06 Bohong

1710 Kata
Matahari telah munjukkan kuasanya meskipun waktu masih menunjukkan pukul 08.45 pagi. Jalanan juga telah penuh sesak kendaraan yang akan menuju ke lokasi untuk beradu nasib selama delapan jam kedepan, bahkan lebih. Suara klakson kendaraan saling beradu karena pengemudinya ingin segera sampai di lokasi yang mereka tuju. Bahkan para pejalan kaki pun melangkah dengan cukup cepat hingga benturan antara sol sepatu dengan jalanan menimbulkan bunyi tak-tak-tak berirama dan saling bersahutan satu sama lain. Ara adalah salah satu dari kerumunan hiruk-pikuk manusia yang akan menuju tempat kerjanya. Ia telah memasuki loby gedung berlantai lima puluh tersebut beberapa menit sebelum jam kerjanya di mulai. Bersama dengan karyawan perusahaan lain yang juga menggunakan gedung yang sama, Ara tengah berdiri didepan lift yang akan mengantarkannya menuju lantai kantornya berada. “Ra!” seru seorang teman Ara yang tak lain adalah Helen. Gadis berbeda dari divisi pemasaran itu langsung merangkul pundak sahabatnya dan bersama-sama menunggu lift mereka. “Gak mau cerita?” tanya Helen sedikit berbisik karena kondisi yang cukup ramai pagi itu. “Nanti aja, jangan sekarang!” jawab Ara seraya menampilkan senyum terbaiknya. “Oke! Gue tunggu, tapi lo harus cerita sedetail-detailnya!” balas Helen dengan nada mengancam. “Gue hampir mati penasaran semalem nungguin lo bales chat gue, eh ujung-ujungnya di read doang. Nyebelin lo!” “Biar kamu makin penasaran, Len!” gadis berusia dua puluh lima tahun itu terkekeh. “Eh, kamu Ara, kan? Yang kemaren di jemput Arjuna?” salah seorang karyawan lain yang tak begitu dikenal Ara menghampiri kedua sahabat itu. Wanita itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan yang disambut ramah oleh Ara. “Iya, kak.” Balas Ara. “Kamu beneran pacaran sama Arjuna?” Pertanyaan itu langsung membuat para karyawan lain mengalihkan fokusnya pada Ara. Perhatian itu sungguh membuat Ara tidak nyaman. Ia pun hanya bisa membalas dengan senyum yang agak dipaksakan tanpa berkata apapun. Senyuman itu seolah mengkonfirmasi pertanyaan setiap pasang mata yang juga ikut penasaran. Mereka kemudian heboh sendiri dengan spekulasi-spekulasinya yang langsung membuat Ara ngeri. Menjadi terkenal memang semenakutkan itu untuk orang yang tak terbiasa menjadi pusat perhatian seperti Arabella. “Wah, gak nyangka ternyata kita saku kantor sama pacarnya bintang besar.” “Sejak kapan kalian pacaran?” “Gimana aslinya Arjuna? Dia romantis, gak?” “Kenapa kalian baru publikasi sekarang?” “Kapan Arjuna jemput lagi mba’?” Pertanyaan-pertanyaan mereka tak hanya membuat Ara pusing, namun juga Helen yang berada disampingnya. Orang-orang ini ternyata bisa jadi sama ganasnya dengan para reporter di luaran sana. TING Selamatlah Ara dan Helen dari serbuan semua pertanyaan itu saat pintu lift yang mereka tunggu terbuka. Dengan memberikan senyum segan, Ara dan Helen berpamitan tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang cenderung mengintimidasi tersebut. Kedua sahabat itu menghela napasnya lega begitu memasuki lift. Untunglah didalam lift yang sesak itu tak ada orang yang menginterogasi Ara, karena rasa sungkan pada satu sama lain. Tak lama kemudian, sampailah mereka di lantai empat puluh tempat kantor mereka berada. “Gue tunggu cerita lo pas jam makan siang!” seru Helen saat Ara akan memasuki ruang divisi personalia. “Iya, iya. Sampai tuntas kalau perlu!” balas Ara sambil memutar kedua bola matanya kesal. Sementara Helen malah terkekeh seraya melanjutkan perjalanan menuju ruang divisinya berada. ===== Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang, saatnya jam istirahat setiap karyawan sehingga tidak heran jika setiap ruangan mulai sepi ditinggalkan penghuninya. Sementara ruang istirahat, pantry, serta kafetaria menjadi tempat berkumpul yang ramai. Namun berbeda dengan Ara dan Helen yang memilih membeli makanan secara delivery dan memakannya di sofa tamu ruang divisi pemasaran yang cukup sepi. “Jadi, lo mau cerita dari mana?” tanya Helen tepat setelah ia membuka bungkusan lalapan ayam goreng dihadapannya. “Gak makan dulu, nih? Ntar keselek loh!” “Gak, gue udah keburu penasaran. Jadi lo jangan mengalihkan pembicaraan terus!” “Tapi gue laper, Len!” protes Ara menunjukkan tatapan mata sayu memohon. “Gak ada, lo bisa cerita sambil makan! Keburu jam istirahat kita habis nih!” Helen tak mau tahu. “Huh, iya deh iya!” Ara menghela napasnya panjang. Sebelah tangannya membuka bungkusan nasi padang yang ia pesan sebelumnya. “Lo inget kan kalau tahun lalu Arjuna jadi BA kantor kita?” tanya Ara membuka pembicaraan. “Inget, lah! Gue sendiri yang ngajuin proposal ke managemennya dia dan beberapa kali meeting sama managernya.” Jawab Helen pasti. “Nah, pas itu kita gak sengaja ketemu beberapa kali terus lama-lama kenal, makin akrab dan jadian, deh! Cerita selesai!” tukas Ara memberitahukan cerita versi bohongnya. “Ketemu dimana?” Helen belum percaya sepenuhnya. “Di kantor!” jawab Ara cepat. Dalam hati sebenarnya ia merutuki dirinya sendiri yang bisa dengan mudahnya berbohong pada sang sahabat. Ia juga berharap Helen tidak curiga, pasalnya Ara bahkan tidak tahu kapan tepatnya Juna berkunjung ke kantornya setahun yang lalu. “Kok gue gak inget Juna pernah ke kantor kita?” Helen mengernyit heran. “Lo lupa kali! Beberapa kali dia kesini kok!” Ara harus meminta ampun pada Helen setelah semua kebohongan ini berakhir. Ia merasa menjadi sahabat terburuk saat ini hanya karena kontrak tak masuk akal yang disetujuinya kemarin malam. “Iya, kah?” Helen menopang dagunya dengan pandangan ragu. Sahabat Ara itu memang sosok yang pelupa, sehingga tidak heran jika Ara bisa dengan mudah mengelabuhinya. “Maaf gak pernah cerita sebelumnya. Kamu tahu kan aku gak suka jadi pusat perhatian. Gara-gara gak sengaja viral, mau gak mau Juna harus umumin hubungan kami ke publik. Padahal aku gak suka.” Terkutuklah bibir Ara yang begitu lancar berbohong tanpa ada sedikitpun kalimat berbelit yang terucap. “Tapi gue sahabat lo, Ra. Kenapa gak cerita dari awal-awal? Lo gak percaya gue bisa jaga rahasia?” protes Helen. “Bukan gitu, Len. Aku sama Juna emang udah setuju buat ketemu diem-diem tanpa bilang siapapun. Bahkan managemennya dia aja baru ketemu sama aku setelah video kita viral kemaren.” “Lo bahagia sama Arjuna? Dia baik kan sama kamu?” tanya Helen lagi. “Emm...baik kok, meskipun kadang nyebelin juga. Suka mancing adu mulut!” “Adu mulut yang,-” “Gak usah ngeres! Kita gak begitu!” sanggah Ara yang tahu maksud Helen. “Begitu juga gak apa-apa kok, Ra! Kalian kan pacaran, apa salahnya?” Helen terkekeh. Benar juga. Bukankah saat ini setiap pasangan terbiasa dengan hal itu? Bahkan lebih. Namun seorang Ara tak mungkin melakukannya. Selain minim pengalaman, hubungan mereka juga hanya sebatas kontrak yang akan berakhir enam bulan kemudian. Ara tak mungkin lupa akan hal itu. “Udahlah, gak perlu dibahas Len!” Ara mengibaskan sebelah tangannya, berkilah. “Ciee...malu nih ye yang punya pacar super keren dan terkenal!” Helen tak henti-hentinya menggoda Ara. “Tapi cocok kok sama lo, Ra. Serasi! Gue dukung banget.” Ara hanya bisa membalas dengan senyum yang dipaksakan. Ia benar-benar merasa sebagai sahabat terburuk saat ini karena telah membohongi wanita itu. Padahal selama ini Helen selalu mendukungnya dalam hal apapun. Namun karena kontrak sialan itu, Ara harus melakukan hal diluar prinsip hatinya. ===== Matahari mulai condong ke barat. Semburat oranye bercampur keunguan diufuk barat sebenarnya sangat cantik, andai saja orang-orang dikota megapolitan ini memiliki waktu untuk sekedar menikmatinya. Namun menurut sebagian besar orang hal itu hanya buang-buang waktu. Lebih baik mereka bergegas menyelesaikan pekerjaannya atau mempercepat langkah untuk pulang. Bagaimanapun perjalanan para pekerja untuk sampai ke peraduan masih cukup panjang. Mereka yang membawa kendaraan sendiri harus berkutat dengan kemacetan, sementara yang menaiki kendaraan umum harus betah berjubel dengan penumpang lain. Dan perjuangan itu sungguh tidak mudah. Biasanya Ara harus melalui semua itu. Namun hari ini berbeda karena lagi-lagi lobby kantornya seperti menjadi tempat fan meeting dadakan berkat kehadiran ‘kekasih’nya. Ara menghela napas kasar begitu menemukan pemandangan itu tepat setelah ia keluar dari lift bersama Helen. Arjuna melambaikan tangan yang dibarengi senyum merekahnya yang membuat para kaum hawa memekik heboh. Pria itu kemudian mengucapkan permisi pada para fansnya seraya membelah kerumunan untuk mencapai posisi Ara saat ini yang sedang memandangnya datar, padahal Helen sudah senyum-senyum malu disampingnya. “Bella!” sapa Juna dengan akting terbaiknya. Menurut Ara, Juna sangat layak mendapatkan oscar berkat kepiawaiannya mengelabuhi semua pasang mata saat ini. “Jangan, malu!” Ara menghalangi Juna yang akan mencium keningnya dengan telapak tangan. Apa pria itu lupa dengan perjanjian mereka, jika Ara tidak mau dicium? “Ah iya. Aku suka lupa diri kalau sama kamu.” Balas Juna begitu manis. Kalimat itu membuat para wanita yang mendengarnya menjadi semakin heboh. Namun Ara sendiri rasanya ingin muntah saat ini. “Ciee....manis banget sih kalian!” goda Helen disebelahnya. “Oh, ini temen kamu yang namanya...” “Helen. Namaku Helen, sepupunya Reza Akbar.” Helen melanjutkan kalimat ragu-ragu Juna. “Benar, Helen. Maaf suka lupa. Ingetnya sama Bella terus.” Uhuk Ara tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat paling menggelikan yang pernah ia dengar seumur hidupnya itu. Jika saja tak ada orang lain saat ini, mungkin Ara sudah menenggelamkan Juna ke sumur terdalam yang bisa ia temukan. Atau setidaknya gadis itu akan menendang tulang kering Juna agar pria itu sadar dengan ucapannya yang menurut Ara sangat norak tersebut. “Panggilan sayang, nih? Bella? Setahu gue Ara paling gak suka dipanggil Bella.” Helen berseloroh. “Buat orang lain, mungkin. Gue kan spesial,” balas Juna begitu percaya diri. “Yaudah, kita ngobrol lagi lain kali. Sekarang kita harus buru-buru karena ada acara.” “Hati-hati, ya!” seru Helen mengantar kepergian pasangan itu. Semua orang memuji betapa serasinya Juna dan Ara. Terlebih selama berjalan keluar kantor Juna sama sekali tak melepaskan pegangannya dari pinggang Ara yang terlihat begitu posesif. “Semoga langgeng, kak!” “Kalian idola kita!” “Couple goals, nih! Terus rukun, ya!” “Potek gue! Mana mungkin nyaingin pacarnya Juna.” Ucapan-ucapan itu terdengar saling bersahutan, membuat telinga Ara sebenarnya cukup panas. Namun anehnya Juna seolah semakin mempercepat langkahnya agar mereka tak lagi mendengar kalimat-kalimat itu. Begitu mencapai mobil Juna yang terparkir didepan lobby, keduanya langsung masuk dan bergegas menuju lokasi yang kemarin sempat disebutkan oleh Raka. Selama dalam perjalanan, topeng Juna kembali terlepas. Pria itu sama sekali tak mengajak Ara berbincang, menatap gadis itupun tidak. Ara juga tak berbeda jauh. Ia tak ingin berbasa-basi dengan Juna sedikitpun. Gadis itu lebih memilih memfokuskan pandangannya kearah luar jendela dan menikmati lalu-lalang orang yang akan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN