Sambungan malam

1287 Kata
Vano membanting pintu kamarnya dengan sangat keras, membuat sedikit retakan yang merambat pada dinding bercat putih itu. Vano mengerang frustrasi. Memperlihatkan otot-otot di tulang lehernya yang menonjol seolah hendak mencuat dari dalam kulitnya. Napas Vano memburu. Sepasang matanya langsung tertuju pada lemari pakaiannya. Vano melangkahkan kakinya untuk mendekat, kedua lututnya langsung terjatuh menghantam lantai begitu saja. Tangan besarnya bergetar hebat saat menarik loker bagian bawah lemari. Vano merasakan sesak luar biasa yang menimpa dadanya, membuat napasnya terasa memberat, seolah bongkahan batu besar menghimpit paru-parunya. Vano merasakan panas yang menjalar di kedua matanya kala loker itu telah terbuka. Vano meraih salah satu foto dirinya yang paling buruk di antara tumpukan piala yang telah patah dan rusak. Napas Vano semakin terasa sesak dan tercekik di tenggorokan. Tubuhnya pun bergetar hebat. Vano menatap lekat-lekat foto penuh robekan kecil yang ia tambal menggunakan solatip. Foto dirinya yang masih duduk di bangku SMP. Foto yang menampakkan dirinya memegang sebuah piala pertama kemenangannya. Dan foto pertama pula yang membuat retakan di keluarganya. Vano kembali meletakkan foto itu dengan perlahan. Menutup loker yang menjadi saksi bisu kehancurannya. Vano berdiri, beranjak dari sana untuk duduk di ujung kasur. Kepalanya menunduk lemas, memegang sisi kepala dengan kedua tangannya. Vano ingin berteriak sekencang-kencangnya. Mengeluarkan semua emosi yang tertahan dan membusuk selama bertahun-tahun. Kepala Vano menengadah. Napasnya terembus dengan sangat berat. Vano menurunkan kedua bahunya dengan lemas. Tangannya mengusap pelan hidung dan sudut bibirnya yang terasa sedikit nyeri, walaupun pendarahan kecil itu sudah mengering. Vano menoleh ke samping. Meraih benda pipih hitam yang tergeletak di kasurnya. Entah mengapa dalam kondisi seperti ini, Vano justru teringat dengan satu nama di kepalanya. Jemari Vano bermain di atas layar, memencet ikon bergambar telepon di layar ponselnya, lantas mendekatkan benda pipih itu di telinganya. °°° Saat ini, Revita terlihat serius dengan buku serta bolpoin di tangannya. Jemari tangannya bergerak naik-turun untuk menghitung rumus dari soal-soal yang berhasil membuat kepalanya pening. Bibirnya yang kering terlihat komat-kamit, sesekali berdecak kesal kala perhitungannya tidak ada di pilihan jawaban. Drrrt... drrtt... Aktivitas Revita langsung terhenti. Sepasang matanya menatap layar ponselnya yang menyala. Kening Revita langsung membentuk lipatan kecil kala melihat nama Vano yang tertera di layar itu. Revita menatap ponselnya dengan lekat. Dalam benaknya, ia bertanya-tanya alasan Vano tiba-tiba menelponnya. Apakah anak itu salah pencet kontaknya? Karena Revita sendiri masih menganggap Vano sebagai orang asing. Dan tanpa pikir panjang, Revita langsung memencet tombol merah untuk mereject panggilan Vano. Revita kembali pada bolpoin yang menari di atas kertas penuh coretan angka. Namun, lagi-lagi terhenti saat ponselnya kembali berdering. Dengan amat terpaksa, Revita akhirnya meletakkan bolpoin dan beralih pada ponselnya. Lipatan di dahi Revita kian mendalam. Menatap ponselnya dengan sangat lekat. Vano kembali menghubunginya. Sementara Revita tampak tidak berniat mengangkat panggilan itu. Hingga akhirnya, panggilan itu terputus begitu saja. Namun, tak sampai satu detik, ponselnya kembali berdering. Lagi-lagi nama Vano yang terpampang di sana. Saat Revita berniat mengangkat panggilan itu, tiba-tiba saja tangannya terasa sangat dingin dan bergetar. Revita menelan salivanya dengan susah payah. Entah mengapa, tenggorokannya langsung terasa kering. Revita akhirnya memberanikan diri memencet tombol hijau untuk menerima panggilan itu. Mendekatkan ponselnya dengan irama jantung yang mulai berdetak cepat. Dia dibuat penasaran akan alasan Vano yang sampai menelponnya tiga kali. "Halo," kata Revita membuka suaranya. Hanya satu kata, namun, Revita langsung menahan napasnya. Membuat dadanya kian sesak. Karena baru kali ini ada cowok yang berani menghubunginya. Revita sedikit menjauhkan ponselnya. Menatap ponsel itu dengan keringat yang mulai membasahi pelipisnya. Jantung Revita kian berdetak tak keruan. Tubuhnya pun merinding hebat setelah mendengar suara orang terkekeh ringan di ujung sana. "Rev," sapa Vano dengan suara beratnya. Dan entah mengapa, seluruh tubuh Revita langsung mati rasa. Tubuhnya terasa panas dingin dengan napas memberat. Revita memejamkan matanya rapat-rapat. Menetralisir jantung dan napasnya yang bekerja lebih cepat. Revita sendiri tidak menyangka akan ketakutan tak masuk akal yang menyerangnya sekarang. Bahkan berkomunikasi dengan seorang pria lewat ponsel saja bisa mempengaruhi kondisi mentalnya. "Revita, masih di sana?" Revita dapat mendengar suara Vano yang seperti menunggu. Revita menarik napas dalam-dalam. Mencoba sekuat tenaga untuk lebih tenang. Revita mendekatkan kembali ponsel itu ke telinganya. "Iy-iya, Van. Ada apa?" sahut Revita pada akhirnya. Walaupun sekarang dirinya seolah ingin pingsan, karena irama jantungnya yang berdetak sangat kencang. Sampai-sampai ia bisa mendengar sendiri detak jantungnya. "Lagi apa, Rev? Maaf tiba-tiba nelpon lo malem-malem." Revita dapat menangkap suara Vano yang terdengar lemah tak bertenaga. Revita menatap jam dinding di kamarnya, menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Revita bahkan tidak sadar, karena biasanya jam segini dirinya sudah pergi tidur. "Habis nugas. Kenapa lo tiba-tiba telepon gue, Van?" tanya Revita saat tubuhnya mulai tenang. Napasnya pun perlahan mulai teratur. "Gue juga gak tahu, Rev. Gue cuma pingin ngobrol sama lo sebentar, boleh?" "Van, lo ...," Revita menggantungkan kalimatnya akibat mendengar suara Vano yang serak dan parau. Napas Vano pun terdengar semakin memberat di ujung sana. "Gue gak papa, Rev," kata Vano menjawab pertanyaan tersirat dari Revita. Bahkan menambahkan kekehan di ujung kalimatnya. Vano menarik napasnya yang kembali sesak. Kedua bahunya terasa sangat lemas. Kepala Vano menunduk saat pertahanannya pecah. Dengan perlahan, cairan bening merembes keluar dari kedua matanya. "Van, lo nangis?" Revita sedikit membulatkan matanya. Kedua lutut Revita langsung terasa lemas mendengar isakan kecil di ujung sana. Revita menggenggam ponselnya lebih erat. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa bingung harus melakukan apa sekarang. Bahkan gadis itu sampai menahan napasnya. Hampir sepuluh menit Revita menunggu Vano untuk kembali bersuara. Dan selama itu, Revita hanya diam, mendengarkan isakan Vano yang menyakitkan. Vano menghapus air matanya yang mulai kering. Menarik napas dalam-dalam untuk mengisi kesesakan di dadanya. Vano sendiri tidak menyangka akan menangis sekarang. Sebisa mungkin Vano mengontrol emosinya, namun langsung runtuh kala mendengar suara lembut dari Revita. "Sorry, Rev. Gue kelepasan, hehe." Vano bersuara pada akhirnya. Suaranya yang berat itu terdengar serak di telinga Revita. Revita membaringkan tubuhnya di atas kasur kamarnya. Menarik selimut sepanjang perut untuk mencari kehangatan. Sedikit membenarkan posisi bantal untuk mendapatkan posisi ternyaman. "Iya. Gapapa, Van." Bibir Vano tersenyum simpul di ujung sana. Ia pun turut membaringkan tubuh di atas ranjangnya. Sorot matanya yang sayu dan sembab menatap langit-langit kamar dengan lekat. "Lo mau tidur ya, Rev?" Revita mengangguk kecil seolah Vano melihatnya. Ia pun menjawab pelan, "Iya, gue ngantuk." "Rev, gue boleh minta tolong?" "Tolong apa?" "Temenin gue sampai gue tidur." Revita langsung terdiam. Sedikit terkejut mendengar permintaan Vano yang seperti itu. Revita hendak menolaknya karena dirinya merasa canggung dan tidak tenang menerima telepon dari Vano yang terlalu lama. Namun terurung, kala Revita mendengar napas Vano yang masih tidak beraturan di seberang sana. Vano sepertinya memang membutuhkan teman saat ini. "Hmm." Revita menggumam mengiyakan. Sementara Vano langsung tersenyum simpul. Setelah itu, tidak ada lagi yang berbicara. Mereka berdua sama-sama diam dengan pikirannya masing-masing. Hingga pada menit ke lima belas, suara dengkuran halus terdengar begitu damai. Bukan dari Vano, melainkan dari Revita. Anak itu kini telah terlelap dengan sendirinya. Di ujung sana, Vano mengembangkan senyumannya. Entah mengapa, dadanya terasa hangat mendengar dengkuran halus di ujung sana. Dirinya juga merasa lebih baik setelah berbicara singkat dengan Revita. Vano sendiri memang sangaja menyuruh Revita menunggunya, karena Vano tahu kalau Revita yang akan tidur terlebih dahulu. Vano sedikit mengubah posisinya, mencari tempat ternyaman. Vano menarik napas panjang, lantas ia embuskan secara perlahan. Vano hendak mengakhiri sambungannya, namun sebelum panggilan itu benar-benar terputus, Vano menyempatkan mengucapkan selamat malam untuk Revita yang tengah terlelap. "Selamat malam, Rev. Semoga mimpi indah ...." Vano kembali mengembuskan napas panjang. Mengakhiri panggilannya, lantas meletakkan ponselnya pada nakas meja di dekatnya. Sepasang mata Vano menerawang jauh ke langit kamarnya yang redup. Vano memejamkan matanya saat merasakan sakit yang menjalar di wajah dan tubuhnya. Mencoba menikmati rasa sakit dan lelah yang menyerang jiwa dan raganya. Hingga pada menit ke dua puluh, anak itu baru bisa tertidur dengan pulas. °°°
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN