Bumi Selatpanjang baru baru saja dilingkupi kegelapan. Matahari sudah dari tadi terbenam. Waktu isya pun sudah menjelang.
Di sebuah rumah yang berdinding papan di g**g Bijuangsa ujung, masih Nampak berbagai aktivitas. Zaky baru selesai sholat isya. Dengan masih memakai sarung, Zaky beranjak menuju adiknya yang sedang belajar mengerjakan tugas sekolahnya.
Zaky cek tak ada jawaban yang salah, lalu ia menuju halaman belakang rumahnya. Mengganti kain sarung dengan celana olahraga yang sudah mulai usang. Ia mulai pemanasan ringan. Setelah dirasa cukup sepuluh menit kemudian, ia mulai melakukan gerakan pukulan dan dan tangkisan yang diperagakan oleh teman-temannya sewaktu mengikuti kegiatan ektrakurikuler silat tadi siang.
Zaky sebenarnya hobi silat. Ia sudah mencoba bertanya kepada instruktur silat di sekolahnya, apakah boleh hanya latihan di sekolah saja tanpa ikut latihan pada waktu yang lain di luar jam sekolah, tapi instruktur tersebut menyatakan keberatannya.
Makanya Zaky tak bisa ikut kegiatan ektra. Dasar ia memang hobi silat, setiap temannya latihan, ia akan melihat. Tentunya dengan cara yang tidak kentara. Kalau ia memperlihatkan keseriusannya terhadap materi silat yang diberikan, takutnya Zaky tidak diperbolehkan lagi hadir ketika kegiatan ektra silat sedang berlangsung.
Apa yang sudah dilihat dan diam dihafal di dalam fikirannya, ketika ada waktu senggang, ia akan mengulang kembali gerakan itu di rumah.
Paling tidak, jika ada ujian kegiatan ektra nanti, sedikit banyak Zaky bisa menjawab atau mempraktekkannya. Hitung-hitung bisa untuk menambah nilai raportnya.
Setelah melakukan pukulan tangan kanan dua puluh lima kali, dilanjutkan dengan pukulan tangan kiri dua puluh lima kali. Zaky menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan perlahan-lahan.
Kata Edo, teman sekelasnya yang ikut kegiatan ektra silat, setiap melakukan gerakan itu harus menggunakan pernafasan, biar gerakannya lebih betenaga.
Tapi hingga saat ini, Zaky belum bisa mengatur nafasnya dengan benar.
Setiap kali ia mencoba memukul atau menendang menggunakan pernafasan, ia malah jadi cepat lelah. Mungkin itulah bedanya latihan langsung diawasi oleh seorang instruktur atau pelatih dengan latihan secara mandiri. Jauh sekali bedanya.
Zaky tak berkecil hati. Selesai latihan, ia kembali melakukan peregangan. Katanya peregangan setelah selesai latihan sangat penting untuk kembali mengendorkan urat-urat, agar tidak mudah cedera.
Zaky terduduk kelelahan. Keringatnya mengalir tanpa henti. Sekilas terbayang percakapan ia dengan kepala sekolah tadi. Ia hanya bisa menghela nafasnya.
Pikirannya melayang-layang entah kemana. Lalu terbayang di matanya seraut wajah yang membuat hari-harinya serasa lebih bermakna.
Membuat ia lebih bersemangat setiap kali berangkat ke sekolah.
Ana!. Walaupun ia ada berintraksi dengan Ana karena mereka satu lokal, tapi itu hanyalah interaksi biasa.
Dalam diam, ia selalu curi-curi pandang. Tak bisa melihat wajahnya, dapat melihat Ana dari belakang sudah membuat hatinya gembira bukan main.
Mungkin inilah yang dikatakan cinta?
Masih terlalu dini untuk mengatakan hal tersebut. Masa-masa ABG kata orang zaman sekarang. Masa-masa di mana mudah saling suka dan saling cinta.
Cinta monyet. Mengapa dikatakan cinta monyet, Zaky pun tak tahu.
Tanpa Zaky sadari, Ana telah menjadi penyemangat hidupnya.
Pernah suatu hari, Ana tidak masuk sekolah karena ada acara keluarga, sepanjang mata pelajaran, Zaky tidak bersemangat. Seolah-olah ada yang kurang dalam dirinya. Apakah ia sudah kasmaran?
Hingga kini, Zaky tak berani untuk menampakkan perasaan sukanya terhadap Ana. Ia menyadari status sosialnya jauh beda dengan Ana. Dengar-dengar kabar, orang tua Ana bekerja sebagai salah seorang pejabat di kantor Bupati.
***
“Pengukuran merupakan proses membandingkan suatu besaran yang diukur menggunakan besaran lain yang sudah ditentukan skala dan satuannya.” Zaky dan teman-temannya serius menyimak materi fisika yang dijelaskan buk Nadia.
Sebanyak mata pelajaran yang diajarkan di kelas X, fisika adalah pelajaran favorit Zaky. Ia paling suka jika sudah mulai membahas tentang pengukuran, perubahan suhu, kecepatan dan percepatan. Apalagi jika sudah membahas tentang listrik dinamis dengan segala variannya, membuat Zaky benar-benar terbenam dengan pelajarannya. Tapi hari ini buk Nadia sedang membahas tentang pengukuran. Buk Nadia melanjutkan lagi pembahasannya, “Panjang merupakan salah satu besaran pokok yang dapat diukur menggunakan mistar, jangka sorong, atau mikrometer sekrup.Massa merupakan salah satu besaran pokok yang bisa diukur menggunakan timbangan atau neraca. Neraca yang biasa digunakan pada skala laboratorium adalah neraca O’Hauss tiga lengan. Neraca tersebut memiliki tiga lengan dengan rincian sebagai berikut…”buk Nadia menjelaskannya dengan panjang lebar. Siswa sesekali disuruh mencatat jika ada materi yang dianggap penting dan akan keluar pada saat ujian.
Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Buk Nadia sudah keluar dar ruangan kelas. Zaky dan teman-temannya lagi menunggu guru bidang studi biologi untuk mengajar pada jam ketiga ini.
Ditunggu-tunggu belum juga nongol batang hidung guru tersebut. Siswa pun mulai bising. Ada yang mulai menggosip, ada yang mulai bersuit-suit, lempar-lempar kertas. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya. Namanya anak-anak muda. Belum bisa mengontrol sikapnya.
“Ana boleh aku duduk disini?” tanpa menunggu persetujuan Ana, Robby langsung duduk disamping Ana. Tangannya langsung melingkar di bahu Ana.
“Jangan kurang ajarlah, Rob!” Ana berusaha menepis tangan Robby. Tapi Robby malah mengeratkan pegangannya di bahu Ana.
“Lepaskan tanganmu, Rob!” Maya teman dekat Ana pun ikutan jadi geram melihat tingkah Robby.
Robby ini memang terkenal play boy. Anak orang kaya. Bapaknya juga seorang pejabat di kantor Bupati. Perawakan Robby tinggi besar. Wajahnya memang ganteng ditambah lagi dengan warna kulitnya putih. Banyak siswi yang jatuh hati kepada Robby. Tak terkecuali Ana. Bedanya Ana tidak menampakkan rasa sukanya terhadap Robby. Apalagi dengan sikap Robby yang play boy membuat Ana sedikit ragu.
“Lepaskan, Rob!” sebuah suara berat terdengar dari belakang Robby. Robby menoleh, “Kalau aku tak mau kau mau apa, Zak?” Zaky maju selangkah ke depan, tiba-tiba dicengkramnya tangan kanan Robby yang memang bahu Ana, lalu diplintirnya. Robby meringis. Sambil berdiri Robby melayangkan pukulan tangan kirinya ke wajah Zaky. Zaky mencoba menangkis. Tak ayal pukulan itu masih menyerempet bahunya. Zaky terjajar. Pegangannya lepas. ‘Kuat sekali pukulannya’ pikir Zaky. Robby meradang,dia mulai memasang kuda-kuda boxernya. Robby ini memang atlit boxer yang lagi naik daun. Teman-teman sekelas semua diam melihat petarungan mereka. Edo berinisiatif menutup pintu kelas, biar tidak ketahuan orang lain.
“Robby, Zaky sudahlah. Jangan berkelahi!” Ana berusaha untuk menangahi. Dia merasa tak enak hati.
Robby tak perduli, dia kembali melayangkan pukulannya dengan tangan kanan. dilanjutkan dengan tendangan tinggi kaki kiri. Zaky meringis. Tangan yang digunakan untuk menangkis serasa berbenturan dengan sepotong kayu. Keras. Sekali lagi Zaky terjajar sampai tiga langkah ke belakang.
Robby kembali menyerang. Menendang dengan kaki kanan. Zaky melonjat ke samping. Lalu dia nekat naik ke atas bangku dan melayangkan tendangannya kearah Roby.
Dengan mudah Roby menghindari serangan itu, lalu kaki kirinya masuk kearah ulu hati Zaky. Tak ada waktu bagi Zaky untuk menghindar. Mau tak mau ia harus menangkis. Bedanya kali ini ia coba menangis serangan itu menggunakan pernafasan yang diarahkan kelengannya. Ternyata berhasil! Walaupun masih sedikit sakit, tapi rasanya tidak lagi seperti menangkis kayu. Zaky bersuka cita. Ketika ia ingin mencoba membalas dengan tendangan yang diisi pernafasan, tiba-tiba Edo berteriak, “Guru datang! Guru datang!” perkelahian itu pun berhenti dengan sendirinya.
“Nanti kita lanjut di luar sana kalau kau berani, Zaky! Ilmu baru cetek dah berani melawan aku!” Robby masih sempat menebarkan ancamannya.
Memang dalam perkelahian yang singkat tadi, terlihat jelas Zaky adalah pihak yang kalah. Jika dilanjutkan bisa jadi Zaky akan babak belur dihajar Robby.
Zaky diam saja. Bukan karena ia takut, tapi ia mencoba mencerna pencerahan tentang pernafasan yang didapat tadi. Ia hanya belajar bela diri seadanya, tak ada tempat untuk bertanya. Kecuali bertanya kepada Edo, tapi pengetahuan Edo terbatas.Tanpa tuntunan dari pelatih, Zaky harus belajar sendiri, memikir dan mencerna sendiri setiap dari gerakan silat yang ia lakukan. Ketika ia mendapat sedikit pencerahan tentang gerakan silat ini tentu saja ia tak mau membiarkannya hilang dengan sia-sia
***