Pukul 17.30 WIB. Harusnya aku sudah di stasiun dan naik kereta pulang. Bu Yenti mendadak memintaku untuk lembur. Sejak siang tadi pekerjaanku ada saja yang dianggapnya salah. Ok, hari ini dia tidak menyuruhku bolak-balik naik ke lantai enam untuk fotocopy. Tapi, ada-ada saja akalnya sejak tadi mencari-cari kesalahanku. Ponselku berdering [Rachel calling]. Pasti Rachel mau menanyakan aku sudah di stasiun atau belum. "Iya Chel," jawabku berbisik. "Lu dimana? Kok kedengerannya masih sepi?" "Di kantor," "Hah? Dimana?" Suara bell kereta terdengar. "Kantor, masih di kantor." "Hah? Motor?" Rachel tidak dengar. "Kantor. Kantoooor!" Teriakku. Bu Yenti tiba-tiba keluar dari ruangannya. "Kamu bicara sama siapa?" tanyanya membuat jantungku mau copot. "Eng, te-telepon Bu," "Matikan telepon k

