Rumah itu sangat sederhana. Rumah papan berukuran 4x6 m². beratap rumbia. Satu dua keping dindingnya sudah mulai dimakan rayap. Walaupun sederhana rumah itu terkesan bersih, tanda dirawat setiap hari. Walaupun agak kecil, tapi terdapat dua kamar. Satu untuk ibu dan adik-adiknya dan satu lagi kamar Zaky. Tidak ada TV di rumah itu. Yang ada hanya siaran radio yang disiarkan dari hp senter ibunya.
Radio ini selain bisa menangkap siaran di Selatpanjang dan sekitarnya, juga bisa mengambil siaran dari negeri tetangga, Malaysia.
Di kamar ibunya ada sebuah kasur tipis yang sudah mulai lusuh. Di atas kasur berbaring ibunya yang kelelahan setelah seharian bekerja.
“Nak,” panggil ibunya.
“Ya, mak.” Zaky yang sedang belajar langsung berjalan menghampiri ibunya.
Kebanyakan orang Riau memanggil ibunya dengan sebutan emak.
“Besok siang tolong gantikan emak mencuci dan nyetrika di rumah buk Ratna. Badan mak rasanya agak lain. Seperti mau demam, kepala seperti pitam.”
“Baik, mak.” Jawab Zaky. “Mungkin lambung emak kambuh lagi. Mungkin mak tadi tak sempat sarapan.”
“Emak tadi memang tak sarapan. Tak selera mau makan.” Jawab ibunya.
“Emak sudah minum obat?” tanpa menunggu jawaban dari ibunya Zaky langsung mengambilkan obat Lambucid syrup. Obat ini cocok untuk sakit lambung emaknya.
“o ya, mak, bapak belum ada nelpon, mak?”
“Itulah yang menjadi buah pikiran mak. Biasanya bapakmu sudah menelpon dan mengirim duit. Tapi sampai hari ini, belum ada kabar dari bapakmu. Emak sudah mencoba menelpon nomor bapakmu, tapi tak dijawab” Jawab ibunya dengan lesu.
“Mungkin bapak lagi sibuk, mak, jadi belum sempat menelpon kita. Kalau bapak sudah ada waktu luang, insya Allah bapak akan menelpon kita, mak” Zaky berusaha menenangkan ibunya.
Bapak Zaky kerja di Malaysia sebagai TKI. Dulu bapaknya akan pulang kerja sebulan sekali. Tapi semenjak covid-19 ini, sudah masuk dua tahun, bapak Zaky tidak bisa pulang. Sengaja tidak pulang. Kalau pulang kampung tapi tak bisa masuk lagi ke malaysia. Karena akses ke sana ditutup hingga sekarang.
Biasanya bapaknya rutin menelpon dan mengirim uang untuk biaya hidup dan pendidikan adik beradik Zaky. Baru bulan ini bapaknya belum ada menelpon.
Emaknya sengaja bekerja mengambil upah mencuci untuk menambah penghasilan mereka. Jika mengharap kiriman dari bapaknya tentu tidak akan cukup.
Makanya Zaky berinisiatif membantu maknya jika ada waktu luang.
***
Zaki mengayuh sepedanya menuju jalan Dorak. Setelah sekitar tiga menit kemudian Zaky berbelok ke arah kiri memasuki jalan Kelapa Gading. Zaky takjub, di jalan ini rumah rata-rata bagus bagus dan bertingkat.
Setelah mencari-cari sebentar, Zaky berbelok ke sebuah rumah batu bewarna crem.
Menurut emaknya, inilah rumah buk Ratna.
“Assalamu’alaikum,” Zaky mengucap salam kepada tuan rumah. Tak lama kemudian muncul seraut wajah sorang wanita yang berumur sekitar empat puluhan tahun. Wanita yang masih kelihatan cantik. “Wa’alaikum salam, nak Zaky ya.”
“Iya, Buk.”
“Ayo masuk. Tadi ibumu ada ngebell¹ ibuk.” Kata ibu itu dengan ramah. “Ayo mau minum dulu mau langsung nyuci?” tanya ibuk itu dengan dengan ramah.
Zaky jadi agak salah tingkah. Biasanya orang lain akan akan meremehkan jika seorang laki-laki menyuci dan menyetrika. Pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh kaum perempuan. Tapi respon tuan rumah terhadapnya tampak wajar-wajar saja. Malah bersikap sangat ramah seolah-olah dia sudah lama kenal sama Zaky.
“Biar langsung nyuci saja, Buk.” Kata Zaky.
“Ya udah kalau begitu, di sini tempat nyuci, kalau sudah selesai, jemur saja di belakang lewat pintu itu ya. Kalau mau menggosok² nanti di sini ya. Kispray ada disana.” Ibuk itu terus berbicara dengan ramah sambil mengajar Zaky.
“Nanti kalau mau minum atau makan ambil saja di meja ya, nak Zaky. Anggap saja di rumah sendiri.”
“Terima kasih, buk. Hanya itu kata yang keluar dari mulut Zaky.
Zaky langsung menuju ke belakang langsung menyuci pakaian. Banyak pakaian orang in. tapi karena sudah terbiasa, tak ada keluar keluhan dari mulut Zaky. Malah ia bekerja dengan senang hati karena ia bisa membantu meringankan beban emaknya.
Selesai menyuci, mengeringkan lalu Zaky membawa pakaian itu ke halaman belakang dan langsung menjemurnya. Halaman belakang rumah ini dibatasi dengan pagar tembok setinggi dua meter dan di atas pagar itu ada pecahan-pecahan kaca dari botol yang sengaja diletakkan disana untuk menghalangi pencuri.
Selesai menjemur, Zaky langsung menuju kamar disudut belakang, disitulah Ia akan menggosok pakaian. Sudah ada satu ember besar pakaian yang harus disetrika. Bertumpuk-tumpuk. Ternyata disitu juga sudah disediakan minuman dingin dan kue. Zaky minum satu gelas. Minuman itu langsung melewati tenggorokannya. Segar!
***
Dari sebuah kamar di ruangan depan, seorang gadis keluar dengan langkah yang tergesa-gesa.
“Mau kemana, May?” mamanya yang sedang istirahat sambil nonton di ruang keluarga menegur gadis tersebut.
“Anu ma mau ke belakang. Tadi Maya lupa memilah pakaian dalam Maya. Masih bercampur dengan pakaian kotor yang lain. Tak enak kalau buk Robiah datang dan mencucinya nanti, ma.”
“Maya, maya, sudah berapa kali mama bilang, jangan dicampur pakaian dalam dengan pakaian kotor lainnya.” Buk Ratna mamanya Maya menegur anaknya.
Bukan karena anaknya lupa memilahkan pakaian dalam, tapi karena pasti pakaian itu telah dicuci oleh Zaky. Betapa malunya.
“Tak perlu kamu ke belakang lagi, May. Kemungkinan pakaian kamu jelas sudah sekalian dicuci.”
“Biar Maya lihat sebentar ma. Mana tau belum dicuci sama buk Robiah.” Maya melangkah ke belakang.
“Asal kamu tahu ya, May. Hari ini buk Robiah tidak datang, anaknya yang mengganti pekerjaannya hari ini. Parahnya lagi, anaknya laki-laki, May.”
“Apa, ma?” kaki Maya tak jadi melangkah. Dia panik bercampur malu. “Tapi ma, masa anak laki-laki mengerjakan pekerjaan seperti mencuci, ma? Jadi gimana ini, ma?”
“Mau gimana lagi?” jawab mamanya. Ini kan karena keteledoran kamu sendiri, May. Lagi pun mama pun tak menyangka jika anak laki-laki buk Robiah mau menggantikan pekerjaan ibunya.” Buk Ratna menghela nafasnya.
“Seperti apa sih anaknya, ma?” Maya jadi penasaran. “Apa dia sebaya Maya, ma?”
“Kamu lihat saja sendiri di belakang!” kata mamanya sambil tersenyum menggoda anaknya.
“Malu lah, ma.”
“Kenapa malu, kan dia tak tahu pakaian dalam itu milik kamu.”
“Ah mama. Nanti pas dia pulang saja Maya mau lihat orangnya. Maya ke kamar dulu, ma.” Maya langsung berjalan ke kamarnya.
***
Jam 5 sore akhirnya Zaky menyelesaikan pekerjaannya. Diusapnya keringat didahinya. Ia berdiri, meregangkan pinggangnya ke kiri dan ke kanan. bunyi keriuk-keriuk seperti tulang patah di sekitar pinggangnya. Rasa pegal pun jadi jauh berkurang.
“Bu, saya izin pulang dulu.” Zaky keluar dari kamar dan langsung pamit dengan buk Ratna.
“Terima kasih ya nak Zaky. Makan lah dahulu, nanti baru pulang.” Buk Ratna berjalan menghampiri Zaky.
“Masih kenyang, buk. Tadi sudah makan kue juga.”
“Ya udah kalau begitu. Hati-hati di jalan ya, nak.”
Zaky pun keluar dari rumah meuju sepedanya. Digenjot pedalnya dengan perlahan-lahan. Ia pun meluncur pulang ke rumahnya.
***
¹ Ngebell = Menelpon
² Menggosok = Menyetrika Baju/Pakaian