05 Perjanjian II

1302 Kata
“Kalopun ntar kalian pacaran beneran, gue dukung seribu persen! Jarang-jarang bisa nemu modelan yang kayak gini. Kualitasnya grade A++ ini mah!” “Mimpi!” “Gak mau!” Sanggah keduanya secara bersamaan dan terlihat aura permusuhan memancar dari keduanya yang membuat Raka geleng-geleng kepala. “Jadi aku harus tanda tangan dimana, kak?” “Disini, sama… disini!” Jelas Raka menunjukkan tempat untuk tanda tangan. Ara mulai menggerakkan pulpen membentuk tanda tangan dan menambahkan namanya di bawah tanda tangan itu, tanpa menyertakan nama belakangnya yang hanya ia singkat dengan S saja. Setelah Ara selesai menanda tangani dokumen kesepakatan itu, giliran Juna yang menggoreskan tinta hitam keatas kertas itu. “Kok nama lo gak ditulis lengkap?” tanya Juna setelah melihat bagian Ara. “Terserah aku, lah! Lagian semua dokumen resmiku juga kayak gitu nulisnya.” Jawab Ara dengan nada jutek. “Kenapa? Malu, nama lo samaan kayak nama perusahaan multinasional yang terkenal itu?” entah kenapa segala sesuatu tentang Ara begitu menarik untuk Juna ketahui. “Darimana kamu tahu namaku sama kayak nama perusahaan itu?” Ara malah balik bertanya dengan bingung. “Gue tahu semua tentang lo. Kalau gak gitu, gimana gue bisa nemuin tempat lo kerja?” Ara hanya menanggapi dengan mengangguk-angguk. Orang-orang berduit tentu bisa melakukan apa saja untuk memuaskan rasa ingin tahunya. “Jadi beneran? Lo malu karena nama lo samaan?” tanya Juna lagi. “Gak ada hubungannya sama Sagara grup. Dan kamu juga gak perlu tahu alasannya.” Jawab Ara datar. Interaksi itu tak lepas dari kacamata Raka yang diam-diam berharap jika keduanya benar-benar menjalin hubungan secara nyata. Menurutnya, Juna sudah terlalu lama single dan tak pernah sekalipun tertarik pada wanita selama menjalani karir sebagai public figure dalam bidang keartisan maupun bisnis resort yang dirintisnya sejak beberapa tahun lalu. Baru Arabella saja yang mampu membangkitkan rasa penasaran Juna dan membuat pria itu menjadi sedikit lebih talkative daripada biasanya. Pria itu kemudian teringat sesuatu hal lain yang harus ia sampaikan pada pasangan pura-pura dihadapannya. “Oh ya, mulai sekarang kalian pake ini!” Raka menyodorkan kotak beludru kecil berwarna navy keatas meja. Didalamnya terdapat sepasang cincin polos berbahan perak yang sederhana. “Buat apa?” tanya Ara tak paham. “Biar kelihatan kayak pacaran beneran.” Jelas Raka sambil menyerahkan cincin itu pada Juna dan Ara. “Jangan dilepas-lepas biarpun gak ada kamera wartawan. Kamera paparazzi banyak yang berkeliaran.” “Hah-ngrepotin!” keluh Juna yang tak menolak mengenakan cincin itu. Jika dilihat-lihat, cincin sederhana itu terlihat sangat cocok dipakai keduanya. “Inget ya, Ra! Gak boleh ada orang yang tahu tentang kesepakatan ini. Bahkan orang tua atau sahabat kamu pun gak boleh tahu! Ini ada di kontrak.” pesan Raka yang diangguki Ara. “Lagian ayah sama ibu juga di kampung, kak! Seringnya ke sawah atau kebun, jarang nonton TV. Jadi gak bakal ketahuan dan nanya-nanya.” Jelas Ara yang semakin membuat Juna tak menyangka menemukan sosok langka seperti dihadapannya ini. “Paling yang bakal repot ngurusin pertanyaan Helen. Dia sahabat aku, sepupunya mas Reza Akbar. Aku harus jelasin gimana sama dia?” “Oh, jadi sepupunya Reza yang kemungkinan bawa Bella ke pesta itu?” batin Juna menebak-nebak. Ia juga masih enggan menyebut nama Arabella sebagai Ara, karena lebih menyukai panggilan Bella. Lagipula, itu terdengar spesial mengingat semua orang memanggilnya Ara. “Hhhmmm…karena kita bilang ke media kalau Juna punya pacar sejak setahun lalu, jadi kamu bilang aja hubungan kalian udah berjalan satu tahun. Cuma karena gak mau di publish, jadi kalian backstreet dari media. Selebihnya, kamu bisa improvisasi sendiri, kan?” Ara mengangguk mengerti. “Aku bilang pas mas Juna jadi BA Travelist aja gimana biar gak curiga?” “Nah! Boleh tuh! Pinter juga kamu ngarangnya, Ra.” Raka menjentikkan jarinya sambil terkekeh. “Udah beres semua, kan? Gue cabut, ya?” tanya Juna hendak beranjak pergi. “Kok lo ninggalin Ara? Anterin dong!” protes Raka. “Lo aja yang