Berhasil Melarikan Diri

1361 Kata
“Kita akan pergi ke mana?” tanya Bram masih dalam perjalanan bersama Alya yang saat ini duduk di sampingnya. “Mall Taman Anggrek boleh, lokasinya tidak terlalu jauh.” “Mall Taman Anggrek?” Kening Bram mengerut. “Kamu sakit?” “Kenapa memangnya?” dia yang sedang sibuk dengan handphonenya, menoleh ke arah Bram. “Kita ini ada di Jakarta Pusat, dan kamu bilang Mall Taman Anggrek adalah mall terdekat? Kamu sakit? atau sedang mabuk?” terang Bram melirik sekilas, sebelum akhirnya kembali fokus pada padatanya lalu lintas jalanan ibu kota. “Iisshh.” Alya mendesir. “Anda ini kenapa sih? Mau ke mall mana pun terserah saya dong. Anda ditugaskan oleh tuan Reyhan untuk mengantar saya, bukan untuk protes.” “Dengar ya anak kecil, saya punya tanggung jawab penuh atas diri anda, permintaan anda yang meminta berbelanja di Mall Taman Anggrek itu membuat saya curiga, jangan-jangan anda sedang merencanakan sesuatu.” Bram melayangkan tuduhan benar, dan Alya memilih Mall Taman Anggrek jelas bukan tanpa alasan, pasalnya lokasi di sana sangat strategis untuk ia melarikan diri. "Jangan asal menuduh ya, Tuan Bram. Saya punya alasan lain kenapa memilih mall itu." "Kenapa?" tanyanya lagi. "Karna mewah. Saya tidak pernah masuk ke dalam mall mewah seperti Mall Taman Anggrek. Menyedihkan bukan?" Bram mendelik curiga dengan alasan yang ia dengar. "Anak kuliahan seperti kamu tidak pernah masuk mall mewah?" ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Saya tidak percaya." "Ya sudah kalau tidak percaya. Saya juga tidak memaksa anda untuk percaya," ucap Alya kembali disibukkan dengan ponselnya yang sedang berbalas pesan dengan seseorang. Bram menggelengkan kepalanya tidak perduli. “Terserah akan pergi ke mana, tugasku hanya mengawasi gadis ini untuk berbelanja. Jangan sampai aku kecolongan, apa lagi sampai dia melarikan diri, karena kalau sampai hal itu terjadi, maka habislah riwayatku.” Gumam Bram dalam hati. *** Universitas Pendidikan Indonesia, tempat di mana Alya kuliah. Beberapa teman Alya merasa kehilangan dengan sosok sahabat yang begitu ceria, dan sudah lebih dari satu bulan ini mereka tidak pernah lagi dipertemukan. Dari keterangan yang mereka dapat, Alya mengambil cuti kuliah selama satu tahun dengan alasan akan bekerja di luar negeri bersama rekan kerja sang paman. Teman-teman Alya yang kritis, tidak percaya begitu saja, pasalnya cuti yang Alya ambil terkesan mendadak, bahkan dipertemuan terakhir mereka pun, Alya tidak berkata apa-apa. Karena curiga, Ella bersama Dimas terus mencari tau kebenarannya. “Gue aneh deh, si Alya sebenernya ke mana sih?” tanya Ella kepada sahabatnya Dimas, yang saat ini sedang menikmati minuman dingin di kafe tempat Alya bekerja. “Gue juga bingung, semua sosial media dia nggak ada aktivitas sama sekali selama satu bulan ini, sedangkan lo tau sendiri kan dia itu paling narsis kalau masalah update status, mau itu WA, IG, atau sss,” saut dimas seraya menyeruput esnya, nampak Ella kembali berfikir akan mencari Alya ke mana lagi setelah melakukan pencarian ke beberapa tempat, bahkan sampai mencari ke tempat di mana Alya bekerja. Baru saja mereka saling diam, tiba-tiba ponsel milik Ella yang yang diletakkan di atas meja, berdering. “Siapa?” tanya Dimas saat Ella meraih ponsel itu, sedangkan Ella malah menggidikkan bahunya, tidak tahu. Ella coba mengabaikan panggilan itu, tetapi dering panggilan masuk tidak mau berhenti, terus dan terus berbunyi, hingga akhirnya ia pun menjawab panggilan itu. “Halo...” “Ella...” panggil seseorang di seberang sana, yang suaranya sudah tidak asing lagi di telinga. “Alya?” Pun di kediaman Reyhan. Lastri yang kebetulan sedang beres-beres, terkejut mendapati tumpukan sampah di belakang dapur begitu menggunung, karena penasaran, ia pun membuka tumpukan sampah tersebut. “Apa sih ini?” Bertanya pada diri sendiri seraya membuka ikatan yang cukup kuat. “Apa? sayuran? Sebanyak ini?” kening Lastri mengerut. Sayuran itu terlihat masih sangat segar, bahkan setelah beberapa jam ada di luar dengan suhu udara panas. Bukan hanya bayam, semua jenis sayuran yang masih sangat segar berada di atas tumpukan sampah. Merasa ada kejanggalan, Lastri pun kembali ke dalam, ingin melaporkan keanehan itu kepada sang majikan, Annisa. "Nyonya," panggil Lastri saat melihat sang majikan memijakkan kakinya di atas anak tangga hendak naik ke lantai atas. Annisa menoleh, menyahuti