"Pssstttt! Cha, aman!" bisik Oh Kam Pret lirih. Dia melambai-lambaikan tangannya, mengajakku masuk ke ruangan kantor. Oke, aku tahu ini sudah malam. Dan aku kemari bukan gegara mau lembur. Tapi karena mau numpang tidur. Paling enggak malam ini saja. Aku dan Oh Kam Pret dengan cerobohnya memutuskan minggat berdua. Nah, daripada terlunta-lunta di jalanan, kami memutuskan tidur di kantor. Miris betul kami. Ini namanya minggat membawa sengsara. "Ternyata minggat bisa membawa nikmat," gumam Paman mudaku riang, aku mendelik kesal padanya. "Nikmat apa?! Kita ini udah kayak gelandangan, Kang Pek!" sahutku gusar. "Gelandangan elit yang kasmaran," kekeh Oh Kam Pret geli. Dia mendekatiku dan memelukku dari belakang. Tangannya yang nakal mengelus perutku, terus naik keatas. Dia meremas

