Amsterdam di malam hari tentu saja ramai. Ibukota dari Negeri Kincir Angin tersebut terhias lampu-lampu berwarna warni dari rumah-rumah dan berbagai sumber lainnya. Aman, damai dan tentram jika dirasakan dari potret yang terlihat. Terlihat banyak pencampuran orang asing juga sekarang. Savana keindahan ini membuat pria yang tengah menggunakan mantel coklat dan duduk di kursi yang terletak di bawah pohon di pinggir jalan, merasa terlahir kembali ke dunia, dengan zaman yang berbeda. Belasan tahun lalu dia juga berada di kota ini, sarana tak semaju sekarang, ke kaisaran di mana-mana. Para petinggi yang merebutkan nama baik serta kekuasaan bertaburan sana sini. Termasuk dengan dirinya sendiri. "Pangeran, hahaha... lucu sekali," lirihnya sembari tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang per