panggilan Lastri. "Ada apa, Bi?" "Maaf menganggu," ucapnya tertunduk hormat. "Tidak. Katakan ada apa?" "Itu, Nyonya. Saya mau tanya. Apa Nyonya sengaja membuang sayuran ke dalam tong sampah belakang?" tanya Lastri sangat hati-hati. “Saya tidak membuang apa-apa, Bibi tau sendiri kemarin saya sibuk sama Mas Reyhan," Saut Annisa yang tidak tahu apa-apa. Pasalnya setelah kehadiran Alya di rumah itu, Annisa sudah jarang beraktivitas di dapur, dan banyak menghabiskan waktu bersama sang suami. “Lalu siapa yang membuang sayuran ke dalam tong sampah, Nyonya.” tanya Lastri semakin terheran. Tidak mungkin tukang kebun atau orang lain, karena semua pekerja yang bekerja di rumah itu sudah memiliki tugasnya masing-masing. Annisa menggidikkan bahunya, "Tidak tau." “Ada apa?” tanya Reyhan yang kebetulan melintas. Penasaran dengan obrolan sang istri bersama Lastri, ia pun berjalan menghampiri mereka. Lastri bergerak ke samping, sebelum menjawab pertanyaannya dari tuannya. “Anu, Tuan. Stok sayuran di rumah ternyata bukan habis, tapi ada orang yang sengaja membuangnya.” “Sengaja? Siapa?” tanya Reyhan terheran. “Saya tidak tau, Tuan.” “Ya udah lah, Bi. Biarin aja, mungkin dia nggak tau kalau sayuran itu masih seger," sambar Annisa lagi. “Nggak tau? Sekelas pembantu pasti tau kalau sayuran itu masih bagus untuk diolah,” batin Lastri terheran. “Udah, bibi nggak usah mikirin itu, kan Alya lagi ke mall beli kebutuhan dapur.” Menyebut nama Alya, tiba-tiba Reyhan langsung teringat dengan kejadian janggal pagi ini. “Sayuran segar dibuang? Alya bersedia pergi ke mall untuk membeli keperluan dapur tanpa penolakan, lalu wajah itu? tidak biasanya Alya mengembangkan senyum begitu bahagia, padahal pagi tadi ..." batin Reyhan bergumam, ucapannya mengambang bersamaan dengan pikiran buruknya. Tanpa berkata apa-apa lagi, Reyhan kembali ke ruang kerjanya, lalu menghubungi Bram untuk memastikan pikiran buruk mengenai Alya tidak benar-benar terjadi. “Di mana?” tanya Reyhan sambil berkacak pinggang di depan meja kerjanya, memasang wajah panik, seakan ia tahu akan ada kejadian apa setelah ini. “Masih di mall, Tuan,” jawab Bram. “Gadis itu?” tanyanya lagi. “Sedang di toilet.” “Bodoh!” suara Reyhan menggema di setiap sudut ruangan. “Siapa yang suruh kamu meninggalkan gadis itu? Sudah saya katakan, jangan lengah!” hardik Reyhan. "Saya tidak lengah, Tuan. Dia ada bersama saya sejak tadi. Hanya saja saat ini Alya sedang berada di dalam toilet." "Dan kamu meninggalkan dia di dalam toilet sendirian?" Bram bergeming, terkejut dengan pertanyaan gila sang majikan. "Bram!" panggil Reyhan kembali membentak. "Iya, Tuan." "Cepat cari dia!" "Tapi, Tuan. Gadis itu ada di dalam toilet wanita," perintah gila dari sang majikan membuat Bram kebingungan. "Saya tidak mau tau. Cepat cari dia! kalau sampai gadis itu tidak ada, bersiaplah mendapatkan hukuman dari saya," ancam Reyhan. “Maaf, Tuan. Saya akan mengecek keberadaan gadis itu sekarang.” Reyhan kesal, langsung memutus sambungan telepon sepihak. “Kalau sampai gadis itu melarikan diri, aku tidak akan melepaskan mu, Bram." Menggerutu seraya melempar ponselnya ke atas sofa, ia mendudukkan diri di sana, sambil menunggu kabar dari Bram. Bram yang panik setelah mendapat telepon dari sang majikan, langsung mencari keberadaan Alya di dalam toilet wanita, menahan rasa malu demi memastikan kalau wanita yang begitu dicintai oleh majikannya ada di dalam sana. “Nggak tau malu lo ya masuk toilet cewek,” bentak salah satu pengunjung saat Bram menyeruak masuk, seraya mengetuk pintu satu persatu, juga memanggil nama Alya. Beberapa wanita di sana memukul Bram, karena geram tidak mengindahkan teriakan mereka, hingga akhirnya Bram pun keluar dengan didorong oleh beberapa wanita yang ada di dalam toilet tersebut. “Sial.” Bram mendengus, dia benar-benar sudah kecolongan, gadis itu cukup pintar sehingga ia berhasil mengelabui Bram yang terbilang sangat teliti, juga hati-hati. Alya terus berlari menuruni anak tangga darurat dari lantai empat menuju lantai dasar, lalu bersembunyi dibalik pohon, sambil menunggu dijemput oleh teman-temannya yang bernama Ella juga Dimas. Sedangkan dia yang Kehilangan jejak Alya, segera menghubungi sang majikan, untuk memberikan laporan. “Alya kabur lagi, Tuan.” “Bodoh. Apa aku bilang, jangan lengah.” “Maaf, Tuan.” "Berhenti meminta maaf. Cepat cari dia!" "Baik, Tuan."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN