Dua hari berlalu, Marwan mengantar Sandra ke kantor dan menjemputnya pulang seperti biasa. Komunikasi diantara mereka sedikit tak baik. Marwan tetap bersikeras untuk terus bertemu dengan Aira tanpa mempedulikan omongan Sandra. Setiap selesai menjemput Sandra pulang kantor, ia selalu membuat janji untuk berjumpa dengan Aira. “Mau ketemuan lagi sama istri orang?” sindir Sandra ketus ketika baru saja masuk ke dalam mobil. Marwan merapikan rambutnya melihat bayangan dirinya dari spion tengah tanpa terlalu ambil pusing dengan sindiran Sandra. “Mungkin aja dia jodohku yang tertunda,” ucapnya tanpa melirik ke arah Sandra. “Ish!” Sandra mendesis kesal. “Aira itu sedikit demi sedikit cerita tentang hidupnya ke aku Mbak, aku makin penasaran.” “Jadi dia cuma jadi objek penasaran kamu?” “Ya gak

