Part 7 - Do'a Riana

1301 Kata
Ratna baru saja selesai membersihkan diri dan sudah menggunakan piyama tidurnya. Badannya terasa begitu segar dan ringan. Kini giliran Marcell yang sedang mandi. "Bahagia selalu Mama. Jangan pernah sedih lagi, sekarang kita punya Papi. Riana sayang banget sama Mama. Mama adalah ibu terbaik yang Riana punya. Love you Mama." Kata-kata Riana selalu terngiang-ngiang di kepalanya. Padahal itu hanya kalimat biasa saja. Ingatan tentang perlakuannya pada Riana juga berputar di pikirannya. Ia akui dirinya bukan lah orang yang baik. Tapi mengapa Riana selalu menganggapnya baik, selalu patuh padanya, dan juga selalu menyayanginya. Padahal ia sangat membenci Riana. Karena Riana semua impiannya menjadi hancur. "Sayang." Panggil Marcell dengan suara serak, sambil memeluk Ratna dari belakang. Hal itu membuat Ratna terkejut. "Mas." Gumam Ratna. Sudah seminggu yang lalu Ratna mengubah panggilannya kepada Marcell dengan panggilan 'Mas'. Dan Marcell sangat senang mendengar panggilan itu. "Mikirin apa, hmm?" Mereka saling bertatapan melalui cermin meja rias itu. Ratna tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Gak mikirin apa-apa." "Kamu gak bisa bohongin aku. Riana?" Tebak Marcell. Ratna hanya diam, karena memang benar tebakan Marcell. "Cobalah untuk membuka hati kamu. Jangan membenci anak kamu sendiri Ratna. Dia darah daging kamu sendiri, dia tidak bersalah akan semua ini," ucap Marcell dengan lembut sambil mengusap kedua lengan Ratna. "Sekarang ayo kita tidur." Ratna pun mengangguk. Mereka pun merebahkan diri mereka di atas ranjang. "Sini, aku mau peluk kamu." ucap Marcell. Ratna pun menurut. "Enak ya udah ada yang meluk kamu waktu tidur." ucap Ratna sambil terkekeh pelan. "Enak dong, apalagi udah halal gini." Marcell mengusap punggung Ratna. Ratna sudah bisa mengendalikan trauma nya. Semua itu tak luput dari bantuan Marcell. Semenjak kejadian itu, Ratna mengalami trauma. Apalagi saat itu mengetahui dirinya hamil. Ratna semakin tampak stres. Saat itu Marcell dan orang tua Ratna pergi ke psikolog agar Ratna bisa sembuh dari traumanya. Bertahun-tahun sudah, dan kini Ratna bisa menerima dirinya sendiri. Walaupun Ratna sudah memiliki anak, tapi banyak juga yang melamarnya. Namun semua itu Ratna tolak, bukan merasa karena dirinya cantik. Tapi ia tau, mereka tidak tulus padanya. Hanya sekedar penasaran dengan dirinya. Lagi pula ia juga sudah mencintai seorang pria, dan pria itu adalah Marcell, yang kini sudah menjadi suaminya. Sejak dulu ia memang menyukai Marcell, pria yang dua tahun lebih tua darinya. Ia memang merasa tidak pantas bersanding dengan Marcell, apalagi setelah kejadian itu. Tapi Marcell selalu ada untuknya dan membuatnya menjadi milik pria itu. Tak di pungkiri, ia sangat bahagia saat ini. Ia hanya bisa berdoa, agar rumah tangganya langgeng sampai ia tua nanti. Mengenai Riana, ia masih belum bisa menerima anaknya itu. Ia membenci anaknya. Riana adalah anak yang tak pernah ia inginkan. Jahat memang. Ratna akui ia memang ibu yang buruk. Wajah Riana sekilas mirip dengan Ayah kandungnya. Itulah yang membuat Ratna sangat membenci Riana. Melihat wajah Riana membuatnya ingat kejadian kelam itu. Ratna sangat hapal dengan wajah pria itu. Pria yang merenggut kesuciannya dan hal itu membuahkan hasil. Saat kejadian, pria itu dalam kondisi mabuk. Dan pria itu tidak mengetahui bahwa perbuatan bejatnya itu membuahkan hasil. Saat mengetahui jika dirinya hamil, Ratna dan keluarganya pindah ke daerah lain. Tapi, masih berada di kota yang sama. Rumah itu yang kini ia tempati dengan Riana. Rumah itu juga tidak terlalu jauh dengan rumah Marcell. Ratna bersyukur keluarganya selalu ada di sampingnya saat ia berada di titik paling bawah. Dan Marcell, sahabat masa sekolah dari zaman SMP itu, juga selalu ada di sampingnya. Disaat semua temannya menjauh dan jijik pada dirinya, justru Marcell berdiri paling depan dan menguatkan dirinya. Bagaimana mungkin ia tidak jatuh hati pada laki-laki sebaik Marcell. Ratna tidak pernah menyukai kehamilannya. Ia pernah ingin menggugurkan Riana saat itu. Tapi, orang tuanya dan Marcell selalu menghalanginya. Ia juga berusaha melakukan berbagai kegiatan agar kelelahan dan janin itu gugur. Tapi anehnya, janin itu sangat kuat. Saat ia ingin menggugurkannya, saat itu pula orang tuanya atau Marcell selalu berhasil mencegahnya. Ratna terkejut karena Marcell tiba-tiba menciumnya. Marcell mulai melumat bibir Ratna dengan pelan. Sejak kali pertama ia mencium Ratna, ia begitu ketagihan dengan bibir manis itu. Marcell melepaskan ciumannya, pipi Ratna melihat kearah lain. Pipinya bersemu merah karena malu. Marcell tersenyum melihat istrinya yang malu-malu itu. "Kamu sungguh cantik." Bisik Marcell tepat di wajah Ratna, dengan suara dalam dan terdengar serak. Mereka saling bertatapan. Ratna tersenyum. "Kamu milikku." Bisik Marcell di telinga Ratna. Lalu beralih mengecup leher putih Ratna. "Aku milikmu," ucap Ratna sambil menatap mata Marcell. Mereka akan melewati malam yang begitu panjang. *** Riana mengerjapkan matanya, ia menelisik ruangan yang ia tempati. Ia mengingat-ingat, kenapa ia ada disini. Ketika hendak terbangun, ia merasa perutnya tertimpa sesuatu. Memang posisinya sedang terlentang. Ia melihat ke kiri dan ke kanan. Ada Eyang dan Utinya yang masih tertidur lelap. Raut wajah lelah terpancar di wajah mereka. Sebuah senyuman terukir di wajah cantik gadis itu. Ia senang ada di posisi ini. "Sayang Eyang dan Uti banyak-banyak." gumam Riana sambil terkekeh pelan. Riana terbangun lebih dahulu dari Eyang dan Utinya. Ia menyingkirkan tangan Utinya yang sedang memeluk perutnya dengan pelan-pelan. Ia duduk terlebih dahulu untuk mengumpulkan nyawanya. Riana melihat nakas yang ada di samping ranjang tempat mereka tidur. Pukul 03.45 WIB. Sebentar lagi akan subuh. Dengan perlahan, Riana turun dari ranjang agar Eyang dan Utinya tidak terganggu. Riana akan pergi ke kamarnya terlebih dahulu. Semua keperluan Riana memang sudah di siapkan di rumah ini. Bahkan Eyang Dennis dan Uti Mira lah yang menyiapkan kamar pribadi untuknya di rumah ini. Dan sudah lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Eyang Dennis dan Uti Mira benar-benar memanjakan dirinya. Ia sangat bersyukur mempunyai Eyang dan Uti. Karena kehadiran mereka di hidupnya, Riana bisa mengurangi rasa rindu kepada mendiang Nenek dan Kakeknya. Orang tua dari Ratna. Lagi dan lagi ia sangat bersyukur karena masih banyak orang yang sayang padanya. Riana membuka pintu kamar itu dengan perlahan agar Dennis dan Mira tidak terganggu. Setelah itu ia pergi ke kamarnya untuk menggosok gigi dan mencuci muka. Setelah itu ia berwudhu, seperti hal biasa yang ia lakukan, yaitu melakukan sholat sunnah. Memang, Riana sangat rajin beribadah. Tanpa sepengetahuan Riana, ada Dennis, Marcell, dan Mira yang melihatnya dari balik pintu. Mereka merasa terharu, malu, dan bangga pada Riana. Mereka malu karena belum bisa melakukan ibadah sunnah dengan rutin seperti yang dilakukan Riana. Melihat Riana membuat mereka termotivasi untuk rajin beribadah lagi. Marcell baru saja selesai mandi besar bersama istrinya dan bersiap untuk melakukan sholat subuh berjamaah dirumahnya. Karena, ia merasa haus dan kebetulan air di teko yang di sediakan di kamarnya habis, ia pun pergi untuk minum. Saat keluar kamar, ia melihat orang tuanya ada di depan pintu kamar anaknya. Ia pun ikut melihat apa yang di lihat orang tuanya. Terkadang Marcell sangat malu dengan Riana yang sangat rajin beribadah. Padahal ia tau, Riana sangat lelah karena acara pernikahannya. Tapi ia salut, karena Riana tetap bangun pagi. Sedangkan Mira merasa ada yang kosong di tengah-tengah kasurnya. Kemudian ia membangunkan suaminya karena Riana sudah tidak ada di kasurnya. Mereka pun memilih untuk mencari keberadaan Riana. Mereka memilih pergi ke kamar Riana dan dugaan mereka benar. Riana ada di sana dan sedang beribadah. "Terimakasih Ya Allah atas semua yang Engkau berikan kepadaku. Riana bersyukur akan semua hal yang telah Engkau berikan. Ya Allah, berilah Mama, Papi, Eyang, dan Uti umur yang panjang, kesehatan, dan di lancarkan rezekinya. Permudahkan mereka dengan segala urusannya, dan lindungi mereka dimana pun mereka berada. Untuk nenek dan kakek, semoga mereka selalu ditempatkan di tempat yang indah di sana. Riana akan selalu mengirim doa untuk kalian Nenek, Kakek. Dan teruntuk Papa, semoga Engkau segera pertemuan Riana dengan Papa Ya Allah. Riana hanya ingin melihat wajah Papa, walaupun itu dari jauh. Terimakasih Ya Allah, sudah mengabulkan do'a Riana untuk mempunyai keluarga yang utuh. Riana juga ingin mempunyai banyak teman, karena Riana sudah mempunyai Papi. Dan semoga setelah ini, tidak ada lagi yang mengejek Riana karena Riana tidak memiliki Ayah. Aamiin." Do'a Riana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN