Zaky duduk bersila di hadapan emaknya. Kepalanya menunduk. ia sudah mengatakan niatnya untuk bekerja. Tapi emaknya menolaknya. Emaknya bersikeras agar Zaky tetap sekolah. Zaky berfikir bagaimana cara agar bisa menakinkan emaknya. Mana tega ia melihat emaknya bekerja membanting tulang sendirian.
Angin malam berhembus lembut. Sesekali terdengar suara jangkrik dari belakang rumahnya. Setelah membuat bermacam-macam pertimbangan di kepalanya, akhirnya Zaky berkata kepada emaknya, “Zaky kan sudah terlanjur bilang sama kepala sekolah, bahwa Zaky berhenti sekolah. Bagaimana jika Zaky besok mulai mencari kerja, mak. Tapi Zaky akan mencari kerja yang masuk siang. Kalau memang ada, maka Zaky akan tetap melanjutkan sekolah.”
“Tapi kamu harus tetap sekolah jika sudah ada kesempatan nanti. Emak tak mau anak emak berhenti sekolah karena harus bekerja.”
“Baiklah, mak. Do’akan saja Zaky bisa bekerja dan bersekolah, mak.” Zaky sangat gembira karena akhirnya sikap emaknya agak melunak.
Zaky kembali ke kamarnya. Tapi ia tidak bisa tidur. Ia harus buat planing ke depannya. Yang pasti besok ia akan mengelilingi kota Selatpanjang mencari pekerjaan. Syukur-syukur jika kerja di sore hari, biar ia bisa tetap sekolah.
***
Sudah setengah hari Zaky mengitari kota Selatpanjang. Bertanya di sana-sini mana tahu ada lowongan pekerjaan. Tapi hingga menjelang tengah hari, belum ada pekerjaan yang ia dapatkan. Ia sudah bertanya di swalayan-swalayan. Memang ada lowongan, tapi mereka mencari karyawati. Zaky juga mencoba di kedai kopi. Ada lowongan, tapi kerjanya full dari pagi hingga sore.
Zaky mencoba kerja bangunan, tapi langsung ditolak karena ia tidak bisa apa-apa. Mengikat bata tidak bisa apa lagi memplaster dinding. Zaky tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba di tempat cuci motor, tapi penuh. Lagi tidak menerima karyawan. Hingga sore, belum mendapatkan hasil, dengan berat hati Zaky pulang.
“Sebenarnya ada lowongan, mak. Kerja di kedai kopi. Tapi jam kerja dari pagi sampai sore. Kalau kerja masuk sore, hingga saat ini belum ada Zaky jumpa, mak. Bagaimana menurut emak?”
Emaknya menatap sayu ke arah anaknya. Dia menyadari memang payah untuk mendapatkan pekerjaan jam masuk sore. Setelah lama terdiam, akhirnya berkata emaknya, “Kamu sudah berusaha, nak. Kalau memang tak ada pekerjaan yang masuk di sore hari, apa boleh buat, nak. Tapi suatu saat kamu harus tetap melanjutkan sekolah kamu.”
Bukan main senang Zaky ketika mendengarnya, “Baik, mak.” Katanya dengan senyum di bibir.
Besok ia akan langsung ke kedai kopi tadi yang mau menerima karyawan. Zaky pun bisa tidur dengan nyenyak. Tak sabar menunggu besok pagi.
***
“Lu anggap ini milik lu yang bisa datang dan pergi seenaknya ya. Semalam lu datang mau cari kerja, tapi lu tak mau. Sekarang lu datang lagi mau minta kerja.
Sudah tak bisa lagi. Sudah ada orang yang kerja. Lu balik saja sana.” Zaky baru saja sampai di kedai kopi yang semalam masih membuka lowongan pekerjaan. Tak disangkanya sudah ada orang yang mendahuluinya. Yang membuat hati tak nyaman, kata-kata bernada kasar yang keluar dari mulut bos yang punya kedai kopi ini. Karena sudah tak ada harapan lagi, Zaky lalu berbalik. Pergi. Ia menuju ke jalan Imam Bonjol, mana tahu masih ada tempat yang terlewati olehnya semalam.
Beragam tanggapan dari pemilik toko. Ada yang menolaknya dengan sopan, tapi ada juga dengan sikap kasar. Zaky tidak bisa berbuat apa-apa. Ia baru tahu, rupanya tidak mudah untuk mendapatkan pekerjaan di kota ini. Zaky mengayuh sepedanya lagi, tak dihirau keringat yang telah membasahi bajunya. Ia bertekad hari ini bisa mendapatkan pekerjaan.
Hari sudah sore. Terik mentari tidak lagi terasa menyengat kulit. Zaky menghentikan sepedanya di depan toko TAT Computer di jalan Diponegoro. Di depan pintu masuknya ada selembar brosur lowongan kerja. Dengan penuh harap Zaky memasuki toko. Karena sudah sore, pemilik toko sudah siap-siap mau pulang. “Maaf, bos. Masih ada lowongan kerja di sini, bos?” tanya Zaky dengan sopan. Hatinya dag dig dug. Harap-harap cemas.
Pemilik toko itu memandang Zaky dari atas sampai ke bawah, “Kamu sudah pernah kerja di tempat foto kopy sebelumnya?” tanyanya kemudian.
“Belum, bos.” Jawab Zaky jujur.
“Kamu bisa memfoto kopy pakai mesin ini?” tanya pemilik toko lagi. Telunjuknya menunjuk mesin foto kopy yang berada dalam toko itu.
“Belum bisa, bos.” Nampaknya tipis harapan ia bisa bekerja di sini. Ia tidak ada pengalaman kerja selama ini. “Tapi saya bisa belajar kalau diberi kesempatan, bos.” Kata Zaky dengan penuh harap.
“Ya udah, besok jam 8 kamu ke sini. Aku mau lihat kerja kamu dulu.”
“Terima kasih, bos.” Zaky sangat gembira.
“Tapi kerja di sini gajinya rendah lho.” Kata pemilik toko itu lagi. Tapi mana Zaky peduli. Yang penting ada secercah harapan ia bisa bekerja di sini. Serendah-rendah gaji, tetaplah gaji. Yang penting ia bisa diterima kerja dahulu. Prinsipnya tunjukkan kerjanya dahulu baru berfikir tentang gaji. Walau pun tidak dinafikan, bahwa semua orang bekerja pasti mengharapkan gaji. Termasuk Zaky.
Zaky pulang dengan gembira. Dikayuh sepedanya dengan laju. Tak sabar ia ingin sampai di rumah untuk mengabarkan berita ini kepada emaknya agar emaknya tidak risau.
Zaky semakin yakin dengan adanya takdir dan hubungannya dengan ikhtiar. Ketika di sekolah, guru agamanya pernah berkata bahwa takdir adalah hukum sebab-akibat yang berlaku secara pasti di bawah pengawasan Tuhan. Ada takdir yang tidak bisa kita upayakan, artinya kita tidak bisa mengusahakan apa-apa karena semua sudah ditentukan oleh Allah. Contohnya siapa orang tua kita, atau apa warna kulit kita ketika lahir, hal itu sudah ditentukan oleh Tuhan semesta alam. Dalam hal ini kita tidak bisa merequest siapa yang harus menjadi orang tua kita ketika kita lahir. Namun, ada pula di antara hal-hal itu yang dapat diupayakan agar dihindari atau diusahakan. Itu lah yang dinamakan ikhtiar. Misalnya, ketika seorang Muslim hendak mencari nafkah. Ia dapat berikhtiar menghindari pekerjaan yang haram. Caranya, dengan memilih pekerjaan yang halal serta baik. Atau seperti yang telah Zaky alami sendiri, karena ia telah berikhtiar dengan sungguh-sungguh sehingga ia bisa mendapatkan pekerjaan. Tapi semua ini tidak lari dari konteks takdir.
***
Emaknya tersenyum bahagia ketika mendengar apa yang telah disampaikan oleh anaknya. Syukurlah usaha anaknya yang tidak mengenal lelah dalam mencari pekerjaan telah membuahkan hasil. Walapun belum 100 persen Zaky akan diterima bekerja di sana, tetapi paling tidak sekitar 95 persen anaknya akan bekerja di toko itu. Dipandang anaknya yang kotor terkena debu. Tapi wajahnya cerah karena bahagia. Terenyuh hatinya, melihat anaknya terpaksa harus bekerja dengan mengorbankan sekolahnya. Ia sebagai seorang ibu hanya bisa mendo’akan hal yang terbaik bagi anaknya.
***