Mira menangis haru mendengar doa Riana. Ia memeluk suaminya. Bagaimana bisa Riana menanggung beban seberat ini. Ia masih terlalu kecil untuk menanggung ini semua. Mira akan berusaha akan selalu ada untuk cucunya itu dan melakukan hal terbaik untuk Riana. Ia merutuki kebodohan Ratna yang selalu memperlakukan Riana dengan tidak baik. Ia tau semua itu, karna ia kenal dekat dengan keluarga Ratna. Bagaimana mungkin ada seorang ibu yang begitu kejam pada anaknya. Riana tidak bersalah disini.
"Sehat selalu nak, Uti akan berusaha melakukan apapun yang terbaik untuk kamu. Uti sayang kamu Riana. Uti akan melimpahkan semua kasih sayang Uti sama kamu. Jadi anak yang sholehah ya, agar kamu bisa menjadi menuntun jalan ke surga untuk orang tua kamu. Dan semoga Mama kamu segera sadar dengan perbuatannya." batin Mira.
Denis juga merasakan apa yang dirasakan oleh istri dan anak bungsunya. Ia benar-benar bangga melihat Riana. Bahkan terkadang ia malu dengan Riana, karena gadis itu terbilang sangat rajin beribadah.
"Kamu anak yang sholehah Riana. Semoga kamu selalu dalam lindungan Allah. Eyang bangga punya kamu, kamu cucu terbaik Eyang. Sehat selalu anak baik. Eyang akan melakukan yang terbaik untuk kamu dan memberikan kasih sayang yang berlimpah untukmu. Dan semoga Mama kamu bisa terbuka mata hatinya. Dan seharusnya ia bangga mempunyai gadis kecil yang sangat pintar seperti kamu. Eyang sayang kamu nak." batin Dennis.
"Jadi anak yang sholehah nak. Papi bangga padamu. Kamu anak baik sayang. Kamu adalah anugerah terindah. Papi akan berusaha mengabulkan mimpimu yang memiliki keluarga utuh. Dan semoga Mamamu bisa cepat luluh dan menyayangimu dengan tulus. Papi akan membantu untuk meluluhkan hati Mamamu." batin Marcell.
Setelah selesai sholat subuh berjamaah, Riana pergi ke dapur untuk mengambil minum. Di sana ia melihat beberapa ART yang sedang memasak untuk sarapan. Memang untuk urusan dapur Mira yang memegangnya. Kecuali jika ia lelah atau sedang sakit, baru ia alihkan kepada para ART yang bekerja dirumahnya, seperti saat ini.
"Loh Non Riana, ada perlu apa, Non?" Tanya Bi Nini saat ia melihat Riana menghampirinya.
"Riana mau minum, Bi." ucap Riana.
"Non mau minum apa? Biar Bibi yang ambilkan."
"Gak usah, Bi. Riana bisa sendiri kok. Riana cuma mau ambil air putih aja." ucap Riana sambil tersenyum.
"Beneran?"
"Iya, Bibi lanjutin aja kerjaannya biar cepat selesai."
"Oke Non. Nanti kalau butuh apa-apa panggil Bibi aja ya." Riana pun mengangguk. Riana sangat dekat dengan ART yang bekerja di rumah Eyangnya ini.
Setelah sholat subuh tadi, mereka kembali tidur karena mereka masih begitu lelah. Begitu juga dengan Riana. Tapi karena merasa sangat haus, ia pun terbangun.
***
Setelah selesai sarapan, Marcell, Ratna, dan Riana pun bersiap untuk pulang. Mereka akan tinggal di rumah milik Ratna. Karena itu permintaan Ratna dan Marcell pun menurutinya. Ia sudah menawarkan rumah baru untuk mereka tinggali. Namun Ratna menolaknya, karena rumah yang ia tempati mempunyai banyak kenangan bersama orang tuanya. Marcell pun akhirnya menurut saja, tentunya ia akan merenovasi rumah itu agar lebih besar lagi nantinya. Hitung-hitung untuk persiapan calon anak-anaknya nanti.
Membayangkan rumah tangganya yang harmonis dan memiliki banyak anak saja membuat Marcell bahagia. Apalagi saat pulang kerja ia akan di sambut suara anak-anaknya.
"Ayo Riana, kita pulang! Pamit sama Eyang sama Uti dulu." ajak Marcell. Riana pun menganggukkan kepalanya.
"Kok cepet banget sih Om pulangnya. Galaksi kan masih mau main sama Riana." ucap Galaksi dengan berdecak kesal. Seorang anak laki-laki seumuran dengan Riana. Dia adalah anak dari kakaknya Marcell.
"Gak sabaran banget, pengen cepet-cepet pulang." Cibir Anya, kakak Marcell. Marcell menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya gimana, lo kan udah berpengalaman. Ya pasti lo tau dong Mbak." Sahut Marcell sambil terkekeh.
"Penganten baru emang gitu sayang." Sahut Damar, suami Anya.
"Nah, Mas Damar aja ngerti." Ratna menyikut perut Marcell. Ia tersenyum canggung. Sebenarnya tidak masalah jika ia menginap di rumah orang tua Marcell beberapa hari lagi. Tapi Marcell mengajaknya untuk pulang sekarang. You know lah gimana pengantin baru, yang hanya ingin berduaan.
"Riana disini aja Cell. Mama masih mau sama dia. Galaksi juga masih kangen main bareng Riana. Kalau mau pulang, kamu sama Ratna aja. Hitung-hitung honeymoon di rumah." ucap Mira sambil terkekeh. Hal itu membuat orang-orang dewasa di sana ikut terkekeh, kecuali Ratna yang sedang malu hingga pipinya memerah.
"Udah lah Ma, kasian Ratna sampai merah gitu pipinya." ucap Anya.
"Riana disini aja ya? Nginep di rumah Uti lagi." ucap Mira.
"Tapi gimana sama Mama?" tanya Riana.
"Kan Mama kamu sama Papi kamu." sahut Dennis.
"Nanti gak ada yang bantu Mama beres-beres rumah gimana Uti? Nanti Mama bisa kecapean kalau beres-beres sendirian." ucap Riana dengan polosnya. Membuat mereka menatap Riana. Sedangkan Ratna terdiam mendengar ucapan anaknya. Benarkan? Riana selalu memikirkan Mamanya.
"Nanti Papi yang akan bantu Mama. Kalau kamu masih mau disini gak papa. Nanti seragam sekolah kamu biar Papi anterin kesini." ucap Marcell.
"Nanti Uti juga suruh salah satu ART disini untuk bantu Mama kamu. Jadi kamu bisa nginep disini." ucap Mira sambil tersenyum hangat. Riana mengangguk mengerti. Itu lebih baik bukan? Mamanya pasti tidak akan kelelahan. Kemudian Riana menatap Marcell.
"Emang boleh Papi?" tanya Riana memastikan. Marcell pun tersenyum dan mengusap kepala Riana penuh kasih sayang.
"Boleh sayang. Besok Papi jemput. Seperti Eyang, Uti, Om Damar, Tante Anya, dan Galaksi masih merindukan kamu. Kamu main disini sepuasnya. Kalau kamu minta pulang, kamu bisa telpon Papi. Nanti Papi jemput." ucap Marcell dengan lembut. Riana menatap Ratna.
"Bolehkah Ma?" Ratna menatap anaknya dan kemudian menganggukkan kepalanya. Riana pun tersenyum senang.
"Oke! Riana akan menginap di rumah Eyang aja. Papi jagain Mama ya. Jangan sampai Mama terluka." ucap Riana pada Papinya.
"Siap tuan putri." ucap Marcell sambil mengacak-acak rambut putrinya.
"Papi, jangan di acak-acak! Rambut Nana jadi berantakan!" ucap Riana sambil berdecak kesal. Sedangkan Marcell tertawa pelan karena gemas dengan putrinya itu.
Setelah itu, Marcell dan Ratna pun berpamitan. Sedangkan Galaksi dan Riana kembali bermain di halaman depan rumah Eyang mereka.
***
Ratna dan Marcell sudah sampai di rumah mereka beberapa waktu yang lalu. Ratna Aluna dan Marcell Irza Adiguna sepasang suami-istri itu memutuskan untuk rebahan di atas kasur kamar mereka sambil menonton film. Tubuh mereka masih terasa lelah karena acara pernikahan mereka kemarin. Dan untung saja untuk masalah membersihkan rumah, Mira mengirim dua orang ARTnya ke rumah Ratna. Setelah pekerjaannya selesai, mereka akan kembali ke rumah Mira.
Ratna sudah resign dari tempat kerjanya. Ia bekerja di sebuah cafe dan bar. Ratna bekerja di bar kurang lebih satu tahun ini. Ia harus bekerja keras untuk bertahan hidup. Ia juga harus membiayai sekolah Riana. Walaupun ia tidak menyukai anaknya itu, tapi ia akan tetap menyekolahkannya. Namun, Riana harus selalu mendapat nilai yang bagus. Dan selama ini, Riana belum mengecewakannya mengenai nilai yang ia raih. Karena Marcell melarangnya bekerja, ia pun memutuskan untuk resign.
Sebenarnya sangat aneh bagi Ratna saat tidak bekerja seperti ini. Sejak Riana berumur 3 bulan, Ratna memilih untuk bekerja. Apalagi kebutuhan yang mulai banyak di perlukan. Ia tidak bisa menjagakan dari harta orang tua saja. Apalagi mereka bukan lah orang yang kaya. Mereka hanya orang yang sederhana. Orang tuanya hanya memiliki sebuah sawah di kampungnya. Penghasilan kadang tidak menentu. Sawah yang ada di kampungnya sudah di urus oleh orang kepercayaan Ayahnya.