menoleh ke belakang lagi. ‘Hemm…’ Zaky hanya bisa menarik nafas dalam-dalam lalu masuk ke ruangan kepala sekolah setelah terlebih dahulu ia mengucapkan salam. hanya ada ibuk kepala sekolah. Zaky perlahan berjalan mendekat. “Silahkan duduk, Zaky!” “iya, buk. Terima kasih”. Zaky duduk di kursi berhadapan dengan ibuk kepala sekolah yang berada di seberang meja sana. “Langsung saja ya, Zaky. Kamu tahu mengapa kamu dipanggil ke sini?” “tidak buk.” “Saya mendapat laporan dari wali kelas kamu, bahwa kamu tidak mau mengikuti satupun kegiatan ekstrakurikuler. Apa betul, Zaky?” kembali Zaky menarik nafas dalam-dalam. Cepat atau lambat pasti persoalan ini akan sampai ke kepala sekolah. Ternyata memang benar. Tapi Zaky juga mengapresiasi sikap kepala sekolah yang bertanya dahulu kepadanya, tidak langsung action, mengambil tindakan terhadap laporan tersebut. “Betul, buk.” “Mengapa? Coba sampaikan apa alasannya! Ibuk tak yakin jika kamu tak tahu aturannya bahwa siswa wajib mengikuti kegiatan ekstrakurikuler minimal satu kegiatan. Kamu kan tahu, kegiatan tersebut akan mempengaruhi nilai-nilai di raport.” Sejenak Zaky bimbang, tapi sejurus kemudian ia berkata, “Saya tahu manfaat kegiatan ektra itu buk, saya juga tahu siswa harus mengikuti salah satu kegiatan itu. Sebenarnya saya juga ingin ikut.” Ditariknya nafas berlahan-lahan, lanjutnya kemudian, “ persoalannya kegiatan tersebut tidak hanya selesai di sekolah saja buk. Akan dilanjutkan pada jam-jam di luar sekolah.” “Ibuk belum melihat ada masalah disitu.” Kata kepala sekolah. “kan biasa kegiatan ektra dilanjutkan di luar jam pelajaran. Karena kalau hanya mengikuti dalam jam pelajaran, waktunya kan terbatas.” Buk Listi menatap Zaky dengan penuh selidik. “Disitulah persoalannya buk. Saya tidak bisa ikut kegiatan jika di luar jam sekolah!” kata Zaky kemudian. “Mengapa?” kejar buk Listi Zaky diam. “Coba jelaskan alasan kamu, jika alasan kamu tidak masuk akal, kamu tetap harus mengikuti kegiatan ektra atau kamu akan disanksi.” Tegas buk Listi. Zaky berdebar. Ia tak mau disanksi. Tapi ia juga berat mau mengatakan alasannya. Tapi kalau tak dikatakan persoalannya tidak akan selesai. Mudah-mudahan ibuk kepala bisa menerima alasanku pikir Zaky. “Sebelumnya saya mohon ibuk tidak mengatakan kepada siapa pun terkait alasan saya, buk” kata Zaky kemudian. “Ibuk tidak bisa janji!” kepala sekolah mulai geram. “Sekarang katakan alasanmu!” Zaky tak punya pilihan lain, ia berkata dengan suara pelan. “Karena sepulang sekolah saya harus membantu ibu saya bekerja, buk.” “Ibu kamu kerja apa?” “Ibu saya mengambil upah menyuci dan menggosok pakaian, buk.” Zaky menundukkan kepalanya. “Tapi kamu kan anak laki-laki, mengapa kamu mengerjakan pekerjaan kaum wanita?” terkejut buk Listi mendengarnya. Tak masuk difikirannya kalau siswanya yang satu ini mengerjakan pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh perempuan. “Kasihan ibu kerja sendiri, buk. Kalau tidak dibantu, pekerjaannya lama baru selesai. Takutnya nanti tak ada lagi orang yang mau memakai jasa ibu.” *** Hari sudah siang. Waktu zuhur sudah setengah jam lalu berlalu. Di ruangan kepala sekolah tampak buk Listiana masih duduk dengan satu tangan dikepala, sikunya menopang meja di depannya. Zaky sudah dari tadi keluar dari ruangannya, tapi buk Listi belum juga beranjak dari kursinya. Masih terngiang setiap percakapannya dengan Zaky seolah-olah isi percakapan tersebut terus diulang-ulang dari sebuah rekaman. Hatinya ngilu. Terharu mengenang nasib Zaky sehingga tak tau apa yang harus dilakukan. Sungguh dia tak menyangka siswanya yang pendiam itu mempunyai persoalan tersendiri dalam usianya yang masih muda. Sungguh anak yang berbakti. Tak bisa buk Listi membayangkan seorang anak laki-laki yang bekerja menyuci pakaian orang lain lalu menyetrikanya. Capeknya minta ampun, apalagi duduk dalam waktu yang lama sambil menyetrika, pinggang ini serasa akan patah. Sedangkan anak perempuan buk Listi saja masih manja, tak pernah nyuci dan nyetrika sendiri. Semuanya dikerjakan oleh pembantunya. Jangankan anaknya, dia sendiri pun tak pernah lagi nyuci dan menyetrika pakaiannya sendiri. Buk Listi jadi malu sama Zaky. Apa tanggapan dari teman-temannya jika mereka tahu pekerjaan Zaky? Tentu banyak yang akan mencemoohnya. Kasihan si Zaky. Buk Listi menduga suatu saat pasti ada diantara siswanya yang tahu pekerjaan Zaky. Buk Listi hanya bisa merasa kasihan. Tiba-tiba ia seperti terbangun dari duduknya. Berdiri menuju pintu. “Buk Ici ke ruangan saya sebentar!” “Baik buk.” Buk Ici yang lagi istirahat bersama-sama majlis guru yang lain di ruangan aula guru langsung berdiri menuju ruangan kepala sekolah. Setelah mempersilahkan buk Ici duduk, berkata buk Listi, “Murid Ibuk SI Zaky itu bagaimana sikapnya di dalam kelas buk? Apakah dia termasuk anak yang nakal? Bagaimana daya tangkapnya dalam mengikuti mata pelajaran di kelas?” Buk Ici sudah tahu pasti kepala sekolah akan membahas masalah Zaky karena dia juga tahu tadi Zaky sudah dipanggil juga ke sini. “Seperti yang saya katakana kemaren, Buk. Dia taka da masalah dengan sikap dan perbuatannya. Tak pernah berbuat masalah. Walaupun dia tidak termasuk sebagai siswa jenius, tapi daya tangkapnya terhadap mata pelajaran yang diberikan masih bisa dicernanya. Cuma itu tadi buk, dia tak mau ikut kegiatan ektra walaupun sudah saya paksa. Jadi saya sangat berharap ibuk bisa menegur dan menjatuhkan sanksi terhadapnya!” Buk Ici menyelesaikan perkataannya dalam satu nafas. Memang Zaky termasuk anak baik, tapi dihati kecilnya dia tak bisa menerima begitu saja atas sikap Zaky yang tak mau mendengar perkataannya untuk ikut salah satu kegiatan ekstrakurikuler. Makanya kemaren langsung dia laporkan kepada kepala sekolah. Menurut tanggapannya pasti kepala sekolah sudah mengambil tindakan. Hal itu membuat hatinya senang. “Mungkin buk Ici sudah tahu jika tadi saya sudah memanggil Zaky menghadap, dan saya juga sudah mengambil keputusan. Jadi saya harap nanti buk Ici tidak lagi mempermasalahkannya!” kata buk Listi. “Siap, buk.” Gembira buk Ici mendengarnya. Sesuai dengan prediksiku tebaknya. “kalau boleh tahu apa sanksi yang telah dijatuhkan terhadap Zaky, buk?” “untuk kasus Zaky, biar dia tetap sekolah sebagimana biasanya, dan untuk kegiatan ektra untuk sementara waktu ini biarkan saja dia belum bisa mengikuti kegiatan tersebut…!” “Apa saya tak salah mendengarnya, Buk?” buk Ici terpana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN