Part 12 - Riana Bahagia

1175 Kata
Marcell terbangun karena merasa haus. Ia melihat jam di atas nakas. Masih pukul 01.00 dini hari. Ia duduk dan melihat ke sampingnya. Senyuman itu terukir di wajah tampan Marcell. Hatinya menghangatkan ketika melihat ibu dan anak itu saling berpelukan saat tidur. Apalagi mereka tampak nyaman. Dengan perlahan Marcell mengambil minum yang ada di atas nakas di sampingnya. Minum itu sudah ia sediakan tadi saat ia membereskan perlengkapan untuk ia dan istrinya pergi besok. "Papi akan berusaha untuk mewujudkan semua keinginan kamu nak. Papi yakin, suatu saat nanti Mama kamu pasti akan luluh. Dan Papi akan selalu membantu kamu." batin Marcell. Setelah selesai minum, Marcell kembali merebahkan dirinya. Ia memeluk kedua orang yang paling ia sayangi. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk Marcell kembali tertidur dengan pulas. Ratna terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya tertindih sesuatu hingga tidak bisa bergerak. Perlahan Ratna membuka matanya, dan Ratna melihat kebagian perutnya. Kemudian ia melihat ke sampingnya. Ratna melihat Marcell dan Riana yang tertidur dengan pulas sambil memeluknya lumayan erat. Hal itu lah yang membuat dirinya sulit bergerak. Ada perasaan aneh ketika Riana memeluknya. Gadis kecil itu terlihat sangat nyaman sekali di pelukan ibunya. Bahkan Riana semakin merapatkan tubuhnya ke Ratna mencari kehangatan. Apalagi kini pukul 03.15 dini hari. Udara mulai terasa dingin. Riana menenggelamkan wajahnya di d**a Ratna. Kali ini Ratna membiarkannya saja. Cukup sekali ini Ratna tidur dengan Riana. Perasaannya benar-benar aneh. Ada rasa nyaman dan senang ketika Riana memeluknya. Bahkan ia bisa tertidur dengan nyenyak karena Riana memeluknya. Tapi, egonya selalu menampik hal tersebut. Ratna sering sekali bermimpi buruk hingga ia sulit untuk tidur dengan nyenyak. Semalam ia tidur di pelukan suaminya, dan sekarang bersama anaknya. Tak di pungkiri mereka berdua membawa kenyamanan untuk dirinya. Dengan perlahan Ratna menyingkirkan tangan Riana dan Marcell dari perutnya. Setelah berhasil ia pun duduk di tepi ranjang. Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, ia melangkahkan kakinya ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Marcell terbangun dari tidurnya, ia tidak melihat istrinya. Karena mendengar suara air dari arah kamar mandi, ia yakin bahwa Ratna ada di sana. Marcell melihat Riana yang masih tertidur dengan pulas. Ia tersenyum kecil, jarang sekali Riana belum terbangun di jam segini. Marcell menghadap ke arah Riana sambil menumpu kepalanya dengan sebelah tangannya, dan kemudian mencium pelipis Riana. "Nak, bangun. Kita sholat subuh dulu yuk." ucap Marcell dengan suara lembutnya. Riana pun melenguh pelan, setelah itu ia membuka matanya perlahan. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Hal itu membuat Marcell sangat gemas. "Ayo bangun, Nak." "Iya Pi." sahut Riana dengan suara seraknya. Memang dasarnya Riana mudah di bangunkan. Setelah kesadarannya terkumpul, Riana pun duduk. Marcell juga ikut terduduk sambil mengusap rambut Riana. "Hooaammm...." Marcell menutup mulut Riana. "Kalau nguap itu di tutup." Riana hanya cengengesan. Riana melihat keatas nakas, sudah pukul 03.30. "Ihh... Papi kenapa gak bangunin Riana dari tadi? Riana belum nyiapin bahan untuk sarapan." ucap Riana dengan sedikit sedih. Ia juga menyalahkan dirinya karena terlambat bangun. Biasanya ketika bangun, ia sudah menyusun bahan makanan yang akan dia masak. "Maaf yaa, Papi juga baru bangun. Nanti Nana sama Papi masak sarapan bareng. Mau kan?" hibur Marcell. Riana menatap Papinya. "Beneran Pi?" tanya Riana dengan semangat. "Iya dong. Sekarang Nana siap-siap dulu. Kita sholat subuh bareng." Riana pun Mengangguk patuh. "Oh iya Pi. Mama dimana?" "Mama kamu lagi di kamar mandi." Riana pun mengerti, kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar orang tuanya. Beberapa saat setelah selesai melakukan ibadah bersama, kini Marcell dan Riana sudah ada di dapur untuk memasak bersama. Sedangkan Ratna mengecek kembali barang-barang yang akan mereka bawa. "Kita buat nasi goreng aja ya." ucap Marcell. "Oke Papi. Masak apa pun itu, kalau sama Papi, Riana bakalan seneng." ucap Riana dengan tulus. Marcell pun mencubit pelan kedua pipi Riana karena gemas. "Kamu goreng telur aja. Biar Papi yang masak nasi gorengnya." "Goreng sosis sama nugget juga ya Pi." "Okay, apapun itu untuk princessnya Papi." Riana pun tersenyum senang. Mereka memasak sambil bercanda dan tertawa. Hari ini, hari yang sangat bahagia bagi Riana. *** Hari ini Riana sangat bahagia. Pertama, Papinya akan tinggal bersama dengannya. Ia tak perlu sedih ketika Papinya pulang ke rumah Emangnya. Kedua, mereka bisa sarapan bersama seperti tadi. Bahkan ia dan Papinya memasak sarapan bersama. Hal kecil itu juga termasuk kedalam keinginan Riana. Bersyukurlah kalian yang masih bisa makan bersama kedua orang tua. Ketiga, ia ke sekolah di antar oleh Mama dan Papinya. Karena mereka akan berangkat ke bandara, dan perjalanan mereka juga searah, maka mereka mengantar Riana ke sekolah. Tentu saja ada sopir yang mengantarkan mereka. Riana juga ingin seperti anak-anak lainnya, ketika ke sekolah diantar dan di jemput oleh orang tuanya. Ia lebih sering berangkat bersama Kalandra menggunakan bus sekolah. Atau di antar oleh Bunda Maya dan Ayah Zidan. "Papi, nanti kalau Papi dan Mama udah sampai kabarin ya." ucap Riana. Mungkin ketika ia pulang sekolah, Papinya sudah sampai di Gorontalo. "Iyaa sayang. Belajar yang rajin ya nak. Jangan nakal. Dengerin kata ibu atau bapak gurunya." Riana pun mengangguk patuh mendengar ucapan Papinya. Riana pun menyalami tangan Mamanya dan memeluknya. Tidak ada perlawanan dari Mamanya. Riana senang akan hal itu, dan biasanya Mamanya akan mendorongnya. "Riana bakalan kangen banget sama Mama. Sehat selalu Mama, Riana sayang Mama. Nanti kabarin Riana ya kalau Mama udah sampai." gumam Riana. Ratna hanya diam saja tanpa membalas ucapan Riana. Namun ia membalas pelukan anaknya. Tentu saja hanya sebagai pencitraan karena disini banyak orang. "Lepas Riana!" bisik Ratna penuh dengan penekanan. Riana pun melepas pelukannya. Ia tak mau membuat Mamanya marah. Dan kali ini ia mendengar Mamanya, menyebut namanya lagi. Sudah lama sekali, ia tidak pernah mendengar namanya di panggil oleh Mamanya. Mungkin menurut orang lain akan terdengar alay, tapi bagi Riana rasanya sangat luar biasa ketika Mamanya mau memanggil namanya. "Jaga kesehatan Mama, Papi. Ingat ya Pi, kalau udah sampai dikabarin." "Iyaa. Nanti kalau Riana udah pulang sekolah, Papi akan telpon pakai ponselnya Eyang." "Ya udah, Riana masuk dulu." Riana menyalami dan memeluk Papinya. Tak lupa Marcell mencium kedua pipi Riana. Setelah itu, Riana pun masuk kedalam sekolahnya dengan senyuman cerianya. Menandakan bahwa ia benar-benar sangat bahagia. "Riana!" "Nana!" Panggil Galaksi dan Kalandra bersamaan. Riana segera menghampiri mereka, masih dengan senyuman yang tak luntur sejak tadi. "Keliatannya seneng banget." celetuk Kalandra. "Iya dong. Nana bisa sarapan bareng dan dianter ke sekolah sama Mama dan Papi." ucap Riana dengan semangat. Kalandra pun tersenyum senang. "Cuma gitu aja kamu seneng banget Na?" tanya Galaksi heran. Tentu saja ia tidak tau apa-apa mengenai Riana. Karena selama ini Galaksi tinggal di Malang. Ia akan ke Jakarta hanya di saat-saat tertentu, seperti liburan sekolah. Jadi, ia tidak tau banyak hal tentang Riana. Yang Galaksi tau, Riana tidak memiliki Ayah. "Iyaa dong, kan sekarang Papi tinggalnya bareng Riana terus Gal." Galaksi pun mengangguk mengerti. Yang ada di pikirannya, mungkin setelah ada Marcell, Riana bisa mengobati rasa rindunya pada Ayahnya. "Udah, ayo masuk ke kelas. Sebentar lagi bell masuk." ucap Kalandra. Mereka bertiga pun berjalan beriringan dan sesekali tertawa karena menceritakan hal- hal lucu. Dan sesekali pula Riana dan Galaksi beradu mulut. Memang kalau mereka dekat, mereka sering bertengkar. Tapi, jika berjauhan akan selalu kangen-kangenan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN