“Kenapa kamu tertawa seperti itu? Aku serius nanya kamu. Apa kamu nggak cemburu kalau aku juga dekat dengan orang lain seperti kamu dekat dengan Andika?” Tanya Raka.
“Hmm.. emangnya aku deket bagaimana sama Andika Raka? Aku sama Andika tuh cuma sebatas teman kantor, sama seperti Ardya, Prilly, dan juga Bella. Nggak lebih. Kamu tau man gimana rasa suka aku sama kamu? Kamu taukan kalau aku sayang sama kamu? Kenapa kamu cemburu seperti itu? Apalagi ini kamu cemburu sama sahabat kamu sendiri.” Ucap Zara.
“Maaf yaahh.. mungkin aku cuma nggak biasa aja, atau mungkin karena aku cuma takut kehilangan kamu aja, makanya jadi kayak gini.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa aku mengerti kok. Aku juga minta maaf yah kalau terlalu dekat sama Andika, sampai nggak tau kalau kamu cemburu sama Andika. Tapi lain kali kalau ada sesuatu yang menjanggal di fikiran kamu, kamu bilang aja, jangan seperti tadi. Karena aku juga bisa salah paham kalau seperti itu.” Jelas Zara lalu menyenderkan kepalanya di pundak Raka. Dan Raka juga langsung membalas dengan merangkul Zara.
“Iyaaa.. maaf yahh.. dan makasih juga kamu udah ngertiin aku. Apa aku harus minta maaf juga sama Andika?” Tanya Raka.
“Nggak usah.. nanti Andika malah heran karena kenapa kamu tiba - tiba minta maaf, nanti jadi canggung kan. Andika juga nggak tau kan kalau kamu cemburu sama dia?” Tanya Zara.
“Iya dia nggak tau kok, aku dari tadi juga belum ngomong sama dia.” Kata Raka.
“Ya udah nggak usah minta maaf, dan jangan beri tahu apa - apa sama Andika, nanti kalian malah canggung. Dan aku juga jadi ikut canggung kalau ada Andika. Lebih baik nggak usah.” Ujar Zara.
“Iyaa aku nggak minta maaf kok sama Andika. Aku harap kamu bisa maklumin sikap aku ini yahh.. aku nggak tau kenapa tiba - tiba cemburu sama Andika.” Kata Zara menundukkan kepalanya.
“Heii.. iyaaa .. nggak apa - apa kok. Itu berarti kamu sayang sama aku. Aku senang kok kamu cemburu, yang terpenting, cemburunya masih dalam batas yang normal.” Kata Zara sambil memegang tangan Raka.
“Hmm.. Iyaa Zaraa.. makasih yahh.” Kata Raka yang juga memegang tangan Raka.
Setelah berbicara empat mata, Raka dan Zara pun kembali ke ruangan mereka. Sebelum sampai di ruangan mereka Raka dan Zara kembali berpapasan dengan Nabila.
“Ehh.. Pak Raka Mba Zaraa..” seru Bella.
“Ehh.. Mba Nabila maaf yahh.. tadi sepertinya sikapku kurang sopan, maaf yahh.. saya nggak bermaksud seperti itu, saya tadi harus ke toilet juga makanya langsung pergi.” Jelas Zara.
“Haha nggak apa - apa kok Mba Zaraa. Itu sudah biasa terjadi, sepertinya orang - orang juga masih berfikir negatif tentang saya. Semua orang malah memuja - muja Mba Zara, karena kebaikan mba Zara lah, apalahh..” ucap Nabila.
“Ehhmm.. Mba Nabila nanti saja yah di lanjutkan, sekarang sudah waktunya kerja lagi. Ayo Mba Nabila dan Mba Zara kembali ke ruangan masing - masing.” Kata Raka.
“Kok manggilnya Mba Zara? Apa Pak Raka sama Mba Zara sudah putus yahh? Wahh pantas saja tadi Pak Raka berteriak nggak jelas di toilet. Rupanya hubungan Pak Raka dan Mba Zara sudah berakhir yahh?? Ya ampun.. kok bisa bisa sih? Pasti Mba Zara yahh yang sudah mengkhianati Pak Raka? Mba Zara selingkuhkan sama Pak Andika? Pantas saja selama ini juga Pak Andika selalu membela Mba Zara mati - matian, ternyata kalian berdua ada hubungan? Ya ampun nggak di sangka Mba Zara ini orangnya banyak maunya juga yah? Nggak di sangka orang sebaik Pak Raka bisa di selingkuhin. Kalau udah nggak mau sama Pak Raka udah buat saya aja Pak Rakanya.” Nabila lagi - lagi berbicara pangjanh lebar, dan mengatakan hal - hal yang tidak - tidak tentang Zara.
Raka dan Zara hanya mendengar ucapan Nabila dan saling menatap menunggu Nabila selesai berbicara.
“Udah ngomongnya?” Tanya Zara.
“Ayo Zara kembali ke lantai lima.” Ucap Raka kemudian menarik tangan Zara.
“Tunggu sebentar Raka.. aku mau meluruskan sedikit saja apa yang barusan Mba Nabila ucapkan.” Kata Zara menahan tangan Raka yang menariknya.
“Mba Nabila Mba Nabilaa.. gimana orang - orang mau berfikir positif tentang Mba Nabila, sedangkan Mba Nabila sama sekali nggak berubah, Mba Nabila selalu saja mengatakan sesuatu hal yang nggak - nggak tentang orang lain tanpa mengetahui kebenarannya dulu. Begini yahh Mba Nabila.. pertama hubungan saya dan Pak Raka itu baik - baik saja.. saya dan Pak Raka tidak pernah putus dan itu tidak akan pernah terjadi. Terlepas dari apa yang Mba Nabila dengar tadi di toilet yang saya sendiri tidak tau apa itu. Kedua saya sama Pak Andika tidak ada hubungan apa - apa, kita hanya sebatas rekan kerja yang memang care satu sama lain, bersahabat, saling mengerti, sama seperti dengan Mba Prilly dan juga Mba Bella ataupun Ardya. Dan yang ketiga kalau pun saya putus dengan Pak Raka, Pak Raka nggak akan mau sama Mba Nabila. Iya Kan Pak Raka?” Jelas Zara dan melemparkan ucapannya ke Raka.
“Ahh iyaa benar sekali.” Balas Raka.
Nabila terdiam, dan menatap sinis Zara.
“Sudah jelaskan Mba Nabila? Saya permisi yahh.. saya punya banyak perkerjaan yang harus saya selesaikan, sudah berapa lama saya membuang - buang waktu saya.” Kata Zara yang berbalik memegang tangan Raka.
Nabila hanya melihat Zara dan Raka yang berjalan menuju Lift hingga masuk ke dalam lift.
“Aaaaahhhhhhh. Lagi - lagi saya di permalukan seperti ini di depan Pak Raka.. issshhh” gumam Nabila yang di dengar oleh banyak orang yang baru saja keluar dari lift.
“Makanya Mba Nabila kalau nggak mau di permalukan lagi, lain kali di cek dulu kebenaran yang Mba Nabila mau katakan, jangan asal nyerocos panjanh lebar nggak jelas gitu.. Mba Nabila benar - benar nggak belajar dari kesalahan yahh.” Kata Andika yang ternyata dari tadi berada di ruangan depan tempat Raka, Zara dan Nabila berbicara.
“Tuhhh semua orang yang berada di ruangan ini mendengar ucapan Mba Nabila, Mba Nabila benar - benar malu kan sekarang?” Kata Andika yang menyalakan lampu pada ruangan tersebut yang ternyata ada beberapa orang yang sedang minum kopi. Ruangan itu memang tidak kelihatan orang - orang kalau lampu di dalam ruangan tidak di nyalakan.
Nabila dengan wajah kesalnya pergi begitu saja, tanpa membalas ucapan Andika.
“Hmmm dasar orang itu emang nggak pernah berubah yah Pak Andika.” Ucap salah seorang karyawan yang berada di ruangan itu.
“Saya juga bingung. Hahah.. saya balik dulu yah ke ruangan saya.” Kata Andika.
Andika pun kembali ke ruangannya. Andika sangat tidak sabar untuk menceritakan apa yang terjadi barusan ke Raka dan juga Zara.
Hari itu berlanjut seperti biasanya, Raka sebagai pemilik perusahaan juga bekerja dengan sangat serius. Dan tiba - tiba saja perhatian Raka teralihkan saat dirinya melihat ke luar jendela dan melihat ada orang - orang yang berkerumun di seberang kantornya.
Orang - orang tersebut berkumpul karena melihat ada seorang lelaki yang sedang menyatakan perasaannya ke seorang wanita dengan cara yang sangat romantis. Ada beberapa orang membawa balon yang bertuliskan will you be my girl friend, Raka langsung teringat Zara. Saat Raka dulu menyatakan perasaannya dengan Zara, dia tidak membuat kesan yang romantis untuk Zara, jadi Raka berfikir untuk membuat sesuatu yang romantis juga untuk Zara.
Raka kemudian menghubungi toko bunga untuk memesan begitu banyak bunga mawar. Dan Raka juga meminta untuk di buatkan balon yang bertuliskan terima kasih Zara karena sudah hadir di hidup Raka. Raka benar - benar mempersiapkan semuanya dengan sangat bersemangat. Raka menghubungi Prilly untuk membantu semuanya agar rencananya berjalan dengan lancar.
Tuuutttt tuuuttt tuutttt (suara sambungan telepon Prilly)
“Halo.. Prilly.” Ucap Raka.
“Ohh.. Raka.. iyaa kenapa? Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Prilly.
“Ehmm.. iyaa Prill, tolong kamu sampaikan ke semua orang kalau jam kerja hari ini cuma sampai jam empat sore yahh, Tapi jam pulang tetap jam lima sore, tidak ada yang boleh pulang sebelum jam lima sore.” Kata Raka.
“Ohh iya baik Raka.” Kata Prilly.
“Lo nggak mau tanya apa alasannya gitu?” Tanya Raka.
“Ah? Hahaha.. biasanya Lo kan nggak mau kalau di tanya - tanya Alasannya apa, apa sekarang udah bisa di tanyain nih? Hahah.”
“Ah iya juga yahh.. duuh jadi malu gue.” Kata Raka.
“Haahahaha.. sumpah yahh.. gue kayak ngomong sama orang baru tau nggak. Lo Raka kan? raka bis gue? Hahaha.” Seru Prilly.
“Hahah.. iyaa Prilly.. gue Raka, Lo ada - ada aja deh.” Kata Raka.
“Hahah.. iyaa - iyaa.. terus alasannya apa? Pasti orang - orang juga pada bertanya - tanya alasannya apa kalau gue umumkan jam kerja sampai jam empat dan mereka di larang pulang.” Tanya Prilly.
“Iyaa.. jadi gini Prill.. gue tuh mau buat surprise buat Zara, ehmm kayak orang - orang di bawah itu yang lagi nembak ceweknya, Lo liat keluar deh, bisa kan Lo lihat dari ruangan Lo?” Tanya Raka.
“Hah? Tunggu sebentar coba gue lihat dulu.”
Prilly pun berdiri dari kursinya sambil membawa pesawat teleponnya.
“Oalaahh hahaha..” Prilly tertawa.
“Lo liatkan?” Tanya Raka.
“Iyaa gue liat kok, jadi maksud Lo Lo mau minta bantuan kita semua untuk membuat surprise seperti itu untuk Zara?” Tanya Prilly.
“Iyaa.. gimana menurut Lo? Kira - kira Zara bakalan suka nggak yah?” Tanya Raka kembali.
“Menurut gue sih dia pasti suka banget kalau kayak gitu, dia tuh emang suka yang romantis - romantis gitu.” Jawab Prilly.
“Alhamdulillah. Terus Lo bisa bantuin gue kan? Kasih tau ke yang lain yah buat bantuin gue.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa.. itu urusan gampang kok, nanti gue kasih tau ke Lobby juga biar di umumin di grup mereka.” Kata Prilly.
“Oke dehh.. makasih yahh Prilly. Lo emang paling bisa gue andelin.” Kata Raka.
“Ehh tapi tunggu deh.. bukannya Lo udah pacaran kan yah sama Zara, kok mau nembak lagi sih?” Tanya Prilly.
“Nggak.. gue nggak mau nembak, gue cuma mau bilang makasih karena Zara udah hadir di hidup gue, jadi gue request tulisan di bunganya yahh yang kayak tadi gue bilang, gue mau berterima kasih ke Zara karena dia udah hadir di hidup gue dan memberikan warna di hidup gue.” Jawab Raka.
“Duuuhhh so sweet banget dehh.. uhh gue jadi iri sama Zara.” Kata Prilly.
“Hahaha.. apaan sih, ya udah yahh. Gue serahkan semuanya sama Lo.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa.. tenang aja. Semuanya akan berjalan lancar.” Ucap Prilly.
Tok tok tok (suara ketukan pintu ruangan Raka)
“Ehh Prill udah yahh, kayaknya Zara mau masuk deh. Gue serahin sama Lo yahh semuanya, terus kasih tau juga orang di Lobby yahh, suruh susun aja dulu bunganya, ntar gue turun kalau udah selesai ini sama Zara.” Kata Raka. Raka ingin cepat - cepat menutup teleponnya karena ada Zara yang mengetuk pintu.
Di tengah - tengah perbincangan Raka dan juga Prilly, Zara datang mengagetkan Raka. Zaran datang ke ruangan Raka untuk memberikan dokumen ke Raka untuk di tanda tangani dengan Raka.
Beberapa kali Zara mengetuk pintu , tapi Raka tidak mempersilahkan Zara masuk, jadi Zara langsung masuk saja ke dalam ruangan Raka. Zara melihat senyum - senyum lalu menutup teleponnya.
“Kamu habis teleponan sama siapa?” Tanya Zara.
“Ahh? Nggak.. ini aku mau hubungin Andika. Tapi ternyata Andika ada di depan yah?” Kata Raka mencari - cari alasan dan memang kebetulan Andika berada di luar ruangannya sedang memeriksa pekerjaan anak baru.
“Iyaa.. ada di depan. Tapi kenapa kamu senyum - senyum gitu kalau nggak jadi berbicara dengan Andika?” Tanya Zara.
“Ahh? Yahh karena lucu aja, pas aku mau telepon Andika ehh orangnya nggak sengaja muncul di depan tuh.” Jawab Raka.
“Ooohh.. kamu nggak bohongkan? Kamu nggak habis telponan sama Nabila?” Tanya Zara lalu berjalan ke depan meja kerja Raka sembari meletakkan semua berkas yang harus di tanda tangani Raka di atas meja Raka.
“Ihh apaan sih kamu. Masa iya aku teleponan sama Nabila terus aku pakai senyum - senyum sih. Yang ada tuh orang kalau ngomong sama Nabila jadi emosi. Iya kan?” Kata Raka sambil tertawa.
“Ya kan bisa aja, buktinya tadi kamu ngobrol lama kan di toilet sama dia? Terus sapu tangan kamu juga di kembalikan sama dia, terus kamu juga nyuruh dia duduk bareng kita, makan bareng sama kita. Ihh kamu kok nggak konsisten gitu sih.” Ucap Zara.
“Haha iyaa juga yahh.. nggak maksud aku kalau ngomong lama - lama sama Nabila kita bisa emosi, terlebih lagi dia kan suka ngomong yang nggak - nggak.” Kata Raka.
“Terus tadi kamu ngomongin apa di toilet, sampai Mba Nabila ngebahas itu tadi?” Tanya Zara.
Wajah Zara mulai cemberut mengingat apa yang di katakan Nabila saat setelah jam makan siang tadi.
“Kok mukanya kayak gitu sih? Kamu marah?” Tanya Raka.
“Nggak.. aku nggak marah kok. Nih tanda tanganin dulu, di periksa dulu, jangan hal pribadi dulu deh yang kita bahas.” Kata Zara sambil membantu Zara membukakan dokumen - dokumen yang akan di tanda tangani Raka.
“Loh kan kamu yang membahasnya duluan.” Kata Raka.
“Iyaa - iyaa.. maaf.” Ucap Zara singkat.
Raka memeriksa satu persatu dokumen yang di bawa Zara dan menanda tanganinya satu persatu sambil memperhatikan wajah Zara yang masih cemberut. Dan karena Raka melihat wajah Zara yang semakin cemberut , Raka berniat untuk sekalian saja membohongi Zara demi surprise yang akan Raka berikan sore nanti.
“Nihh udah selesai. Nggak ada lagi kan? Saya mau keluar dulu yah sebentar. Kamu jangan kemana - mana, di sini aja siapa tau ada tamu yang nyariin aku. Okehh.. aku keluar dulu yahh.” Kata Raka.
Raka segera mengambil ponselnya, dan keluar dari ruangannya meninggalkan Zara begitu saja.
“Ehh tapi kamu mau kemana? Kok terburu - buru begitu sih? Kamu ada janji sama orang yang kamu telepon barusan?” Tanya Zara ketus.
“Iyaaa.. ehh nggakk.. udahh yahh.” Raka langsung keluar dari ruangannya, dan Zara sendiri sangat kesal mendengar jawaban Raka.
====