"Kya benar-benar sudah percaya sekali pada biawak hutan itu, Bri." Ardika mengeluh begitu mereka sampai di kantor. Mendengar julukan untuk Zeen dari tuan mudanya, Brian menutup mulut tetapi tetap tak mampu menahan tawa sehingga Ardika menatapnya tak mengerti. "Ada apa? Apa ada yang lucu?" tanyanya penasaran sembari menaikkan sebelah alis. "Hahaha, maafkan saya, saya hanya menertawakan panggil itu, Tuan muda." "Hahaha, dia memang biawak hutan, kurang tepat kalau dipanggil buaya karena dia hanya menginginkan Kya." Kekehnya juga. "Namun itu bukan hal utamanya, Bri. Sekarang adalah bagaimana caranya supaya aku bisa miliki bukti bahwa bukan aku yang membunuh tuan Jordan. Kya terlalu jauh memahami kehidupanku di masa lalu atas penjelasannya biawak hutan itu." Ardika duduk di kursi kebesara

