Tingkat Pemahaman yang Mendalam

1075 Kata
Pria baruh paya itu tiba-tiba membuka kedua matanya. Setelah mengatur nafasnya sebanyak tiga kali. Dia lalu menghentikan semedinya. Tidak langsung minum air putih yang telah disediakan di atas meja di sampingnya seperti mana biasanya. Dia malah langsung termenung seperti memikirkan sesuatu hal yang sangat rumit. Sepuluh menit waktu berlalu dengan sekejap. Pria itu berdiri, berjalan ke arah samping rumahnya yang besar. Di sebuah pendopo di samping rumahnya, dia langsung duduk. Menelpon seseorang. Tak lama kemudian, datang seorang laki-laki yang mengenakan seragam silatnya menuju pria paruh baya di pendopo. “Duduk, Ndri.” Andri, laki-laki yang berseragam silat itu langsung duduk di hadapan pria paruh baya tadi. “Ada apa guru memanggil saya?” tak biasanya gurunya akan memanggil dirinya sepagi ini. Apa lagi pada saat sekarang ini Andri sedang melatih silat, mustahil kalau gurunya lupa jadwal Andri. Tentu ada hal yang sangat penting yang ingin guru bicarakan, pikir Andri. Gurunya, pria paruh baya itu mengambil sebatang rokok, menyulutnya. Setelah menghisap dengan penuh nikmat, dia menjawab pertanyaan muridnya dengan pertanyaan, “Kamu melatih di mana hari ini, Ndri?” Seperti biasa guru, hari ini saya melatih di SMP 2 Rintis.” Jawab Andri. “Bagaimana dengan anggota-anggota yang lain, apakah ada progres dalam latihan mereka?” “Masih seperti biasa guru. Belum ada yang terlalu mencolok.” “Kamu sendiri bagaimana, Ndri? Sudah bisa menyelaraskan pernafasan dan tenaga atau pernafasan dengan gerakan?” Gurunya benar-benar aneh. Mengapa hal ini lagi yang ditanyakan. Baru semalam dia menyampaikan laporannya. Tanpa ditanyapun biasanya Andri akan menyampaikan laporan hasil latihan perguruan mereka kepada gurunya. Walaupun merasa aneh, Andri tetap menjawab, “Masih sama seperti kemaren, Guru.” Gurunya kembali termenung. Sambil mengela nafasnya berkali-kali, gurunya berkata seperti kepada dirinya sendiri, “Aneh, tapi ini aneh. Tak mungkin aku salah menafsirkan tanda-tanda yang muncul.” “Ada apa sebenarnya, Guru?” tak tahan Andri melihat tingkah gurunya yang lain dari biasanya. Gurunya seperti tidak mendengar pertanyaan Andri. Dihisap lagi rokoknya berkali-kali, sambil menghela nafasnya, dia berkata, “Ketika aku masih bersemedi tadi pagi, tiba-tiba aku merasakan seolah-olah ada orang dari perguruan kita yang melakukan gerakan yang sempurna. Keseimbangan antara pernafasan dan tenaga yang dilontarkan benar-benar pas. Tidak sedikitpun energinya terbuang.” Kembali dia menghela nafasnya, “Perasaan aku tak mungkin salah. Pernafasan perguruan kita sudah mendarah daging ditubuh ini, makanya jika ada murid-murid dari perguruan kita yang bisa mencapai tingkat pemahaman yang mendalam mengenai pernafasan dan pengaturan tenaga, aku pasti tahu. Seolah-olah ada sinyal di tubuh ini.” Kali ini giliran Andri yang termenung. Siapa kira-kira anggota dari perguruannya yang bisa melakukan apa yang dikatakan oleh gurunya. “Perguruan kita bukanlah termasuk perguruan kecil di Kabupaten Kepulauan Meranti ini…” kembali dia mendengar gurunya berkata, “Tapi tidak setiap orang yang mampu memahami tentang sistem pernafasan kita. Karena hal ini tidak bisa hanya kita pelajari teorinya, tapi kita juga harus bisa memahaminya sendiri, seperti yang sudah kamu dan teman-teman seangkatan kamu rasakan.” Di dalam hatinya Andri tidak sedikitpun ragu akan ucapan gurunya. Memang sangat sulit untuk bisa memahami sistem pernafasan perguruannya. Bukan berarti guru mereka tidak menurunkan ilmunya kepada murid-muridnya. Tapi pernafasan perguruan ini menuntut pemahaman dari masing-masing murid. Seberapa dalam pemahaman mereka dalam mempelajari sistem pernafasan dan pengaturan tenaga, hanya segitulah yang bisa mereka dapatkan. Andri tahu betul bahwa gurunya dalam menurunkan ilmunya adalah sama rata, tidak ada pilih kasih di antara mereka. Lalu siapa yang telah mampu mencapai tingkat pemahaman yang mendalam dalam pernafasan milik perguruannya? *** Ana menyendok nasi dari magic com, langsung duduk di meja makan. Dimabilnya sepotong ayam goreng, sayur bunga kol diambilnya sedikit. Dia pun mulai sarapan. Sudah menjadi kebiasaan Ana untuk sarapan setiap pagi sebelum berangkat ke sekolah. Menurut ilmu yang pernah dia pelajari, jika kita tidak sarapan pagi, bisa jadi kita akan terkena sakit lambung. Jika sudah terkena susah mau mengobatinya. Menurut buku yang dia baca, sakit lambung merupakan kelainan yang telah terjadi akibat reaksi kimia didalam organ lambung sehingga meningkatkan kadar asam secara berlebihan. Sedangkan lambung merupakan organ vital yang memiliki tanggung jawab besar untuk mencerna makanan. “Mama mana, bik?” mamanya belum kelihatan di dapur. Tidak seperti biasanya. “Masih di kamar, mbak Ana. Kata ibuk lagi tidak enak badan.” Jawab pembantunya. ‘Mama lagi tidak enak badan. Sejak kapan’ pikir Ana. Semalam mamanya biasa-biasa saja. Tak ada tanda jika mau sakit. Ana cepat-cepat menyelesaikan sarapannya. Lalu dia bergegas ke kamar mamanya. “Ma, ini Ana! Boleh Ana masuk?” “Masuk saja, Ana. Pintunya tidak dikunci.” Terdengar jawaban dari kamar. Ana begegas masuk, “Mama sakit apa? Mau Ana bawakan sarapan?” tanya Ana khawatir.  Dia memang lebih dekat dengan mamanya dibanding sama papanya. Apalagi papanya Ana memang jarang di rumah. Karena sering tugas ke luar daerah. “Mama tidak apa-apa sayang. Sebentar lagi mama juga akan sarapan. Biar nanti mama sarapan di dapur saja.” “Mama habis menangis ya?” Ana melihat mata mamanya agak sembab. Pasti habis menangis. “Tidak apa-apa sayang.” Mamanya tidak mau menjawab pertanyaan Ana. “ini sudah jam 07.00 Wib, ayo kamu berangkat ke sekolah.” “Tapi, ma.” Ana merasa berat mau meninggalkan mamanya. Sepertinya mamanya sedang ada masalah. “Mama tidak apa-apa sayang. Ayo berangkat ke sekolah.” Mau tak mau Ana langsung berangkat ke sekolah. Walaupun hatinya merasa berat. Sepulang sekolah nanti dia mau bertanya persoalan apa yang sedang dialami oleh mamanya. *** Zaky sudah mengantar adiknya ke sekolah. Sekarang ia sedang menyusuri jalan Banglas menuju sekolahnya. Tiba di depan kantor desa Banglas, ia menghentikan sepedanya di tepi jalan. Ditarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan dirinya. Seharusnya ia akan langsung menuju sekolahnya. Tapi entah mengapa, hatinya merasa tidak tenang. Jantungnya serasa berdetak lebih kencang. Ia merasa tidak enak hati. Entah apa sebabnya. Perasaannya kuat menyuruhnya pulang. Secara logika, tidak ada perlunya jika ia pulang sekang. Kalau ia pulang, nanti ia dianggap bolos lagi, lagipun sebenarnya ia sudah hampir sampai ke sekolah. Kalau pun ia pulang, tiada siapa di rumah. Kedua adiknya tadi sudah ia antar ke sekolah. Emaknya sudah berangkat kerja mencuci baju di rumah langganannya. Akhirnya dikuatkan hatinya untuk tetap berangkat ke sekolah. Dikayuhnya lagi sepedanya dengan perlahan-lahan sambil terus beristighfar di dalam hati. Kata pak ustad, banyak hal yang membuat hati tidak tenang. Dengan berbagai persoalan hidup yang dihadapi. Salah satu cara untuk mengobati hati yang tidak tenang adalah dengan banyak-banyak beristighfar di dalam hati. Alangkah bagusnya jika beristighfar dengan tiada henti. Zaky pun berusaha beristighfar di dalam hatinya sepanjang perjalanan. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN