Seperti yang di katakan Marcell sebelumnya, kini ia sedang berada di rumah orang tuanya untuk mengantarkan perlengkapan sekolah milik Riana. Marcell pergi ke rumahnya seorang diri. Riana, Marcell, Dennis, dan Mira kini ada di ruang keluarga. Anak-anak Anya sudah ada di kamar mereka masing-masing. Memang saat ini waktunya mereka untuk tidur, karena sudah menunjukkan pukul 9 malam. Sedangkan Damar, ia sedang menemani Galaksi tidur. Galaksi sedang dalam mode manja kepada Daddy-nya.
"Mama dimana Pi? Kok gak ikut?" tanya Riana.
"Mama ada di rumah sayang. Mama masih capek, jadi dia tidur duluan." sahut Marcell.
"Tapi Mama gak papa kan Pi? Mama gak sakit kan?" ucap Riana dengan khawatir. Marcell dan yang lainnya pun tersenyum melihat Riana.
"Mama gak papa sayang. Cuma lelah aja, dan butuh istirahat. Sekarang kamu tidur ya. Udah malam. Besok kamu harus sekolah."
"Iya Papi."
"Mau Papi temani?" tawar Marcell.
"Gak usah Papi. Papi pulang aja, kasian Mama di rumah sendirian. Papi, tolong jagain Mama ya." ucap Riana sambil tersenyum. Marcell tersenyum tipis. Lihatlah, sebegitu besarnya Riana sayang pada Mamanya.
"Beneran? Papi masih bisa disini sampai kamu tidur."
"Papi pulang aja, kasian Mama di rumah sendirian. Lagi pula disini ramai Pi. Ada Eyang, Uti, Tante Anya, Om Damar...."
"Oke, tapi Papi antar kamu ke kamar dulu. Setelah itu Papi pulang." Riana pun menurut. Ia berpamitan kepada Anya, Mira, dan Dennis.
"Selamat malam semuanya!" ucap Riana dengan ceria. Ia mencium kedua pipi Anya, Mira, dan Dennis bergantian.
"Selamat malam kembali." sahut mereka sambil tersenyum gemas.
"Mau digendong?" tanya Marcell.
"Emang Papi gak capek apa? Riana berat tau Pi."
"Enggak dong. Kamu harus banyak makan biar lebih berisi badannya. Enggak kurus gini." Riana berdecak kesal. Ia sudah banyak makan, bahkan Riana merasa berat badannya sudah bertambah.
"Ya udah gendong." ucap Riana. Ia sedang malas menaiki tangga dan ia juga sudah mengantuk. Marcell dan yang lainnya pun tertawa karena gemas dengan Riana.
"Let's Go tuan putri!" Marcell menggendong Riana seperti koala. Dan Riana mengalungkan tangannya di leher Marcell. Ia juga menyandarkan kepalanya di bahu Papinya sambil memejamkan matanya karena sangat mengantuk.
Tak lama kemudian, Marcell dan Riana sudah tiba di kamar gadis itu. Marcell dapat mendengar suara dengkuran halus dari bibir kecil Riana. Ia tau, Riana sudah sangat mengantuk. Dengan perlahan, Marcell menidurkan Riana di atas kasur. Setelah itu ia membenarkan letak selimutnya. Marcell menyingkirkan beberapa helai rambut Riana yang menutupi wajah gadis imut itu. Marcell mencium kening Riana dengan penuh kasih sayang.
"Selamat tidur tuan putri. Semoga mimpi yang indah." gumam Marcell.
Setelah mematikan lampu dan menyalakan lampu tidur, Marcell segera keluar dari kamar Riana. Setelah selesai dengan urusannya, ia berpamitan kepada orang tua dan kakaknya. Ia sudah lumayan lama meninggalkan Ratna di rumah sendirian.
***
Setelah selesai sholat subuh, Mira dan Anya pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Anya beserta suami dan anak-anaknya untuk sementara waktu tinggal di rumah orang tuanya. Karena rumah baru yang ia beli masih dalam tahap pembersihan dan ada beberapa ruangan yang akan Anya renovasi.
"Loh, Riana. Kamu kenapa disini? Mau apa? Minum?" tanya Anya ketika Riana berjalan menuju kearahnya.
"Riana cuma mau bantu Tante sama Uti aja." sahut Riana.
"Gak usah sayang, kamu nonton TV atau baca buku aja. Untuk urusan memasak biar Uti sama Tante Anya aja yang urus." sahut Mira. Riana pun menggelengkan kepalanya.
"Gak mau Uti. Riana disini aja bantuin Uti sama Tante. Sekalian belajar, supaya Riana pinter masak." ucap Riana sambil tersenyum. Wajahnya tampak sangat polos.
"Pasti Tante sama Uti masih capek. Jadi Riana bantu aja agar kerjaannya cepat selesai. Riana juga lagi males nonton tv." ucap Riana lagi. Anya dan Mira saling bertatapan. Bagaimana bisa Ratna menyia-nyiakan anak sebaik Riana.
"Jadi, apa yang harus Riana kerjakan?" tanya Riana pada Anya dan Mira. Mereka pun memberikan senyuman hangat kepada Riana.
"Riana potong bayam sama wortelnya aja, sekalian nanti di cuci ya." ucap Anya.
"Oke siap Tante." ucap Riana. Dengan cekatan Riana memotong daun bayam itu dan memotong wortel itu. Kemudian ia mencucinya. Riana sudah biasa dengan hal seperti ini. Apalagi hampir setiap hari ia memasak.
"Sudah Tante, Uti. Apalagi yang perlu Riana kerjakan?" tanya Riana lagi.
"Sebentar lagi udah siap kok. Kamu mandi aja. Habis itu kita sarapan bareng. Terimakasih ya udah bantu Uti sama Tante Anya." ucap Mira dengan tulus. Riana pun mengangguk dan tersenyum.
Riana kembali ke kamarnya mengikuti perintah Utinya. Ia akan bersiap-siap membersihkan diri. Untuk perlengkapan sekolah sudah ia siapkan tadi malam setelah Papinya datang.
***
Hari ini Riana berangkat ke sekolah bersama Galaksi dan Mars dan di antar oleh Damar. Galaksi sekelas dengan Riana dan Kalandra. Sedangkan Mars sekelas dengan Sagara.
Riana senang Galaksi disini. Dengan adanya Galaksi disini, Riana memiliki teman lagi selain Kalandra. Galaksi duduk tepat dibelakang bangku Riana dan Kalandra.
"Ayo! Kita makan di kantin aja." ajak Kalandra pada Riana dan Galaksi. Mereka pun menganggukkan kepalanya. Mereka membawa kotak bekal yang mereka bawa dari rumah.
Kalandra mendapatkan tempat di sudut kantin. Memang dasarnya Kalandra dan Riana tidak suka keramaian. Apalagi banyak yang tidak menyukai Riana. Kalandra hanya ingin menjaga Riana. Ia sangat tau, Riana sangat sedih. Memang Riana itu pandai menutupi perasaannya. Ia selalu tersenyum kepada semua orang, padahal hatinya sangatlah rapuh.
"Bekal aku sama Riana sama. Karena Mommy yang masak." ucap Galaksi sambil membuka bekal itu yang berisi ayam goreng dan sayur bayam.
"Aku bawa nasi goreng telur dadar terus ada nugget dan sosisnya." Kalandra menunjukkan bekal yang berisi khusus untuk nugget dan sosis. Nugget dan sosis adalah kesukaan Riana. Kalandra juga menyukainya, tapi tidak seperti Riana.
Mata Riana berbinar ketika melihat nasi goreng serta nugget dan sosis itu. Itu adalah makanan favoritnya.
"Wahh! Galaksi mau sosisnya boleh?" tanya Galaksi.
"Boleh, ambil aja. Tapi jangan banyak-banyak. Itu kesukaan Riana." sahut Kalandra. Galaksi menganggukkan kepalanya. Kini Kalandra menatap Riana yang sedang melihat nasi goreng miliknya. Kalandra segera menukar bekal miliknya dengan milik Riana.
"Makan." ucap Kalandra. Riana tersenyum melihat itu. Kalandra sangat lah peka.
"Makasih Andra."
"Makan yang banyak." Riana pun mengangguk antusias.
"Bubble gum." Riana, Kalandra, dan Galaksi pun melihat ke sumber suara. Di Sana ada Sagara dan Mars, mereka jalan mendekati adik-adik mereka dan bergabung di sana.
Sudah hal biasa bagi Sagara melihat adiknya dan Riana saling bertukar bekal. Mereka pun menikmati makanan yang mereka bawa. Sebelum makan, mereka pun berdoa terlebih dahulu.
"Aaww.... Sakit Na!" ucap Galaksi sambil mengusap tangannya yang di pukul oleh Riana.
"Itu nugget sama Sosis bagiannya Riana. Galak jangan ambil lagi!" peringat Riana.
"Dasar medit! Kuburannya sempit!" ucap Galaksi dengan kesal. Riana pun acuh saja. Ia menjauhkan kotak bekal berisi nugget dan sosis itu dari Galaksi.
"Abang." rengek Galaksi pada Mars. Mars menghela napasnya.
"Beli aja ya." Galaksi pun mengangguk semangat. Ia menjulurkan lidahnya meledek Riana. Riana berdecak kesal. Mars segera pergi ketempat penjual sosis dan nugget.
"Udah, gak usah berantem lagi." Peringat Sagara. Galaksi dan Riana pun kembali melanjutkan acara makan mereka yang tertunda.