“Lo harus tanggung jawab!” Juna langsung menodong Ara tanpa basa-basi.
“Hah? Tanggung jawab apa?” Ara kebingungan.
“Mulai hari ini, lo jadi pacar gue!” Juna terlihat begitu santai memainkan ponselnya.
Gadis itu berkedip-kedip tak percaya. Ia begitu termangu oleh pernyataan tak berdasar itu.
“Cuma enam bulan, setelah itu kita putus!”
Rasanya Ara ingin tertawa terbahak mendengar kalimat yang sangat random itu. Namun tubuhnya berkata lain karena ia sungguh-sungguh terkejut dan jantungnya berdebar kencang karena pengakuan pria berwajah super tampan dengan bodi bak dewa Yunani dihadapannya.
“Oh, kak! Gue di hotel Disston kamar 1208. Langsung bawa kontraknya kesini sekarang!” ujar Juna tanpa mengucap sapaan pada si penerima telfon. Ia kemudian mematikan ponselnya dan kembali fokus pada Ara.
“Bisa gak jelasin lebih detail? Maksudnya semua ini apa?” Ara masih sangat kebingungan.
“Lo beneran gak tau gue siapa?”
Ara mengangguk ragu-ragu.
“Hotel Mulia, rooftop garden lantai 15,”
“Oohh, kamu yang mau bunuh diri itu?” Ara mulai mengingat yang sayangnya malah memancing emosi Juna.
“Gue gak mau bunuh diri! Mau dijelasin berapa kali lagi, huh?”
“Ya habisnya kamu,”
“Udah, lupain! Kita langsung ke intinya aja!” Juna mengibaskan telapak tangannya.
“Ah, iya. Apa itu tadi maksudnya jadi pacar kamu? Kenal aja nggak, gimana bisa jadi pacar?”
“Lo berisik, ya!” pria itu memutar kedua bola matanya kesal.
“Makanya, jelasin!”
“Itu konsekuensi yang harus lo tanggung karena udah ngancurin karir gue!”
“Hah? Ngancurin gimana maksud kamu?”
“Gara-gara lo sok pahlawan mau nolongin gue pake’ peluk-peluk, orang-orang ngira kita pacaran.”
“Kok bisa orang-orang tahu? Kan waktu itu cuma ada kita berdua?”
“Lo hidup dibalik batu apa gimana sampek berita seviral ini gak tahu?” Juna menggelengkan kepalanya tak paham. “Oke, jadi intinya, gara-gara ada paparazzi yang ngevideoin kita, videonya viral dan mereka ngira kita pacaran.”
“Tinggal bilang aja salah paham kan bisa!” protes Ara.
“Gak semudah yang lo pikirin, ratu kidul!”
Ara membelalakkan matanya karena sebutan itu. “Apa sih nyebut-nyebut ratu kidul? Gak lucu tau!”
“Emangnya gue lagi ngelawak? Nggak, kan? Salah sendiri pake baju ijo malem-malam dan terus ngilang! Kan kayak ratu kidul!” balas Juna membela diri.
“Gak harus ratu kidul juga kali!” sungut Ara.
“Balik ke masalah karir gue. Gara-gara netizen ngira kita pacaran, brand-brand yang ngontrak gue mau ngeliat image gue yang jadi pacar beneran. Kalo nggak, gue bakal dipecat dan harus bayar penalti. Dan ini semua gara-gara sikap sok pahlawan lo!”
“Ngerti ngono tak jarno ceblok ae wong iki!” gerutu Ara dengan bahasa Jawanya. (Tahu gitu aku biarin jatuh aja orang ini.)
“Gue paham bahasa Jawa!” tegur Juna yang tak perlu aplikasi translator untuk menerjemahkan kalimat Ara.
“Terus kalo aku gak mau jadi pacar kamu?”
“Gampang! Lo tinggal bayarin aja penalti gue.” Juna mengedikkan bahunya.
“Berapa?” Ara benar-benar tak ingin terlibat dengan pria angkuh dihadapannya ini.
“Gak banyak. Cuma 20 milyar.”
“APA? 20 milyar gak banyak?”
“Sanggup, gak?”
Ara menekuk wajahnya hingga bibirnya sedikit maju kedepan. Pemandangan itu tak sedikitpun terlepas dari perhatian Juna yang terus menatapnya.
“Entuk duit soko endhi 20 milyar? Gajiku ae gak sepiro.” Keluh batin Ara. (Dapat uang darimana 20 milyar? Gajiku saja gak seberapa).
“Gak buruk kalo harus pacaran pura-pura sama ni cewek. Mana muka cemberutnya lucu banget lagi! Lumayan, bisa buat hiburan.” Batin Juna tertarik, namun wajahnya tetap menunjukkan ekspresi yang datar.
“Jadi gimana? Mau bayarin atau mau jadi pacar pura-pura gue?” desak Juna.
“Aku gak punya uang sebanyak itu, mas!” cicit Ara lesu.
“Berarti deal nih, lo jadi pacar gue?” Juna langsung bersemangat.
“Kalo jadi pacarnya mas, emang aku harus ngapain?”
“Ya kayak pacar-pacar pada umumnya. Kencan, makan, kadang nemenin gue syuting atau ikut kalo ada event penting juga.” jelas Juna.
“Tapi aku gak mau kalo dicium lagi!”
“Gimana netizen bisa percaya kita pacaran, kalo lo gak mau gue cium?” Juna mengernyitkan dahinya.
Dalam hati Ara, dia juga menyetujui kalimat itu. Namun ia dan pria dihadapannya adalah orang asing. Belum lagi Ara adalah seorang jomblo sejati yang bahkan ciuman di kening tadi adalah yang pertama untuknya. Sudah pasti Ara ingin menjaga dirinya dari pria itu dan tak ingin kecolongan lagi. Apalagi, Ara sampai sekarang belum mengetahui nama pria dihadapannya ini.
“Pokoknya aku gak mau dicium, titik!” kekeuh Ara tak ingin diganggu gugat. “Kalo peluk boleh deh.”
Pria itu tersenyum sesaat melihat tingkah polos gadis dihadapannya. Ia tak menyangka masih ada gadis berusia dua puluh lima tahun yang sepolos ini. Padahal mereka tinggal di kota besar dan Ara juga sempat kuliah di Singapore sebelumnya. Dan mengingat fisik Ara yang sangat menarik, rasanya hampir mustahil jika gadis itu benar-benar sepolos ini. Benar-benar sebuah jackpot untuk Juna.
Tok tok tok
Juna segera beranjak kearah pintu. Ia memang sedang menanti Raka. Benar saja, pria tiga puluh lima tahun itu telah berdiri di balik pintu dengan membawa sebuah map berisi dokumen kontrak. Juna kemudian membawa Raka masuk ke kamar dan mengenalkannya pada Ara.
“Ini Bella, kak! Bel, ini kak Raka manager gue yang bawa kontrak buat kita.”
Ara hanya tersenyum sekilas sambil mengangguk. Ia masih asing dengan panggilan Juna yang sangat berbeda dari orang kebanyakan.
“Kamu udah setuju sama kesepakatan ini?” tanya Raka setelah duduk didepan Ara dan menyodorkan berkas kontraknya.
“Aku cuma perlu jadi pacar pura-pura selama enam bulan aja, kan?” Raka mengangguk. “Aku setuju asal gak ada skinship!”
“Katanya tadi boleh peluk?” Juna mengajukan protesnya.
“Iya. Peluk gak apa-apa, tapi cuma pas didepan netizen atau kamera aja.”
“Gue juga gak mau pegang-pegang lo kalo gak ada yang liat.”
Kalimat logis Juna entah mengapa terasa begitu menyakitkan didengar oleh Ara. Ia merasa seperti seseorang yang menjijikkan sampai-sampai Juna bisa mengatakan hal itu terhadapnya. Padahal Ara merasa jika penampilannya tidak seburuk itu.
“Sebagai kompensasi buat waktu kamu, kita akan kirim bayaran lima puluh juta setiap bulannya.” Jelas Raka.
“Kak! Banyak banget itu lima puluh juta? Gaji dia kerja aja paling gak ada separonya!” protes Juna yang semakin menginjak harga diri Ara.
“Pilih lima puluh juta tiap bulan atau denda 20 milyar?” Raka selalu bisa mendiamkan Juna dengan ancaman-ancaman seperti itu. “Masih untung Bella mau bantuin tanpa banyak syarat!”
“Ara! Panggil aku Ara, kak!” gadis itu menyuarakan ketidak-setujuannya.
“Eh, iya maaf, Ara. Soalnya Juna tadi ngenalinnya Bella.” Balas Raka.
“Oh, jadi mas itu namanya Juna?” Ara manggut-manggut yang membuat kedua pria dihadapannya termangu hingga melotot.
“Lo beneran gak tau gue?” Juna tak percaya.
“Harus ya aku tahu?” Ara balik bertanya dengan kesal.
“Dia bintang terkenal loh, Ra!” jelas Raka.
“Aku gak pernah suka nonton TV.”
“Lo gak pernah liat iklan videotron dijalan-jalan?” tanya Juna sangsi.
“Lihat, cuma gak pernah merhatiin. Gak penting juga!”
Juna menjentikkan jarinya. “Ah, kantor tempat lo kerja! Tahun lalu gue jadi BA Travelist, lo gak tahu?”
Ara seperti sedang mengingat-ingat sebelum akhirnya mengangguk paham. “Oh, pantes aja familiar!”
“Ya Allah, Jun. Lo nemuin kertas putih kayak gini dimana sih?” Raka menepuk jidatnya sendiri. “Kalopun ntar kalian pacaran beneran, gue dukung seribu persen! Jarang-jarang bisa nemu modelan yang kayak gini. Kualitasnya grade A++ ini mah!”
“Mimpi!”
“Gak mau!”
Sanggah keduanya secara bersamaan dan terlihat aura permusuhan memancar dari keduanya yang membuat Raka geleng-geleng kepala.