Matahari bersinar cerah. Rasa hangatnya mampu menembus atap sekolah lalu melewati plafon dan seolah-olah sengaja berhenti di setiap tubuh murid kelas X (D).
Murid-murid jadi gerah. Satu dua murid perempuan berkipas dengan buku tulisnya.
Sebagian murid laki-laki membuka kancing baju bagian atas. Kalau sudah gerah begini, apa pun materi yang diajarkan seolah-olah yang singgah sebentar di kepala lalu pergi lagi entah kemana. Masuk telinga kanan keluar dari telinga kiri.
Terbayang di mata mereka duduk di kantin sambil menyeruput teh es. Hmm segar!
Tapi tidak semua murid yang berfikiran seperti itu. Banyak juga murid yang tetap serius menyimak materi yang diajarkan.
Zaky mencatat materi yang guru ajarkan. Tapi sedari tadi pikirannya tidak berada di kelas. Sehingga catatan jadi ngawur. Sesekali matanya melirik jam dinding yang bertengger di dinding kiri ruangan kelasnya. Ia ingin cepat pulang!
Dalam kegalauannya, sesekali matanya masih sempat juga melirik ke arah pujaan hatinya. Ana. Tapi seperti biasa, Ana tidak pernah melihat ke arahnya. Apalagi Ana duduk di bangku depan sedangkan Zaky duduk di belakang.
Jika Zaky duduk dibangku depan Ana, belum tentu juga Ana akan melihat kearahnya he he.
***
Akhirnya bel tanda pulang berbunyi memecah keheningan. Siswa-siswi dari berbagai ruangan berhamburan menyerbu pintu. Tak sabar mau menghirup udara segar. Di dalam kelas rasanya terlalu sesak. Cuaca hari ini luar biasa panas. Tapi sebagian langit di sebelah sana tertutup awan. Tanda mau hujan. Hujan panas.
Menurut kepercayaan orang-orang di Selatpanjang Kepulauan Meranti ini, jika terjadi hujan panas tidak dianjurkan untuk mandi hujan. Karena mengandung penyakit. Jika terpaksa kehujanan, maka di salah satu telinga, harus diselipkan sehelai daun kenuduk¹. Tujuannya agar terhindar dari penyakit yang diakibatkan oleh hujan panas.
Hingga sekarang belum ada orang yang membuktikan kebenaran hal tersebut. Terlepas dari itu semua, sebagian masyarakat, terutama yang tinggal di kampung-kampung masih mempercayai hal tersebut.
Zaky bergegas menuju sepedanya. Tanpa memandang ke mana-mana, ia langsung mengayuh sepedanya kuat-kuat. Ia melaju dengan kencang. Tiba di persimpangan baru ia memelankan sepedanya. Pikirannya lagi tidak fokus. Sebelumnya tidak pernah hatinya merasa tidak tenang seperti ini. Apakah ini gejala sakit tertentu atau apa, yang jelas ia merasa ingin cepat-cepat pulang.
Belum jauh ia menyusuri jalan Banglas, tiba-tiba terdengar bunyi *duk!* yang keras. Tangannya yang memegang stang sepeda terlepas. Nyeri. Rupanya tanpa sengaja ia telah menabrak motor yang berhenti mendadak di depannya.
“Hei kalau naik kenderaan lihat di depan. Tak nampak ya ada motor berhenti di sini.” Bapak yang motornya ditabrak Zaky dari belakang tiba-tiba marah.
“maaf, Pak tak sengaja.” Zaky hanya bisa meminta maaf, ia memang tak perasan jika ada motor yang berhenti di depannya tadi.
“Enak aja. Sudah nabrak orang tinggal minta maaf.” Bapak itu berang. “Lihat, BM motor saya copot. Pecahkan. Aku tak mau tau pokoknya kamu harus ganti.”
“Tapi pak saya memang tidak sengaja. Kalau saya tahu ada motor yang berhenti di depan tak mungkin saya akan menabraknya.”
“Jangan banyak alasan kamu. Kalau kamu tidak mau ganti, saya lapor ke polisi kamu.” Ancam bapak tersebut.
“Terserah bapak saja kalau begitu. Mau ke polisi juga silahkan. Yang jelas saya sudah meminta maaf kepada bapak.” Zaky hanya bisa mengeluh dalam hati. Niat hati mau cepat-cepat pulang, tak disangka mengalami kejadian seperti ini pula.
“Saya lihat bapak yang salah!” Tiba-tiba sebuah suara menghentikan lamunan Zaky. Seorang bapak paruh baya berjalan mendekati mereka. Saya tadi melihat bahwa bapak tadi tiba-tiba berhenti tanpa menghidupkan lampu sign karena bapak mau cepat-cepat menerima telpon.”
“Kamu siapa?” bapak yang motornya ditabrak nampak tersinggung. Urusannya ada yang mencampuri.
“Oh saya bukan siapa-siapa. Saya hanya kebetulan lewat di sini tadi.” Kata bapak paruh baya itu sambil tersenyum.
“Bapak yang motornya ditabrak tidak senang, tapi karena ada orang yang membela Zaky, dia pun tidak mau memperpanjang urusan. Distater motornya langsung bergi begitu saja. Mungkin di dalam hatinya sebenarnya dia menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Tapi dengan kekuatan dan kekuasaannya dia mau mengambil keuntungan dari Zaky yang dilihatnya hanya anak sekolah. Anak orang miskin. Begitulah dalam kehidupan ini dimanapun orang yang merasa punya duit dan kekuasaan cenderung arogan, ingin menang sendiri. Ketika punya kekuasaan akan sewenang-wenang untuk menekan orang yang lemah.
“Terima kasih banyak, Pak.” Zaky benar-benar berterima kasih dengan bapak paruh baya yang telah menolongnya. Sehingga ia bisa cepat-cepat pulang ke rumah.
Bapak paruh baya itu tersenyum lembut sambil berkata, “Saya tidak ada menolong kamu anak muda. Saya hanya berkata apa adanya saja tadi.” Ternyata ada juga orang yang menolong tanpa pamrih. Menolong tanpa mau menonjolkan jasanya.
***
Zaky langsung menyimpan sepedanya di belakang rumah. Rumahnya sepi. Didorongnya pintu yang memang tidak terkunci. Dia merasa lega, memang hanya perasaannya saja yang sedang tidak karuan tanpa sebab. Ternyata tidak ada kejadian apa-apa di rumahnya. Dilihatnya kedua adiknya sudah tertidur. Mungkin lelah pulang sekolah tadi. Dibukanya seragam sekolah. Setelah berganti pakaian, ia berjalan perlahan-lahan melewati kamar emaknya, takut menganggu tidur siang emaknya yang pasti penat pulang kerja. Zaky langsung menuju dapur. Makan siang. Walaupun dengan lauk yang sederhana, Zaky makan dengan lahap. Memang benar kata orang, bahwa lauk yang paling enak di dunia itu ada lapar. Jika dalam keadaan lapar, nasi putih makan sama garam saja sudah luar biasa enak. Tapi jika perut dalam keadaan kenyang, walaupun ada daging kambing yang dihidangkan, pasti tidak akan selera mau makan. Selesai makan, Zaky langsung mencuci piring. Ia memang sudah terbiasa mencuci piring sendiri jika setiap kali selesai makan.
Keringat membasahi sekujur tubuhnya. Setiap makan sambal cabe, Zaky pasti berkeringat. Zaky keluar rumah lewat pintu belakang, lalu ia duduk di tempat ia biasa latihan. Angin yang bertiup sepoi-sepoi sangat menyegarkan. Keringatnya pun berangsur berhenti mengalir. Ketika ia mendengar suara panggilan emaknya, ia bergegas mendatangi emaknya.
Zaky terkejut melihat mata emaknya sembab. Ternyata emaknya tidak tidur. Emaknya ternyata menangis. “Ada ada, Mak?” tanya Zaky sambil duduk di hadapan emaknya.
“Tadi emak mendapat telpon dari teman bapakmu, Nak. Dia mengabarkan jika bapakmu sudah tiada.” Kata emaknya sambil sesunggukan. Zaky terpaku. Mendengar kabar ini, ia rasanya tidak percaya. Tak mungkin bapaknya sudah tiada. Bapaknya yang menjadi penopang hidup mereka selama ini tak mungkin sudah tiada. Tak sanggup Zaky mendengar kabar yang menyedihkan ini. Tanpa terasa air matanya keluar dari kedua matanya, memngalir membasahi kedua pipinya.
***
¹Pokok senduduk (Masyarakat Selatpanjang menyebutnya pohon Kenuduk) merupakan tumbuhan yang tergolong kumpulan rumpai. Ia merupakan salah satu rumpai yang perlu dibasmi dalam amalan pertanian di ladang atau kebun. Terdapat dua jenis pokok senduduk berdasarkan jenis bunganya iaitu ungu dan putih.
Kebanyakan senduduk yang terdapat didalam belukar, atau kawasan terbiar berbunga ungu. Senduduk putih jarang didapati tumbuh secara meliar. Ia hanya tumbuh disetengah-setengah kawasan. Dari segi perubatan tradisional, pokok senduduk putih boleh dijadikan ubat terkena racun atau santau.