Ketika pulang sekolah, Riana di jemput oleh Papinya. Tentu saja Marcell juga menjemput para keponakannya, kecuali Antariksa. Karena Antariksa sudah SMA, ia pun menggunakan kendaraan sendiri.
"Pamit dulu sama Eyang sama Uti." ucap Marcell pada Riana.
Setelah pernikahan sampai beberapa hari ke depan, Marcell tidak masuk bekerja. Kakaknya lah yang menggantikannya. Biasa, pengantin baru.
"Eyang, Uti, Riana pulang dulu ya. Besok Riana kesini lagi."
"Iyaa sayang. Uti selalu menunggu kedatangan Riana." Riana pun menyalami Dennis dan Mira bergantian. Tak lupa ia juga mencium kedua pipi Eyang dan Utinya itu.
"Ma, Pa. Marcell pulang dulu ya." pamit Marcell.
"Iya nak, kalian hati-hati di jalan ya." ucap Dennis.
"Iya Pa." Marcell dan Riana segera pergi dari rumah kedua orang tua Marcell.
"Mereka tampak seperti Ayah dan anak. Padahal tidak ada hubungan darah di antara mereka," ucap Mira dengan pelan. Namun ucapannya masih bisa di dengar oleh Dennis.
"Bahkan mereka terlihat mirip. Mungkin karena Riana dan Marcell sudah sangat dekat dan membuat mereka benar-benar seperti seorang Ayah dan anak." Sahut Dennis. Mira pun mengangguk setuju dengan ucapan suaminya. Sejak kecil pula, mereka ikut merawat Riana. Tak heran jika Riana sangat dekat dengan keluarga Marcell.
Bagi Dennis dan Mira, Riana adalah sebuah anugrah di hidup mereka. Mereka bisa merasakan bagaimana mempunyai cucu perempuan. Karena cucu mereka semuanya laki-laki, yaitu, Antariksa, Mars, dan Galaksi. Riana tidaklah bersalah disini. Ia juga hanya seorang korban dari orang yang tidak bertanggung jawab.
***
Selesai makan malam, Riana melihat Mama dan Papinya sedang memasukkan beberapa pakaian kedalam koper.
Mendengar suara pintu di ketuk, Marcell dan Ratna pun melihat kearah pintu kamar mereka yang terbuka. Marcell tersenyum menatap putrinya.
"Sini sayang, masuk." ucap Marcell. Riana pun melangkahkan kakinya dengan perlahan. Ratna hanya cuek saja, ia kembali menyusun beberapa pakaian miliknya dan milik Marcell ke dalam koper.
"Mama sama Papi mau kemana?" tanya Riana.
"Besok pagi, Papi sama Mama ada keperluan ke Gorontalo." Riana merasa sedih karena Papi dan Mamanya akan pergi. Padahal tadi Utinya sudah memberitahunya. Ia pun menundukkan kepalanya. Apakah ia bisa berjauhan dengan Mamanya? Itu yang ada di pikiran Riana. Karena Ratna tidak pernah pergi jauh selama ini. Mamanya hanya pulang larut malam, tapi setidaknya, setiap pagi ia selalu melihat Mamanya. Marcell yang peka pun mendekati Riana. Ia mensejajarkan tingginya dengan Riana.
"Hey, gak usah sedih sayang. Papi dan Mama hanya pergi selama satu minggu. Nanti, kamu tinggal di rumah Eyang dulu ya." ucap Marcell dengan lembut.
"Besok kalau pulang, Papi bawain oleh-oleh untuk kamu. Jangan sedih dong tuan putrinya Papi. Papi nanti juga ikut sedih kalau Nana sedih." Riana menghela napasnya, ia tidak ingin Papinya sedih. Kemudian, ia mendongakkan kepalanya menatap Papinya dan ia menunjukkan senyuman terbaiknya.
"Oke Riana gak akan sedih." Marcell pun tersenyum.
"Riana pamit ke kamar dulu ya Ma, Pi." pamit Riana. Kemudian ia pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar orang tuanya. Marcell teringat sesuatu, ia sangat ingat dengan keinginan Riana.
"Nana." baru dua langkah, panggilan itu membuat Riana menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya.
"Iya, ada apa Pi?" tanya Riana.
"Riana mau tidur disini sama Mama dan Papi?" tanya Marcell. Hal itu membuat Ratna menghentikan kegiatannya. Sedangkan Riana menatap Papinya tidak percaya. Riana menatap Mamanya yang sedang melihat kearah Papinya dan juga dirinya. Marcell melihat arah pandang Riana. Ia tersenyum kearah istrinya.
"Gak papa, malam ini saja." ucap Marcell tanpa suara. Ratna pun menghela napasnya kesal. Ia menatap Riana yang sedang menatapnya seolah meminta izin. Dengan tak ikhlas Ratna pun mengangguk. Sekali saja tidak masalah bukan.
Riana tersenyum dengan lebar ketika Mamanya memperbolehkan tidur bersama. Ini adalah salah satu keinginan Riana sejak dulu. Ia ingin sekali tidur bersama Mamanya dan memeluk Mamanya. Walaupun sekali ini saja ia tidak masalah. Jika nanti ada kesempatan untuk bisa tidur bersama Mamanya, ia tidak akan menyia-nyiakannya.
"Riana sikat gigi dulu." ucap Riana dengan semangat. Bahkan ia langsung berlari pergi ke kamarnya.
"Kenapa kamu ngajak dia tidur disini sih." ucap Ratna dengan kesal.
"Kamu tau, itu salah satu keinginan Riana sejak dulu. Hanya hal sederhana, dia gak pernah meminta lebih sama kamu. Tolong jangan seperti itu lagi kepada Riana. Aku yakin, kamu bisa menerima Riana nanti. Pelan-pelan saja, dan berdamailah dengan masa lalu kamu. Aku tau itu sangatlah sulit, tapi Riana tidak salah. Bagiku, Riana adalah anugerah terindah yang Allah beri di kehidupan aku. Dan kamu harusnya bersyukur memiliki Riana. Gadis cantik yang cerdas, sholehah, dan segala kepolosannya. Tapi kamu gak tau, dia yang terlihat ceria justru memendam luka dan kesedihan. Aku memang bukan Ayahnya, tapi aku akan berusaha menjadi sosok Ayah terbaik untuknya. Aku tulus menyayangi dia sejak dia dalam kandunganmu. Dia adalah gadis yang kuat sejak dulu. Gadis yang jarang mengeluh dan selalu menerima keadaan." ucap Marcell sambil memandang sebuah foto dirinya dan Riana waktu kecil. Selembar foto yang selalu ia bawa kemanapun.
Sejak dulu, Marcell juga membantu orang tua Ratna untuk merawat Riana. Maka tak heran ikatan batin mereka juga kuat. Bahkan mereka layaknya seperti Ayah dan anak kandung. Padahal nyatanya tidak. Orang tua Ratna sangat berhutang budi dengan kebaikan keluarga Marcell. Kebaikan mereka tidak akan pernah bisa dibalas oleh apapun.
Hati Ratna merasa tercubit mendengar ucapkan suaminya. Ia tidak mengelak, memang benar adanya jika sejak Riana dalam kandungan sampai sekarang ia selalu menyia-nyiakannya. Bahkan ketika lahir pun, Ratna hanya menyusui Riana selama satu minggu saja. Selebihnya Riana meminum s**u formula. Saat melihat Riana membuatnya selalu ingat kejadian kelam itu. Maka dari sanalah ia sangat membenci anaknya. Karena kehadiran Riana pula, membuat Ratna tidak bisa mengejar cita-citanya. Ingin sekali ia menjadi dokter saat itu. Namun keadaan sangatlah tidak memungkinkan. Saat itu psikisnya sangatlah terguncang. Bagi Ratna, anaknya adalah sumber kesialan baginya.
Waktu acara pemotretan kurang lebih dua minggu yang lalu, ia sangat benci melihat pakaian dokter yang di gunakan oleh Riana. Dan itu semua, Marcell yang membelikannya. Dan segala perlengkapan yang di perlukan Riana sudah di penuhi oleh Marcell. Ia tidak akan pernah mengizinkan Riana menjadi dokter.
Marcell duduk mendekat kearah istrinya. Kemudian ia menggenggam kedua tangan Ratna. Hal itu membuat Ratna terkejut. Marcell menatap Ratna dengan dalam. Ratna pun juga membalas tatapan Marcell. Mata itu, seperti ingin mengungkap banyak hal.
"Ratna, bisa aku minta suatu hal sama kamu? Cobalah pelan-pelan terima Riana di hidup kamu. Dia gak salah apa-apa. Dia itu darah daging kamu. Dan aku yakin, walaupun kamu gak deket sama Riana, tapi ikatan batin kalian pasti kuat. Karena kamu adalah ibunya. Aku gak memaksa kamu, tapi coba sedikit saja untuk menghargainya." Marcell mengusap pelan tangan istrinya. Ia tau seberapa besar dampak kejadian itu bagi Ratna. Ia paham benar posisi Ratna. Tapi bagaimana pun Riana tidak bersalah. Riana juga butuh kasih sayang ibunya. Semoga Ratna bisa menyayangi Riana walaupun secara perlahan. Ia akan membantu Ratna pelan-pelan agar ibu dan anak itu akrab.
"Akan aku coba." ucap Ratna setelah cukup lama diam. Marcell tersenyum ketika mendengar jawaban Ratna. Setidaknya Ratna akan mencobanya.
"Tapi, jangan paksa aku lagi jika aku benar-benar tidak bisa menerima dia." lanjut Ratna. Marcell menghela napasnya dan mengangguk kaku.
"Mama! Papi!" ucap Riana. Ia pun masuk ke kamar orang tuanya.
"Sini sayang." ucap Marcell. Riana pun mendekat kearah Papi dan Mamanya. Ratna segera membereskan kopernya. Semua perlengkapan sudah ia siapkan di sana.
"Riana mau tidur di tengah, boleh?" tanya Riana dengan takut-takut. Ia takut Mamanya marah padanya.
"Boleh dong sayang. Kamu tiduran duluan, Papi sama Mama mau sikat gigi dulu." Riana pun mengangguk semangat. Hal sederhana yang selalu Riana impikan akhirnya terwujud. Ia akan berterimakasih nanti pada Papinya.
Tak lama kemudian Marcell dan Ratna keluar dari kamar mandi. Marcell mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur. Mereka segera merebahkan dirinya di samping Riana. Tentu saja Riana ada di tengah-tengah mereka.
"Berdoa dulu nak." Riana pun segera membaca doa tidur. Riana sudah sangat mengantuk. Marcell yang peka pun membawa Riana kedalam pelukannya dan mengusap punggung Riana. Nyaman, satu kata yang menggambarkan semuanya saat berada di dalam pelukan Papinya. Berkali-kali Riana bersyukur dengan kehadiran Papinya di hidupnya.
"Selamat malam Mama, Papi." gumam Riana dengan suara lirih. Bahkan ia sudah memejamkan matanya.
"Selamat malam princess Papi." ucap Marcell sambil mencium kening Riana dengan penuh kasih sayang. Hal itu tak luput dari penglihatan Ratna. Jauh di lubuk hatinya ia ingin sekali menerima Riana dan dekat dengannya. Tapi pikiran dan egonya melarangnya.
"Tidur sayang, besok kita berangkat pagi." ucap Marcell pada Ratna. Perlahan Marcell mendekatkan dirinya pada Ratna dan mencium kening Ratna.
"Selamat malam Mama." Marcell kembali ketempat semula dan memeluk Riana. Kata 'Mama' yang keluar dari bibir Marcell membuat pipi Ratna memerah. Marcell terkekeh gemas melihat pipi Ratna yang bersemu merah.
Ratna membalikkan badannya memunggungi Marcell dan Riana. Ia sangat malu, pipinya pasti sangat merah. Rasanya sangat aneh saat Marcell memanggilnya 'Mama'. Bahkan ia tidak menjawab ucapan suaminya. Marcell membenarkan letak selimut mereka. Tak membutuhkan waktu lama untuk Marcell dan Ratna tertidur dengan pulas.
Ratna dan Riana tertidur dengan saling berhadapan. Tanpa sadar, Riana memeluk Mamanya, ia mencari tempat yang paling nyaman. Tanpa sadar pula, Ratna pun membalas pelukan anaknya.
"Riana sayang Mama." gumam Riana dalam tidurnya. Samar-samar, Ratna mendengar ucapan Riana. Tapi ia tidak memperdulikannya karena sangat mengantuk.