Dini hari. Kota Selatpanjang sepi. Jalanan pun sepi. Kedai kopi juga sepi. Tapi ada keanehan di sini.
Bagaimana tidak aneh? Kedai kopi sepi pada hal di meja masih ada gelas-gelas kopi yang masih ada isinya. Kalau dilihat kursi yang diatur sedemikian rupa mengelilingi meja ada makhluk aneh yang duduk di sana.
Duduk tidak bergerak. Tidak berbicara antara satu sama lain. Seperti patung.
Tunggu dulu! Makhluk tersebut bukan patung, bukan juga tidak ada pergerakan sama sekali. Kalau kita lihat dari jarak 10 meter, maka akan kelihatan kedua tangan mereka memegangi sesuatu. Kedua jempol makhluk itu sibuk mengotak-atik, memencet benda yang dipegang itu.
ada apa sebenarnya ini? Apakah kota selatpanjang sudah terkena sihir avada kadabra dari Harry Potter?
Mereka sedang begadang di kedai kopi. Tujuan mereka selain ngopi adalah untuk menikmati fasilitas free wify yang disediakan pemilik kedai kopi. Bukan untuk belajar atau mencari referensi untuk tugas sekolah atau tugas kampus. Mereka sedang berlain game.
Sekang lagi booming main game secara online. Main di rumah takut di marah orang tua atau dimarah istri, jadi minggatlah mereka bermain di kedai kopi. Dengan kopi segelas mereka tahan berjam-jam duduk disana.
***
Di dalam kamar dalam salah satu rumah yang terletak di jalan Kelapa Gading, seorang gadis kelihatan resah. Sesekali terlentang, lalu miring ke sebelah kanan, tak lama kemudian pindah lagi ke sebelah kiri. Dia berusaha memejamkan matanya yang tak juga mau tidur. Pada sekarang sudah dini hari, besok dia masih mau sekolah. Dia tak mau kelihatan mengantuk di kelas. Tapi matanya seolah-olah tidak mau berkompromi.
Tidur itu bukan hanya masalah mata! Jika sudah mengantuk mata akan menurut saja ketika otak mengirim sinyal supaya pejam lalu tidur. Masalahnya sekarang, otaknya tidak dengan ikhlas mengirim sinyal supaya dia bisa tertidur. Otaknya masih memikirkan kejadian sore tadi. Nah inilah titik masalahnya. Rupanya si gadis tersebut sedang memikirkan sesuatu, sehingga rasa kantuk terpaksa menyingkir jauh.
Gadis itu adalah Maya. Dia masih memikirkan kejadian sore tadi. Sewaktu Zaky masih di halaman ketika mau pulang sore tadi, Maya penasaran mau melihat anak laki-laki buk Robiah yang tak malu bekerja mengambil upah mencuci dan menyetrika pakaian.
Betapa terkejutnya Maya ketika dia melihat ternyata Zaky adalah anak buk Robiah. Ketika memikirkan bahwa tenyata Zaky yang mencuci pakaian dalamnya, pipinya bersemu merah. Jengah karena malu. Zaky jangan sampai tahu kalau ini adalah rumahnya.
Hingga malam tiba, ia tidak bisa sepenuhnya tidak memikirkan kejadian itu. Disamping rasa malunya, dia juga merasa takjub dengan kepribadian Zaky yang tidak pilih-pilih dalam bekerja demi membantu ibunya.
Jika tidak melihat dengan mata kepala sendiri, dia tak kan percaya andai ada orang yang mengatakan anak laki-laki bekerja mengambil upah mencuci dan menyetrika pakaian. Jika sedang rajin, Maya paling-paling hanya menyetrika seragam sekolahnya, itu pun sudah terasa lelah baginya.
***
Suara azan subuh bergema bersahutan yang dikumandangkan di masjid-masjid dan mushola-mushola. Subuh telah tiba. Jalanan kota Selatpanjang mulai ramai dipadati kendaraan yang lalu lalang. Ada yang baru pulang dari masjid ada juga yang bergegas ke pasar untuk membeli bahan makanan agar bisa cepat masak sebelum berangkat kerja.
Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Walaupun sudah lelah tapi ia terus berlari sepanjang jalan Perumbi Melayu menuju Perumbi Jawa. Sesekali ia berpapasan dengan kendaraan roda dua yang melintas di jalan itu.
Setelah sampai di simpang Supra, Zaky berhenti. Sudah tak sanggup ia berlari.
Setelah beristirahat sebentar, Zaky pulang dengan berjalan kaki. Rasanya tak sanggup jika pulang sambil marathon lagi.
Tiba-tiba Zaky berhenti berjalan. Ditajamnya pendengarannya. Barusan ia seperti mendengar suara orang yang meminta tolong. Dia menunggu sejenak tapi tidak kedengaran lagi suara. Mungkin tadi ia salah dengar? Zaky melanjutkan perjalanannya.
Zaky kembali menghentikan langkahnya. Di sebuah g**g tanpa nama, nampak seorang ibuk-ibuk yang sedang meronta-ronta mempertahankan sesuatu. Dihadapan ibuk itu berdiri tiga orang remaja laki-laki. Satu orang diantara remaja tersebut mencoba merampas sesuatu yang dipegang ibuk itu. Yang seorang lagi mencoba menutup mulut ibuk tersebut agar tidak berteriak.
Mendidih darah Zaky melihat kejadian tersebut. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung melompat dan menendang remaja yang masih membekap mulut ibuk itu. Bukan main kagetnya ketiga remaja tersebut. Dua diantara mereka serentak menyerang Zaky. Sedangkan yang seorang lagi tetap menahan ibuk itu yang kelihatan separuh lemas badannya. Mungkin terlalu terkejut mengalami peristiwa yang dialaminya.
Dengan cepat Zaky memasang kuda-kuda. Siap menyerang dan bertahan. Kuda-kudanya tampak kokoh. Zaky sudah mulai terbiasa dengan latihan pernafasannya. Sehingga ketika kedua remaja tersebut menyerangnya pada saat bersamaan, Zaky tidak merasa kesulitan mengelak dan menangkis serangan mereka.
Dalam ilmu beladiri, menyerang berarti membuka sebagian pertahanan mereka sendiri. Zaky ternyata sudah mengerti prinsip ini. Makanya ketika remaja itu menyerang, dengan cepat Zaky membalas serangan mereka dengan menyerang pertahanan mereka yang terbuka.
Tak ayal lagi kedua remaja tersebut meringis menahan sakit akibat tendangan dan pukulan yang telah dilepaskan oleh Zaky. Jangankan mereka, seandainya seorang laki-laki dewasa terkena tendangan Zaky, dapat dipastikan orang tersebut juga akan terjungkal jika tidak benar-benar kokoh kuda-kudanya.
Tadi Zaky menyerang dengan menggunakan pernafasan yang ia salurkan ke arah kaki dan tangannya. Dampaknya benar-benar terasa. Kedua remaja tersebut sesaat tidak sanggup untuk berdiri.
Melihat kedua kawannya tidak berkutik melawan Zaky, remaja yang memegang ibuk tadi langsung mengambil langkah seribu¹ tanpa menoleh ke belakang lagi.
Zaky tidak berusaha mengejarnya. Karena remaja tersebut tidak jadi mengambil barang milik ibuk tersebut.
Zaky mendekati ibuk itu. Menolong mendudukkan ibuk itu diaspal. Setelah dicoba mengurut tengkuknya sebentar, ibuk itu pun tidak kelihatan lemas lagi.
“Terima kasih, Nak karena telah menolong ibuk.” Kata ibuk itu dengan suara bergetar. Masih terlihat ketakutan diwajahnya.
“Sama-sama, Buk. Kalau boleh tahu mengapa ibuk berada disini sepagi ini?” Zaky memang sedikit heran kenapa ibuk ini bisa berada disini dan berjumpa dengan remaja-remaja tadi.
Ibuk itu diam saja. Berat mau berbicara terus terang. Zaky tahu diri. Mungkin ada rahasia. Bukan tipe Zaky untuk memaksa orang untuk mengatakan rahasianya.
Setiap orang berhak untuk menyimpan atau mengatakan persoalannya rahasianya.
Zaky mencoba mengalihkan pembicaraannya dengan bertanya, “Rumah ibuk dimana? Apakah ibuk bisa pulang sendiri. Kalau tidak bisa biar saya antar.”
“Terima kasih, Nak, Ibu bisa pulang sendiri.” Kata ibuk itu tanpa menjawab semua pertanyaan yang Zaky lontarkan.
Melihat kondisi ibuk itu tidak mengkhawatirkan lagi dan sepertinya ibuk itu tidak mau banyak bicara, Zaky pun pamit. Pulang ke rumahnya. Hari sudah semakin siang. Sebentar lagi ia akan berangkat sekolah. Kalau cuma berjalan kaki, pasti Zaky akan terlambat sampai ke rumahnya. Walaupun masih sedikit lelah, Zaky pun marathon agar cepat sampai di rumah.
***
¹Langkah seribu = Berlari cepat/Melarikan diri dengan berlari