Ia menangis tanpa suara. Sudah dicobanya menahan air matanya agar jangan sampai keluar. Tapi sulit. Ia bukanlah laki-laki yang cengeng. Walaupun ia masih berusia 16 tahun lebih, masih sangat muda. Tapi pemikirannya jauh dewasa dibanding anak seusianya.
Tapi kabar ini sangat mengejutkan. Tiada disangka-sangka. Mereka sekeluarga tidak siap. Selama ini mereka hanya hanya bergantung pada penghasilan yang secara rutin dikirim oleh ayahnya dari negeri seberang.
Memang emaknya membantu untuk meringankan beban hidup mereka dengan bekerja sambilan dengan mengambil upah mencuci dan menyetrika pakaian di rumah-rumah. Tapi penghasilan yang diperoleh tidak lah seberapa. Paling cukup untuk tambahan beli lauk-pauk. Belum lagi biaya sekolahnya, biaya sekolah adik-adiknya. Yang paling besar pengeluaran tentu saja biaya pendidikan kakaknya di mondok¹ di Bengkalis.
Mau tak mau sekarang Zaky harus memikirkan kelanjutan hidup mereka juga keberlanjutan pendidikan ia, kakak dan adik-adiknya. Tak mungkin beban hidup keluarga hanya ditanggung oleh emaknya seorang. Mereka harus bisa saling membantu satu sama lain. Hanya Zaky seorang laki-laki sekarang. Ia harus kuat, harus tegar. Kalau ia tidak kuat, maka kakak dan adik-adiknya nanti juga akan terpengaruh. Zaky tak mau hal itu terjadi. Ia tak mau kakak dan adik-adiknya putus sekolah karena peristiwa ini.
Ditariknya nafas dalam-dalam sampai tiga kali untuk menenangkan fikirannya. Lalu ia bangkit keluar dari kamarnya.
Hari menjelang malam ketika Zaky keluar dari kamarnya. Imam masjid dan para tetangga sudah sedari tadi pulang. Karena jenazah bapaknya tidak bisa dibawa pulang ke kampung, jadi terpaksa dikebumikan di sana. Semua urusan di sana semuanya diurus oleh teman satu kerja bapaknya. Jadi tadi mereka hanya bisa sholat ghoib² dari rumahnya.
Kakanya hanya diberi kabar, tapi emaknya berkata tidak usah pulang ke kampung lagi. Karena memakan banyak waktu dan biaya. Biarlah kakaknya tetap fokus dalam menuntut ilmu.
***
Di bangku yang terbuat dari batu yang memanjang berderet-deret di dekat Kolam Bening yang terletak di jalan Merdeka. Ada sekumpulan remaja yang berkumpul disana sambil minum es campur. Cuaca panas seperti ini memang pas minum minuman dingin. Dari pagi sampai malam, memang banyak yang berjualan di sepanjang kolam ini. Kolam ini memang digunakan sebagai tempat orang-orang bersantai melepas lelah. Atau hanya sekedar bersanti-santai.
“Rob kata kamu kemaren kamu ada musuh di sekolah. Siapa namanya? Kapan kita keroyok dia?” salah seorang remaja yang menggunakan kaos hijau bertanya kepada Robby. Robby yang sedang menyeruput es campur tersedak mendengar pertanyaan temannya. Kalau ada topik yang tak mau dia bahas adalah mengenai si Zaky teman sekolah sekaligus musuh yang membuat dia tidak berkutik ini.
“Ah, Zaky namanya. Tak perlu lagi dibahas. Tak ada tantangannya kalau kita mengeroyoknya. Aku sendiri pun tak semangat mau menghajarnya. Cuma anak kemaren sore yang sok belagu. Kalau kita ingin mengeroyok orang, kita cari yang ada tantangan sedikitlah. Biar kita bisa berkeringat. Betul tidak kawan-kawan?”
Robby seolah-olah menganggap remeh Zaky. Pada hal dia dan teman-temannya kecuali si baju hijau sudah pernah mencoba mengeroyok Zaky. Tapi nyatanya dia dan empat temannya yang menjadi babak belur dihajar si Zaky. Tentu saja dia dan teman-temannya tidak ada muka untuk membicarakan hal yang memalukan ini kepada teman-temannya yang lain. Mau diletak dimana muka mereka.
Sampai sekarang dia sebenarnya tidak habis pikir dengan Zaky. Ketika pertama kali dia berkelahi dengan Zaky, tampaknya Zaky tak kewalahan dalam menghadapi dia seorang. Ini baru beberapa bulan berlalu, Zaky yang tak pernah belajar beladiri, bisa dengan mudah melawannya. Bukan hanya dia seorang, tapi dia dan kawan-kawannya tak berkutik barang sejuruspun melawan Zaky.
Kejadian ini adalah aib baginya. Makanya dia tak mau lagi mencari masalah dengan Zaky.
“Serius kamu, Rob? Si baju hijau kembali bertanya dengan heran. Tak biasanya Robby melepas buruannya. Biasanya dia akan berburu sampai lawannya tidak berkutik dan memohon ampun baru dia lepaskan.
“Memang betul kata Robby. Zaky itu tak ada apa-apanya. Aku sudah pernah melihat tampangnya, jangankan Robby, aku saja tak tertarik untuk menghajarnya.” Teman yang di samping si baju hijau membela Robby. Dia pun termasuk orang yang dihajar Zaky bersama Robby dan kawan-kawannya yang lain.
“Ya sudahlah kalau begitu.” Si baju hijau akhirnya mengalah. Tidak membahasnya lebih lanjut. Dalam kelompok mereka, memang si baju hijau adalah yang terkuat di antara mereka, tapi dalam hal kepemimpinan, Robby lebih didengar suaranya. Bukan karena Robby memang berbakat jadi pemimpin. Hal ini dikarenakan Robby sangat loyal terhadap kawan-kawannya. Dia tak sayang-sayang mentraktir kawan-kawannya. Karena dia memang terkenal sebagai anak orang kaya. Uang bukan masalah baginya. tinggal minta saja kepada orang tuanya.
Sebenarnay aneh mengapa orang seperti Robby mau bersekolah di sekolah agama seperti MAN.
Robby sebenarnya tidak mau bersekolah di sana, tapi dia tidak ada pilihan lain. Dia sudah mencoba mendaftar di sekolah-sekolah favorit di sekolah umum, tapi tidak diterima, karena sekolah itu sudah tahu dengan reputasinya.
***
Zaky terbangun dengan tiba-tiba. Ia melihat jam di dinding. Jam 03.05 wib. Dia melemaskan otot-ototnya sekitar satu menit. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Kamar mandi mereka terletak di luar di belakang rumah. Zaky membasuh mukanya untuk menghilangkan kantuk. Setelah dirasa cukup, ia lalu berwudhu untuk sholat tahajud.
Selesai tahajud ia membaca surah yasin yang dihadiahkan kepada almarhum bapaknya. Setelah selesai, ia memejamkan matanya dan mencoba mengatur pernafasannya. Sejak ia bisa berhasil mengatur pernafasan dan menyalurkan tenaga ke bagian-bagian tertentu di anggota tubuhnya, ia tak pernah alpa untuk terus berlatih agar menjadi lebih mahir.
Semenjak ia dengan tekun melatih pernafasannya, ia merasa tubuhnya lebih sehat dan tidak mudah cepat lelah. Ia merasa tenaganya seperti bertambah walaupun dari segi fisik tidak begitu kelihatan.
Begitu juga dengan pendengaran dan penglihatannya serasa lebih tajam. Ia tak tau mengapa hal itu bisa terjadi. Apakah ini suatu kemajuan dari sistem pernafasannya atau karena sebab lain, ia tidak mengetahuinya, karena ia tidak punya seorang instruktur atau guru yang bisa ia tanya. Pernah ia iseng bertanya dengan Edo, apakah ada perubahan semenjak dia ikut kegiatan ektra silat, tapi Edo hanya menjawab biasa-biasa saja, tak ada hal yang istimewa. Entah apakah Edo sudah berkata jujur atau sengaja menyembunyikan rahasia perguruannya, Zaky tidak tahu sehingga Zaky tak berani menceritakan apa yang ia alami semenjak ia berusaha mempraktekkan sistem pernafasan yang ia dapatkan dari perguruan yang Edo ikuti. Lagi pun ia telah mempelajari sistem pernafasan dan gerakan silat itu tidak secara resmi. Jadi bukan lah menjadi hal yang baik, jika ia menceritakan hal yang ia rasakan kepada orang lain.
***
¹Mondok = Sekolah dan tinggal di Pesantren dalam menuntut ilmu agama.
² Sholat Ghoib = Salat Ghaib adalah salat jenazah yang dikerjakan pada saat jasad orang tersebut telah dimakamkan, atau salat yang lakukan dalam jarak jauh dari tempat si mayit. Jadi, secara singkat pengertian salat ghaib ialah salat jenazah yang dikerjakan saat mayit tidak di dekat atau sedang berada di tempat yang tidak dapat dijangkau.