Penegasan

1773 Kata
Revita: Van, gue Revita. Sorry minta nomor lo tanpa seizin dari lo. Gue cuma mau ngembaliin jaket. Revita meletakkan ponselnya di atas meja. Entah kenapa napasnya kian sesak dengan keringat dingin yang meluncur dari pelipis. Selalu saja lebay seperti ini. Tubuhnya bereaksi terlalu berlebihan, walaupun sekadar mengirim sebuah pesan teks pada orang berkelamin pria yang masih terbilang asing baginya. Namun, ketegangan Revita lenyap saat Ryan kembali berkoar di dalam kelas. "Guys! Tolong beliin lem satu kilo, buat nambal tulang-tulang gue yang mreteli abis gendong Novi!" Seisi kelas langsung tertawa keras di atas kemarahan Novi yang kian memuncak. "Mati aja lo sana, MATI!" Novi mencak-mencak di tempatnya. Menyalangkan pandang penuh kebencian pada Ryan yang tengah merintih dengan memegangi punggungnya. Revita tertawa kecil dengan geleng-geleng kepala. Pandangan Revita teralihkan pada ponselnya yang bergetar, menampakkan notifikasi pesan yang tertera pada layar. Revita meraih benda pipih itu lantas membukanya. Vano: Eh, serius ini Revita? Vano: Oke, Rev. Sepulang sekolah gue tunggu di gazebo deket kantin. Revita mengerjapkan matanya sejenak. Menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir ketakutannya. Revita meletakkan ponsel di atas meja. Dia sama sekali tidak berani untuk membalas pesan itu lagi. °°° Bel berakhirnya pelajaran terdengar nyaring. Revita dan Novi keluar kelas secara beriringan. Namun, di setiap langkah yang Revita lalui, anak itu terlihat gusar dan sangat tidak tenang. Revita bahkan berkali-kali menarik napasnya. Meremas-remas kedua tangannya yang terasa sangat dingin. Langkah Revita berhenti mendadak. Tubuhnya langsung beku saat melihat sosok Vano yang telah duduk santai seorang diri di gazebo. Novi pun langsung berhenti melangkah. Menatap temannya itu dengan kening berkerut. "Kenapa, Rev?" tanya Novi. "Lo yang kembaliin." Revita tanpa sadar melempar jaket di tangannya, langsung ke wajah Novi. "Eh, enak aja! Lo kan yang minjem, ya lo lah yang kembaliin!" Novi balas melempar jaket itu dan berhasil membalas mengenai wajah Revita. Meskiput kesepuluh jemari kakinya sedikit berjinjit. Revita berdecih. Dengan seribu keberanian, akhirnya ia melangkahkan kakinya menuju orang yang sudah menunggunya. "Hai, Van!" sapa Novi bersahabat. Vano menoleh lantas tersenyum. "Nah, akhirnya datang juga." Vano mengantongi ponselnya yang barusan ia pakai buat bermain games offline di ponselnya. "Makasih." Revita menyodorkan jaket itu dengan menatap sepasang sepatu hitam Vano yang sedikit kotor. Vano tersenyum lantas menerimanya. Vano hendak membuka mulutnya, namun segera tertutup kembali saat Revita membalikkan badan dan melangkah menjauh dengan menyeret pergelangan tangan Novi. Dahi Vano sedikit mengernyit. Bibirnya tersenyum simpul melihat gerak-gerik Revita yang menurutnya lucu di matanya. Vano menatap jaket di tangannya sekilas, lantas memakainya. Netra matanya sedikit membulat kala aroma bedak bayi langsung menusuk penciumannya. Vano kian mengembangkan senyumannya. Menatap punggung Revita yang mulai menjauh dari pandangannya. Vano melangkah dengan sudut bibir yang terus terangkat naik. Membuat kedua matanya menyipit seperti bulan sabit. Jari telunjuknya berputar-putar di tengah gantungan kunci motornya. Entah kenapa isi kepalanya saat ini hanya dipenuhi nama dan wajah Revita. Seorang perempuan yang diam-diam menyelingkap masuk di dalam pikirannya. Seorang perempuan konyol yang selalu ketakutan dan gugup di hadapannya. °°° Dua puluh menit yang lalu, Vano telah membanting tubuhnya di atas kasur kamarnya. Rambutnya masih sedikit basah. Kebiasaan buruknya yang memang tidak pernah mengeringkan rambut setelah keramas. Napasnya terlihat teratur. Sudut bibirnya tiba-tiba terangkat. Kepalanya menoleh, sebelah tangannya menggapai ponsel yang tergeletak tak jauh dari tempatnya. Vano membuka room chat-nya dengan Revita. Jempolnya bergerak untuk menulis sesuatu. Namun, ia hapus lagi dan lagi. Vano menghentikan aktivitasnya, kala mendengar pintu kamarnya yang tengah diketuk seseorang. Tubuhnya beringsut duduk dengan memandang pintu kamarnya. "Van!" Vano tetap pada tempatnya. Sama sekali tidak berniat untuk membuka pintu. "Apa, Bang?" Vano menyahuti panggilan di luar sana yang ia yakin suara Abangnya. "Keluar, dicariin Papa." Ponsel di tangannya mendadak ia remas dengan kuat. Napasnya yang tadi teratur, kini terlihat berderu dengan rahang yang mengeras. Pancaran matanya berubah sangat tajam dan memburu. Vano berdiri dari tempatnya. Membanting ponselnya begitu saja ke atas kasur. Vano keluar dari kamarnya dengan raut datar. Tulang rahangnya mengeras. Tatapannya menajam. Keysa tangannya terus terkepal seiring dengan pijakan kaki di atas marmer keramik rumahnya. Reyhan yang memang menunggu di depan pintu menatap adiknya penuh kecemasan. Reyhan berbalik dan berjalan mengekor di belakang Vano yang terus melangkah seolah tidak melihat sosoknya. "Ada apa, Pa?" tanya Vano tanpa berbasa-basi saat dirinya kini tengah ada di ruang tengah. Dia menatap Heri dan Sonya-kedua orangtuanya dengan tajam. "Duduk!" perintah Heri tegas. Dengan gerakan sedikit kasar, Vano duduk di seberang sofa. Memisahkan jarak dari keduanya. "Papa kecewa sama sikap kamu yang tidak pernah bisa berubah! Papa sudah tugaskan kamu mengisi berkas-berkas sama Pak Andi! Tapi Pak Andi bilang, kamu sama sekali tidak menemuinya! Ke mana saja kamu?!" Heri bertanya dengan lantang. Kedua matanya menatap tajam anak bungsunya yang kini balas menatap dirinya dengan pandangan yang sama. "Selepas sekolah, kamu harus langsung jalani kontrak yang sudah Papa tangani! Jangan kamu lupakan itu! " "Tapi Vano gak mau jadi pembisnis, Pa! Vano gak mau kerja sama Papa dan Om Andi!" Vano tanpa sadar meninggikan suaranya. Kedua tangannya mengepal, merasakan kuku-kuku jemarinya yang mengeras. Deru napas Vano bekerja lebih cepat. Heri melotot, menatap putranya itu penuh dengan kemarahan. Kulit wajahnya yang cokelat kini berubah warna menjadi kemerahan. Otot-otot di lehernya pun semakin terlihat menonjol. "Papa tidak menerima penolakan!" Heri membanting berkas-berkas di tangannya ke atas meja. Membuat suara gebrakan yang mengagetkan Reyhan dan Sonya. "Pokoknya, kamu harus jalani bisnis itu! Papa sudah cantumkan nama kamu di kontrak itu!" Vano menyeringai, membalas tatapan amarah Heri dengan penuh picik. "Vano baru tahu ada seorang Ayah yang rela menjual anaknya sendiri demi kebutuhan bisnis! Apa Papa setakut miskin itu sampai-sampai harus jual nama, Vano?" "VANO!!!" Heri berteriak lantang dengan menegakkan tubuhnya. Begitu pula dengan Vano yang ikut berdiri seolah menantang amarah Heri. "Tutup mulut kamu! Papa lakuin ini semua demi masa depan kamu dan keluarga ini!" Heri membentak dengan dadanya yang terlihat naik-turun dengan cepat. Sementara Vano justru menarik sudut kanan bibirnya ke atas. "Tahu apa Papa sama masa depan Vano. Tahu apa Papa sama keinginan Vano," jawab Vano terlihat menantang. Sementara Heri langsung mengepalkan kedua tangannya. "Pa, Vano punya pilihan hidup sendiri. Vano gak bisa terus-terusan nurutin semua keinginan, Papa! Papa pikir Vano gak tahu seluk-beluk Papa kasih nama Vano ke Om Andi?" Vano tersenyum semakin tersenyum picik. Kedua tangannya semakin mengepal erat hingga kuku jemarinya memutih. Sementara Heri terdiam dengan sepasang matanya yang melotot tajam, menunggu ucapan Vano. "Vano tahu, Pa! Vano juga tahu kalau Papa itu secara nggak sadar cuma jadi budaknya Om Andi. Vano juga tahu kalau perusahaan Papa sekarang di bawah kekuasaan Om Andi." "Vano juga tahu kalau Papa itu cuma takut miskin dan kehilangan semua harta Papa. Di mata Papa, harta lebih segalanya, sampai-sampai rela jual anak sendiri demi mempertahankan reputasi dan kekayaan Papa! Dan sampai kapanpun, Vano gak akan mau melanjutkan kontrak itu! Vano bahkan rela hidup miskin daripada harus jadi b***k Om Andi dan juga b***k Papa!" "KURANG AJAR KAMU!" Heri langsung menampar pipi Vano dengan sangat keras. Satu kali. Vano melangkah mundur. Sementara Heri terus mengikis jaraknya. "Sudah pintar kamu bisa bilang begitu!" tangannya melayang lagi untuk menampar kepala anaknya. Dua kali. "ANAK GAK TAHU DIUNTUNG!" PLAKKK Tamparan ketiga membuat tubuh Vano ambruk seketika. Vano merasakan cairan asin dan amis di sudut bibirnya. Vano mengeras merasakan perih pada luka-luka wajahnya yang bahkan belum sepenuhnya kering. "PAPA!" Reyhan melotot tak percaya. Begitupun sang Mama yang kini menutup mulutnya rapat dengan kedua tangannya. "Punya apa kamu bisa berbicara kurang ajar seperti itu, Hah?! Papa gak mau tahu! Kamu harus melanjutkan kontrak yang sudah Papa sepakati dengan Pak Andi!" Heri terlihat kesetanan. Sepasang matanya semakin menyala-nyala. Napas Vano terasa memberat. Vano mendongak, cairan bening terkumpul di pelupuk matanya yang memerah. Jantung Vano berpacu lebih cepat. Kepalanya memanas. Bibir Vano yang sedikit bergetar menjawab keras. "Sampai Papa sujud di kaki Vano pun, Vano gak akan pernah mau jadi b***k kalian!" PLAKKK "Berengsek!" Tanpa pikir panjang, Heri langsung menendang punggung Vano yang berada di bawah kakinya. Vano ambruk untuk yang kedua kalinya. Anak itu mengerang saat kepalanya menghantam lantai dengan sangat keras. Vano memejamkan matanya kala merasakan sakit luar biasa. Pandangannya menggelap untuk beberapa saat. Vano dapat merasakan wajahnya mulai panas, dia sedikit meringis saat cairan merah kental keluar dari lubang hidungnya. "PAPA!" teriak Reyhan kedua kalinya. Air matanya langsung terjatuh membasahi kedua pipinya. Anak itu hanya bisa berteriak dan menangis di tempat. Dia tidak bisa apa-apa melihat adiknya dipukuli lagi dan lagi. "Sekali lagi Papa menerima penolakan, Papa akan perlakukan kamu lebih buruk dari ini! Asal kamu tahu,Papa juga bisa mengeluarkan kamu dari sekolah kapan saja. Papa kasih waktu dua bulan, kalau kamu terus memberontak demi menjadi seorang atlet daripada melanjutkan kontrak bisnis yang sudah Papa tanda tangani--" Heri menggantungkan kalimatnya di tengah-tengah embusan napasnya. "--Hidup kamu habis di tangan Papa!" Heri membawa kedua kakinya untuk pergi dari sana. Langkah kakinya yang terbungkus sepatu kulit tebal itu terdengar berderap dan menggema keras. Disusul dengan pijakan sepatu heels merah mawar milik Sonya yang sedikit berlari mengikuti suaminya. Vano mencoba mengatur napasnya yang sesak. Menatap lantai dengan sejuta amarah yang menggerogoti kepala dan hatinya. Kedua tangannya masih mengepal kuat dengan pancaran mata yang penuh kebencian. "Bangun, Van." Reyhan menarik bahu adiknya dengan penuh hati-hati. Hanya saat itu Reyhan bisa menggerakkan langkahnya untuk mendekat. Vano hanya bisa menurut dengan menegakkan tubuhnya. Mengusap cairan merah yang terus mengalir di hidungnya dengan kasar. Vano melepaskan cengkeraman tangan Reyhan dengan sedikit kasar. Melangkah lebar-lebar menuju kamarnya. Meninggalkan Reyhan yang hanya bisa menatap punggung Vano dengan nelangsa. Reyhan mengusap wajahnya yang basah. Dadanya sesak seolah ditindih batu besar. Reyhan sangat tahu seberapa inginnya Vano menjadi seorang atlet di masa depan. Dan Reyhan juga sangat tahu penderitaan sebesar apa yang harus Vano lalui untuk menggapai mimpinya itu. Mimpi yang seolah menjadi boomerang yang tak pernah ada. Reyhan seolah mengerti penderitaan adiknya yang hanya bisa berharap pada lapangan sekolah, bukan lapangan perlombaan internasional di televisi. Membawa mendali emas untuk membanggakan nama negaranya, itu semua seperti ilusi yang tak akan pernah nyata. Karena seberusaha keras usahanya, mereka tidak akan bisa mematahkan permintaan Heri. Reyhan menundukkan kepalanya. Kedua tangannya mengepal erat. Dalam hati, ia merutuki dirinya sendiri. Tidak sekali adegan mengerikan seperti ini terekam jelas di kedua matanya. Namun reaksi tubuhnya hanya bisa menyuruhnya untuk diam, menyaksikan adiknya yang dihajar habis-habisan oleh papanya sendiri. Reyhan menarik napasnya dalam-dalam. Kedua matanya kian basah. Dadanya terasa sangat perih dan sesak. Reyhan mendongak, menatap pintu kamar adiknya yang berada di lantai dua dengan nanar. Bibirnya yang bergetar terlihat berbisik lirih, "Maafin gue, Van. Gue emang kakak yang gak guna." Reyhan menundukkan kepalanya. Menurunkan kedua bahunya yang terasa lemas. Kemudian, ia berlalu pergi dari sana. Reyhan tidak menghentikan langkahnya, walupun telinganya mendengar jelas suara Sonya dan Heri yang saling mencaci maki di dalam kamar mereka. °°°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN