“Kok kamu masih di sini?” Tanya Raka.
“Ohh.. ehmm.. tadi saya baru aja mau pergi pak, tapi tiba - tiba saya mendengar Pak Raka berteriak jadi saya kembali lagi, saya fikir bapak kenapa - kenapa. Pengen masuk juga tapi nggak enak, karena toilet cewok. Makanya nungguin aja di sini.” Jawab Nabila.
“Ohh maaf kalau saya membuat kamu kaget.” Kata Raka.
“Ehh.. nggak kok Pak , nggak sama sekali. Saya khawatir aja sama Pak Raka. Pak Raka kenapa? Kalau ada masalah boleh kok di ceritain. Siapa tau aja saya bisa bantu.” Kata Nabila sambil melemparkan senyuman untuk Raka.
“Nggak kok, nggak ada apa - apa.. tolong apapun yang kamu dengar tadi tidak usah kamu bahas lagi yah.. lupakan saja.” Ujar Raka.
“Hmm.. ya sudah kalau Pak Raka tidak ingin menceritakannya ke saya. Mungkin di mata Pak Rak, saya masih orang yang belum bisa di percaya. Hmm.” Ucap Nabila yang sengaja memancing Raka.
“Lohh.. nggak kayak gitu kok.. bukan begitu maksud saya, saya cuma tidak bisa menceritakannya saja. Maaf yahh.. ini benar - benar bukan karena saya tidak mempercayai kamu.” Ucap Raka. Raka sudah sedikit merasa bersalah dengan Nabila.
“Hmm.. iyaa Pak kalau begitu saya permisi dulu. Maaf yah sudah mau ikut campur dengan urusan Pak Raka.” Ujar Nabila lalu berjalan pelan.
“Ahh.. Nabila sekali lagi saya minta maaf yah.” Ucap Raka.
“Iyaa Pak Raka.. tidak apa - apa kok.. mungkin saya terlalu perhatian dengan Pak Raka makanya jadi seperti ini.” Ucap Nabila.
“Hmm.. kapan - kapan kita cerita - cerita deh yahh.” Ucap Raka.
“Benaran Pak?” Tanya Nabila lalu berjalan kembali kehadapan Raka.
Drrrtttt drrtttt drrrtttt (suara dering telepn Raka)
Raka melihat di ponselnya sudah banyak panggilan tak terjawab.
“Iyaa.. kalau saya ada waktu. Kalau begitu saya permisi dulu yah, saya sudah di tungguin nih.” Kata Raka sambil melihat layar ponsel miliknya.
“Ohh.. iyaa baik Pak Raka.. saya tunggu yah Pak, kapan Pak Raka ada waktunya.” Ucap Nabila.
Tapi Raka tidak mendengar apa yang Nabila katakan, Raka terus berjalan karena fokus dengan ponselnya.
Sementara itu Nabila sangat senang karena mendapat respon yang bagus dari Raka. Raka pun kembali ke meja makan bersama teman - temannya.
“Kenapa kamu lama sekali?” Tanya Zara ke Raka yang baru saja duduk.
“Perut aku lagi nggak enak nih, nggak tau kenapa.” Jawab Rak sambil memegangi perutnya.
“Ohh.. tapi sekarang gimana? Masih nggak enak? Atau udah agak baikan? bisa makan nggak?” Tanya Zara lagi.
“Satu - satu dong nanya nya, jangan di serbu gitu. Hahah.” seru prilly.
“Tau nih Zara.. sayang banget deh kayaknya sama Raka.” Celetuk Bella.
“Iyaalahh.. aku kan khawatir.. kamu nggak apa - apa kan?” Tanya Zara.
“Aku nggak apa - apa kok. Aku bisa makan, Kamu makan juga yah.” Kata Raka lalu meminum minuman yang ada di depannya.
“Permisi Pak Raka.. ini sapu tangannya kan? Sepertinya tadi terjatuh saat Pak Raka di toilet.” Tiba - tiba Nabila datang menyodorkan sapu tangan di tangannya.
“Hah? Kok bisa ada sama kamu?” Tanya Raka.
“Iyaa ini tadi di temuin sama office boy Pak Raka, dan kebetulan tadi aku masih ada di depan toilet setelah bapak pergi, dan office boynya nanya ke aku kalau ini punya siapa. Dan yang terakhir masuk di dalam toilet kan Pak Rak.. jadi saya kembalikan kesini saja.” Jawab Nabila.
“Ohh iyaa.. baiklah, makasih yah sudah kamu kembalikan.” Kata Raka.
“Iyaa sama - sama Pak Raka. Lain kali lebih di perhatikan lagi, masih baik sapu tangan Pak Raka yang ketinggalan, coba kalau hati bapak yang ketinggalan, bisa - bisa aku mencurinya.” Kata Nabila sambil senyum - senyum centil di depan Raka.
“Dihh apaan sih Mba Nabila.. udah selesaikan kembalikan sapu tangan Pak Raka, lebih baik mba Nabila cepat pergi deh, kami mau makan dengan tenang.” Ucap Prilly.
“Iyaa nih.. lagian kenapa pakai ngomong seperti itu sih, kan di sini ada pacarnya Pak Raka. Sama sekali nggak menghargai Zara banget.” Kata Bella yang melihat sinis Nabila.
“Ya Ampun saya hanya bercanda Mba - Mba Cantik.. kok jutek banget sih. Mba Zara saja nggak marah saya ngomong kayak gitu, malah asyik juga ngobrol sama Pak Andika.” Kata Nabila.
Raka langsung melihat Zara dan juga Andika.
“Ahh.. Nabila makasih banyak yah.. kamu sudah makan? Kalau belum duduk saja di sini. Ambil satu kursi lagk gabung sama kita aja.” Kata Raka.
Nabila sangat senang karena bisa kembali berbicara dengan Raka bahkan di ajak untuk bergabungvsatu meja dengan Raka.
Zara sebenarnya tidak ingin meladeni Nabila, itulah sebabnya Zara mengalihkan perhatiannya dan berbicara dengan Andika, bukan karena Zara tidak peduli.
“Raka? Apa - apaan sih?” Tanya Prilly.
“Sayangg.. nggak boleh gitu.” Ucap Ardya.
“Tapi kamu liat sendiri kan Raka manggil Nabila untuk duduk gabung sama kita.” Bisik Prilly.
“Iyaa tapi nggak boleh gitu. Dia juga karyawan di sini. Mungkin Raka sudah mulai memaafkan Nabila.” Bisik Ardya.
“Bella?” Prilly berbalik ke Bella.
“Udahlahh biarin aja.” Jawab Bella.
“Zara.. Lo diem aja gitu? Raka manggil Nabila untuk duduk satu meja sama kita.” Seru Prilly.
“ehmm.. Pak Raka sepertinya saya tidak usah imut bergabung di sini deh, saya sama yang lain saja . Daripada menimbulkan keributan di sini.” Ucap Nabila yang sengaja mencari perhatian Raka.
“Mba Nabila duduk aja nggak apa - apa kok, kalau mau duduk di sini juga boleh, saya sudah selesai makan kok. Permisi yah.” Ucap Zara.
Zara langsung mengambil ponselnya lalu berdiri dan pergi dari meja makan mereka.
“Nahh kan marahkan.” Seru Prilly.
“Aduhh maaf yahh Pak Raka, saya sudah membuat Mba Zara marah.” Ucap Nabila yang masih berdiri di samping meja.
“Hmm.. Mba Nabila kalau mau duduk di sini duduk aja, nggak apa - apa kok, biar kami semua yang pergi.” Ucap Andika.
“Iyaa.. pergi aja yuk.” Kata Prilly yang juga sudah mendorong kursinya.
“Ehh kalian kenapa sih.. sudahlahh, jangan di ungkit - ungkit lagi kesalahan Mba Nabila. Jangan di perlakukan seperti ini lagi. Sudah yahh.. saya aku mengejar Zara.” Kata Raka. Raka kemudian berdiri dan mengejar Zara.
Kemudian satu persatu mulai dari Prilly, Bella lalu Andika pergi dari meja itu. Tersisa Ardya dan Nabila.
“Mba Nabila maaf yahh.. mungkin mereka belum bisa memaafkankan Mba Nabila. Makanya seperti itu.” Kata Ardya yang juga sudah berdiri.
“Aneh yahh.. padahal gue buat salah sama Mba Zara, tapi mereka semua yang marahnya sampai segitunya sama gue.” Ucap Nabila.
“Mereka nggak marah cuma belum mau untuk berbincang - bincang santai dengan Mba Nabila. Maklumin aja yah Mba Nabila.” Kata Ardya memberi pengertian ke Nabila.
“Hahah.. iyaa Pak Ardya. Cuman yang bikin saya lebih heran aja Pak Andika, Pak Andika kok seperti itu juga? Dia kan cowok, kok sampai segitunya sih. Dan kalau saya ingat - ingat lagi emang Pak Andika tuh kayak yang selalu ngebelain Mba Zara. Apa jangan - jangan Pak Andika suka lagi sama Mba zara?” Kata Nabila.
“Astaghfirullah.. Mba Nabila jangan menimbulkan fitnah seperti itu. Ini tuh yang nggak di sukai sama yang lain, karena Mba Nabila itu sering mengada - ngada. Jadinya fitnah Mba.. gimana kalau Pak Raka sampai dengar hal yang tidak - tidak seperti ini? Haduh Mba Nabila kok ngggak belajar sih dari pengalaman.” Kata Ardya.
“Yahh bukannya gitu Pak Ardya. Gue tuh ngomong kayak gitu, yahh karena dari apa yang saya liat setiap hari. Dan kalau di lihat - lihat Pak Andika emang sangat deket kan sama Mba Zara? Masa gitu doang fitnah sih, saya tuh nanya, bukan ngomong langsung kalau Pak Andika suka sama Mba Zara.”
Kata Nabila
Andika yang masih belum jauh, mendengar ucapan Nabila.
“Maksud Nabila apa ngomong kayak gitu?” Tanya Andika sambil bertolak pinggang.
“Duh mampus.” Gumam Ardya dalam batinnya.
“Ehh Pak Andika? Pak Andika gini yahh, jangan salah paham dulu. Saya tuh bertanya - tanya.. kenapa yah yang saya liat selama ini Pak Andika itu kayak care banget sama Mba Zara. Saya jadi mengira kalau Pak Raka suka sama Mba Zara. Maaf kalah perkiraan saya ini salah yah Pak Andika. Saya cuma nanya loh Pak, Pak Andika suka sama Mba Zara?” Kata Nabila berbicara panjang lebar dan menghentikan ucapannya dengan pertanyaannya.
“Ckckck.. Mba Nabila ini.. emang ada - ada aja yahh, emangnya kalau dekat, dan kelihatan care itu udah bisa di katakan suka yah? Saya sama Prilly dan Bella juga seperti itu. Itu karena kami semua teman dekat, dan karena Mba Zara orang baru di sini, dan kebetulan pacarnya Pak Raka jadi kelihatan mencolok gitu. Tapi Semua yang Mba Nabila bulang tadi itu, semuanya nggak ada yang benar. Saya sama sekali tidak menyukai Mba Zara, kami hanya teman dekat seperti, Prilly, Bella dan juga Ardya. Jadi stop berfikir kalau saya suka sama Mba Zara. Jangan membuat kehebohan - kehebohan yang tidak penting lagi.” Jelas Andika.
“Naahh.. Mba Nabila udah mengerti kan dengan apa yang di katakan Pak Andika? Tidak ada yang mengganjal lagi kan di hati Mba Nabila, Mba Nabila lebih baik makan aja deh. Dari pada pusing - pusing mikirin kita - kita.” Kata Ardya.
“Hmmm.. apa itu bisa di percaya yah Pak Andika?” Tanya Nabila lagi.
“Ya ampun nih orang pakai bertanya lagi. Mau banget kayaknya di marahin sama Andika.” Gumam Ardya lagi.
“Ahh.. sudahlah Mba Nabila.. saya hanya buang - buang waktu saya saja kalau berbicara dengan Mba Nabila. Terserah deh Mba Nabila mau ngomong apa lagi. Dan untuk kalian semua yang mendengarkan obrolan saya dengan Mba Nabila, itu terserah kalian yah mau percaya sama saya atau tidak, atau kalin terhasut lagi dengan omongon bodoh dari Mba Nabila ini. lagian ini juga bukan hal yang penting untuk di perbincangkan. Hah.. saya jadi terlihat bodoh karena meladeni orang seperti Mba Nabila.” Ujar Andika sambil melihat orang - orang di sekitar yang juga dari mendengar obrolan Andika, Ardya dan Nabila.
“Ardya ayo pergi dari sini.” Andika lalu berjalan keluar meninggalkan restoran bersama Ardya, dan meninggalkan Nabila yang masih berdiri sendiri di meja tempat mereka makan tadi.
“Bener sih apa yang di katakan Pak Andika.”
“Iyaa.. ngapain juga meladeni orang seperti Mba Nabila, yang tiap hari kerjaannya membuat orang marah - marah dan nggak suka sama dia.”
“Hussshh jangan seperti itu, Mba Nabila udah nggak kayak gitu kok.”
“Kita semua nggak ada yang terharut kok dengan omongan Mba Nabila. Mba Nabil pasti masih berusaha untuk merebut Pak Raka dari Mba Zara, makanya seperi itu.”
Orang - orang yang berada di restoran yang mendengar obrolan Andika dan Nabila mengeluarkan pendapatnya masing - masing. Beberapa orang ada yang membela Nabila, dan beberapa orang masih ada yang berfikir negatif terhadap Nabila.
====
Raka mencari Zara di lantai lima, tapi Zara tidak ada, Raka juga mencari Zara di toilet tapi Raka tidak menemukan Zara.
“Zaraa.. kamu dimana sihh ??? Kamu marah yahh?” Kata Raka sambil menghubungi Zara.
Tapi Zara sama sekali tidak menjawab panggilan dari Raka. Raka mengingat tempat favorit Zara di kantor yaitu di roof top kantor. Raka segera berlari dan benar Zara berada di sana. Sedang duduk memandangi langit yang sangat cerah pada hari itu.
“Heii.. kamu marah yah?” Tanya Raka yang mengambil posisi duduk di sebelah Zara.
“Aku marah? Marah kenapa?” Tanya Zara tanpa memandangi Raka sedikit pun.
“Marah karena aku mengajak Nabila duduk dan makan bersama bareng kita semua tadi.” Jawab Ardya.
“Haha..kenapa aku harus marah karena itu, nggak lah.” Zara tertawa datar.
“Kalau nggak marah apa dong? Kamu langsung pergi begitu saja.” Tanya Raka.
“Aku tuh bingung sama kamu. Kamunya yang kenapa? Dari tadi pagi aku perhatiin sepertinya kamu nggak suka ngomong sama aku? Kenapa? Kalau kamu nggak suka sama aku lagi bilang dong, jangan seperti ini.” Jelas Zara lalu menatap sinis Raka.
“Loh.. heii nggak.. bukan gitu—“
Raka belum menyelesaikan ucapannya.
“Terus apa? Kamu jangan membuat aku seperti ini. Aku tuh tau kalau kamu lagi nggak pengen ngobrol sama aku, aku tau dari cara kamu yang nggak mau ngeliat aku. Dari tadi tuh aku selalu berusaha yah untuk memahami kamu, dan terus mengajak kamu berinteraksi, tapi kamu malah ngehindar gitu dari aku.” Jelas Zara.
“Zaraa.. dengar dulu penjelasan aku. Okeyy, aku minta maaf udah membuat kamu berfikir seperti itu, tapi aku sama sekali nggak ada maksud seperti itu, aku cumaa.. hmm gimana yahh ngomongnya.” Ujar Raka.
“Cuma apa Rakaaaaa ???!!” Tanya Zara lalu berbalik menatap Raka.
“Kamu suka sama Andika?” Tanya Raka.
“Hah? Maksud kamu?” Tanya Balik Zara.
“Iyaa.. aku nggak tau perasaan ini muncul dari kapan, tapi setiap aku melihat kamu bersama Andika, seperti ada yang mau meledak di dalam hati aku.” Kata Raka sambil memegangi dadanya.
“Ooohh.. itu?? Itu masalahnya? Kamu cemburu sama Andika?” Tanya Zara yang mulai tersenyum tipis.
“Iyaa sepertinya aku cemburu sama Andika, aku mulai tidak suka kalau kamu terlalh dekat dengan Andika.
“Ya ampun hahhaahhahah.. aku kira kamh udah nggak suka lagi sama aku.” Seru Zara sambil tertawa terbahak - bahak.
Tentu saja Zara tertawa, karena Zara sama sekali tidak menyukai Andika. Zara menganggap Andika hanya sebagai sebatas teman, tidak lebih.
====