anter, gue mau ngegym!” “Gak bisa! Gue harus balik ke kantor ngurus jadwal kalian.” Juna menghela napasnya lelah namun ia masih menuruti perintah itu. “Yaudah! Cepetan, Bel!” “Ara!” “Terserah gue! Mulut, mulut gue!” “Tapi itu nama aku!” “Jalan sekarang atau gue tinggal beneran, nih?” “Iya, iya! Wayang!” “Ngatain nama gue?” Gadis itu mengedikkan bahunya acuh sambil beranjak dari duduknya. “Lo lupa kalo Arjuna itu yang paling ganteng dari Pandawa?” “Bodo!” Ara berjalan mendahului Juna yang langsung diikuti oleh pria itu. “Jangan lupa, besok jadwal kalian go public yang pertama kali, jadi bintang tamu di GKTV jam 7 malem!” Raka kembali mengingatkan sambil sedikit berteriak. Ara berhenti tiba-tiba hingga membuat Juna menubruknya dan mereka kembali saling menatap tajam mata lawannya. Tak lama kemudian Ara memutus pandangannya dari iris agak keabu-abuan dihadapannya dan beralih menatap Raka. “Apa aku harus ikut kak?” “Undangannya buat kalian berdua. Tenang aja, sebelum syuting aku bakal kasih briefing buat kamu!” Ara menghela napasnya kasar. Semua ini begitu tiba-tiba dan mengejutkan untuknya. “Kamu langsung berangkat dari kantor aja biar gak telat. Besok Juna bakal jemput kamu lagi!” Juna membalikkan tubuhnya dan menatap tajam Raka. “Kenapa gue yang jemput? Ogah!” “Biar netizen makin percaya kalo kalian pacarannya beneran, gak pura-pura!” Penjelasan Raka membuat Juna dan Ara kesal setengah mati. “Yaudah sana pergi! Keburu kemaleman.” Keduanya kembali beranjak dari hotel. Selama perjalanan menuju tempat tinggal Ara, tak ada pembicaraan apapun selain saat Ara menyebutkan alamatnya. Ara sepertinya lupa jika Juna sudah mengetahui semua detail tentang gadis itu. Tanpa diberi tahu pun Juna sudah mengetahui posisi pasti tempat tinggal Ara yang berada di daerah Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Mc Laren GT berwarna hitam itu berhenti tepat di depan kosan sederhana Ara. Tanpa basa-basi, Ara segera melepas sabuk pengamannya dan berniat segera keluar. Namun suara Juna menghalanginya. “Bisa gak lo pindah ke apartemen atau mana gitu yang lebih bagusan dikit?” tanya Juna dengan nada angkuh. “Ngapain kamu ngatur-ngatur dimana aku tinggal?” “Masa’ pacarnya superstar tinggalnya di kosan kumuh gini? Apa kata netizen ntar kalo mereka tahu?” “Kalo kamu malu, aku gak masalah kok buat gak jadi bantuin kamu. Tuntut aja aku ke polisi gak apa-apa!” sungut Ara yang tak ingin harga diri dan privasinya diinjak-injak. “Besok gue cariin apartemen yang agak bagusan. Gue bayarin, gak perlu mikir bayarnya gimana.” “Gak perlu, makasih!” “Gue maksa!” Juna menatap tajam Ara. “Seenggaknya selama kontrak kita berjalan.” Terlihat sekali jika Ara sedang menahan kekesalannya. Ia memang sangat membenci sosok sombong dan angkuh seperti Juna. Dan tak pernah sekalipun dalam mimpi terliarnya Ara akan berhubungan dengan pria seperti ini. Gadis itu tak menimpali permintaan Juna. Ia hanya segera keluar dari mobil dan menutup pintu mobil mewah itu dengan agak kasar. Langkahnya juga sedikit menghentak saat meninggalkan Juna bahkan tanpa berpamitan. Ia terlalu kesal untuk melakukan hal itu. “Kemasi barang-barang lo! Paling lama lusa gue pasti udah dapet tempat yang baru buat lo!” teriak Juna yang masih bisa didengar Ara. Namun wanita itu tak merespon dan segera menghilang di balik pintu kontrakannya. Tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil meninggalkan area pemukiman sempit itu. Sementara itu, dari balik pintu kontrakan Ara masih tetap berdiam diri. Mencoba mencerna semua hal yang terjadi begitu cepat. Siang tadi ia masih seorang Arabella karyawan Travelist dengan rutinitas padat seperti pekerja lainnya. Namun malam ini, ia bukan lagi seorang karyawan biasa, melainkan sudah menjadi pacar seorang bintang besar super sombong dan semaunya. Ya, meskipun hanya pacar settingan, tetap saja itu akan mengubah hidupnya. “Kenapa semuanya jadi serumit ini?” Ara menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menghela napas kasar. Sesaat kemudian ia segera membersihkan tubuhnya dan berusaha rileks.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN