"Bagaimana, Tuan muda? Apa kita jadi berkunjung ke sana?" tanya Brian masih berdiri di samping kiri sedikit ke belakang di kamar sang bos yang sedang merapikan pakaian kerjanya. "Jadi, aku merindukannya." Brian mengangguk. "Ayo," ajak Ardika lalu melangkah lebih dulu keluar ruangan dan Brian mengikuti dari belakang. Di bawah, Ardika mengoleskan selai coklat kesukaannya pada roti yang sudah tersedia di atas meja, duduk sebentar menyantapnya dan meneguk sedikit demi sedikit s**u hangat yang memang khusus untuknya. "Kalau kau mau, sarapan saja dulu," ucapnya pada Brian yang berdiri di belakang. "Sudah, Tuan muda." Mendengar itu Ardika manggut-manggut. Dia memang sudah tahu para bodyguard di rumahnya selalu sarapan lebih awal dari dirinya. Mereka sudah dimasakkan khusus lalu mereka ma

