Ana sedang berbaring mendengarkan lagu dari androidnya. Lagu Laksamana Mati Dibunuh yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza mengalun lembut. Ana memang suka lagu-lagu melayu. Dia memang ngefans berat sama Siti Nurhaliza, penyanyi dari negeri Malaysia itu. Walau pun sekarang Siti Nurhaliza tidak eksis lagi, tapi lagu-lagu lamanya tetap terasa merdu di telinga.
Ana menghentikan lagu dengan tiba-tiba. Samar-samar dia mendengar mamanya cekcok lagi dengan papanya. Walau pun hanya sebentar, tapi tetap membekas di hati.
Baru-baru ini, kedua orang tuanya memang selalu cekcok. Masalah pastinya Ana tidak tahu. Dia hanay bisa menebaknya. Setiap kali dia mencoba bertanya dengan mamanya, tak pernah mendapat jawaban. Mamanya seolah-olah tidak mendengar apa yang ditanyakan dan akan segera mengubah topik pembicaraan.
Ana tak tahu mau membela siapa di antara kedua orang tuanya. Karena keduanya sama-sama Ana sayangi. Dia tak ingin kedua orang tuanya terus cekcok, tapi keinginannya sepertinya tidak sesuai dengan realita.
Mamanya lebih sering mengurung diri di kamar, badannya bertambah kurus. Sedangkan papanya jarang pulang ke rumah. Karena sering dinas di luar. Pernah Ana keceplosan bertanya kepada papanya, mengapa papa sering dinas di luar sedangkan sekarang masa-masa pandemi covid-19.
Dijawab papanya dengan omelan. Anak kecil tahu apa urusan kerja orang tua. Begitu kata papanya. Ana tidak berdaya. Apalagi dia tidak terlalu dekat dengan papanya. Kalau uang selama ini Ana tidak pernah merasa kurang malah berlebih. Cuma Ana memang tidak suka berfoya-foya. Uang jajan yang diberikan oleh papanya malah berlebih, kadang kala dia tabung juga.
Karena persoalan orang tuanya membuat Ana tidak konsentrasi belajar di rumah. Dia lebih betah belajar bersama Maya dirumahnya. Tapi dia tak pernah menceritakan persoalan kedua orang tuanya kepada Maya.
***
Pria paruh baya itu duduk dengan mata terpejam dikelilingi oleh murid-murid seniornya di bawah pimpinan murid tertuanya, Andri. Sudah setengah jam waktu berlalu. Tapi pria tersebut tidak bergerak dari posisinya. Beberapa muridnya mulai kelihatan gelisah. Duduk selama setengah jam tanpa bergerak sama sekali membuat kaki kesemutan karena darah yang mengalir tidak lancar.
10 menit lagi waktu telah berlalu dengan sekelip mata. Disaat keresahan murid-muridnya sudah diambang batas, terdengar helaan nafas dari pria paruh baya itu. Disaat bersamaan dia pun membuka matanya dan menatap murid-murid seniornya satu persatu. Di bawah tatapan gurunya, murid-murid tersebut tidak berani berkutik.
Kaki yang mati rasa karena kesemutan terpaksa ditahan jangan sampai membuat gerakan yang akan memancing kemarahan gurunya. Untunglah hal itu tidak berlangsung lama. Setelah kembali menghela nafasnya, guru silat itu berkata dengan suara pelan, “Semuanya duduk kembali seperti biasa, yang merasa kakinya kesemutan, silahkan diluruskan saja.” Diambilnya sebatang rokok, lalu dinyalakan. Seorang murid berinisiatif meletakkan asbak di depan gurunya.
“Mulai sekarang aku mau kalian semua untuk lebih giat berlatih. Jangan terlalu banyak main-main.” Dihisap rokoknya asap pelan-pelan keluar mengitari wajahnya yang sudah mulai muncul tanda-tanda keriput. “Andri,” kepalanya menoleh ke arah Andri yang duduk tak jauh di sampingnya, “Kamu yang harus mengontrol teman-teman kamu agar lebih giat berlatih. Jangan asik melintang¹ hp saja.”
“Baik, guru!” jawab mereka serentak.
“Kalian ini adalah pelopor perguruan kita, karena kalian termasuk generasi pertama. Kalian harus bisa menunjukkan kemapuan kalian di hadapan junior-junior kalian. Ini adalah termasuk dari bagian dari strategi kita untuk menarik minat agar lebih banyak orang lain mau masuk di perguruan kita.” Mata gurunya mengitari mereka semua.
“Selain itu juga ada tugas tambahan yang perlu kamu semua lakukan tanpa terkecuali.” Gurunya berhenti sejenak, sambil membuang abu rokok ke dalam asbak, dia berkata dengan serius, “Aku mau, kalian semua untuk mencari orang yang menggunakan sistem pernafasan kita. Ternyata orang tersebut tidak ada di antara kita, jadi tentu saja dia berada di luar sana. Tak mungkin junior-junior kalian yang melakukannya. Pasti orang lain.”
“Baik, guru.” Setelah ragu sejenak, Andri bertanya, “Tapi bagaimana kami bisa mengetahuinya guru, sedangkan kami tidak kenal dengan orang tersebut.” Ini adalah pertanyaan yang mereka semua inginkan jawabannya.
“Jika kalian bertemu dengan orang tersebut ketika dia sedang menggunakan ilmu perguruan kita, kalian akan mengetahuinya.” Jawab gurunya. “Aku yakin orang itu memang ada di luar sana. Aku selalu bisa merasakan dia menggunakan ilmu perguruan kita secara rutin. Mereka pun terdiam. Pikirannya mereka membayangkan hal yang sama, siapa orangnya yang telah berhasil menggunakan ilmu perguruannya. Begitu saktikah orang tersebut?
Sedangkan mereka saja yang digelar murid-murid senior sudah berlatih bertahun-tahun tapi hingga kini belum bisa mencapai tingkat orang misterius tersebut.
Selain penasaran, ada juga terselip perasaan marah dan iri. Marah karena ada orang luar yang menggunakan ilmu perguruan mereka tanpa izin. Hal ini sama seperti dengan semberono memasuki rumah tanpa izin kepada pemiliknya. Mereka juga iri. Bagaimana tidak iri, kok bisa orang luar memahami ilmu perguruan mereka. Begitu mudahkah ilmu perguruan mereka untuk dipelajari? Kalau memang mudah, kenapa hingga hari ini mereka sebagai murid senior belum bisa mencapai tingkatan ilmu tersebut? Atau karena mereka semua yang ada di sini tidak becus? Jika memikirkan hal ini membuat hati mereka terasa panas. Geram!
***
Zaky melangkah meunju ruangan kepala sekolah. Langkahnya pelan tapi pasti. Tidak ada keraguan sedikit pun.
Setelah mengetuk pintu sambil mengucapkan salam, Zaky pun masuk. Ia pun duduk setelah dipersilahkan oleh buk Listiana, Kepala Sekolah MAN I Kepulauan Meranti.
“Ada masalah apa, Zaky, sehingga kamu mau berjumpa dengan saya?” tanya Buk Listi ramah. Kepala sekolah yang satu ini memang terkenal ramah dan tidak sulit ditemui. Siapa pun siswa yang mau berjumpa dengannya tidak perlu melewati aturan-aturan yang rumit.
“Mohon maaf sebelumnya, buk.” Kata Zaky pelan. “Saya mohon izin untuk sementara istirahat sekolahnya, Buk.”
Terkejut Buk Listi mendengarnya. “Kenapa kamu mau berhenti?” tanyanya spontan.
“Untuk sementara ini saya mau fokus bekerja dulu, buk.”
“Tapi kenapa? Apa tak bisa sambil tetap sekolah, Zaky?
“Kemungkinan itu tipis, Buk. Kalau sudah mulai bekerja, kemungkinan saya tak punya waktu lagi untuk bersekolah.” Hal ini memang sudah difikirkanny dengan mendalam. Tak ada orang lowongan kerja yang membuat jadwal kerja setelah pulang sekolah. Yang ada kerja dari pagi sampai sore atau dari pagi sampai malam.
Lama buk Listi menatap wajah muridnya yang satu ini. Walaupun Zaky tidak mengatakan mengapa harus dia yang berhenti sekolah karena ingin bekerja, tapi buk Listi bisa menduganya. Kemungkinan dugaannya benar.
Zaky mengorbankan pendidikannya demi kakak dan adik-adiknya. Pasti dia merasa bertanggung jawab karena hanya dia satu-satunya laki-laki dalam keluarganya.
Yang paling besar adalah biaya pendidikan kakaknya yang sekolah dan mondok di pesantren Bantan, Bengkalis. Tentu ia tak mau melihat kakaknya dan adik-adiknya gagal dalam pendidikannya, makanya ia harus bekerja membantu ibunya dalam mencari nafkah.
Kadang kala, masalah membuat kita harus kreatif dan berfikir lebih logis. Masalah juga membuat kita untuk menjadi lebih cepat dewasa pola pikirnya. Seperti yang dialami Zaky walau pun ia masih berusia 16 tahun lebih, karena keadaan, ia harus bisa memikirkan dan menyelesaikan persoalan dalam keluarganya.
***
¹Melintang Hp = Main game (biasanya setiap kali main game menggunakan hp
Android, posisi hp dalam keadaan melintang/horizontal)