bc

Ketika Sang Kapten Mengejarku Kembali!

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
HE
second chance
drama
bxg
serious
brilliant
city
office/work place
disappearance
polygamy
office lady
like
intro-logo
Uraian

Berhasil meraih impian yang dicita-citakan sejak lama ternyata tak membuat hidup Olivia Hart berjalan mudah. Di balik kesempurnaannya sebagai pramugari senior yang menjadi panutan para pramugari muda, tersimpan kisah cinta yang rumit dan menyakitkan.Ia dipertemukan kembali dengan Chris Hamilton, rekan trainee sekaligus mantan kekasih yang dulu meninggalkannya tanpa penjelasan, yang kini menjadi kapten pilot di maskapainya.Luka lama itu semakin dalam ketika Chris kembali bersama tunangannya, Clarissa, putri pemilik maskapai.Di tengah hati yang belum sepenuhnya pulih, Chris justru mengaku masih mencintainya.Haruskah Olivia menerimanya kembali, atau memilih pergi demi menjaga harga dirinya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
Olivia terdiam, menatap pria yang pernah menghilang dari hidupnya lima tahun lalu tanpa jejak. “Chris?” Pria itu menoleh, jelas terkejut. “Olivia?” Untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Rindu yang selama ini ia kubur perlahan muncul ke permukaan. Tiba-tiba seorang wanita datang dan menggandeng lengan Chris dengan mesra. “Hai. Aku Clarissa, tunangannya Chris.” Olivia membeku. “Tunangannya?” gumamnya pelan. Semua yang sempat ia rasakan runtuh begitu saja. Ia menatap Chris, berharap ada penjelasan. Tapi semua begitu jelas ketika Chris membalas merangkul bahu Clarrisa. **** Langit London pagi itu tampak kelabu. Olivia Hart berlari kecil melewati gerbang pusat pelatihan maskapai dengan napas terengah-engah. Ia melirik jam di pergelangan tangannya dan jantungnya langsung berdebar lebih cepat. Hari ini adalah hari pertama pelatihan resmi untuk para calon kru kabin, hari yang sudah ia tunggu sejak berbulan-bulan lalu. Seharusnya ia datang lebih awal, duduk dengan tenang di kelas, dan memberi kesan pertama yang baik pada para instruktur. Namun pagi tadi kereta bawah tanah yang ia tumpangi sempat berhenti terlalu lama di satu stasiun karena gangguan jalur. Sekarang ia hanya bisa berharap kelas belum benar-benar dimulai. Olivia menaiki tangga menuju lantai tiga gedung pelatihan dengan langkah cepat. Napasnya semakin berat ketika ia sampai di depan pintu ruang kelas yang sudah tertutup rapat. Dari balik pintu itu ia bisa mendengar suara seseorang sedang berbicara, kemungkinan besar instruktur yang sudah memulai sesi pengenalan. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya merapikan sedikit rambut cokelatnya yang tergerai sampai bahu, lalu ia mengetuk pintu dua kali sebelum membukanya perlahan. Semua mata di ruangan itu langsung tertuju padanya. Sekitar dua puluh orang duduk di kursi mereka masing-masing, mengenakan pakaian formal yang rapi. Di depan kelas berdiri seorang wanita paruh baya dengan seragam instruktur yang terlihat sangat profesional. Wajah Olivia memanas. Ia menelan ludah sebelum melangkah masuk sedikit dan menundukkan kepala dengan sopan. “Maaf saya terlambat,” katanya cepat, suaranya sedikit tersengal karena masih kehabisan napas. Instruktur tersebut menatap Olivia dari ujung kepala hingga kaki, seolah menilai seberapa serius gadis yang datang terlambat di hari pertama pelatihan ini. Tatapannya tajam, tetapi tidak sepenuhnya tidak ramah. “Ini hari pertama dan kamu sudah terlambat?” tanyanya. “Usahakan tidak terulang lagi.” Olivia segera mengangguk. “Iya, Bu.” Instruktur itu lalu memberi isyarat singkat agar Olivia masuk dan mencari tempat duduk. Olivia melangkah cepat melewati deretan meja, berusaha tidak menarik perhatian lebih dari yang sudah ia dapatkan. Jantungnya masih berdetak cepat karena rasa malu. Ia melihat sekeliling ruangan, mencari kursi kosong yang tersisa. Hanya ada satu. Kursi itu berada di sisi tengah ruangan, di sebelah seorang pria yang sudah lebih dulu duduk. Olivia menghampiri meja itu dengan langkah sedikit ragu sebelum akhirnya duduk pelan di kursinya. Ia merasakan seseorang menoleh ke arahnya. Pria di sebelahnya. Olivia melirik sekilas dan langsung menyadari bahwa pria itu sangat tampan. Rambut hitamnya tersisir rapi, rahangnya tegas, dan matanya yang gelap terlihat tajam namun hangat. Ia mengenakan kemeja putih dengan lengan yang digulung sampai siku, membuatnya terlihat santai meskipun suasana kelas cukup formal. Ketika mata mereka bertemu, pria itu tersenyum hangat. “Sepertinya kamu hampir saja tidak berhasil masuk,” bisiknya pelan. Olivia mengangguk canggung. “Iya,” jawabnya pelan. “Kereta bawah tanah berhenti terlalu lama.” Pria itu mengangguk seolah memahami. Matanya kembali ke depan ketika instruktur mulai menjelaskan sesuatu tentang struktur pelatihan kru kabin dan standar keselamatan maskapai. Beberapa menit berlalu sebelum pria itu kembali menoleh sedikit. “Aku Chris,” katanya singkat. Olivia menoleh padanya. “Olivia.” Chris mengangguk sekali lagi. Saat kelas berakhir dan para trainee mulai berdiri dari kursi mereka, Olivia akhirnya memberanikan diri bertanya. “Kamu juga baru hari ini mulai pelatihan?” Chris menoleh padanya dengan ekspresi sedikit geli. “Tidak juga.” Olivia mengerutkan kening. “Aku sudah beberapa minggu di sini,” jawab Chris santai. Olivia berkedip, sedikit terkejut. “Benarkah?” Chris mengangguk. “Aku trainee pilot.” Kata-kata itu membuat Olivia sedikit terdiam. Ia kembali menatap pria di depannya, kali ini dengan pemahaman baru. Tidak heran jika Chris terlihat begitu santai selama kelas berlangsung. Rupanya ia sudah lebih dulu terbiasa dengan lingkungan pelatihan ini. Chris memperhatikan ekspresi Olivia yang tampak sedikit kagum dan tersenyum lagi, kali ini lebih lebar. “Jadi sepertinya kita akan sering bertemu di gedung ini.” Olivia mengangguk kikuk, “Sepertinya begitu. Aku senang mendapatkan teman di hari pertama.” “Teman?” ulang Chris membuat Olivia menjadi merasa serba salah. “Ah maaf, sepertinya aku terlalu cepat menyimpulkan.” Olivia menunduk, wajahnya terlihat panik. “Tidak, aku senang berteman denganmu,” balas Chris cepat membuat Olivia kembali mengangkat wajahnya dan mendapati tatapan hangat dari pria itu. Tiba-tiba seorang gadis tinggi dengan rambut panjang berkilau berjalan mendekati keduanya. Wajahnya cantik dengan riasan ringan yang sempurna, membuat beberapa orang di ruangan itu tanpa sadar menoleh. Di belakangnya berdiri seorang gadis lain yang tampak ceria, serta seorang pria dengan postur tinggi yang terlihat santai. “Chris,” sapa gadis cantik itu dengan senyum percaya diri, seolah mereka sudah saling mengenal cukup baik. Chris mengangkat alisnya sedikit, lalu tersenyum santai. “Oh Vina.” Olivia menyadari bahwa Chris tampaknya sudah pernah bertemu mereka sebelumnya. Vina kemudian melirik Olivia dengan senyum ramah yang terlihat begitu alami hingga sulit ditebak apakah itu tulus atau hanya kebiasaan sosial. “Aku Vina,” katanya memperkenalkan diri. “Calon pramugari juga.” Ia kemudian menunjuk dua orang di belakangnya. “Ini Sarah, sahabatku. Dan yang ini Lucas.” Sarah melambaikan tangan kecil dengan ekspresi ceria, sementara Lucas hanya mengangguk sopan. “Kita semua baru hari pertama di sini. Bagaimana kalau kita makan malam bersama?” ajak Vina santai. “Anggap saja sebagai perayaan kecil dan tanda pertemanan.” Lucas langsung terlihat setuju, sementara Sarah tersenyum lebar seolah ide itu memang sudah direncanakan sejak awal. Chris kemudian melirik Olivia. Tatapan itu singkat, seolah menanyakan apakah ia keberatan. Olivia sedikit terkejut mendapat perhatian itu, tetapi ia tetap mengangguk canggung. Ia tidak ingin terlihat tidak ramah di hari pertama pelatihan. *** Di sebuah restoran kecil yang cukup ramai tidak jauh dari pusat pelatihan. Olivia, Chris, Vina, Sarah dan Lucas sudah duduk dan menghabiskan makan malam mereka satu jam yang lalu. Piring-piring makanan hampir kosong ketika suasana meja mulai terasa lebih akrab. Tawa sesekali terdengar, terutama dari Sarah yang tampak paling banyak berbicara. Lucas menoleh pada Vina, sambil menyandar sedikit di kursinya. “Aku dengar sesuatu tentangmu, Vina. Apa benar kamu putri salah satu pilot di maskapai ini?” “Tentu saja benar,” potong Sarah bangga. “Ayahnya salah satu pilot senior di sini. Kami juga dulu satu sekolah di akademi elit di London.” Vina hanya tersenyum kecil, seolah pujian itu adalah hal yang sudah biasa ia dengar. Lucas kemudian menoleh ke arah Chris. “Kalau begitu kamu pasti juga anak salah satu petinggi maskapai, ya?” Chris tertawa pelan sambil menggeleng. “Tidak juga.” Jawabannya singkat, tetapi itu cukup bisa diartikan bahwa tebakan Lucas benar. Sarah lalu menoleh ke arah Olivia. “Kalau kamu?” tanyanya. “Orang tuamu bekerja apa?” Pertanyaan itu datang begitu tiba-tiba hingga Olivia sempat terdiam beberapa detik. Suasana meja yang tadinya santai mendadak terasa berbeda. Olivia menatap sebentar ke arah piring di depannya sebelum akhirnya mengangkat kepala. “Ayahku sudah meninggal sepuluh tahun lalu,” katanya pelan. Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. “Ibuku… hanya penjual buah.”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.1K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.6K
bc

Kali kedua

read
221.7K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
2.7K
bc

TERNODA

read
201.5K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.0K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook