“Aku udah mintain list pertanyaan buat kalian nanti. Kalau gak ada di list, kalian bisa improvisasi atau ngelak juga boleh. Senyamannya kalian aja nanti gimana!” seru Raka yang saat ini memberikan briefing untuk Juna dan Ara di ruang tunggu stasiun TV.
“Kak, apa gak sebaiknya kita samakan jawaban dulu biar ntar gak bingung?” tanya Ara serius. Saat ini tim make up managemen Juna sedang memoles wajahnya yang terlihat sedikit kelelahan akibat bekerja seharian. Sementara Juna tak memperhatikan dan asik memainkan ponselnya.
“Jun,-” panggil Raka dengan nada halus. Namun pria yang dipanggil tersebut hanya berdehem saja tanpa menoleh sedikit pun hingga membuat Raka gemas. “Dipanggil tuh noleh, kenapa?”
“Gue denger kok! Ngomong aja!” balas Juna cuek.
Raka mendengus seraya menengok kegiatan Juna yang langsung membuatnya menepuk jidat karena kesal.
“Lagi mabar rupanya, dia!”
“Sebenernya yang butuh ini tuh siapa sih, kak?” tanya Ara kesal.
“Aaarrrggghhh...berisik lo! Kalah kan gue!” Juna menghempaskan tubuhnya keatas sofa dengan tangan yang masih menggenggam ponsel pintarnya.
“Kok jadi aku yang disalahin?” Ara semakin kesal.
Juna tak menanggapi dan hanya menatap Ara seolah laser memancar dari iris berwarna keabu-abuan tersebut. Namun bukannya terintimidasi, Ara malah memutar kedua bola matanya jengah.
“Udah-udah, jangan debat terus! Bener kata Ara, mendingan kita cocokin jawaban, Jun!”
Raka menarik lengan Juna dan membuatnya duduk di samping Ara. Dengan gerakan yang terlihat ogah-ogahan, Juna menuruti perintah managernya tersebut. Tanpa sengaja ia menolehkan kepala dan pandangannya bertemu dengan Ara melalui pantulan cermin dihadapan gadis itu. Selama beberapa saat keduanya saling mengunci tatapan mereka dengan tajam. Hingga akhirnya Ara berkedip dan memutus pandangannya pada Juna seraya menunduk.
“Ehem.”
Juna membersihkan tenggorokannya yang tiba-tiba terasa kering dan mengalihkan pandangan pada Raka yang ada disampingnya.
“Air kak, haus!” pinta Juna sambil mengulurkan tangannya.
Salah seorang asisten Juna menyodorkan botol air mineral yang langsung ditenggak oleh Juna hingga tersisa separuh.
“Siap?” tanya Raka kemudian yang dibalas anggukan Juna serta Ara. “Jadi nanti,-”
=====
Suara tepuk tangan meriah terdengar membahana begitu pasangan yang baru saja viral itu memasuki studio acara talkshow yang mengundang mereka. Juna tampak begitu gagah meski hanya mengenakan kaos oblong yang ditutup jaket denim serta bawahan denim yang hampir serupa.
Sementara Ara terlihat sangat elegan dengan dress berlengan pendek sepanjang lutut berwarna burgundy. Make-up natural dengan tatanan rambut yang hanya digerai dengan menambahkan volume membuat penonton pria yang di studio jadi terkesima.
Melihat reaksi penonton yang seperti itu, Juna melepaskan gandengan Ara di lengannya dan mengubah posisi menjadi memeluk pinggang gadis itu. Terlihat begitu posesif yang membuat penonton semakin heboh. Sementara Juna menampilkan wajah cueknya, Ara mati-matian menahan malu. Pasalnya ini adalah pengalaman pertama gadis itu muncul didepan kamera dan ditonton puluhan orang secara langsung.
“Selamat datang Arjuna Rahendra dan kekasih! Belum mulai aja udah mesra banget loh ini sama pacar.” Komentar salah satu pembawa acara yang bernama Lalita seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Uluran tangan itu langsung disambut senyum manis Ara dan senyum sekilas Juna. Semua orang sudah paham dengan perangai Juna yang selalu terlihat dingin dan misterius dalam berbagai kesempatan.
“Boleh dong dikenalin pacarnya mas Juna!” pinta Lalita setelah kembali duduk di balik meja presenter.
“Selamat malam semuanya!” Juna mengawali dengan sapaan yang langsung dijawab setiap penonton.
“Kenalin pacar aku, Arabella Putri. Jangan panggil Bella karena cuma aku yang boleh. Kalian panggil Ara aja!” seru Juna memperingatkan.
“Selamat malam semuanya.” Ara ikut menyapa dengan senyum malu-malu.
“Wah, manis banget sih ini Ara. Eh, aku boleh panggil Ara aja ya, gak usah pake’ embel-embel mbak atau kak. Kamu masih keliatan kayak remaja soalnya. Umur berapa sih?” Lalita memberikan pertanyaan bertubi-tubi.
“Iya, gak apa-apa, kak. Panggil Ara aja langsung.” Balas Ara tenang. “Aku bukan remaja kok kak Lita, umurku udah 25.”
“Beneran? Awet muda ya kamu! Perawatannya pasti mahal nih!”
Ara terkekeh. “Enggak kok kak, biasa aja.”
“Buat mas Juna nih! Kenapa Ara baru dikenalin sekarang? Nunggu viral dulu apa gimana?”
“Sebenarnya aku bahkan cukup maksa Bella buat mau tampil disini, karena dia memang sangat pemalu. Makanya selama ini kita backstreet.”
“Netizen seneng banget loh liat kalian berdua. Udah tahu dong kalau kalian disebut-sebut sebagai couple goals sampek ada hari patah hati nasional juga?” tanya Lalita lagi yang membuat Juna tertawa sementara Ara hanya menunjukkan senyum simpul canggungnya.
“Terima kasih atas dukungannya.” Balas Juna tanpa menjawab pertanyaan sang presenter.
“Kita ke pertanyaan yang lebih pribadi nih, boleh kan ya? Apa sih dari Ara yang buat mas Juna jatuh cinta? Sebaliknya, apa yang istimewa dari mas Juna yang disukai Ara?” tanya Lalita yang membuat Juna dan Ara saling berpandangan. “Siapa dulu nih yang mau jawab?”
“Seperti namanya, Bella itu cantik.” ujar Juna tanpa mengalihkan pandangannya dari netra Ara.
“Arjuna tampan.” Ara ikut menimpali.
“Polos,” Juna menggenggam tangan Ara. “Terlalu polos sampek kayak hidup di zaman batu.”
“Berwawasan luas,” Ara tersenyum pada Juna. “Kayak penguntit yang bisa dengan mudahnya nemuin aku.”
“Gampang nolong orang lain,” tambah Juna tanpa melunturkan senyumnya. “Sampek ngira gue mau bunuh diri!”
“Tekatnya kuat,” gadis itu tak mau kalah dengan Juna yang menatapnya tepat pada manik matanya. “Pemaksa!”
“Enak diajak ngobrol,” lanjut Juna. “Berisik!”
“Pemikiran kita sering sama,” Ara mengangguk. “Cepatlah berakhir kontrak ini!”
“I love you, Bell!” Juna menutup dengan menampilkan senyum terbaiknya. “In your dream.”
“I love you too, Jun!” Ara membalas dengan terpaksa.“Toilet dimana nih? Mau muntah!”
“Ya ampun, kalian manis banget sih! Kita bisa diabetes ini lama-lama dibikin baper begini!” komentar Lalita gemas. Para penonton pun terlihat tersenyum malu-malu menatap pasangan pura-pura dihadapan mereka.
Acara pun terus berlanjut hingga sekitar tiga puluh menit mereka berada disana. Keduanya undur diri lebih awal dikarenakan Ara yang memang semakin terlihat tidak nyaman dengan semua perhatian yang ia dapatkan dari penonton. Seorang introvert sepertinya memang harus memaksakan diri untuk bisa bertahan lama ditengah-tengah keramaian seperti itu.
=====
“Lo cocok jadi aktris, gak mau coba aja?” tanya Juna pada Ara yang duduk disampingnya.
Saat ini hanya ada mereka didalam mobil Mc Laren berwarna hitam milik Juna. Tadi Raka kembali memaksa pria itu untuk mengantarkan Ara pulang karena hari semakin larut. Lagipula terlalu banyak kamera di sekitar stasiun TV. Jika keduanya pulang sendiri-sendiri maka akan meningkatkan kecurigaan orang-orang disekitar.
“Bukan urusan kamu!” jawab Ara sinis. Gadis itu kembali mengamati jalanan yang masih padat diluar meski waktu telah menunjukkan pukul 9 malam.
Juna memutar bola matanya. Ia menyesal mengajak Ara berbasa-basi selama perjalanan. Respon gadis itu sungguh membuatnya kesal. Akhirnya ia pun ikut mendiamkan Ara sepanjang perjalanan. Untuk menghalau rasa bosan, pria itu kemudian memutar musik dengan alunan lembut. Terdengar sebuah lagu milik Urban Zakapa berjudul I don’t love you mengisi setiap sudut mobil mewah tersebut.
Merasa mengenali lagu yang diputar Juna, mau tak mau rasa penasaran Ara menggugahnya untuk menatap pria yang duduk dibalik kemudi tersebut. Ia mengernyit heran dengan lagu pilihan Juna yang menurut sangat bukan Arjuna.
“Kok tahu lagu ini?” tanya Ara yang memang menyukai lagu-lagu bergenre ballad terutama yang berasal dari negeri gingseng, Korea Selatan.
Bak seorang anak kecil, Juna membalas Ara dengan hanya mengedikkan bahu tanpa menjawab pertanyaan tersebut.
“Aku suka lagu ini.” Ujar Ara dengan senyum sumringah menatap jalanan didepannya seraya menggumamkan setiap kalimat dalam lirik lagu tersebut.
“Sampek hafal begini dia meskipun liriknya bahasa Korea?” batin Juna takjub.
“Kamu tahu gak artinya lagu ini?” pertanyaan Ara lagi-lagi tak dijawab oleh Juna yang lebih memilih untuk fokus menyetir.
“Musiknya sih emang ballad dan nadanya kedengeran sedih. Tapi liriknya jahat banget. Dia mutusin pacarnya karena memang dari awal gak suka. Udah gitu tanpa ada rasa menyesal sedikitpun. Ngeselin banget, kan? Kalau memang gak suka, kenapa pacaran? Buang-buang waktu aja.” Jelas Ara panjang lebar.
“Kayak kita.” Gumam Juna yang terdengar jelas di telinga Ara.
Gadis itu langsung terdiam. Ia baru menyadari jika posisi mereka hampir tak ada bedanya dengan lagu tersebut.
“Kamu sengaja milih lagu ini, ya?” Ara menyelidik.
Namun Juna malah kembali mengedikkan bahunya tak mau tahu. “Gue bahkan gak tahu itu lagu apa?”
“Terus gimana kamu bisa muter lagu ini?”
“Asal milih. Gak tahu siapa yang masukin ke playlist.”
“Ya pasti kamu, lah. Memangnya ada orang lain yang pakai mobil ini selain kamu?”
“Sok tahu!”
Juna membelokkan arah kemudinya ke arah kiri, arah yang berlawanan dengan lokasi kontrakan Ara di Jakarta Selatan. Hal itu sontak membuat Ara membulatkan matanya karena terkejut.
“Mau kemana? Lenteng Agung kan gak lewat sini, mas!” protes Ara tajam.
“Udah gak usah berisik! Ikutin gue aja!” Juna menegaskan.
“Ya tapi mau kemana? Ini udah malem, besok aku harus kerja! Jangan-jangan kamu mau macem-macemin aku, ya?” Ara menuduh dengan memicingkan matanya.
“Dih, pede banget lo! Gak napsu gue sama yang pepres kayak lo begini!”
Ara kesal, marah, dan tersinggung. Seumur-umur belum pernah ada pria yang mengatai fisiknya. Kalaupun ada yang berkomentar, pasti karena penampilannya yang alami dan natural.
“Hati-hati kalau ngomong! Itu pelecehan dan termasuk seksisme, aku gak suka!” Ara membalas tajam cemooh Juna yang melukai hatinya.
“Baperan!”
“Sekali lagi kamu terus cemooh aku, aku bisa batalin semua perjanjian kita dan nyebarin semua ini ke media. Konsekuensi urusan belakang, karena aku tersinggung saat ini!” gadis itu mulai berani mengancam. “Minta maaf dan anterin aku pulang sekarang, atau aku turun paksa disini dan kepura-puraan kita selesai!”
Arjuna memutar bola matanya menganggap ancaman Ara sebagai angin lalu.
Gadis itu melepas sabuk pengaman ditubuhnya, kemudian meraih handle pintu mobil yang masih berjalan dengan kecepatan sedang tersebut. Air mukanya terlihat memerah karena rasa kesal yang memenuhi dirinya. Ia bahkan tak peduli jika pria itu menganggapnya baperan atau terlalu sensitif, namun begitulah Ara. Tak ada orang yang boleh menyinggung perasaannya sedikitpun.
“Aku serius, pilih salah satu! Minta maaf atau perjanjian kita batal?”