Terlibat Masalah

1171 Kata
Hari minggu yang cerah. Matahari baru naik sepenggalah. Sinarnya masih lembut menyentuh kulit. Menurut orang kesehatan, saat seperti sangat bagus jika kita berjemur di bawah sinar matahari. Menyehatkan. Buk Rodiah berjalan kaki menuju kedai yang tak seberapa jauh dari rumahnya. Ketika hampir sampai di kedai, lamat-lamat ia mendengar suara orang-orang yang lagi ngerumpi. Sebenarnya buk Robiah tak masalah tetangganya membicarakan aib sesama mereka. Yang tak mengenakkan hatinya adalah ketika ia mendengar, mereka menyebut-nyebut ia dan anaknya Zaky. Betapa sakit hatinya melihat kelaku tetangganya. Di depan baik, ternyata di belakang sibuk membicarakan keluarganya. “Lihatlah si Zaky itu. Baru beberapa hari ditinggal mati bapaknya, sudah jadi anak putus sekolah.” Kata ibuk yang berbaju kaos coklat. “Sama tahu lah kan zaman sekarang ini, kalau tak sekolah, tak dapat hidup kita. Bakalan jadi pengemis lah si Zaky tu nanti.” Lanjutnya pula. “Tapi kemaren aku lihat dia pagi-pagi lagi pergi entah kemana. Sore baru pulang. Entah apa yang dibuatnya.” Timpal ibuk yang satunya lagi. Yang badannya agak kurus. “Kalau aku nilai, sebetulnya salah buk Rodiah lah. Dari awal anaknya sibuk disuruh kerja. Bukan pula kerja yang dikerjakan oleh anak laki-laki. Makanya si Zaky itu tak serius betul bersekolah.” Ibuk yang berkaos coklat itu kembali nyerocos. Sebetulnya mereka sedang ngerumpi berlima. Tapi tiga ibuk-ibuk yang lain lebih suka mendengarkan dan mengangguk-anggukkan kepala mereka. Hanya ibuk yang berbaju kaos coklat sama ibuk yang agak kurus ini lah yang menjadi tokoh utamanya. Yang paling tahu tepi kain¹ orang lain. “Memangnya Buk Rodiah menyuruh Zaky kerja apa?” salah seorang ibuk yang sedari tadi hanya diam mendengarkan tiba-tiba bertanya. “Itu lah kamu tak tahu. Si Zaky itu disuruh kerja ambil upah nyuci dan nyetrika. Coba kalian bayangkan. Kasihan anak laki-laki disuruh kerja untuk perempuan. Entah mau jadi apalah si Zaky kalau sudah besar nanti. Takutnya nanti kelakunya pun berubah jadi kelaku anak perempuan.” Ucap ibuk yang agak kurus itu dengan semangat. Seolah-olah bangga karena dia yang paling mengetahui informasi tentang tetangganya. “Makanya aku melarang anak aku jangan sampai bergaul dengan Zaky. Takut nanti ketularan kelakunya…” Ibuk yang berbaju kaos langsung menghentikan kata-katanya ketika dia melihat buk Rodiah berjalan mendekati mereka. “Mau belanja, buk?” sapanya. Buk Rodiah hanya menganggukkan kepalanya. Terlalu malas ia melayani mereka yang ternyata sibuk membicarakan keluarganya. Jika tidak mengingat di rumahnya sama sekali tidak ada garam untuk memasak, tak sudi buk Rodiah berbelanja ke kedai ini disaat ada mereka. Sampai di rumah, buk Rodiah tidak langsung memasak. Ia duduk termenung di sudut dapur. Lama ia terdiam di sana. Masih terngiang di telinganya pembicaraan tetangganya mengenai keadaan rumah tangganya. Jika orang menilai jelek tentang dirinya, mungkin ia masih bisa tahan. Yang membuat hatinya perih adalah tanggapan mereka terhadap anak laki-laki satu-satunya. Ibu mana yang akan tahan jika mendengar anak yang ia banggakan tapi dihina dan dipandang rendah oleh orang lain. Hatinya merintih. Sakit rasanya! *** Zaky sudah mulai terbiasa bekerja di sini. Ia bekerja dengan rajin. Setiap ada kesempatan ia akan belajar dan bertanya apa yang belum ia ketahui. Setelah ia bekerja di sini, ternyata memfoto kopy itu mudah saja. Yang sulit adalah apabila mesinnya membuat masalah. Hasil foto kopy tidak bagus atau kertasnya macet. Sebelum Zaky kerja di sini sudah ada dua orang karyawan. Keduanya gadis yang lebih dewasa dibanding Zaky. Paling tidak karyawan tersebut sudah tamat sekolah tingkat SMA. Dari mereka berdua, Zaky belajar banyak. Di toko ini juga membuka rental komputer. jika ada pelanggan yang sedang mengetik, diam-diam Zaky memperhatikan sambil belajar. Perengkapan ATK dan harganya harus cepat Zaky hafal. Mulai dari kertas HVS F4, atau A4, Map Gungyu, berbagai jenis pena, spidol, tinta printer dan lain sebagainya. Jika bosnya tidak ada, merasa agak kurang nyaman. Karena salah satu karyawan yang di sana yang bernama Zizy selalu memperlihatkan raut yang tidak senang terhadapnya. Berbeda dengan Sara, walaupun dia jauh lebih senior, tapi tetap ramah dan selalu menjawab dan mengajar apa yang belum Zaky ketahui. Pada suatu hari pernah Zaky bertanya dengan Zizy tentang harga kabel USB untuk printer. Kabelnya tersebut harganya bervariasi tergantung merk dan panjangnya. Bukannya mendapat jawaban, malah Zaky kene semprot dengan kata-kata yang terkesan agak kasar yang keluar dari mulut Zizy. Zaky tahu diri, tak mau ia memperpanjang masalah. Ia berfikir positif saja. Mungkin Zizy lagi ada masalah di rumah atau bagaimana, sehingga pas kerja moodnya kurang baik, pikirnya. Suatu hari ada dua orang laki-laki yang memasuki toko. Sebelum Zaky sempat bertanya mereka mau berbelanja apa, salah seorang dari laki-laki tersebut langsung menemui Zizy mengajaknya bicara. Tapi Zizy tak mau dengan alasan lagi bekerja. Tapi laki-laki itu sepertinya agak memaksa. Waktu itu, bosnya lagi keluar, jadi yang ada hanya mereka bertiga. Melihat laki-laki tersebut adalah teman Zizy, Zaky tak mau ambil pusing. Itu bukan urusannya. Ia tetap bekerja seperti biasa. Saat ini ia sedang membongkar CPU seorang pelanggan. Zaky mecoba mengganti alat menurut petunjuk bosnya. Sebelum keluar tadi, bosnya sudah memberi instruksi untuk mengganti alat yang rusak karena sore ini pelanggannya akan mengambil CPU tersebut. Laki-laki tersebut menarik tangan Zizy untuk berbicara di salah satu sudut toko itu. Mau tak mau Zizy ikut. Sedangkan laki-laki yang satunya lagi yang memakai jaket hitam hanya berdiri di pintu toko. “Itu mantan Zizy.” Kata Sara pelan. “Oo.” Hanya itu kata yang keluar dari mulut Zaky pertanda bahwa ia paham. Pada awalnya Zizy dan mantannya hanya berbicara pelan. Tak mau orang lain mendengarnya. Tapi semakin lama semakin tinggi nada mereka, terutama nada bicara mantannya Zizy. Zaky merasa tidak senang, mengapa persoalan pribadi tapi dibicarakan di tempat kerja. Tapi mengingat dirinya sebagai orang baru di sini, takut nanti tindakannya dianggap salah, Zaky berusaha untuk bersabar dan fokus pada pekerjaannya. Ketika ada pelanggan datang mau memfoto kopy atau mau membeli sesuatu, mereka berdua terdiam, tapi ketika pelanggan sudah keluar, kembali terdengar pembicaraan mereka. Nampaknya pembicaraan mereka tidak menemui titik terang karena mantan Zizy nampak berang, tangannya tiba-tiba terangkat menampar wajah Zizy. Zizy menangis. Sara tak tahan langsung menegur mantan Zizy. “Jangan bertindak kasar kepada perempuan, bang.” Katanya geram. “kalau mau membicarakan persoalan pribadi jangan di saat jam kerja. Nanti ketahuan bos Zizy bisa dipecat.” Mantan Zizy melotot, “Kamu mau apa ha? Jangan masuk campur. Ini urusan kami. Tak ada sangkut pautnya dengan kamu!” “Ya, tapi jangan di sini, apa lagi abang dengan semena-mena menampar kawan kami.” Sara jadi terpancing emosinya. “Jadi kamu tak senang. Aku tampar baru tahu.” “Tampar saja kalau…” sebelum perkataan Sara selesai, tangan laki-laki itu kembali terangkat. Tapi sebelum tangannya sempat mengenai pipi Sara, sebuah tangan yang kuat telah menahan tamparan itu. Rupanya tangan Zaky. “Jangan cari masalah di sini, bang!” katanya tegas. Laki-laki itu tidak terima, dilayangkan tangannya sekali lagi, tapi kali ini berbentuk pukulan yang mengarah ke d**a Zaky. Ternyata laki-laki itu seorang yang mahir tata bela diri. Pukulannya mengeluarkan angin petanda mengandung tenaga yang besar. Jika terkena pukulan itu, d**a Zaky sekurang-kurangnya akan memar. Pasti kesulitan untuk bernafas. Sesak! *** ¹Tepi Kain      = Urusan pribadi/persoalan rumah tangga orang lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN