Tidak Ada Ampun

1289 Kata
“Alya!” Seseorang berteriak dari kejauhan sambil melambaikan tangan. Siapa lagi kalau bukan sahabatnya, Dimas dengan Ella yang sempat dihubungi oleh Alya saat Bram lengah. Alya yang melihat mereka sudah ada di seberang jalan, langsung melambaikan tangan, berlari menghampirinya. “Alya, lo ke mana aja?” tanya Ella sambil berpelukan. “Kita kangen sama lo tau nggak.” "Gue juga kangen banget sama kalian," saut Alya, lalu melepaskan pelukannya. "Loe ke mana aja sih? bikin kita khawatir aja deh." kali ini Dimas yang bertanya. “Ceritanya panjang, nanti deh gue ceritain,” saut Alya dengan nafas terengah-engah setelah berlari cukup jauh. “Terus kita sekarang mau ke mana?” tanya Dimas. “Ke mana aja, yang penting bukan ke rumah om gue.” Ella mengangguk. “Ok, kalau gitu lo ke rumah gue aja, ya. Kalau ke rumah Dimas kan nggak mungkin." “Gue setuju, yang penting sekarang cepet bawa gue pergi dari sini," pinta Alya sambil melihat sekitar, khawatir Bram menemukan keberadaannya. Tidak menunggu waktu lama, mereka pun bergegas pergi menaiki mobil milik Dimas menuju kediaman Ella. Di dalam mobil Alya menceritakan semua kejadian buruk yang menimpa dirinya. Mulai dari dijadikannya sebagai jaminan hutang, sampai ungkapan cinta yang diam-diam Reyhan katakan saat Alya pura-pura tidur. “Apa? Lo dijadikan jaminan sama om lo?” tanya Ella, begitu terkejut setelah mendengar penjelasan dari sahabatnya, Alya. Alya mengangguk. “Iya, dan parahnya lagi, padahal dia itu udah punya istri, juga satu anak yang berusia empat tahun. Kan gila itu namanya.” “Wah. Bener-bener sakit itu orang. Udah itu om lo kok tega ya jadiin lo jaminan hutangnya?” “Iya, El. Dan sampai sekarang om gue belum menebus hutangnya, alhasil gue yang ditahan sama pria b******k itu," ungkap Alya lepas menceritakan semuanya. “Terus gimana sekarang? Loe kabur kayak gini apa nanti om lo nggak kena masalah juga?” “Iya, Al. Ntar keluarga loe diapa-apain lagi," timpal Dimas yang saat ini sedang fokus mengemudi. “Om gue nggak ada di Jakarta, dia pindah tugas nggak tau ke mana,” saut Alya, seraya menyandarkan tubuh pada sandaran jok, merasakan betapa lelahnya dengan kejadian hari ini. “Udah lo tenang aja. Ada kita-kita bantuin lo.” “Thanks ya, Ell," ucapnya seraya mengusap tangan Ella yang sedang memegang lengannya. “Lagian utang om lo berapa sih? Siapa tau kita berdua bisa patungan buat nebus lo.” “Banyak, Ell. Banyak banget.” “Berapa?” tanyanya lagi penasaran. “Dua triliun.” Mulut Ella menganga mendengar angka yang disebutkan oleh sahabatnya. “Wah. Ini sih lebih gila lagi, dua triliun, Dim. Lo punya uang sebanyak itu?” kata Ella kepada Dimas. “Jual kolor bokap gue dulu baru ada,” Ledek Dimas, membuat mereka terkekeh. “Kampret lo, Dim.” Alya memukul bahu Dimas dari belakang, sampai ia meringis. “Aduh. Perih banget tangan lo, Al. Udah kayak tenaga laki," ucap Dimas sambil mengusap bahu yang baru saja dipukul. “Wajar. Gue kerja di rumah itu sebagai pembantu tanpa bayaran, gue udah biasa gunain ini tangan buat bekerja keras, asal lo tau,” ungkap Alya kesal. Apa lagi mengingat perlakuan Reyhan terhadap dirinya tadi pagi buta di dalam kamar mandi. “Aset gue, sesuatu yang sangat berharga,” batin Alya membayangkan saat tangan kekar itu menyentuhnya dengan sangat kasar, tanpa melepaskan pautannya. “Aaaa... rasanya pengen bunuh itu orang, seandainya di dunia ini nggak ada hukum membunuh, dia pria pertaman yang bakal gue bunuh," sungut Alya mendengus kesal. “Pantesan tangan lo berasa perih,” seloroh Dimas membuat dua gadis yang duduk di jok belakang kembali terkekeh. Asik bercanda, tiba-tiba Dimas menginjak pedal rem sangat kuat, sehingga suara decitan terdengar jelas, bahkan kedua wanita itu tersungkur ke depan. “Dim. Giman sih lo?” Ella mendengus. Dimas terdiam saat ada salah satu pria bertubuh tinggi kekar keluar dari dalam mobil mengenakan jas hitam, berjalan cepat menghampiri mereka. “Alya. Itu siapa?” tanya Dimas tanpa mengalihkan pandangannya dari depan. Alya yang sempat tersungkur pun membetulkan posisi duduknya, melihat ke depan. “Sial.” “Kenapa, Al?” tanya Ella. “Dia asisten tuan Rey.” “Tolongin gue, Dim, El! Gue nggak mau ikut dia lagi," lontar Alya ketakutan. Bram terus berjalan hingga akhirnya ia pun berdiri di depan pintu samping kemudi, mengetuknya sampai beberapa kali. “Gimana, Al?” Dimas kebingungan harus bagaimana, sedangkan pria itu terus mengetuk pintu mobilnya. “Bawa gue pergi. Cepat injak pedal gas!” perintah Alya, Dimas pun langsung menginjak pedal gas, memutar stir mobil demi menghindari mobil yang ada di depannya. Namun, baru saja mobil akan melaju, tiba-tiba seseorang keluar dari mobil di depan mereka, berdiri tegak menghalangi jalan tanpa takut tertabrak, sehingga mau tidak mau mobil Dimas pun kembali berhenti. “Tuan Rey?” Alya terkejut mendapati Reyhan di depan mobil Dimas. Begitu mobil Dimas berhenti, Bram langsung melayangkan balok hendak memecahkan kaca kalau merek tidak mau membuka pintu dan tidak mau menyerahkan Alya kepadanya. Melihat balok di depan mata, Dimas yang ketakutan pun akhirnya membuka kunci semua pintu. Reyhan yang sudah ada di samping kiri badan mobil, langsung membuka pintu, menarik paksa Alya untuk keluar. “El, Dim, tolongin gue!” Alya berteriak, sambil berusaha melepaskan tangan dari genggaman Reyhan. “Dim. Lo kan cowok, jangan diem aja dong. Tolongin si Alya,” berang Ella. “Lo gila apa? Lo nggak ngeliat balok segede itu di depan mata, lo mau gue mati dihajar tuh orang?” hardiknya menjadi serba salah. Antara takut, tetapi kasihan melihat sahabatnya dibawa paksa oleh pria mengerikan. “Lepaskan aku!” Alya terus berontak memukul tubuh Reyhan, saat kedua tangan pria itu berusaha menahan dengan memegang bahu Alya. “Diam!” Suara Reyhan membentak. “Aku tidak akan diam.” Alya yang memiliki keberanian tingkat dewa itu pun berteriak sambil menatap tajam. “Berani sekali kamu.” “Aku tidak takut. Sekali pun kamu menodongkan pistol di kepalaku, aku tidak akan pernah takut,” serunya dengan napas terengah-engah, wajahnya memerah menahan emosi. Kesal dengan sikap Alya yang terus membangkang, Pria kejam yang saat ini sedang tergila-gila padanya itu pun langsung menggendong tubuh mungil Alya dengan mudahnya. Dengan sangat kasar Reyhan menghempaskan tubuh Alya ke dalam mobil, sedang Bram yang masih memegang kayu balok, berjalan mundur menuju mobil, lalu masuk seraya melempar balok itu ke sembarang arah. Wilayah yang mereka lalui sepi dari warga yang melintas, memudahkan aksi Bram tanpa perlawanan dari siap pun. Ia segera menginjak pedal gas, pergi meninggalkan tempat tersebut. "Lepaskan aku!" gadis itu tidak berhenti berteriak, terus memukul Reyhan sekuat tenaga. Dia yang saat ini kesabarannya sedang diuji oleh perlawanan seorang gadis berusia dua puluh tahun itu, langsung membekam mulut Ayla dengan mulutnya. Terus berontak, semakin gadis itu melakukan perlawanan, aksi Reyhan semakin menjadi, membuat Alya harus bersikap lebih, hingga akhirnya ia pun mendorong tubuh Reyhan, lalu melayangkan satu tamparan tepat di pipi sebelah kanannya. "Pria tidak tau malu, tidak punya perasaan, berhenti menciumku! aku tidak sudi." Suara Alya menggema, menampakan keberanian yang sangat besar, berusaha menyembunyikan perasaan takut yang sedang ia rasakan. “Mati aku,” batin Alya, tubuhnya gemetar ketakutan. Tamparan itu cukup keras, bahkan Bram pun langsung melirik ke belakang sekilas untuk memastikan keadaan tuannya. Bukan karena sebuah tamparan, melainkan karena amarah seorang Reyhan, juga hukuman yang akan gadis itu terima. “Bram.” Baru mendengar satu kalimat saja, rasa takut semakin menyeruak ke dalam jiwanya, membuat tubuh mungil itu semakin gemetar ketakutan. “Iya, Tuan?” saut Bram melirik dari kaca spion yang menggantung. “Bawa kita ke hotel!” titah Reyhan tanpa mengalihkan pandangannya dari gadis yang saat ini masih membungkam mulut dengan tangannya. “Baik, Tuan,” jawab Bram. “Hotel?” kata Alya ketakutan setengah mati. “Kamu akan menerima hukuman di sana. Jadi, bersiaplah.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN