Telepon di mejaku berdering. Aku bahkan tidak sempat menoleh kanan-kiri sejak pagi tadi saking banyaknya pekerjaan. "Hallo," "Mbak Sandra, ada yang mau bertemu." suara resepsionis. "Siapa?" "Katanya namanya Rachellia," "Rachellia?" "Iya Mbak," "Ok, ok suruh tolong suruh tunggu di lobi," Ada apa Rachel mendadak ke kantorku? Kukeluarkan ponsel dari laci meja. Oh My God! Puluhan pesan singkat dan telepon tak terjawab dari Rachel. Ada apa ini? "Ehem," suara bu Yenti berdehem dari arah belakang. Buru-buru kumasukan ponsel ke laci. "Udah sampai mana pekerjaan kamu? Tagihan sudah diurus?" "Sebagian Bu," "Pembayaran yang masuk sudag kamu cek?" "Sudah Bu," "Sana makan siang dulu, ini sudah jam istirahat. Kalau sampai gak makan terus pingsan nanti tambah drama lagi," "Terimakasih Bu,"

