Hasil Yang Susah Diraih

1082 Kata
Selatpanjang diguyur hujan! Lebat. Parit-parit disepanjang jalan dan g**g sudah penuh terisi air. Hitam berlumpur. Kalau tidak ada keperluan yang mendesak, orang-orang akan lebih memilih diam di rumah dari pada kedinginan di luar sana. Di sebuah rumah tingkat dua berwarna kuning yang terletak di jalan Rintis ujung sebelah kanan, tampak Ana sedang menghadap laptop di kamarnya. Di samping kanannya juga ada seorang gadis yang kira-kira sebaya dengannya. Gadis itu adalah Maya teman sekelas Ana. Mereka berdua sedang mengerjakan tugas sekolah di rumah Ana. Maya sebenarnya adalah gadis yang manis. Lemah lembut. Tapi karena dibandingkan dengan Ana, kecantikannya menjadi agak kabur. Pada hal jika dibandingkan dengan gadis lain, Maya termasuk gadis yang cukup cantik. “Na, kamu masih ingat si Zaky yang berkelahi dengan Robby kan?” suara maya memecah konsentrasi Ana yang lagi serius mengetik. “Ya, memangnya kenapa, May?” Ana menjawab tanpa berpaling dari laptop. “Zaky kan tak pernah ikut kegiatan silat, tapi kemaren nampaknya dia bisa silat ya, Na. walaupun dia kalah tenaga dibanding si Robby itu.” “Mungkin.” Setelah ragu sejenak, berkata Maya, “Aku rasa, si Zaky itu nampaknya ada hati lah sama kamu, Na. kalau tidak, mengapa dia mau membela kamu. Kan sudah jelas si Robby itu bukanlah tandingannya.” “Terserahlah, May, ada hati atau tidak, kan tidak ngaruh bagi kita.” “Pasti ada pengaruhnya, Na, terutama bagi kamu. Jelas-jelas dia naksir kamu, Na.” Maya merasa tidak puas akan tanggapan Ana. “Eh eh eh, Maya yang baik, kenapa kamu jadi sengit seperti itu?” tatapan mata Ana beralih dari layar laptop ke arah Maya. “Kamu seperti orang yang tidak punya perasaan saja, Na.” Cemberut Maya. Ana hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya. “Kalau dia ada perasaan sama aku, aku mau bilang apa, May?” suara Ana lembut memujuk sahabatnya. Melihat sikap Ana, hati Maya jadi luruh. “Jadi kamu tahu jika Zaky itu suka samu kamu, Na?” bertanya Maya kemudian. “Ya tahulah, May. Dari gerak-geriknya, perhatiannya walau tidak secara terang-terangan. Terakhir yang semalam itu, dia membela aku. Aku tahu, May. Tapi aku mau bilang apa? Aku tak ada rasa dengannya. Tak mungkin juga aku memberi harapan kosong kepadanya kan, May?” Ana menghela nafasnya. “Kamu jahat, Na. kenapa kamu tidak langsung menolaknya?” “Mau menolak bagaimana Maya sayang? Dia kan tak pernah mengungkapkan secara terus terang kapada aku kan.” Maya gemas. Benar juga apa kata Ana. “Tapi kan kasihan dia, Na. tetap berharap. Kalau saja dia tahu, harapannya akan sia-sia, bisa dibayangkan betapa hancurnya hatinya, Na. Kali ini giliran Ana yang merasa heran dengan sikap sahabatnya. “Kamu sepertinya perhatian sekali dengannya, May. Atau jangan-jangan kamu menaruh perasaan sama dia kan?” goda Ana. “Ah, kamu ini ada-ada saja, Na. tak lucu tahu.” Setelah terdiam sejenak, Maya berkata lagi, “Apa karena dia tidak ganteng dan bukan dari keluarga kaya sehingga kamu tak suka sama dia, Na?” “Sudahlah, may. Jangan dibahas lagi. Mari kita lanjutkan tugas sekolah nanti tak selesai.” Ana kembali menatap layar laptop. Tapi dia tidak mulai mengetik kembali. Sebaliknya dia kembali menatap Maya dan berkata, “Rasa suka ataupun cinta di usia kita ini jangan terlalu dianggap serius, May. Ini hanyalah rasa suka sesaat. Yang akan hilang dan segera berpaling ke yang lain jika sudah ada yang lebih baik. Rasa cinta masa-masa sekolah ini hanyalah bersifat nafsu, May. Hanya tertarik karena cantik, seksi dan tampan.” Jika ada yang lebih cantik lebih seksi dan lebih tampan, maka rasa cinta itu akan beralih. Kan begitu, May?” Maya hanya terdiam merenung perkataan sahabatnya. Lalu didengarnya Ana kembali berkata, “Aku tak tahu, apakah aku tak ada rasa cinta terhadap Zaky dikarenakan dia tidak tergolong ganteng, atau karena dia itu hanya berasal dari keluarga yang sederhana. Tapi yang jelas, May, aku mau fokus belajar dan mengejar karir dahulu, paling tidak bisa sampai jenjang S2.” Ana tak sepenuhnya jujur mau fokus karir. Sebenarnya dia naksir sama Robby andai saja sifat Robby lebih baik dan tidak play boy. Tapi Ana tak mau berkata jujur kepada Maya. Walaupun Maya adalah sahabat karibnya. Itu lah yang namanya manusia. Pasti ada rahasia. Rahasia yang akan disimpan di dalam hati tanpa mau mengatakan kepada siapapun. *** Suatu pagi Zaky baru saja berbelok dari jalan Perumbi menuju jalan Banglas ujung ketika sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi disebelahnya. Tak ayal, air yang tergenang di aspal memercik membasahi dan mengotori baju seragam sekolahnya. Pengendara motor itu terawa terbahak-bahak. Ternyata Robby dan temannya. Zaky hanya bisa menghela nafas. Geram. Tapi tak ada faedahnya jika mencari masalah di jalan umum. Lagipun pada dasarnya Zaky adalah tipe orang yang tak mau mencari masalah. Mengenai kejadian di sekolah kemaren itu, Zaky sebenarnya reflek saja terbawa rasa ingin melindungi orang yang disukainya. Zaky hanya bisa balik arah, pulang ke rumahnya. Tak mungkin ia ke sekolah dengan baju yang kotor. Apa kata gurunya nanti. Biarlah ia dianggap alpa hari ini. Zaky berbeda dengan teman-temannya. Disaat teman-temannya masing memegang hp andoroid, Zaky hp senter saja pun tak punya. Memang ada satu hp senter di rumah, biasanya dipakai emaknya untuk menerima telpon dari ayahnya yang bekerja di negeri seberang. Atau menerima telpon dari ibuk-ibuk yang minta dicuci atau disetrika pakaiannya. Sampai di rumah, Zaky langsung mengganti pakaian dan langsung dicucinya. Zaky biasa mencuci pakaiannya sendiri. Setelah selesai, Zaky langsung menuju halaman belakang rumah tempat ia biasa latihan. Sebenarnya sejak perkelahian kemaren, setiap malam, Zaky terus berusaha mencerna dan memukul, menendang dan menangkis dengan menggunakan pernafasan. Tapi hingga kini, progresnya masih sangat sedikit. Ternyata tidak mudah untuk mempraktekkannya walaupun ia sudah mendapat sedikit pencerahan. Ibarat sebuah pintu, ia sudah punya kuncinya dan sudah mulai membuka pintunya, tapi seolah-olah engsel pintunya berkarat, sehingga tidak bisa dibuka lebar-lebar walaupun sudah dicoba dengan mendorongnya. Zaky tidak berputus asa, malah ia bersyukur, paling tidak sekarang ia sudah bisa menggunakan pernafasan dalam latihannya walaupun masih sedikit. Yang penting ikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu dibarengi dengan do’a. kata emaknya, takdir itu ada di penghujung ikhtiar dan do’a. Zaky kembali mengatur pernafasannya. Ditarik perlahan lalu dimasukkan diperut, sebagian lagi dicoba untuk diarahkan ke tangan kanannya, lalu ia mebentuk kuda-kuda dan melepaskan pukulannya ke samsak di depannya. Terdengar bunyi gedebuk. Tapi rasanya masih kurang tenaga. Dicobanya lagi dan lagi. Jika lelah ia istirahat sebentar. Lalu dicobanya lagi. Kata orang bijak, jalan menuju sukses itu memang penuh onak dan duri. Tapi jika kita sungguh-sungguh, hasil tidak akan mengkhianati usaha. Artinya usaha yang dilakukan dengan maksimal akan mendapat hasil yang bagus! ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN