02 Penasaran

1742 Kata
“Apa jangan-jangan dia hantu ya? Mana dia pake gaun hijau kayak ratu kidul lagi. Hhiii, serem,” pria dua puluh delapan tahun itu bergidik ngeri. Tanpa Juna tahu, seseorang dari salah satu balkon di lantai enam belas sejak tadi memperhatikan interaksinya dengan wanita bergaun hijau misterius itu. Orang itu bahkan merekam kebersamaan Juna serta wanita bergaun hijau tadi yang kemudian disebarkannya ke media sosial. Video itu tak bisa merekam pembicaraan kedua objeknya, sehingga penonton hanya bisa bespekulasi saja. Dan pertengkaran itu dipotong seolah keduanya adalah pasangan kekasih yang sedang berdebat mesra. Tak ayal video itu langsung menjadi viral di kalangan netizen yang langsung kepo. “Jadi itu ya pacarnya Kak Juna? Cantik deh, cocok sama Kak Juna yang ganteng!” “Kak Juna beneran punya pacar? T.T Hari patah hati nasional lagi!” “Couple goals! Satu ganteng satu lagi cantik.” “Udah gak suka batang lagi, Say?” “Kak Juna pacarnya cantik, dikenalin dong! Jangan malu-malu!” “Kayaknya gue kenal deh pacarnya Arjuna!” “Cantik, sama abang aja deh! Lakimu 'kan sukanya batang juga!” “Alah palingan dia cuma pacar bayaran!” Komentar-komentar netizen itu semakin menjadi-jadi dan yang menjadi objek pembicaraan bahkan belum mengetahuinya. Wajar saja, karena Juna hampir tidak pernah mengurusi media sosialnya. ===== “Kita gak mau tahu! Lo harus nemuin wanita itu, Juna,” bentak manager pria itu yang bernama Raka sambil menggebrak meja. Tadi pagi-pagi sekali Juna sudah ditodong oleh managemen untuk segera kekantor agency. Rapat darurat katanya. Dan benar saja, semua orang terlihat kelimpungan oleh berita viral semalam. Juna bahkan sampai mengumpat setelah melihat videonya dengan wanita misterius bergaun hijau itu diputar dihadapannya. “Itu cuma salah paham, Kak! Dia itu narik gue biar gak jatuh aja,” jelas Juna pelan-pelan. “Mau apapun alasan lo, yang jelas sekarang hampir semua brand minta lo ganti image kalau gak mau dipecat,” Raka tak mau tahu. “Mereka mau lo pake gaya boyfriend able.” “Yaudah, pecat-pecat aja! Gue gak rugi, kok,” Juna mengedikkan bahunya. “Denda tiga kali lipat, Juna!” “Gue bayarin! Ada berapa brand sih? Duit gue gak bakalan habis kalo cuma buat ganti penalti.” “Beneran? Oke kita lihat ada berapa ini,” Raka mengambil berkas-berkas di mejanya dan langsung membolak-balik kertas berisi kontrak kerja Arjuna. “Nah ini! Ada enam brand yang kalo harus bayar pinalti kesemuanya,-” Raka menggerakkan jemarinya ke tombol-tombol di kalkulator. “Total jadi hampir 20 milyar, karena tiap kontrak lo rata-rata harganya satu milyar.” Juna terbelalak hingga ia berdiri dengan cepat dari duduknya. Ia tak pernah mengira jika uang penaltinya akan sebesar ini. “Gila! Duit gue emang gak abis, tapi bisa puasa berbulan-bulan gue buat balik modal kalo sebanyak itu. Sialan emang tuh cewek ratu kidul,” Juna menggumam. “Gimana? Masih mau bayar penalti? Gue telponin ke pengurusnya, nih,” Raka mulai mengangkat gagang telephone di mejanya. Juna menghela napasnya lelah, “Gue cuma perlu nyariin itu cewek, 'kan?” Pertanyaan itu dibalas senyuman Raka dan tangannya segera mengembalikan gagang telephone ke tempatnya, “Iya! Setelah itu nego ke dia buat kerjasama jadi pacar lo. Gue bakal siapin kontrak buat kalian.” “Berapa lama?” tanya Juna pasrah. “Maksimal enam bulan. Karena setelah itu lo bisa ngajuin syarat baru kalau mereka mau neken perpanjangan kontrak. Dan dari situ lo bisa minta privasi lo buat lebih dilindungin,” jelas Raka. “Yaudah, gue cabut,” Juna mulai melenggang pergi. “Mau kemana?” Raka berteriak. “Nyariin ratu kidul,” jawab Juna yang juga sambil berteriak karena sudah jauh dari Raka. ===== Berkali-kali Juna menghela napasnya panjang dan lelah selama mengemudikan Mc Laren GT miliknya. Matanya memindai setiap sudut jalanan Jakarta yang ia lalui, berharap bisa menemukan wanita bergaun hijau semalam. Namun hal itu terasa mustahil karena ia bahkan tak mengetahui informasi apapun mengenai wanita itu. “b**o! Gue kan punya duit, kenapa gak bayar orang aja buat nyari daripada capek-capek begini?” keluh Juna sambil menepuk jidatnya sendiri. Pria itu kemudian menepikan mobilnya ke kafe terdekat. Statusnya yang sebagai bintang papan atas membuat kehadirannya di kafe itu menjadi pusat perhatian. Namun Juna sudah sangat terbiasa dengan semua itu dan berlaku seolah tak ada orang lain disana selain dirinya sendiri. “Ice Americano satu yang medium,” ujar Juna menyebutkan pesanannya pada kasir. “Ada tambahan lagi, Kak? Hari ini kita ada promo,-” “Udah itu aja. Gak pake lama,” Juna memotong ucapan mbak-mbak kasir dengan ketus. “Mau satu paket sama,-” “Nggak!” “Pesanannya saya proses ya, Kak! Ice Americano ukuran medium satu, jadi totalnya tiga puluh lima ribu rupiah, Kak!” Juna menyerahkan kartu kreditnya yang langsung di proses. Tak lama kemudian kartu berwarna hitam itu segera dikembalikan oleh mbak kasir yang tengah tersenyum padanya. “Ini kak kartu dan struknya.” Pria itu segera mengambil kartunya dan berniat memasukkan kembali ke dalam dompet. “Permisi, Kak, boleh minta tanda tangan atau fotonya? Aku fans Kak Juna, loh,” ujar mbak kasir itu malu-malu yang dibalas oleh Juna dengan menaikkan sebelah alisnya. Tangannya kemudian terulur kearah kasir itu. “Mana kertas dan pulpennya? Kalo foto harus ada acara resmi dulu baru boleh.” Juna berusaha ramah meskipun masih ada kesan dingin dari kalimatnya. Namun mbak kasir itu tak peduli dan memaklumi. Sebuah buku kosong dan pena diberikan pada Juna yang langsung dicoret-coret oleh pria itu. “Nama?” “Atika, Kak,” jawab kasir itu girang. “Kak Juna sendirian, nih? Pacarnya yang semalem gak diajak? Cantik loh, Kak!” Juna sebenarnya muak ditodong terus menerus oleh pertanyaan serupa sepanjang hari ini. Namun ia berusaha untuk tetap profesional pada pekerjaannya yang memang harus menyenangkan fans. “Lagi sibuk dia,” jawab Juna asal. “Oohh,” Atika membulatkan bibirnya. “Semoga langgeng ya, Kak! Kalian cocok banget.” Juna menunjukkan senyum terpaksanya dan segera mengembalikan buku yang sudah ditanda tanganinya, “Udah kan?” Atika mengangguk bersemangat. “Kopinya udah jadi belum?” “Udah Kak, ini!” Juna mengambil kopinya dan segera menyedot cairan pahit bercampur asam itu menggunakan sedotan dengan nikmat. Kemudian ia mencari satu sudut kafe yang agak sepi dan berencana melanjutkan idenya tadi. Tangannya mengambil ponsel dari saku jaket dan segera menghubungi seseorang yang sudah sangat dikenalnya. “Dave, gue butuh bantuan, lo,” ujar Juna tanpa basa-basi. Saat ini ia tengah menghubungi salah satu sahabatnya, David yang berprofesi sebagai detektif swasta dan memiliki spesialisasi untuk mencari orang hilang. [“Apa? Langsung aja!”] “Cariin si ratu kidul!’ [“What? Gila lo nyuruh gue nyari ratu kidul!”] “Eh salah, maksud gue cewek yang semalem videonya viral sama gue.” [“Lah? Bukannya dia cewek lo?”] “Cepetan! Gue tunggu semua infonya dia, kalo bisa hari ini udah ketemu!” [“Gak ada akhlak, lo!”] “Seratus juta kalo selesai hari ini!” [“Oke-oke! Gue cariin! Kurang baik apa sih gue jadi temen.”] Juna segera memutus sambungan telephonenya. Ia kemudian menikmati waktu siangnya sendirian di kafe sambil membuka-buka akun media sosial miliknya yang sangat jarang ia akses. Ada ratusan ribu pemberitahuan, baik itu likes maupun komen. Namun Juna malas memeriksa dan mengabaikannya begitu saja. Ia malah mengetikkan nama hotel yang semalam menjadi saksi bisu pertemuannya dengan si wanita bergaun hijau. Siapa tahu wanita itu mengunggah sesuatu menggunakan tag lokasi disana yang bisa membantunya. Sayangnya tak ada satupun postingan yang menampilkan wanita itu. Bahkan tidak di background-background foto dari para tamu. Juna semakin curiga jika wanita itu memang makhluk jadi-jadian. Setelah lelah menjelajahi media sosial, Juna segera menghabiskan kopinya dan beranjak pergi dari kafe. Hari ini ia lelah sekali meski tak ada jadwal apapun. Harusnya ia malah sedang libur jika saja tak dihebohkan oleh berita yang menurutnya tidak penting itu. ===== Waktu telah menunjukkan pukul setengah satu dini hari saat ponsel Juna tak kunjung berhenti berdering. Dengan matanya yang masih tertutup, Juna meraba-raba ranjang disebelah untuk mengambil ponselnya. “Halo,” Sapa Juna dengan suara seraknya. [Udah gue kirim semua ke email lo!”] Juna menjauhkan ponselnya dan melihat nama Dave dilayar. Atensinya kemudian berpindah pada jam digital di pojok layar ponsel yang menunjukkan jika hari telah berganti. “Telat setengah jam, gue potong bayaran lo separo.” [“Enak aja! Gue mati-matian nyari dengan informasi minim, lo main potong bayaran gue seenak jidat!”] “Udah gue kirim. Thanks, bro!” Juna mematikan sambungan telpon. Tadi dia memang sempat meraih tabletnya diatas nakas dan membuka mobile banking untuk mengirimkan bayaran Dave secara langsung dan utuh. Juna hanya ingin memancing emosi sahabatnya. Pria itu mengucek matanya yang masih lengket dan mencoba untuk duduk. Terlihat tubuh bagian atasnya yang seperti pahatan dewa itu tak tertutup selembar kainpun. Untung saja ia sendirian, kalau saja ada kaum hawa, Juna mungkin sudah diterkam habis. Jemari Juna mulai memeriksa dokumen yang dikirimkan oleh Dave dan netranya perlahan semakin fokus. “Bagus juga kerjaan tukang rebahan itu,” cibir Juna. Kepalanya mengangguk-angguk saat membaca file dilayar tabletnya. Bukan hanya itu, Dave bahkan mengirimkan akun media sosial, foto-foto, hingga profil lengkap wanita bergaun hijau yang dicari oleh Arjuna. “Arabella Putri Sagara, dua puluh lima tahun, staff personalia perusahaan start up travel, single, lulusan terbaik universitas di Singapore dan beasiswa penuh, anak bungsu dari tiga bersaudara, keluarganya tinggal di desa,” Juna membaca profil wanita bernama Arabella itu dengan seksama. “Profilnya lumayan, mukanya cakep, dan bodinya juga oke. Biarpun cuma pacar settingan, paling nggak dia gak malu-maluin buat digandeng,” gumam Juna sambil memperhatikan foto-foto Arabella. “Pantes aja orang-orang heboh.” “Arabella Putri Sagara. Tunggu gue besok, kita pasti ketemu dan lo gak bakal bisa ngancurin karir gue lebih jauh lagi. Karyawan biasa kayak dia pasti gampang disogok, apalagi dia cewek desa yang pasti butuh duit di kota besar. Kalo gini sih gampang!” Juna begitu percaya diri. Ia bahkan langsung kembali melanjutkan tidurnya dengan senyum yang terkembang di wajah tampan yang mulus tanpa cela itu. Rasanya sungguh tak sabar menunggu pagi datang dan memulai semua rencananya. Tanpa pria itu sadari, semenjak Arabella muncul didepannya semalam, tak sekalipun Juna mengingat tentang Hani maupun foto Hani yang hilang terbawa angin. Otaknya hanya dipenuhi oleh Arabella yang terus mengganggu pikirannya. Awalnya memang Juna sangat kesal karena Arabella mengganggu aktivitasnya. Namun lama-lama ia juga ikut penasaran dengan sosok Arabella yang begitu di puji-puji akan kecantikannya oleh para netizen.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN