Malam itu
Arabella terlihat kesal karena ia dipaksa oleh sahabatnya yang bernama Helen untuk menemani wanita itu menghadiri resepsi pernikahan sepupunya. Bukannya Ara - sapaan akrab Arabella - tidak mau membantu Helen, hanya saja status sepupu Helen membuat Ara agak keberatan. Sepupu Helen adalah seorang artis papan atas bernama Reza Akbar. Hampir tak ada warga negara Indonesia yang tak mengenal aktor kawakan yang digilai kaum hawa itu. Sehingga tidak heran jika acara pernikahannya pasti akan sangat penuh.
Dan benar saja, Ara sampai merasa sesak berada di dalam ballroom. Berbeda dengan Helen yang malah sibuk mengakrabkan diri dengan para sineas yang hadir di acara itu. Setelah mengucapkan selamat pada mempelai, Ara berniat untuk menyingkir sejenak.
“Len, aku mau cari angin dulu!” pamitnya pada sang sahabat.
“Kemana sih lo, Ra? Mau gue kenalin ke produser padahal! Lo itu cocok banget deh jadi artis. Sayang kan muka cakep gitu dianggurin?” protes Helen.
“Gak mau! Aku gak suka kamera.” Ara menjulurkan lidahnya mengejek. “Nanti telpon aja kalau udah mau pulang. Aku mau jalan-jalan!”
“Iya deh. Hati-hati ya!”
“Oke!”
Setelah berpamitan, Ara langsung keluar ballroom dan berjalan-jalan di sekitar hotel. Ia menemukan denah hotel itu di lobby dan mulai membacanya lirih.
“Rooftop garden. Kayak apa, ya? Mirip yang di drama-drama Korea gak sih? Coba deh lihat!” gumam Ara sambil mengingat-ingat posisi rooftop garden yang ia cari.
Sayangnya, begitu sampai di lokasi yang ia tuju, Ara langsung disuguhi pemandangan Arjuna yang seperti akan terjun dari lantai 15. Gadis itu hanya mengikuti nalurinya yang mencoba menolong, meski pada akhirnya ia malah jadi bertengkar dengan orang itu.
BRAKK
Ara membanting pintu rooftop garden dengan keras dan berjalan cepat meninggalkan Juna yang masih emosi. Karena saat ini ia memakai gaun yang cukup panjang, langkahnya jadi agak sulit hingga beberapa kali membelit kakinya. Dan begitu melihat salah satu pintu kamar hotel yang terbuka serta kosong, Ara berinisiatif masuk kesana untuk membenarkan gaun yang ia pakai. Karena itulah Juna tak bisa menemukan keberadaannya.
“Tunggu! Kayaknya aku familiar deh sama mukanya cowok itu. Tapi siapa, ya?”
Ara terlihat sedang memikirkan pria yang memarahinya setelah ditolong. Gadis itu memang sangat jarang mengikuti dunia infotainment, sehingga tidak aneh jika ia tidak terlalu mengenal sosok Juna yang begitu fenomenal.
“Ah, gak peduli. Lagian juga gak bakal ketemu lagi.” Ara menggeleng-gelengkan kepalanya.
Setelah membenahi gaunnya, Ara segera bergegas keluar dari kamar hotel itu sebelum petugas memergokinya menumpang tanpa izin. Dan saat keluar dari kamar itulah sosoknya tertangkap kamera CCTV yang menjadi petunjuk David untuk menemukan segala informasi tentangnya.
=====
Keesokan harinya adalah hari Senin dan pekerjaan Ara cukup melelahkan di kantor. Hingga saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore, ia langsung sangat bersemangat untuk bisa segera pulang dan beristirahat. Ara bahkan tak mengetahui jika videonya dengan Juna semalam sempat viral. Meskipun sebenarnya sejak pagi tadi rekan-rekan kantornya sudah banyak yang menggosipkan Juna dan menebak-nebak sosok Ara. Namun Ara tak pernah merasa menjadi pusat pemberitaan tersebut.
“Naik apa, Ra?” tanya Helen yang juga sudah siap pulang.
“Biasa. Abang ojol tersayang terus lanjut KRL.” Jawab Ara sambil tersenyum sumringah.
“Yaudah, bareng yuk kedepannya!”
Ara mengangguk dan segera mengkuti sang sahabat setelah menyampaikan salamnya pada beberapa rekannya yang masih ada di balik kubikel. Kedua sahabat itu terdiam selama didalam lift karena keadaan yang cukup ramai oleh pekerja lain yang juga akan pulang.
TING
Saat pintu lift terbuka, semua orang segera berhamburan keluar. Namun ada pemandangan tak biasa yang tersaji dihadapan Ara dan Helen. Banyak para pekerja terutama wanita yang tak segera pulang dan malah berkumpul di lobby. Kedua sahabat itu mengikuti arah pandang orang-orang dan mereka menemukan satu sosok pria yang berdiri di samping pintu masuk dengan gagahnya.
Pria itu adalah Arjuna. Dia terlihat begitu mempesona dengan celana denim panjang berwarna hitam dengan aksen robek di beberapa bagian, kaus fit body berwarna hitam, serta jaket denim berwarna abu-abu tua. Penampilannya semakin sempurna dengan adanya kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya. Terlihat sekali jika ia begitu nyaman menjadi pusat perhatian saat ini.
Pria itu mengedarkan pandangannya, mencari seseorang yang sudah ia tunggu sejak tadi. Dan begitu melihat sosok itu berdiri tak jauh dari lift, ia segera saja melangkah lebar menuju kearah gadis itu. Terdengar bisik-bisik dari beberapa orang yang menyaksikan tindakan Arjuna.
“Ra, kayaknya dia mau kesini deh!” bisik Helen sambil menyenggol lengan sahabatnya.
“Nyariin kamu kali Len.” Balas Ara acuh.
“Eh, dia emang temennya sepupu gue. Tapi gue gak kenal.”
“Ya apalagi aku?”
Namun, tanpa keduanya duga, Juna berhenti tepat dihadapan Ara yang langsung membuat gadis itu mengernyit bingung. Tinggi Ara yang hanya sebatas dagu Juna pun membuatnya mendongak dan ia melihat senyuman miring Juna yang begitu mengintimidasi untuknya.
Seolah kejutan untuk semua orang belum berakhir, Juna tiba-tiba mendaratkan bibirnya pada kening Ara yang membuat gadis itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Terdengar suara riuh dari penonton yang seolah sedang menyaksikan drama secara live. Tak terkecuali Helen yang ada disamping Ara pun ikutan terkejut dan sangat heboh.
“Bella, kenapa lama sekali? Aku udah nungguin dari tadi, loh! Pulang, yuk!”
Kalimat manis terlontar dari bibir Juna yang semakin membuat heboh kantor start up di petang itu. Namun yang menjadi pusat perhatian, malah tengah terbengong kaku di tempatnya. Ciuman itu seperti sihir yang membekukan tubuh Ara hingga wanita itu menurut-menurut saja saat Juna menarik lengannya keluar kantor.
“Permisi, kita mau lewat, ya!” ujar Juna ramah sambil melemparkan senyum mautnya pada semua orang.
“Ra, gue tunggu penjelasan lo!” terdengar teriakan Helen begitu menggema di lobby.
“Nah bener kan dugaan gue, cewek itu si Ara anak personalia!”
“Gak nyangka gue, kirain Ara masih jomblo loh!”
“Gak heran sih Juna kepincut, Ara aja idola di kantor.”
“Iya, tapi anaknya gak pernah ngerasa kalo banyak yang suka.”
“Ah, harusnya gue videoin tadi! Kan lumayan akun gue bisa ikutan viral!”
“Gue udah dapet videonya dong!”
“Eh, bagi-bagi!”
Desas-desus itu terus menjadi perbincangan panas. Tak hanya di kantor, bahkan di seluruh negeri karena videonya sudah kembali viral. Nama Juna maupun Ara bahkan sampai menjadi trending topik dunia berkat kekuatan netizen Indonesia yang suka mencuit.
Sementara itu, Ara yang sudah didudukkan oleh Juna di kursi mobilnya mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Itupun saat Juna akan memasangkan seat belt yang membuat tubuh mereka begitu dekat.
“Aa-aku bisa sendiri.” Ara meraih sabuknya sendiri dan memasangnya secepat kilat. “Kk-kamu mau bawa aku kemana?”
Sayangnya pertanyaan itu tak dijawab oleh Juna yang saat ini fokus menyetir. Perilaku hangatnya yang tadi seolah lenyap begitu saja dan hanya menyisakan aura dingin serta sunyi yang memekakkan. Ara begitu canggung hanya berdua dengan pria itu didalam mobil sekecil ini. Otaknya mulai bekerja untuk memecah kesunyian yang sangat dibencinya itu.
“Turunin aku di stasiun depan!” pinta Ara yang sudah melihat pintu depan stasiun Tanah Abang dihadapannya.
Namun, bukannya berhenti Juna malah menginjak pedal gasnya semakin dalam.
“Mau kamu apa sih? Turunin gak? Ini penculikann namanya!” protes Ara yang semakin kesal. Namun ia seperti bicara dengan tembok karena Juna sama sekali tak meresponnya.
“Denger ya mas! Aku gak tahu tujuan mas nglakuin hal ini apa, aku bahkan gak kenal sama mas! Jadi aku gak ada urusan sama situ,” Ara semakin ketus.
“Beneran lo gak kenal gue?” Juna akhirnya membuka mulutnya dan menatap tajam Ara.
“Ketemu aja baru sekarang, kenal gimana?” gerutu Ara.
Juna menghela napasnya kesal. Ia tidak mengira jika si ratu kidul disebelahnya ini melupakan pertemuan mereka kemarin malam. Saking kesalnya, Juna tak lagi menimpali pertanyaan Ara dan membelokkan mobilnya kearah hotel berbintang terdekat.
Ara bingung sekaligus ketakutan saat melihat hotel dihadapannya. Belum lagi Juna menarik tangannya dengan erat dan membawanya masuk kedalam hotel itu.
“Diem! Kalo lo sampek ngomong satu kata aja, gue bakal pastiin lo nyesel seumur hidup!” ancam Juna sambil berbisik ditelinga Ara. Ancaman itu berhasil membuat Ara menutup mulutnya rapat-rapat.
Setelah melakukan booking yang berjalan cepat, Juna membawa Ara menuju kamar yang telah di pesannya. Beberapa pasang mata yang melihat kedua orang itu juga ikut mengabadikan kebersamaan mereka yang semakin menambah panas gosip di dunia maya.
“Kamu kenapa sih narik-narik aku?” tanya Ara begitu Juna melepaskan pegangan tangannya dan sudah duduk manis di dalam sebuah kamar di hotel.
“Lo harus tanggung jawab!” Juna langsung menodong Ara tanpa basa-basi.