Sekujur tubuh Edward bergetar hebat saat melihat kobaran api melalap habis kendaraan yang dikendarai Jack saat menjemput Ilona. Tubuhnya melemas, ambruk dengan lutut membentur tanah. Air matanya mengalir, napasnya tersengal, dadanya berubah menjadi begitu sesak, semakin terasa di remat ketika melihat betapa sulitnya semua orang memadamkan kobaran api itu. Kedua tangan Edward terkepal erat. Rasa sesal dalam dadanya begitu menggunung, begitu tinggi. Hingga benaknya pun tidak sanggup bertanya tentang keberadaan Ilona. Tidak sanggup menduga, tidak rela bahkan untuk membayangkan hal buruk. “Apinya padam! Hati-hati, bangkai mobil itu masih panas.” Edward kemudian bangkit segera berjalan ke arah kendaraan yang masih pekat oleh kepulan asap. Iris matanya bergulir, mengamati kendaraan yang su

